
Sosok gadis berambut ungu panjang bergelombang dengan kacamata bulat bertengger di atas hidungnya mendadak berhenti. Raut wajahnya tampak gusar. Sesekali ia menoleh ke belakang, memperhatikan sekelilingnya dengan waspada. Lantas kembali melangkah.
Namun, bau nikotin di belakangnya yang menyengat hidung langsung membuat gadis itu kembali berhenti. Dia menoleh dengan cepat, namun tak ada siapapun di belakangnya. Lebih cepat dia melangkahkan kaki, nyaris berlari.
Dia melewati sebuah gang kecil yang tampak lengang, tak ada satupun pejalan kaki di sana. Hingga ia kembali menghentikan langkahnya ketika sosok lelaki bertubuh kekar berdiri di hadapannya sambil bersedekap.
"Siapa dia?" gumam gadis itu.
Dia mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Lantas berbalik dengan cepat, hendak berlari pergi. Namun lelaki itu meraih lengan si gadis dengan cepat, menariknya hingga tubuh si gadis menghantam dada bidang lelaki bertubuh kekar.
"Lepaskan aku! Siapa kamu!" seru si gadis. Dia terus berontak, menggerakkan tangannya dengan kasar, namun tangan kekar lelaki di belakangnya begitu kuat.
Kevin berjalan tanpa memperhatikan langkah kakinya. Mata dan kedua tangannya tak luput dari benda pipih itu. Hingga dirinya tak sadar telah masuk jalan gang kecil. Sontak saja dia berhenti, memasukkan benda pipihnya dalam saku jas.
Dia berbalik sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, hendak pergi. Namun langkahnya langsung berhenti ketika tubuh itu sudah berbalik. Suara teriakan sosok gadis membuatnya kembali berbalik, menajamkan pendengarannya.
Dia melangkah maju, mendekati sumber suara itu. Hingga kaki itu kembali berhenti di depan sosok gadis dengan tangan yang dicengkeram lelaki bertubuh kekar.
"Tolong aku!" seru si gadis memelas. Dia hendak melangkah maju, mendekati Kevin jika lelaki bertubuh kekar itu tak langsung memeluk tubuh si gadis, memeluknya erat.
Kevin memiringkan kepala, tampak dengan wajah polosnya. Lelaki bertubuh kekar melotot tajam pada Kevin, membuat pemuda itu sontak saja berdecak, lantas berbalik, dan berlalu pergi. Membiarkan si gadis masih berada di tangan lelaki bertubuh kekar.
"Heh ...." Si gadis sampai tak bisa berkata-kata.
Dia berpikir jika pemuda itu akan menolongnya. Tapi, apa yang telah terjadi sungguh di luar ekspektasinya. Si gadis mendengus, dan tanpa sadar kakinya menghentak kaki lelaki bertubuh kekar dengan sangat kuat. Hingga membuat lelaki itu melepas cengkeraman tangannya dari si gadis.
Si gadis tersentak, dan baru menyadari jika kini lelaki bertubuh kekar tak lagi menangkapnya. Sontak saja dia langsung berlari meninggalkan lelaki bertubuh kekar yang tampak meringis menahan denyut di kakinya.
Si gadis masih terus berlari sambil sesekali menengok ke belakang. Hingga dirinya tak menyadari sosok Kevin yang tangah berjalan santai dengan kedua tangan masuk saku jas. Alhasil, si gadis menghantam punggung Kevin, membuat kedua orang itu terjatuh bersamaan dengan si gadis menindih tubuh Kevin.
"Kamu lagi?" Kevin mengerutkan kening. Dia langsung mendorong tubuh si gadis, membuat gadis itu terduduk di tepi jalan.
Kevin beranjak berdiri sambil menepuk-nepuk seragamnya yang sedikit berdebu, begitu juga si gadis yang juga mengenakan seragam yang sama dengan Kevin. Gadis itu juga menepuk-nepuk pantatnya yang sedikit berdenyut.
"Kenapa kamu mendorongku? Aku tidak sengaja menabrakmu, oke?" Si gadis tampak bersungut-sungut.
"Aku tidak suka disentuh. Dan kamu menyentuhku," kata Kevin santai. Dia melipat kedua tangan di dada.
"Aku tidak sengaja! Kamu tahu aku tadi dikejar preman. Dan kamu dengan santainya meninggalkanku."
"Memangnya, siapa kamu sampai aku harus menolongmu? Aku rasa ini akan berkaitan dengan kepribadianku jika menolongmu."
"Kenapa kamu sangat menyebalkan? Orang tuamu pasti menyesal sudah melahirkanmu." Si gadis melotot tajam pada Kevin. Pemuda di depannya diam dengan wajah santai.
"Ya, mereka menyesalinya. Kamu puas?" Kevin berbalik, dan berlalu pergi.
"Apa aku baru saja mengatakan hal yang tak seharusnya kukatakan?" gumam si gadis.
"...."
Kevin terus menatap rekaman cctv dari rumah sakit itu. Sesekali dia men-zoom bagian saat sosok berpakaian serba hitam menarik penutup wajahnya, memperlihatkan bibir merah merona itu.
"Siapa dia? Apa masalahnya denganku? Atau, dengan Ibu? Atau dia musuh Ayah dan Ibu?" gumam Kevin.
Dia menghela napas panjang, memutar kursi berdoa itu. Membiarkan tubuhnya ikut berputar. Dia beranjak berdiri, menutup laptopnya dan berbaring di atas ranjang. Membiarkan kedua matanya terpaku lurus pada langit-langit atap.
"Bagaimana caraku mencari pelaku meninggalnya ibuku? Aku rasa ini akan sangat sulit."
* * *
Kevin mengenakan earphone nya di kedua telinga sambil menenteng tas di belakang punggung. Hingga dirinya tak sadar jika langit mulai menampakkan awan gelapnya, mendaratkan Rintik-rintik hujan dari atas langit, menghantam pipi putih itu. Kevin berhenti dan sedikit mendongak, membiarkan Rintik-rintik hujan yang semakin deras itu menghantam wajahnya, juga seluruh tubuhnya.
"Ya. Bahkan langit pun tak ingin aku menikmati hidup yang sudah sangat gelap ini," gumam Kevin dengan wajah masam.
Alih-alih mencari tempat teduh. Kevin masih terdiam dengan mata terpaku pada langit dengan awan gelap di atas. Membiarkan derasnya hujan terus menghantam tubuh itu.
Ketika Rintik-rintik hujan sudah tampak sebesar biji jagung. Gadis berambut ungu itu meraih payung lipat di dalam tas, lantas membukanya, dan kembali berjalan. Hingga dia kembali berhenti ketika mendapati sosok lelaki berdiri di bawah derasnya hujan.
Gadis berambut ungu panjang bergelombang itu melepas kacamatanya, mengusapnya dengan kain bersih, lantas kembali memakainya.
"Aku tidak salah lihat. Dia memang pria itu. Kenapa dia main hujan begitu? Apa, perkataanku kemarin membuatnya sedih? Apa aku benar-benar sudah bersalah padanya?" gumam si gadis.
Si gadis melangkah maju, menghampiri Kevin yang masih diam mematung di bawah derasnya hujan. Si gadis mengulurkan payungnya, menutupi tubuh Kevin yang kehujanan. Membuat pemuda itu tersentak dan menoleh.
"Kamu?"
"Ya, ini aku. Kenapa kamu main hujan? Bagaimana kalau kamu sakit?" tanya si gadis. Dia masih mengulurkan payungnya, menutupi tubuhnya dan Kevin.
"Aku pantas mendapatkannya. Bagiku, semua ini bukanlah apa-apa."
Si gadis menggelengkan kepalanya. Dia meraih tangan Kevin yang kini sudah dingin, sedingin es. Dia memberikan payung itu pada Kevin, lantas berjalan pergi setelah berkata.
"Aku tidak tahu apa yang sekarang ini kamu hadapi. Tapi yang pasti, jangan sampai kamu sakit."
Si gadis tiba di sekolah dengan seragam basah kuyup. Hingga membuat tubuhnya sedikit menggigil. Dia pergi ke kantin, dan membeli minuman hangat, lantas meminumnya perlahan dengan handuk menempel di tubuhnya.
"Huh, benar-benar dingin. Aku harap seragamku akan cepat kering. Tapi, sebenarnya aku lebih merasa penasaran dengan pria itu. Dia cukup aneh bagiku."
^^^<< Bersambung ....^^^