Suffering

Suffering
Bab 27



Arnold berdiri di balkon dengan mata terpaku lurus ke depan. Sesekali angin kecil datang berhembus, menerpa rambut coklat itu, menutupi sebagian matanya. Dia menghela napas pelan, lantas berbalik, berjalan menuju pintu.


Ketika pintu terbuka, Arnold tersentak dengan kehadiran salah satu pelayan yang kini berdiri di ambang pintu. Dia membungkuk sopan pada Arnold.


"Tuan muda, Anda dipanggil Tuan muda Kevin untuk makan siang," kata pelayan itu ramah. Kemudian beringsut mundur, meninggalkan Arnold dengan ekspresi aneh.


"Wah, aku pikir pelayan di sini hanya akan menghormati majikan mereka," gumam Arnold. Dia hendak melangkahkan kakinya, namun urung ketika ponselnya berdering.


Arnold merogoh saku jaketnya, meraih benda pipih itu, menatapnya sekilas. Tak berselang lama, ia kembali memasukkan benda pipih itu dalam saku jaket. Dia menghela napas panjang, lantas berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.


'Rasanya aku tak ingin melakukan ini. Hatiku mengatakan, aku tidak boleh melakukan kesalahan ini.'


Para pelayan tampak begitu cekatan menyiapkan makanan di meja makan. Sementara Kevin sudah duduk di kursi meja makan dengan tangan dan mata yang fokus pada ponselnya. Ketika Arnold datang, Kevin masih tetap fokus pada benda pipih itu, membuat Arnold berdecak.


"Kamu memanggilku untuk makan?" tanya Arnold. Suaranya yang sedikit lantang memecah keheningan ruangan luas nan mewah itu.


"Hmm. Kamu bisa duduk dan makan," kata Kevin tanpa menoleh. Masih sibuk pada benda pipihnya.


Arnold duduk di kursi meja makan, bersebelahan dengan Kevin. Sesekali dia melirik Kevin yang masih dengan kepala menunduk, menatap ponselnya.


"Apa kamu selalu seperti ini saat di meja makan?" tanya Arnold dengan tatapan sinis. Dia memalingkan wajahnya, fokus pada makanan di atas meja.


"Menurutmu?" Kevin memasukkan ponselnya dalam saku jaket. Dia kemudian mulai menyantap makanan di atas meja dengan anggun, membuat Arnold terperangah.


'Wah, dia makannya sangat anggun. Sepertinya keluarga ini memang bukan dari kelas elit biasa,' batin Arnold.


Arnold berjalan dengan kedua tangan masuk saku jaket, melewati lorong dan jalan yang sedikit sempit. Hingga dia berhenti tepat depan pintu dengan ukiran perak dan gagang pintu emas. Dia mengelus dagu dengan kedua mata mulai menelisik setiap ukiran yang menempel pada daun pintu.


"Ini ruangan apa?" pikir Arnold.


"Ini perpustakaan, Tuan muda." Kedatangan salah satu pelayan yang tiba-tiba saja berbicara membuat Arnold terkesiap.


Dia berbalik. Seulas senyum tipis terukir di bibir Arnold, bentuk caranya menyapa pada pelayan di depan. Namun, tak berselang lama, Arnold fokus pada nampan dengan gelas di atasnya.


"Itu minuman buat siapa?" tanya Arnold.


"Ini untuk Tuan muda. Sekarang Tuan muda berada di dalam. Apa kamu juga akan ke sana?"


"I-ya. Biar aku saja yang membawa minuman ini. Aku juga akan ke perpus kok," kata Arnold. Dia merebut pelan nampan itu, lantas berjalan masuk perpustakaan.


Kevin duduk dengan anggun di kursi empuk khusus yang berada depan dinding kaca. Arnold berdiri di belakang Kevin dengan tatapan nanar. Dia terus saja menatap nampan itu, lantas kembali menatap pada Kevin.


'Aku harus melakukan ini. Tujuanku ke sini untuk ini. Tapi, kenapa hatiku tidak mengizinkannya?'


Dia meletakkan nampan itu di atas meja sudut ruangan cukup pelan. Lantas tangannya merogoh saku celana, meraih sebuah plastik kecil dengan bubuk putih di dalamnya. Cukup ragu ia membuka plastik itu, namun akhirnya bubuk putih itu ia tuangkan dalam minuman di atas meja.


"Maaf, Kevin. Tapi aku harus melakukan ini. Sebetulnya, aku mulai bisa menganggapmu teman. Tapi ...."


Arnold kembali meraih nampan itu. Dia menghela napas panjang, lantas berjalan mendekati Kevin. Meletakkan nampan itu di atas meja samping kiri Kevin duduk.


Arnold masih memilah beberapa buku di rak paling sudut. Hingga ketika suara seperti kaca pecah membuatnya tersentak. Dengan sigap dia langsung berlari menghampiri Kevin.


'Tunggu! Apa dia telah ....'


Arnold berhenti tepat di belakang Kevin dengan napas memburu. Kedua tangannya menopang lutut yang membungkuk sambil mengatur napas.


"Kamu kenapa, Arnold?" tanya Kevin dengan kepala memiring.


Arnold langsung mengangkat kepalanya, hingga matanya terpaku pada sosok Kevin yang berdiri di depan. Arnold menelisik gelas kaca yang sudah pecah, meninggalkan serpihan kaca pada lantai granit.


Dia menghela napas lega. Dan tingkah lakunya membuat Kevin bingung. Dia berjalan mendekat, menatap tajam pada Arnold, membuat pemuda itu terkesiap.


"A-da apa?" tanya Arnold dengan suara terbata-bata.


"Kamu, aneh. Kamu kenapa? Ini hanya gelas pecah. Aku tak sengaja menyenggolnya." Kevin melipat tangan di dada.


"Tidak! Aku pikir kamu kenapa-kenapa." Arnold melangkah mundur perlahan, menjauh dari Kevin.


"Hah! Kamu aneh sekali." Kevin berbalik, hendak meninggalkan ruang perpustakaan. Namun Arnold meraih lengannya, Kevin langsung berhenti.


"Ada apa lagi?"


"Apa, kamu baik-baik saja? Kamu belum meminum minuman itu kan?" tanya Arnold dengan raut wajah cemas.


"Hah? Pertanyaan macam apa itu!" Kevin benar-benar pergi kali ini. Sesekali dia menoleh, memperhatikan Arnold yang menghela napas lega.


Kevin menghempaskan pantatnya di kursi empuk beroda. Matanya melirik laci meja, kemudian membukanya, meraih kotak kecil dengan tangan kiri. Matanya menyipit ketika kotak kecil itu terbuka, memperlihatkan satu butir peluru dengan balutan kain polos.


"Karena kejadian penembakan itu. Aku jadi lupa untuk mencari tahu sidik jari peluru ini," gumam Kevin.


Dia beranjak berdiri sambil memasukkan peluru dengan balutan kain polos itu dalam saku jaket, lantas berjalan pergi menuju mobil sedan biru yang berada dalam garasi. Sesekali Kevin menengok kanan kiri garasi dengan tatapan nanar, namun masih dengan wajah datar.


"Rasanya agak aneh saat tidak ada Carlos di sini." Kevin tersenyum dengan wajah masam. Kemudian dia masuk mobil sedan biru mewah itu, menyalakan mesin, dan melajukannya menembus ramainya jalan.


Setengah jam, mobil sedan biru itu berhenti di tepi jalan depan gedung kantor polisi. Kevin keluar dari mobil, lantas berjalan memasuki gedung.


"Anda? Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu petugas kepolisian pada Kevin yang tampak linglung.


"Aku ingin mencari tahu sidik jari peluru ini," kata Kevin. Dia menunjukkan butir peluru dengan balutan kain polos itu.


"Mari, ikut saya." Petugas kepolisian memasuki ruangan di sudut, Kevin mengekor di belakang.


Membutuhkan waktu sekitar satu jam lamanya untuk akhirnya Kevin dapat mendapat hasil dari petugas kepolisian tentang sidik jari peluru itu. Kevin tampak mengelus dagu dengan kepala yang mengangguk pelan. Seulas senyum terukir di bibirnya pada petugas kepolisian di depan.


"Terimakasih. Kamu sudah membantuku. Ini benar-benar sangat membantu. Aku jadi tahu siapa sidik jari peluru ini."


<< Bersambung ....