
"Kami akan coba untuk mencari tahu siapa orang yang sudah menembak Tuan Carlos dari kamera cctv kantor polisi," kata salah satu petugas kepolisian. Kevin terdiam, dia tak sedikitpun menoleh pada lawan jenisnya. Matanya terpaku pada sosok Carlos yang terbaring di atas ranjang tak sadarkan diri dengan selang infus di punggung tangannya.
Ketika tak ada respon dari Kevin, petugas kepolisian berbalik, hendak pergi. Namun Kevin yang menyadari kepergian para petugas kepolisian langsung menoleh dan menepuk salah satu dari belakang punggung mereka. Membuat mereka menoleh, dan memasang raut wajah ramah.
"Aku akan ikut. Aku ingin tahu, siapa orang yang sudah dengan berani mencelakai Carlos." Sorot mata Kevin tampak tajam, setajam elang yang sedang mencari mangsa. Para petugas kepolisian mengangguk pelan, lantas berlalu pergi.
Kevin mulai melangkahkan kakinya, hendak menyusul para petugas kepolisian. Namun, kaki itu kembali terhenti, hanya beberapa jarak dari jendela kaca di belakang. Dia kembali berbalik, berjalan mendekati jendela kaca. Telapak tangannya menyentuh kaca itu dengan mata berkaca-kaca, namun wajahnya masih tampak datar.
"Carlos, jangan khawatir. Aku akan mencari tahu orang yang sudah dengan berani melukaimu. Aku akan menghabisinya!" Kevin menyeka sedikit air mata yang mulai berkumpul di sudut netra, lantas berlalu pergi dengan kedua tangan masuk saku jaket.
Karena jarak antara rumah sakit dengan kantor polisi yang tak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu limabelas menit, para petugas kepolisian dan Kevin tiba di gedung kantor polisi. Kini mereka berdiri di depan layar komputer yang memperlihatkan rekaman pada cctv luar gedung.
"Ini rekaman cctvnya. Kita akan menunggu beberapa menit kedepan, saat kamu keluar dari mobil," kata salah satu Polisi. Kevin mengangguk. Dia berdiri di belakang kursi beroda yang salah satu Polisi itu duduki.
Beberapa menit dari rekaman cctv sudah berjalan. Dan belum ada tanda-tanda adanya peristiwa penembakan itu terjadi. Hingga saat rekaman itu berjalan pada waktu dimana Kevin hendak memasuki gedung. Carlos tiba-tiba saja keluar dari mobil, berlari mendekati Kevin.
Terlihat dari rekaman bahwa Carlos berdiri di belakang Kevin, memunggungi Kevin dengan kedua tangan terlentang, seakan dia seperti ingin melindungi Kevin. Dan tak berselang lama, terdapat sosok dengan pakaian serba hitam memakai topeng berdiri di balik body mobil.
Dengan pistol di tangannya, sosok itu menarik pelatuk, melontarkan satu butir peluru, tepat mengenai perut Carlos. Kevin mulai mengerutkan kening dengan kepala memiring ke samping kanan. Wajah sosok pakaian serba hitam itu tak terlihat jelas karena berada di balik kegelapan, berdiri di sisi kanan body mobil sedan.
"Coba zoom bagian sosok itu. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas," pinta Kevin. Petugas kepolisian mengangguk dan men-zoom tepat pada wajah sosok hitam. Namun, karena cahaya gelap pada tempat sosok itu berdiri, membuat kamera menunjukkan wajah sosok hitam menjadi blur.
"Maaf, gambarnya tetap tidak terlihat dengan jelas. Dia juga memakai topeng."
"Sial! Kamera cctv ini tak ada gunanya," gumam Kevin. Dia mengepal erat tangan kanannya, memukul badan kursi dengan kasar, membuat petugas kepolisian yang duduk di kursi tersebut tersentak dan langsung menoleh.
"Aku benar-benar tidak akan mengakui kualitas kamera cctv itu. Tapi, aku ucapkan terimakasih karena sudah membantuku," kata Kevin. Dia membungkuk sopan, lantas berlalu pergi, meninggalkan gedung kantor polisi.
* * *
Derap langkah kaki yang cukup keras membuat Kirana yang tengah tertidur langsung membuka matanya lebar. Dia masih sedikit menguap, dan mulai terbangun sepenuhnya.
Kirana menengok pada jam dinding dekat langit-langit atap. Waktu menunjukkan pukul duabelas malam, dan suara derap langkah kaki itu kian mendekati pintu kamar Kirana. Wanita paruh baya itu mulai terlihat gusar.
Tak berselang lama, pintu kamar tampak diketuk-ketuk. Keringat dingin mulai membasahi kening Kirana, tenggorokannya mulai mengering, dia menelan ludahnya sedikit kasar.
Kirana kembali menelan ludah. Dia menghela napas panjang, kemudian menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Lantas perlahan-lahan Kirana beranjak dari atas ranjang, berjalan perlahan sambil membawa infus menuju pintu.
"Siapa di sana?" Kirana kembali bertanya. Dan ketika dirinya sudah berdiri dekat pintu, ketukan pintu tak lagi bersuara, membuat Kirana mengerutkan kening.
Dia mendekatkan tangan dengan selang infus itu pada gagang pintu. Kembali Kirana menelan ludah, lantas perlahan mulai memutar gagang pintu, membukanya lebar.
"Tidak ada siapa-siapa di sini. Lalu, siapa yang mengetok pintu?" pikir Kirana. Dia mulai mengusap tengkuknya yang meremang, lantas berbalik dan kembali ke atas ranjang usai menutup pintu.
* * *
Kevin menggeliatkan tubuhnya ke sisi kanan dan kiri ketika sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar melewati pintu kaca berbalut gorden yang sedikit terbuka. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, lantas dengan gontai menyibak selimut dan beranjak dari atas ranjang.
"Ah ...." Kevin menepuk keningnya pelan. "Aku hampir lupa. Hari ini Ibu akan pulang. Tapi ... apa yang harus aku katakan nanti saat Ibu tiba-tiba saja menanyakan tentang Carlos? Aku juga tak mungkin memberitahunya tentang keadaan Carlos saat ini." Kevin menyambar handuk, lantas berjalan menuju kamar mandi sebelum dia pergi ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Kevin sedikit cepat melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai atas. Namun, ketika Kevin sudah berada di lantai atas. Ada beberapa perawat yang berlalu lalang, membuat Kevin mengerutkan kening. Dia menghentikan salah satu perawat.
"Ada apa?" tanya Kevin pada perawat cantik di depannya. Sang perawat terdiam dengan wajah membeku dan mata terbelalak ketika matanya terpaku pada wajah Kevin. Namun dia langsung tersadar ketika Kevin menjentikkan jari satu kali.
"Ah iya. Emm ... ada pasien dengan keadaan kritis," kata perawat sedikit terbata-bata. Pipinya tampak merah merona dengan keringat yang sedikit membasahi kening.
Apa pasien itu, adalah Ibu! Kevin berjalan pergi, tak menghiraukan lagi wanita cantik yang sempat tertegun dengan ketampanan wajahnya.
Kevin langsung menghentikan langkahnya depan pintu kamar sang Ibu dirawat dengan bola mata bergetar. Dia berjalan masuk kamar, menerobos setiap perawat yang berdiri di belakang sang Dokter.
"Dok, kenapa dengan Ibu saya?" tanya Kevin. Kini dia berdiri di samping kiri sang Ibu terbaring lemah dengan wajah tampak pucat pasi.
"Keadaan Nyonya Kirana kembali kritis. Padahal, sebelumnya dia terlihat baik-baik saja dan akan sembuh," kata Dokter dengan raut wajah gusar.
"Bagaimana itu bisa terjadi!"
<