Sweet Trap

Sweet Trap
Perak Kotagede



Danish melajukan Toyota Camry berwarna putih itu menuju sentra perak di Kotagede.


Kotagede adalah sentra kerajinan perak yang ada di Yogyakarta. Sepanjang jalan terdapat banyak sekali toko yang menjual aneka kerajinan perak. Yang terbesar disini adalah Ansor Silver dan HS Silver.



Ansor Silver terletak di jalan Tegalgendu Kotagede. Pendirinya adalah seorang pengrajin perak bernama H. Ansor Karto Utomo yang merintis usahanya sejak 1956. Ansor grup juga mengembangkan bisnis nya untuk memudahkan customer yang hunting oleh oleh khas Jogja. Ada produk coklat, baju Jogja dan Sekar Kedaton Resto yang masih satu tempat dengan Ansor Silver



HS Silver terletak di jalan Mondorakan Kotagede lokasinya tidak jauh dari Ansor Silver. Usaha ini dirintis oleh H. Harto Suhardjo pada tahun 1953. Tak berbeda jauh dengan Ansor. HS Silver ini juga mendirikan usaha kuliner dengan nama Omah Dhuwur. Dinamakan seperti itu karena memang letak Omah Dhuwur ini dipinggir jalan turunan sehingga pembangunan resto ini harus ditinggikan agar tidak miring.


...****...


" Bro, kita ke Ansor Silver aja ya. Kebetulan aku kenal sama anak owner-nya. Sekalian makan di sana aja. Jadi ga usah nyari makan kemana mana. Keburu laper aku. " Danish menawarkan


"Ok. Aku ikut aja. Kan dirimu tour guide nya.. hehe.." Juna cengengesan


Mobil putih itupun akhirnya memasuki halaman parkir Ansor Silver. Tampak bangunan dengan dominasi warna putih serta ornamen ukiran khas keraton.


Mereka berdua keluar dari mobil lalu berjalan memasuki Sekar Kedaton Resto.


" Makan dulu ya bro... "


" Iyaaa..tau kok kalo cacing di perutmu itu uda konser. Santai aja.. aku traktir"


" Kok konser?" Danish mengerutkan dahi


" Lha iyaa..konser keroncongan" Juna terbahak


"Asem.. dasar bule...potan..! Pengen jitak tapi takut ga jadi dibayarin..hehe..." balas Danish



Sekar Kedaton Resto


" Selamat Siang.. Silahkan menunya pak. Disini khasnya Lumpia gudeg. Menu yang lain bisa dilihat di buku menu. "


" Mm.. saya pesan Lumpia gudeg, Balinesse chicken grilled, sama Secang squash. Kamu apa bro!" tanya Juna kepada Danish


" Saya Mac n cheese sama avocado juice sama bitterballen. Itu aja mba." Danish mengatakan pesanannya pada waitress yang melayani mereka.


" Baik pak. Ditunggu sebentar. " waitress itu segera beranjak.


" Jun, gimana kabar bokap nyokap? " Danish membuka obrolan


" Alhamdulillah baik. Cuma kemarin Daddy sempet dirawat sebentar di Hospital karena lambungnya kumat. Tau sendiri Daddy pekerja keras, kemarin sempat ada masalah di cabang trus kacau jadwal makan sama istirahat nya. "


" Kalo Mom pasti sehat kan?"


" Alhamdulillah sehat. Kalo Mom sakit, wah..bisa bisa Dad oleng. Tau sendiri gimana Daddy ke Mommy. Bucin akut.."


" Hey..jangan ngeledekin bokap. Ntar kena karma lho.. My princess gimana? Makin cantik pasti.. "


" Amanda sekarang masih kuliah. Dia mau jadi designer. Sekarang dia kuliah fashion di Paris."


" What... jadi dia sendirian dong di Paris? Kapan kapan aku ke Paris kali ya. Nemenin my princess biar ga kesepian."


" Eits.. jangan macam-macam ya. "


Tak lama terlihat pesanan mereka sudah terhidang di atas meja. Mereka menyelesaikan makannya sambil bercengkrama.


Juna dan Danish berkeliling melihat kerajinan perak yabg dipamerkan di etalase. Bermacam perhiasan dan juga hiasan dengan berbagai bentuk dan model. Pilihan Juna jatuh pada miniatur kereta kencana.



Sesuai dengan pesanan Mommy nya, kereta kencana atau candi atau boleh dua duanya.



Nampaknya Juna berminat untuk membelikan keduanya. Tak lupa juga hiasan dinding ia belikan untuk mamanya Danish, Bu Arum.


Bu Arum ini sudah Juna anggap seperti ibunya sendiri. Saat sang Nenek sudah meninggal dunia, Juna sering menginap di rumah Danish. Dan Bu Arum bersikap seperti ibu kepada anak lelakinya. Cerewet ngasih nasehat, bangunin sambil teriak teriak. Juna jadi kangen sama beliau.


" Ga terasa udah sore ya. Untung aja di sebelah ada masjid, jadi tadi kita ga repot nyari masjid buat sholat." kata Juna


" Iya.. sekarang mau lanjut kemana nih? Nongkrong di tamsis (Tamansiswa) mau?" tawar Danish


" Boleh deh. Nyari masjid buat sholat Maghrib dulu ya. Kayaknya bentar lagi. " Juna mengiyakan ajakan Danish


" Ok. Ntar kita sholat Maghrib di sekitaran Tamsis aja. "


Dan mereka pun bergegas menuju ke tujuan berikutnya. Akhirnya mereka sampai di masjid tepat ketika adzan Maghrib mulai berkumandang.


Tampak sang muadzin berbaju Koko putih serta mengenakan sarung bermotif kotak dengan dominasi warna biru sedang mengumandangkan adzan dengan suara merdu serta irama yang enak didengar.


Juna dan Danish segera menuju tempat wudhu yang ada di samping masjid. Cukup banyak jama'ah yang sholat di masjid ini. Mungkin karena banyak toko maupun kantor disini, serta lokasi di pinggir jalan sehingga pengguna jalan banyak yang menghentikan kendaraannya untuk sholat disini.


" Bro, ke warung lesehan mau ga? Ayam bakar madunya top markotop. " tawar Danish seusai melaksanakan sholat Maghrib.


" Mau lah.. Rekomendasimu tak jabanin semua. Apalagi ayam bakar madu. Nglothok ga?"


" Weh..bule masih inget nglothok to? Kirain uda lupa." Danish kaget mendengar kosa kata yang dikeluarkan oleh Juna


" Masih lah... yang ngajari kan Bu Arum, ibu kamu. Ya pasti inget. Apalagi nglothok e daging ayam dari tulangnya. Rasanya...beuuh..tak bisa dikata katain.. "


" Dikira pelakor, dikata katain.."


" Pelakor mah ga cuma dikata katain, tapi dijambakin, ditamparin trus dipukul pake heels. Betul kan? "


" Lha kenapa kita jadi ngomongin pelakor? Nih gara gara ayam bakar nglothok, jadinya malah melebar kemana-mana.. " protes Danish


Danish segera melajukan mobilnya ke arah warung lesehan. Hanya 5 menit sudah sampai. Rupanya sudah banyak muda mudi yang sedang asyik berbincang sambil menikmati hidangan.


" Haish..uda rame aja jam segini. Semoga kita masih kebagian tempat duduk." Danish menghela nafas panjang


" Kayaknya di lantai atas masih agak lengang deh. Kita coba tanya mbak yang disana." Juna menanggapi


" Ok. Hurry up"


" Permisi mba."


" Ya mas. Ada yang bisa dibantu?"


" Rame ya? Masih ada tempat kah?"


" Masih mas. Di lantai atas. Untuk berapa orang?"


" 2 orang."


" Baik. Ini buku menunya. Nanti pesanannya ditulis di kertas ini lalu nanti dikasihin ke yang anter pesanan di atas." Danish menanggapi nya dengan menganggukkan kepalanya.