Suffering

Suffering
Bab 33



Membutuhkan waktu hampir tiga jam untuk bisa memperbaiki kamera cctv. Kini, Kevin dapat membuka rekaman yang sebenarnya sudah dihapuas. Karena sebenarnya, riwayat rekaman itu masih tersimpan, dan membutuhkan waktu dua setengah jam untuk Kevin dapat membukanya.


Dalam kamera cctv, dapat terlihat jelas sosok berpakaian serba hitam masuk kamar Kirana, lantas melepas alat pernapasannya, hingga membuat Kirana tak dapat bernapas, dan akhirnya kehilangan kesadaran.


"Tunggu! Dia sempat menarik penutup mukanya," kata Kevin. Dia men-zoom pada bagian pada sosok ketika sedikit menarik penutup wajahnya, memperlihatkan bibirnya yang merah merona menyeringai lebar.


"Dia, perempuan!" pekik Arnold, tepat dekat telinga kanan Kevin, hingga membuat pemuda itu menoleh dan melotot pada Arnold.


"Maaf," lirih Arnold sambil mmebungkam mulutya dengan satu tangan.


"Kevin, apa kamu punya musuh perempuan?" tanya Arnold. Kini Kevin menutup komputer itu seusai menyalin rekaman cctvnya dalam sebuah flashdisk.


Kevin memutar kursi empuk beroda itu, menghadap pada Arnold yang duduk di atas meja. Arnold tampak sedang berpikir, sementara Kevin terlihat tenang, namun jauh dari dalam lubuk hatinya. Ia masih menyimpan perasaan pilu atas meninggalnya sang Ibu.


"Sudahlah Kevin. Kita bisa mencari tahu lagi. Sekarang, kita harus cepat pulang untuk besok," kata Arnold. Dia beranjak berdiri, mendekati pintu, membukanya.


"Besok kenapa?"


"Waktu scors sekolah kita berakhir hari ini. Jadi besok kita akan kembali sekolah." Wajah Arnold tampak berseri-seri. Sementara Kevin diam dengan mata memutar malas.


* * *


Arnold menepuk kasar pundak Kevin ketika mereka tiba di depan pintu kelas. Tepatnya pintu kelas Kevin. Arnold tampak memasang wajah masam, membuat Kevin mengerutkan kening.


"Ada apa?" tanya Kevin santai sambil melipat kedua tangan di dada.


"Kita beda kelas. Padahal kita sudah tinggal sejengkal lagi untuk bisa lebih akrab. Atau mungkin aku bisa menjadi kakakmu. Kita sudah tinggal bersama kan, aku bisa kok menjadi kakak yang baik," kata Arnold sambil membusungkan dada bidangnya.


Kevin terkekeh dengan seringai di bibir. Dia hampir saja hendak meludah, namun ditahannya ketika Arnold sudah lebih dulu melangkah mundur, menjauhi Kevin.


"Aku tak butuh seorang Kakak. Kamu bisa keluar dari rumahku. Apa kamu belum mendapat tempat tinggal baru?"


"Kevin, aku satu tahun lebih tua darimu. Jadi, aku ingin menjagamu. Walau kamu menolak, tapi aku akan mencoba menjadi Kakak yang akan selalu menjaga adiknya." Arnold tersenyum. Dia mengacak-acak rambut Kevin, lantas berlalu pergi.


Kevin berdecak sembari merapikan rambut hitam pekat yang sedikit acak-acakan itu. Namun, tanpa disadari, seulas senyum tipis, setipis tisu terukir di bibirnya. Sedikit senang ketika Arnold ingin menjadi seorang kakak untuk Kevin, walau sebenarnya dia memang tak membutuhkannya.


Ketika pintu kelas terbuka. Para gadis yang sebelumnya duduk tenang langsung beranjak berdiri dengan rona pipi merah mereka, memandang Kevin dengan wajah berseri-seri.


Kevin membuang muka, menjulurkan lidahnya tanpa mereka tahu. Dia mendekati bangku di sudut ruangan, dekat pintu jendela, dan duduk di kursi yang sudah seminggu tak ia duduki.


'Aku tak suka pemandangan ini. Ada begitu banyak cacing kepanasan di sini,' batin Kevin.


Dia beranjak berdiri, lalu berjalan pergi, hendak meninggalkan kelas. Namun, langkah kakinya terhenti ketika pintu terbuka, tak sengaja keningnya menghantam wajah sosok gadis yang langsung terduduk ke lantai.


Gadis itu meringis sambil memegangi keningnya yang sedikit berdenyut. Kevin diam, tak sedikitpun merasa iba pada gadis berambut ungu panjang bergelombang yang kini sudah kembali bangkit berdiri.


Gadis itu memicingkan kedua matanya pada Kevin, mendekatkan wajahnya. Dan ketika wajah itu nyaris menyentuh Kevin, tampak muncul rona merah di pipi gadis itu. Dan sontak saja dia langsung membuang muka.


"Sudah dramanya? Hanya terjatuh, kamu tidak akan meninggal," kata Kevin tak acuh lalu berlalu pergi, meninggalkan si gadis yang masih menampakkan rona merah di pipi putih mulusnya.


"Kamu ngelamun di sini? Hati-hati, nanti kesambet baru tahu rasa," kata Arnold dengan nada sedikit meninggi. Membuat Kevin tersentak, dan langsung menunjukkan sorot mata tajamnya.


"Kenapa kamu di sini? Bukankah ini sudah jam masuk?" tanya Kevin dengan kening berkerut.


"Iya, sih. Tapi ...." Arnold merangkul pundak Kevin. "Sepertinya Adik baruku lagi membutuhkan teman cerita."


Kevin menepis tangan Arnold, dan sedikit menggeser jauh dari Arnold. Membuat pemuda itu geleng-geleng kepala dengan decakan di mulutnya.


"Kayaknya kamu itu nggak suka gitu dirangkul ya? Sama Kakak sendiri juga." Arnold menatap sinis. Kevin bergeming, tak sedikitpun tak mengalihkan pandangannya dari langit-langit biru indah di atas.


"Hei, Arnold."


"Hmm?"


"Kenapa hidupku tak pernah berwarna? Apa aku akan selalu menderita seperti ini? Jujur saja, rasanya aku ingin sekali pergi jauh dari dunia ini." Kevin menghela napas berat. Dia berbalik, menyenderkan punggungnya pada pagar pembatas.


"Sebelum aku menjawab pertanyanmu. Pertama-tama, panggil aku dengan sebutan "Kakak", oke?"


"Cepat jawab saja pertanyaanku," paksa Kevin. Arnold menghela napas panjang, matanya mulai memandang langit-langit di atas.


"Kevin, kita sama. Sama-sama menderita karena perilaku keluarga pada kita. Tapi, akankah kamu pernah berpikir akan satu hal?" Arnold berbalik, mendekati Kevin yang tampak mengerutkan kening.


"Satu hal apa?" tanya Kevin.


"Jika kita harus tetap melangkah maju, jangan lagi menoleh ke belakang. Kita harus menjalani kehidupan baru kita, tanpa harus mengingat masa lalu. Maka, pasti hal yang tak kita inginkan perlahan akan menghilang dengan sendirinya." Arnold jongkok dengan punggung bersender pada pagar.


"Kehidupan gelap terjadi karena kita terus saja menoleh ke belakang. Terus mengingat masa lalu yang akan selalu menyakiti kita. Meninggalkan bekas untuk kita."


Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum tipis di bibir. Dia melangkah maju, dan berlalu pergi dengan tangan melambai, untuk Arnold tentunya.


"Terimakasih, Kakak!" seru Kevin. Arnold tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Ketika pintu kelas terbuka, tampak Bu Elly menatap pada Kevin dengan sorot mata dingin sambil bersedekap.


"Kamu darimana saja?" tanya Bu Elly.


Kevin membungkuk sopan. "Maaf, saya dari kamar mandi. Kebelet, tidak bisa menahan sampai Ibu datang," kata Kevin santai lalu berjalan mendekati bangkunya, duduk di sana dengan dua belah tangan terlipat, di atas meja.


Arnold yang melewati kelas Kevin hanya terus mengulas senyum dengan tingkah kebohongan yang keluar dari mulut Adik barunya itu.


Kevin lebih memperhatikan pelajaran yang diberikan Bu Elly pagi ini. Hingga ketika jam istirahat, Bu Elly sampai menghampiri Kevin.


"Ada apa, Bu?" tanya Kevin. Bu Elly bediri di depannya dengan mengulas senyum.


"Hari ini sepertinya kamu lebih bisa menghormati guru kamu."


^^^<< Bersambung ....^^^