
Gery terkekeh dengan seringai di bibirnya, walau wajahnya masih meneteskan keringat dingin, hingga membasahi lehernya. Dia beranjak berdiri, memegang pistol dengan erat sambil meletakkan salah satu tangannya di pinggang.
"Kamu tidak tahu aku, anak muda. Aku bukanlah orang bodoh yang akan bisa kamu bunuh. Aku akan dengan mudah membunuhmu." Keringat dingin masih bercucuran ketika Gery selangkah ke depan, berhadapan dengan Kevin.
Kevin melangkah mundur dengan kedua tangan terangkat ke atas. Mulutnya mengulas senyum yang terkesan mengejek, membuat Gery mengeraskan rahang.
"Oke, oke. Sepertinya kamu bukanlah lawanku yang tepat. Aku pasti akan mati," kata Kevin santai, masih dengan kedua tangan terangkat ke atas.
Gery meludah, sontak saja membuat Kevin satu langkah ke belakang, menjauh dari air liur menjijikkan itu. Dia berdecak dengan kepala menggeleng pelan.
"Rumahmu ini akan kotor dengan semua air liur yang kamu keluarkan." Kevin menurunkan tangannya pelan. Kini, dia mulai bersedekap dengan pistol di tangan kanannya.
"Aku benar-benar akan membunuhmu, bocah ingusan!" Wajah setengah keriput itu tampak merah padam dengan rahang mengeras.
Dia berdiri tegap dengan pistol yang mengarah pada Kevin. Jari-jari setengah keriput itu mulai menempel pada pelatuk. Dan ketika pelatuk ditarik, percikan api dengan satu butir peluru keluar, melesat ke arah Kevin yang masih berdiri sambil bersedekap, tampak santai.
Hingga tepat ketika butir peluru itu hendak mengenai wajahnya. Dia mengelak dengan cepat, membuat peluru itu hanya sedikit menggores beberapa helai rambut hitam pekatnya.
"Sial! Kamu membuatku kehilangan beberapa helai rambutku yang sudah aku rawat dengan baik," gerutu Kevin, tampak santai.
Gery bersungut-sungut. Dia kembali mempersiapkan pistolnya, menarik pelatuk beberapa kali. Hingga, membuat peluru dalam pistol habis. Dan peluru-peluru yang melesat ke arah Kevin, hanya mengenai udara, tak mengenai Kevin.
"Sabar, Tuan Gery. Kesabaran adalah kunci keberhasilan," kata Kevin. Dia mengusap rambutnya, terkesan keren sambil melangkah maju, mendekati Gery dengan pistol masuk saku jaket.
"Aku ingin bertanya. Tapi karena kamu yang tidak mau diajak berkompromi. Semuanya jadi berjalan lambat.
Ayolah Tuan. Jawab saja apa yang aku tanyakan. Dan semua ini akan berakhir."
Gery menghempaskan pantatnya di atas sofa dengan kedua tangan terlipat di dada. Dia menghela napas panjang, lantas mengedarkan pandangan pada Kevin yang kini duduk di hadapan Gery.
"Siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku? Sepertinya aku sudah tahu. Tapi, aku tak akan percaya begitu saja tanpa bukti yang kuat."
"Apa kamu sungguh ingin tahu? Tidak akan menyesalinya?" Gery tersenyum menyeringai. Kevin mengangguk dengan santai.
"Ayahmu. Dia yang ingin kamu tiada. Aku rasa, kamu memiliki seorang Ayah yang begitu tak mempedulikanmu. Hingga dia ingin sekali kamu pergi dari dunia ini."
Kevin mengangguk santai. Membuat Gery tercengang. Tak menyangka jika Kevin akan dengan begitu santai menerima fakta jika ayahnya yang menginginkan dia tiada.
"Dia seperti kamu, Tuan Gery. Tidak menyayangi anaknya, bahkan menganggap anaknya pembawa sial," kata Kevin.
"Apa maksudmu?"
"Ya, separuh dari semuanya. Aku sudah tahu bagaimana kamu sangat tidak mempedulikan anakmu, Arnold.
Dia bahkan mau mengorbankan nyawanya, hanya untuk melakukan apa yang kamu perintahkan. Jika saja, peluru yang kamu tembakkan beberapa hari lalu mengenai jantung atau paru-parunya.
Aku tidak yakin jika dia akan dapat bertahan hidup. Kamu sungguh gila, Tuan Gery."
"Terkadang, kita harus mengorbankan satu barang yang berharga untuk mendapatkan harta yang berlimpah," kata Gery.
"Wah ...." Kevin terkekeh dengan wajah masam. "Luar biasa. Aku baru tahu kata-kata gelap seperti ini."
"Bagaimana dengan dirimu? Apakah Guren juga sepertiku? Ataukah, dia dari awal tak menginginkanmu?"
"Lucu sekali. Entahlah, dari aku kecil. Tak pernah sekalipun Ayah menghabiskan waktu setidaknya untuk satu detik saja bersamaku.
Dia juga sering bertengkar dengan Ibu. Hingga membuat Ibu depresi, dan pada akhirnya melakukan bunuh diri."
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Aku ingin mendapat uang lebih banyak lagi." Gery beranjak berdiri. Dia kembali menodongkan pistolnya pada samping kiri kepala Kevin. "Tapi aku tak akan mendapatkannya jika kamu tidak mati."
Kevin menoleh. Kini, kedua bola matanya berhadapan dengan ujung pistol yang masih mengepulkan asap tipis itu. Dia tersenyum, terkesan mengejek.
"Sekarang aku tak membutuhkanmu lagi. Dan sepertinya, kamu yang harus mati." Kevin menyeringai lebar. Membuat Gery kembali mengeraskan rahang.
Jari-jari Gery mulai bergerak, hendak menarik pelatuk. Namun, ketika tangan Gery hendak menarik pelatuk. Dengan cepat, Kevin meraih pistol dalam saku jaketnya, lantas menembakkan peluru itu, berhasil mengenai kepala Gery, dan menyemburkan cairan merah kental, mengenai wajah dan pakaian Kevin. Menjatuhkan tubuh setengah renta itu ke lantai berbalut karpet merah maroon.
"Hah ...." Kevin menghela napas berat. Dia beranjak berdiri sambil mengusap pelan ujung pistolnya dengan kain polos. "Balas dendammu sudah kulakukan, Arnold. Aku, tak akan membiarkan kamu melakukan dosa ini. Biar aku saja yang melakukannya. Biar aku saja yang mendapat hukuman ini."
* * *
Kaki setengah renta itu terus berjalan maju mundur tak beraturan dengan wajah tegang. Sesekali tangan setengah keriput ia kepal erat, lantas memukul meja sedikit kasar. Hingga meninggalkan bekas kemerahan pada telapak tangan setengah rentanya.
"Bagaimana si Gery itu kerjanya. Dia tak juga mengabariku. Apa dia sudah membunuhnya?"
Dia kembali menatap layar ponselnya yang sedari tadi sudah terhitung berapa banyak. Namun, tak ada notifikasi yang menunjukkan jika Gery menghubunginya. Dan itu membuatnya kembali melangkah tak beraturan dengan tangan sedikit bergetar.
"Apa jangan-jangan, Gery ...." Dia tak melanjutkan ucapannya ketika suara bel pintu berbunyi, membuatnya tersentak.
Setengah ragu dia hendak membuka pintu. Namun, ketika bel pintu yang sebelumnya terus berbunyi kini senyap, dia memegang gagang pintu, memutarnya perlahan, hingga kini pintu terbuka.
"A-pa!" Dia melangkah mundur dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya ketika sosok Kevin berdiri di ambang pintu dengan seringai lebar di bibirnya.
"Halo, Tuan Guren." Kevin memiringkan kepala dengan seringai lebar di bibirnya. Membuat jakun Guren naik turun, menelan ludah.
Sontak saja Guren melangkah mundur, menjauhi Kevin. Namun, Kevin melangkah maju, mendekati Guren yang tampak dengan raut wajah tegang. Dia terus melangkah mundur, hingga kini tubuhnya terpentok pada dinding, tak dapat menjauh lagi ketika Kevin sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa Anda terlihat takut begitu? Saya datang ke sini hanya untuk berbincang santai dengan Anda, Tuan Guren." Kevin berkacak pinggang. Tatapannya yang seakan mengintimidasi membuat Guren gelagapan, hingga kakinya yang gemetar tak dapat menopang tubuh setengah renta itu. Hingga membuatnya terduduk di lantai.
"Ka-mu, teman Kevin bukan? Mau apa kamu ke sini!"
^^^^^^<< Bersambung ....^^^^^^