Suffering

Suffering
Bab 37



Tangan yang bahkan tertutup oleh lengan jaketnya, hanya menunjukkan jari-jari lentik itu meraih gagang pintu, mendorongnya ke depan. Lonceng yang terpasang di atap-atap langit berbunyi ketika pintu terbuka.


Dia mendekati salah satu rak yang penuh dengan buku. Dia meraih salah satu buku bertemakan tentang kriminal dan pembunuhan, tampak jelas tulisan hitam dengan sampul buku merah itu.


Bola mata merah itu bergerak menelisik setiap bangku yang sudah hampir penuh dengan para pengunjung untuk membaca buku. Iris merah itu memicing sekilas tepat pada sosok lelaki yang duduk di sudut ruangan, dekat dengan pintu jendela.


"Itu dia ...."


Tangan dengan kulit putih mulus itu sedikit terlihat ketika dia menarik tudung jaketnya, menutupi sebagian wajahnya sambil melangkah maju, lantas duduk di hadapan sosok lelaki yang tampak fokus membaca buku.


"Kau sudah menunggu lama?" tanya si jaket hitam sambil sedikit menarik tudung jaketnya ke atas, menampakkan sebagian wajahnya yang tertutup.


"Sedikit lama. Tapi tidak masalah." Dia melepas topi hitamnya, lantas sedikit menyibak rambut hitam bercampur merah itu.


"Aku heran. Kenapa setiap kita bertemu, kau selalu mengajakku bertemu di toko buku? Apa kau tidak ada tempat lain lagi?"


"Jake, aku lebih nyaman di sini. Lagipula, di sini kita bisa bicara tanpa khawatir orang-orang itu akan memperhatikan kita."


"Exa, kau menemukan petunjuk?" tanya Jake. Dia sedikit memajukan punggungnya, mendekatkan wajahnya pada Exa.


Exa menggeleng pelan dengan wajah masam, namun tatapan matanya cukup tajam, setajam elang. Dia melipat kedua tangannya di bawah dagu, bertopang dagu.


"Sungguh. Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa sulit sekali untuk menemukannya? Jake, apa kau dapat sesuatu?"


"Aku tidak tahu di mana dia. Tapi, aku tahu jika suaminya sudah mati," kata Jake setengah pelan.


Exa sedikit membelalakkan mata merahnya. Senyum seringai, namun nampak tipis terlihat di sudut bibirnya yang mungil.


"Benarkah? Kenapa dia bisa mati?"


"Ada yang membunuhnya. Tapi, belum ada yang tahu siapa dalang dibalik ini semua. Petugas kepolisian di Kota ini cukup payah. Bahkan, aku saja sudah dapat menebak." Jake melipat kedua tangan di dada sambil menyenderkan punggungnya di kursi.


"Siapa? Kau tahu?"


"Tentu saja. Sudah terlihat sangat jelas jika anaknya sendiri-lah yang membunuhnya."


"Anaknya?" Exa sempat bingung, namun dia teringat akan satu hal. "Ya, anaknya. Saat dia menikahinya, bahkan dia saja sudah menikah dan punya anak."


"Yap. Sepertinya, anaknya punya dendam pada Guren. Terlihat sangat jelas, bagaimana perlakuan Guren pada anaknya itu di masa lalu."


"Wah Jake. Kau benar-benar tahu banyak hal. Aku tidak pernah salah membawamu pada kasus ini." Exa tersenyum, senyuman penuh makna pada Jake.


"Nyonya Hana, aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin melihat reaksimu saat melihat mantan putrimu yang sudah tumbuh besar ini," kata Exa dengan senyum seringai di bibirnya.


"Jake, apa kau tahu siapa nama anak si Guren itu? Aku penasaran dengannya."


"Kevin ...."


Jawaban Jake yang begitu santai membuat Exa terbelalak kaget dengan mata membulat sempurna. Tangan yang memegang buku bersampul merah itu sedikit bergetar, seketika menjatuhkan buku itu ke lantai. Jake terkejut dan meraih buku itu. Dia menepuk-nepuk pundak Exa.


"Exa, ada apa? Kau baik-baik saja?"


"Jake, bagaimana kau bisa tahu semua tentangnya? Kevin? Apa benar itu namanya?" tanya Exa lagi.


'Mungkin namanya saja yang sama. Tapi orangnya berbeda,' batin Exa.


"Aku tahu. Karena ...." Jake meraih ponsel dalam saku jaket, lantas menunjukkan sebuah foto yang kembali membuat Exa terkejut.


'Itu benar dia!' batin Exa.


Dan Jake dengan santai kembali memasukkan benda pipih itu dalam saku jaketnya. Dia meraih satu putung rokok dari dalam saku jaket yang lain, menyalakannya dengan korek api, lantas menyesapnya dengan santai.


"Kau merokok di toko buku! Bagaimana jika pemilik toko tahu! Kita tidak akan diperbolehkan lagi berada di sini!" protes Exa.


"Jangan khawatir, Exa. Kita aman. Aku tahu semuanya."


* * *


Bel pintu berbunyi, dapat terdengar jelas oleh kedua telinga Kevin. Bahkan saat dirinya tengah mendengarkan musik dengan earphone-nya dalam kamar.


"Siapa yang datang bertamu siang-siang begini?" gumam Kevin. Dia melepas earphone yang terpasang di kedua telinga, mengkalungkannya di leher.


"Ke mana Arnold? Kenapa dia tak membuka pintu?"


Kevin beranjak berdiri. Dia masih nampak celingukan mencari keberadaan Arnold di ruang tamu. Namun pria yang dicarinya tak berada di sana. Dengan sedikit terpaksa Kevin melangkah gontai mendekati pintu, membukanya.


"Kamu?" Kevin sedikit kaget dengan siapa seseorang yang bertamu di rumahnya yang mewah itu.


"Ya, ini aku." Alexa sedikit merapikan rambut ungu panjang itu sambil membenarkan letak kacamata bulatnya. Lantas ia meraih tas bingkisan, menjulurkannya ke depan.


"Apa itu?"


"Ini jas almamatermu. Kamu meninggalkannya di apartemenku kemarin," kata Alexa.


Kevin mengingat-ingat kembali, lantas ia menerima tas itu.


"Ah iya, aku lupa mungkin. Tapi, bagaimana kamu bisa tahu rumahku? Aku rasa, tak mmebeirtahumu rumahku kemarin?"


Mereka mulai terdiam. Kevin mengangkat kedua bahunya, lantas hendak menutup pintu kembali. Namun, Alexa mencegahnya, meraih tangan Kevin.


"Apa, kamu tak ingin menawarkanku minum, atau masuk ke dalam?" tanya Alexa dengan senyuman manisnya.


'Kemarin dia tidak seperti ini. Apa dia sudah menemukan ibunya? Lalu ibunya menerimanya kembali?' batin Kevin.


"Aku sendiri di rumah. Kebetulan, kakakku tidak ada di rumah," kata Kevin santai. Dia masih berdiri di ambang pintu.


"Ah, tidak apa-apa. Aku akan tetap masuk." Alexa mendorong dada bidang Kevin ke belakang, membuat tubuh Kevin mundur.


Lantas Alexa langsung masuk rumah mewah itu, tanpa mempedulikan reaksi Kevin lagi. Gadis itu tampak terkagum-kagum dengan rumah besar nan luas itu. Sesekali ia menyentuh beberapa lukisan yang terpampang jelas di dinding.


"Apa kamu di sini hanya tinggal bersama dengan kakakmu? Aku pikir kamu tak punya Kakak," kata Alexa.


"Kenapa kamu tidak pulang saja? Di sini sepi, aku juga tidak akan mau berlama-lama denganmu," kata Kevin.


"Jangan begitu. Apa segitunya kamu denganku?"


'Dia tidak akan cepat pulang jika begini. Ah, sepertinya aku akan mencoba sebuah permainan di sini untuk sebentar,' batin Kevin. Sebuah seringai tipis terukir di bibirnya.


Kevin tersenyum, senyuman yang membuat rona pipi merah Alexa muncul. Alexa langsung membuang muka.


"Apa, kamu ingin bermain denganku? Kebetulan, hanya ada aku dan kamu di sini," tanya Kevin. Dia mendekati Alexa, mendekatkan wajahnya.


"Permainan apa yang kamu maksud? Bukankah lebih baik kita duduk dan ngobrol saja?"


"Ah, itu tidak seru. Ada yang lebih seru dan manis lagi, Alexa."


^^^<< BERSAMBUNG ....^^^