Suffering

Suffering
Bab 36



"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Kamu bisa pulang sekarang." Alexa tersenyum, berusaha untuk menutupi perasaan aneh yang kini membuat jantungnya berdetak kencang.


Kevin diam. Dia memegang dagu dengan salah satu tangannya, mencoba untuk berpikir langkah apa yang harus ia ambil. Akankah ia harus pulang dan meninggalkan Alexa, atau ia harus tetap tinggal dan merawat gadis itu?


Kevin ingin pulang, ia tak ingin lebih lama bersama dengan Alexa. Namun, terdapat sebuah perasaan aneh yang harus membuatnya mau tidak mau berada di sini, bersama dengan Alexa.


"Hah!" Kevin mengacak rambutnya sedikit kasar. Alexa tersentak, hampir ketakutan dengan tingkah laku pria di depannya.


"Ada apa? Kamu bisa pulang. Jangan khawatirkan aku." Alexa memperlihatkan wajah masamnya, yang sontak saja membuat Kevin menaikkan salah satu alisnya.


"Kamu, baik-baik saja?" tanya Kevin.


Dia mendekatkan wajahnya pada Alexa, membuat gadis itu gelagapan dan sontak menarik selimutnya, menutupi sebagian wajahnya yang kini merah merona.


"Ya, aku baik-baik saja. Orang tuaku saja tak akan sekhawatir ini. Dan kamu, yang hujan siapa-siapa, kenapa harus khawatir?"


Ucapan Alexa yang begitu santai membuat Kevin menangkap suatu hal aneh dalam pikirannya tentang Alexa. Dia tahu betul, ucapan itu sangatlah tidak asing di kedua telinganya. Ucapan itu selalu mengingatkan Kevin pada masa lalunya yang hingga kini tak jua ia lupakan.


Kevin kembali menjauhkan wajahnya. Alexa kembali menurunkan selimutnya pelan dengan helaan napas panjang. Kevin membuang muka sekilas, lantas kembali menatap pada Alexa.


"Apa, keluargamu tidak menginginkanmu?" tanya Kevin sekenanya dengan wajah datar, namun tatapan matanya seolah mengintimidasi.


Alexa menelan ludah. Tatapan mata yang bahkan lebih tajam daripada elang itu membuat tenggorokannya seolah tercekat, tak dapat mengeluarkan sepatah katapun.


"Kenapa kamu diam?"


"Aku ...." Alexa kembali terdiam sambil memegang dadanya yang berdesir kuat, seolah dirinya tengah menatap binatang buas yang siap menyantapnya kapan saja.


Kevin kembali mendekatkan wajahnya. Memperlihatkan tatapan mata yang tampak seperti mengintimidasi itu. Yang kembali membuat Alexa menelan ludahnya, juga menarik selimutnya ke atas, menutupi sebagian wajahnya.


Kevin mengamati tatapan mata Alexa sedikit lama. Lantas, ia kembali menjauhkan wajahnya dengan senyum aneh di bibir, tampak begitu memanipulasi. Alexa benar-benar terpojok, tak tahu apa yang pria di depannya akan lakukan.


"Sudah kuduga, pertanyaanku benar adanya. Namaku Kevin, dan kamu?" Kevin mengangkat jari telunjuknya ke depan, menunjuk pada wajah Alexa.


"Bagaimana, kamu, bisa tahu? Siapa kamu sebenarnya?"


"Aku?" Kevin menunjuk dirinya sendiri dengan senyum mengembang, senyum yang tampak mengerikan di mata Alexa.


"Namaku, Alexa." Tatapan mata itu, seakan berkuasa, mampu membuat Alexa tak dapat melawan.


"Alexa, ya. Nama yang indah," kata Kevin. Sontak saja wajah Alexa kembali memerah dengan jantung yang terus berdesir tak beraturan.


"Tapi ...." Kevin kembali menunjukkan senyuman menakutkan itu. "Kehidupanmu tak seindah namamu."


Alexa tak kecewa dengan ucapan itu. Dia kembali memasang wajah masam dengan senyum di bibirnya.


"Ya, kamu benar. Aku tidak tahu, kenapa kamu bisa tahu apa yang saat ini aku pikirkan."


"Kenapa kamu datang? Kenapa kamu datang ke sini? Aku tahu, kamu baru pindah ke kota ini seminggu. Dan kamu pun sekolah di kota ini baru seminggu."


"Aku datang, untuk mencari ibuku. Ya, ibuku memang tak menyukaiku, atau bahkan menganggapku ada, sejak dia menikah lagi. Tapi, aku ingin mencarinya!"


Kevin terkekeh. Pertemuannya dengan Alexa seolah takdir yang selalu membawanya pada ingatan masa lalu kelam itu.


Alexa benar-benar bingung. Dia tak mengerti dengan apa yang kini berada dalam pikiran Kevin. Atau bahkan tak bisa mengerti, kenapa dia menanyakan hal yang seharusnya hanya Alexa saja yang tahu.


"Nikmati saja kehidupan burukmu itu. Suatu hari nanti, kamu pasti akan tiba pada fase yang lebih mengerikan," kata Kevin, dengan senyum seringai mengembang.


Kevin pergi, meninggalkan Alexa yang tampak bingung dengan banyaknya pertanyaan dalam pikiran.


* * *


Arnold cukup khawatir dengan Kevin. Arnold sering kali membuka pintu, memastikan apakah Kevin pulang ataukah belum. Namun, beberapa jam telah berlalu, dan Kevin tak kunjung pulang.


Hingga dia sampai ketiduran di atas sofa panjang ruang tamu. Dan ketika Kevin pulang, pemuda itu cukup terkejut mendapati Arnold yang tampak pulas tidur di atas sofa depan televisi.


"Kenapa dia tidur di sini?" pikir Kevin.


Dia ingin membangunkan Arnold. Namun ia urungkan niat itu ketika sudut matanya menangkap jam dinding yang sudah memperlihatkan pukul delapan malam.


"Gila! Aku belum mandi, dan sudah malam?" Buru-buru Kevin berlari memasuki kamarnya, melupakan niatnya untuk membangunkan Arnold.


Dan ketika esok pagi tiba. Arnold yang masih dalam keadaan tertidur menggerakkan tubuhnya, hingga dirinya terjatuh ke lantai, dengan kening yang menghantam kaki-kaki meja.


"Sial!" Arnold mengerjapkan matanya sambil memijat kening yang mulai memerah sedikit kebiruan.


"Apa, Kevin sudah pulang? Ah, ternyata aku ketiduran semalam."


Arnold hendak meraih ponselnya di atas meja, bertujuan untuk menghubungi Kevin lagi. Namun, ketika pintu kamar terbuka, dan memperlihatkan sosok Kevin yang tampak santai mendekati meja dapur, meraih gelas berisi air putih, dan menenggaknya hingga tandas. Arnold mengeraskan rahang, lantas meraih kepala Kevin, memukulnya sedikit kasar.


"Apa kamu sudah gila! Kamu pulang semalam dan tidak mmebangunkanku!"


"Kamu terlihat sudah pulas tidur. Jadi, aku tidak tega membangunkanmu," kata Kevin.


"Benarkah itu? Aku rasa, kamu tak akan punya pemikiran baik seperti itu."


Kevin menarik kepalanya menjauh dari Arnold. Dia meletakkan gelas kaca itu kembali ke atas meja, lantas duduk di sofa depan televisi.


"Jangan seperti itu. Begini juga aku orang yang baik," kata Kevin.


"Ngomong-ngomong, kemana aja kamu semalam?" Arnold duduk di samping Kevin.


"Tadi malam, aku mengurus bayi musang yang sedang sakit," kata Kevin.


"Bayi musang? Apa ada? Bagaimana caramu merawatnya?"


"Entahlah. Aku hanya melakukannya, dan buktinya dia baik-baik saja."


* * *


Ada begitu banyak mata yang fokus pada sosok perempuan dengan jaket menutupi tubuhnya, nyaris menutupi semua bagian tubuhnya, bahkan wajah, dan hanya memperlihatkan sedikit rambut ungunya dengan kepala yang terus menunduk di sepanjang jalan.


Perempuan itu bahkan tak memperhatikan langkah kakinya. Sering kali dia menabrak para pejalan kaki yang lewat, membuat salah satu dari mereka sampai menghentikan perempuan itu. Namun, tak digubris oleh sosok perempuan itu.


"Dasar! Orang macam apa yang tidak punya etika seperti itu!"


^^^<< BERSAMBUNG ....^^^