Suffering

Suffering
Bab 39



Sudah berapa kali kaki panjang putih dan mulus itu berjalan maju mundur? Sorot matanya nampak kuyu, sesekali dia menggigiti kuku jarinya.


Testpack dengan dua garis merah muda itu masih tergenggam erat di tangan kanannya. Sesekali, ekor mata meliriknya dengan tatapan nanar.


"Apa, dia akan mau bertanggung jawab? Ya!" Dia mengeplkan tangan kirinya di depan dada. "Dia juga mencintaiku. Jadi, aku tak perlu khawatir."


Dia hendak pergi, tapi berhenti saat bel pintu berbunyi. Gadis itu mengerutkan kening, lantas mendekati pintu, memutar gagangnya.


"Aku dat— Kamu kenapa?"


Lelaki bersurai coklat itu mengerutkan kening. Wajah kuyu gadis di hadapannya ini sungguh membuatnya penasaran. Si gadis bergeming. Testpack di tangannya ia sembunyikan, memasukkannya dalam saku jaket.


"Jake, kau datang?"


"Exa, apa terjadi sesuatu? Wajahmu hari ini nampak aneh."


Exa menggeleng ringan dengan senyum tipis. Kedua tangannya terulur, memeluk tubuh tinggi di hadapannya dengan lembut. Jake bingung, tapi tersenyum dan mengelus lembut puncak kepala Exa.


"Hari ini kamu manja sekali. Ada apa? Apa memang sudah terjadi sesuatu padamu?" tanya Jake sambil meraih tangan Exa, membawanya masuk apartemen.


"Jake, aku sudah menganggapmu sebagai kakakku. Jadi, kalau ada masalah, aku akan menceritakannya," kata Exa dengan senyum mengembang.


Dia mendekati dapur, dan kembali dengan segelas teh hijau, minuman yang selalu disukai pemuda di hadapannya itu.


"Kenapa kau datang?" tanya Exa sambil duduk di sofa samping Jake.


Pemuda itu menyesap minumannya, merasakan aroma khas dari teh hijau itu, lantas meletakannya di atas meja. Dia menghela napas panjang.


"Exa, apa tak sebaiknya kita mulai mengambil keputusan?" tanya Jake. Air mukanya nampak serius.


Exa mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"


"Kita bisa mencari informasi tentang ibumu dari Kevin. Kita bisa menyekapnya, lalu mengancam untuk mendapatkan informasi ini," kata Jake usai menyesap tehnya lagi.


Exa menelan ludah. Mendengar nama Kevin disebut, mendadak otaknya berkelana pada kejadian panas mereka di atas ranjang. Wajahnya merah merona, membuat Jake mengerutkan kening.


"Kenapa denganmu?" tanya Jake. Jari telunjuknya menyentuh pipi merah Exa.


"A-ku tidak apa-apa. Jake, biar aku yang lakukan ini. Aku mulai mengenalnya. Mungkin, aku bisa mencari informasi itu tanpa harus menyekapnya."


Jake terkekeh. "Aku juga sudah mengenalnya, Exa. Aku sudah menjadi kakaknya sekarang."


"Ya, aku tahu itu. Tapi, biarkan aku saja." Exa meraih kedua tangan Jake, menggenggamnya erat.


Jake menghela napas pelan. Wajah memelas Exa tak bisa ia abaikan. Itu selalu membuat hatinya berdesir hangat. Jake mendekatkan wajahnya, mendaratkan satu kecupan di kening Exa.


"Baiklah. Tapi, kalau ada apa-apa, kamu harus menghubungiku," lirih Jake. Exa mengangguk.


...* * *...


Kevin mendaratkan pantatnya di sofa panjang. Sesekali, ekor matanya melirik ponsel yang menunjukkan banyak pesan untuk Arnold. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Di mana Kakak. Tak biasanya dia pergi selama ini?"


Kevin beranjak, hendak kembali ke kamar, tapi berhenti saat bel pintu rumah berbunyi. Kevin menghela napas berat. Bukan Arnold yang datang. Dia tak mungkin menekan bel kalau ingin masuk.


Dengan langkah gontai, pemuda bersurai hitam itu mendekati pintu, memutar gagangnya. Sosok Alexa berdiri dengan senyum mengembang. Sebuah bingkisan berada di tangan kirinya.


"Alexa?" Kevin mengerutkan kening.


"Hai, aku merindukanmu." Alexa berjinjit, mendaratkan satu kecupan di pipi kiri Kevin. Pemuda itu masih tetap dengan wajah datarnya.


"Aku bisa masuk?" pinta Alexa. Kevin mengangguk pelan.


Alexa meletakkan bingkisan itu di atas meja, lalu mendaratkan pantatnya di sofa panjang. Matanya memandang Kevin yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kenapa masih di situ?" tanya Alexa. Kevin bergeming. Dia mendekati sofa panjang, duduk dengan jarak sedikit jauh dari Alexa.


"Kenapa datang?" tanya Kevin dengan wajah datarnya.


Alexa menghela napas panjang. Dia mengambil testpack dari dalam tas, mengangkatnya di depan wajah Kevin. Pemuda itu masih dengan ekspresi datarnya.


"Kenapa kau memperlihatkan itu padaku?" tanya Kevin sambil bersedekap.


"Kevin." Alexa menundukkan wajah, menarik kembali testpack itu. "Aku hamil ...."


Rona di pipi Alexa kian bertambah. Jantungnya berdegup kencang. Bayangan akan pertanggungjawaban Kevin melayang di otaknya. Senyum tipis terukir di bibir mungilnya.


"Jadi?" Kevin mengangkat kedua bahu.


Alexa mengangkat wajahnya. Pemuda itu begitu santai, tak sedikitpun mengeluarkan reaksi. Alexa mengeurutkan kening, kepalanya sedikit memiring.


"Apa kamu tidak paham juga? Aku hamil! Anak kamu!" Alexa sedikit meninggikan suaranya.


Senyum seringai, tapi cukup tipis terukir di bibir Kevin. Sebelumnya, dugaan itu sudah ada pada pikirannya jauh sebelum melakukannya dengan Alexa.


"Aku sudah bilang, kau tetap tidak mau mendengar. Aku, tidak peduli."


Seakan batu menghantam, jantung Alexa seakan berhenti berdetak. Mata coklatnya berkaca-kaca, mengumpulkan bulir-bulir di sudut netra. Buru-buru ia menyekanya. Dia meraih tangan Kevin, menggenggamnya erat.


"Apa yang kamu katakan. Kamu juga mencintaiku, jadi ken—"


"Mencintaimu?" Kevin menyeringai, menarik tangannya cukup kasar. "Apa maksudmu? Siapa yang mengatakan itu? Aku, tak ada perasaan apa-apa padamu."


Alexa bergeming. Keringat dingin membasahi leher dan wajahnya. Jantung berpacu kian kencang, menggema di kedua telinga. Segerombol jarum seakan menusuk hatinya, sangat sakit.


Kini, bulir-bulir air bening sudah tak dapat ia tahan, keluar begitu saja dari netranya. Alexa beranjak berdiri, meraih tangan Kevin, menyentuh perutnya.


"Ini anak kamu, Kevin. Kamu harus tanggung jawab."


Kevin terkekeh dengan seringai di bibir. Dia menarik tangannya, lantas beranjak berdiri. Tangannya memegang belakang leher Alexa, wajahnya mendekat, mencium bibir Alexa dengan paksa. Membuat gadis itu terbelalak.


Ciuman yang tak terasa hangat, lebih agresif, memaksa. Sontak, tangan Alexa mendorong dada bidang Kevin. Tapi pemuda itu tak juga melepas ciumannya. Membuat gadis itu sulit untuk mengatur napas.


Kedua tangan Kevin memegang bahu Alexa, mendorong tubuh mungil itu hingga mendarat di atas sofa panjang. Kevin dengan sedikit kasar menarik ciumannya. Alexa nampak dengan napas memburu, wajahnya merah merona.


"Kau suka dengan ciumanku, bukan? Kau hanya suka itu. Jadi, saat kita melakukannya lebih, itu bukan salahku. Itu karena kau yang menginginkannya."


"Kevin, aku pikir kau—"


Kevin dengan cepat kembali menutup mulut Alexa dengan bibirnya. Membuat gadis itu kembali merasakan sesak di dada. Lidah pemuda itu terus bermain di dalam mulut Alexa.


Tangan mungil Alexa memukul dada bidang Kevin. Pemuda itu kian mengganas. Tangannya bergerak, membelai leher putih Alexa. Terus bergerak, hingga mendekati resriting jaket gadis itu.


Kevin melepas ciumannya sekilas sebelum akhirnya kembali bermain. "Ini yang kau mau 'kan? Kau hanya menginginkan ini. Anak itu tak kau inginkan."