Suffering

Suffering
Bab 28



Suara ketukan kaca yang terus berbunyi membuat Arnold tersentak bangun. Beranjak bangun dengan mata setengah terpejam. Dia beranjak dari atas ranjang, berjalan mendekati pintu kaca balkon, membuka tirainga.


Ada cukup banyak kerikil berukuran kecil berserakan di lantai balkon. Arnold mengelus dagu. Dia melangkah maju, mendekati balkon. Menopang pembatas balkon dengan kedua tangan, sedikit menjulurkan kepalanya ke bawah.


Sosok lelaki berpakaian serba hitam dengan masker menutupi wajahnya berdiri di balik pintu gerbang, membuat Arnold membelalakkan matanya. Dia mengerjapkan mata itu, juga menguceknya beberapa kali. Memastikan jika sosok itu benar-benar berada di sana.


"A-yah? Apa yang dia lakukan di sini malam-malam?" gumam Arnold pelan.


Sosok berpakaian hitam yang Arnold kenal sebagai sang Ayah melambaikan tangan kiri berbalut sarung tangan hitam itu. Arnold mengangguk pelan. Dia berbalik, hendak menemui sang Ayah di bawah.


Ketika pintu kamar terbuka. Arnold sedikit menjulurkan kepalanya keluar kamar, memastikan jika tak ada siapapun di sana. Setelah dirasa aman, dia keluar kamar, menutup pintu dengan cukup pelan. Lantas berjalan sedikit berjingkat menuruni anak tangga dengan mata yang terus waspada.


Gery berdiri di balik pintu gerbang sambil bersedekap. Sesekali ia memukul tanah pelan dengan salah satu kakinya. Setengah berlari Arnold mendekati pintu gerbang.


"Ada apa, Ayah?" tanya Arnold.


"Kamu bodoh! Apa yang kamu lakukan di rumah ini? Kamu belum juga melakukannya!" bisik Gery dengan nada setengah berteriak.


"Ayah, entahlah. Sepertinya aku tak bisa melakukan ini. Dia sudah baik padaku. Aku ...."


Gery mengangkat tangan kanannya, mendaratkan satu pukulan sedikit kasar pada puncak kepala Arnold. Membuat pemuda itu meringis menahan kepala yang sedikit berdenyut.


"Di mana tanggung jawabmu! Lalukan apa yang aku perintahkan!" Gery merogoh tas gendong di belakang punggungnya, meraih sebuah pistol.


Dia menjulurkan pistol itu ke depan. Arnold bergeming dengan mata membulat sempurna. Dengan tangan gemetar dia meraih pistol itu ketika Gery menatapnya tajam dan terus saja menjulurkan pistol itu.


"Ayah, apa yang harus aku lakukan dengan pistol ini?" tanya Arnold dengan nada sedikit bergetar. Tangannya masih gemetar memegang pistol itu, hingga meneteskan keringat dingin.


"Kamu sudah Ayah ajarkan bukan? Bunuh dia! Hanya satu butir peluru saja, maka dia akan habis dengan pistol itu." Gery sedikit menarik maskernya. Menunjukkan seringai lebar di bibirnya.


Gery menepuk pundak Arnold. Kemudian dia berbalik, dan berlalu pergi meninggalkan Arnold yang masih berdiri dengan wajah basah akan keringat dingin. Dia masih memandang pistol di tangannya.


Arnold mengangkat kepalanya ke atas. Bintik-bintik bintang berukuran kecil namun berjumlah ribuan itu tampak berkedip indah dengan bulan purnama yang berada di tengahnya. Sesekali angin datang berhembus, menerpa pori-pori kulit yang hanya berbalut kaos polos lengan pendek itu.


"Aku akan mengakhirinya sekarang. Ini waktu yang tepat," gumam Arnold. Dia menggenggam lebih erat pistol itu, lantas berjalan menuju kamar Kevin yang berada tak jauh dari kamarnya berada.


Kini Arnold berdiri di depan pintu kamar Kevin. Setiap dia ingin membuka pintu, hati dan pikirannya terus berontak. Dia menarik kembali tangannya, menjauhi gagang pintu. Namun, ketika ucapan sang Ayah yang terus mengalir dalam otaknya, membuat Arnold kembali memegang gagang pintu, memutarnya perlahan.


"Semoga saja tidak dikunci," gumam Arnold.


Pintu terbuka. Sedikit kaget Arnold ketika pintu dapat dibuka. Dia mengira jika Kevin akan mengunci pintu, namun hal itu tidak terjadi. Perlahan Arnold melangkahkan kakinya, mendekati ranjang di mana Kevin terbaring dengan mata terpejam rapat.


"Maafkan aku, Kevin. Jujur, aku tak ingin melakukan ini. Aku memang membencimu, tapi aku tak akan pernah punya pikiran untuk mmebunuhmu."


Tangan yang memegang pistol itu kembali bergetar dengan keringat dingin yang terus keluar, menetesi lantai granit berbalut karpet merah maroon itu. Arnold tak bisa melakukan ini. Dia tak ingin membunuh Kevin.


Sedikit bergetar, namun Arnold tetap mengangkat pistolnya, menghadap pada kepala Kevin yang terbaring di atas ranjang, dengan mata terpejam rapat.


"Sekali lagi, maafkan aku, Kevin."


Ditengah matanya yang masih terpejam. Arnold menggerakkan jari-jarinya yang menempel pada pelatuk, hendak menarik pelatuk. Namun, sosok tangan yang memegang erat jari-jarinya membuat Arnold terkesiap dan sontak membuka mata.


"K-evin!"


Arnold menarik tangannya sedikit kasar, melangkah mundur dengan tangan gemetar, hingga menjatuhkan pistolnya ke lantai. Kevin beranjak bangun dengan senyum yang terkesan sinis pada Arnold.


Dia beranjak dari atas ranjang, berdiri sambil bersedekap. Menyenderkan punggungnya pada pintu kaca balkon.


"Lucu sekali, Arnold. Seharusnya aku menyadari ini sejak lama. Aku tak pernah mengira jika ayahmu, adalah seorang pembunuh bayaran.


Dan mungkin ayahmu itu sudah bekerja sama dengannya," kata Kevin santai.


"Tunggu Kevin! Sungguh! Aku tak ingin melakukan ini. Tapi ...." Arnold tak melanjutkan ucapannya. Dia menundukkan wajahnya.


"Jangan bermain-main lagi, Arnold. Jujur saja, aktingmu dengan ayahmu kemarin benar-benar berhasil membuatku tertipu."


Arnold mengangkat wajah. Apa kini Kevin akan benar-benar marah padanya? Akankah Arnold harus melupakan pemikirannya tentang bagaimana dia menganggap Kevin sebagai teman?


"Hah ...." Kevin beranjak dari senderannya. Berdiri di hadapan Arnold. Matanya melirik pada pistol mewah yang tergeletak di lantai, lantas kembali menatap arah Arnold.


"Kenapa kamu tak melanjutkan rencanamu? Kupikir, malam ini adalah malam terakhirku. Benar bukan, Arnold?" Kevin menyeringai lebar dengan sorot mata setajam elang. Membuat jakun Arnold naik turun, menelan ludah.


"Kevin, aku tidak bermaksud un—"


Belum sempat Arnold menyelesaikan ucapannya. Kevin dengan kasar meraih kerah bajunya, mendorong tubuhnya ke belakang. Hingga tubuh Arnold bersender pada dinding. Semakin erat Kevin mencengkeram kerah baju Arnold dengan sorot mata tajam. Kembali membuat Arnold menelan ludah.


"Kamu dengan berani ingin membunuhku?" Kevin terkekeh dengan wajah masam. "Kupikir masih ada orang baik di dunia ini yang masih memiliki rasa terimakasih. Tapi ternyata aku salah."


"Aku tak ingin melakukan ini, Kevin! Aku berkata jujur! Kumohon maafkan aku! Ini hanya paksaan!"


"Paksaan?" Kevin memiringkan kepala. "Kamu dan ayahmu sama saja." Kevin mendorong tubuh Arnold, semakin menekan dinding, membuat Arnold hampir kehilangan napas jika Kevin tak segera melepas cengkramannya.


Kevin berbalik badan, hendak melangkah maju. Namun, ketika Arnold hendak berdiri tegap. Kevin meraih pistol di dalam saku jaketnya, lantas menodongkannya tepat depan wajah Arnold.


"Jawab dengan jujur apa saja yang akan aku tanyakan. Atau pistol ini akan mengeluarkan pelurunya." Kembali Kevin menyeringai lebar.


"Apa yang ingin kamu tanyakan! Aku tak tahu apa-apa jika kamu ingin tahu tentang ayahku!"


<< Bersambung ....