Suffering

Suffering
Bab 25



Kevin menginjak rem secara mendadak dengan kaki kanan, hingga mobil sedan hitam itu berhenti tiba-tiba di tengah jalan, membuat kening Kevin hampir menghantam kemudi.


Kedua matanya menyipit dengan kepala yang sedikit mencondong ke depan. Dua orang yang terlihat saling beradu mulut di tengah jalan, tepatnya di depan pintu gerbang rumah Kevin membuat pemuda itu memutar kedua bola matanya jengah.


"Kenapa mereka bertengkar di tengah jalan? Dan, orang itu adalah ... Arnold?" Kening Kevin tampak mengkerut.


Tubuh Arnold terjatuh ke jalanan aspal, kedua telapak tangannya menghantam aspal, hingga membuatnya memerah. Dan Gery, Ayah Arnold tampak dengan rahang mengeras dan sorot mata tajam pada putra tunggalnya yang tengah mengusap telapak tangan itu.


"Kenapa Ayah mendorongku? Kumohon maafkan aku Ayah," kata Arnold dengan wajah memelas. Matanya mulai berkaca-kaca, yang bisa kapan saja bulir-bulir air bening keluar dari sudut netra.


"Kamu sudah mengecewakan Ayah. Dan sekarang, kamu tidak boleh tinggal bersama denganku lagi!" ucap Gery lantang. Lantas dia berlalu pergi, meninggalkan Arnold yang masih terduduk di jalanan aspal.


Kevin memasang wajah datar dengan sorot mata tajam ketika netranya menangkap kejadian yang kembali mengingatkan masa lalu kelam beberapa tahun yang lalu, kembali teringat akan kekejaman sang Ayah pada dirinya dan juga sang Ibu. Tanpa sadar, tangan Kevin memukul kemudi dengan kasar, gigi-giginya terus bergemeretak sedari tadi.


Kevin kembali menginjak gas, melajukan mobil sedan hitam itu memasuki pintu gerbang, melewati Arnold yang mulai bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk pantatnya.


Arnold meraih tas ransel yang tergeletak di atas jalanan aspal, menggendongnya di belakang punggung. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan gontai, hendak berjalan pergi. Namun, kakinya terhenti ketika Kevin berdiri di hadapannya sambil bersedekap, membuat Arnold memasang wajah masam.


"Pasti sekarang ini kamu tertawa melihatku. Sekarang kamu tahu tentang bagaimana Ayah memberlakukanku." Arnold menundukkan wajah dengan kedua tangan yang terkepal erat.


"Tidak juga," kata Kevin santai. Arnold mengerutkan kening.


Arnold mengedarkan pandangannya pada sekeliling. "Aku baru sadar. Kenapa kamu di sini?"


"Kamu bertengkar dengan ayahmu tepat di depan rumahku," kata Kevin tenang.


"Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Bahkan, satu-satunya orang berharga dalam hidupku malah mengusirku. Hanya karena masalah sepele."


"Baiklah. Aku berdoa semoga kamu akan dapat berbaikan lagi dengan ayahmu." Kevin berbalik, dan berlalu pergi meninggalkan Arnold.


Pemuda berambut coklat itu berdecak sambil berkacak pinggang ketika Kevin sudah memasuki rumah mewahnya. Dia menghentakkan kaki kanannya beberapa kali, lantas duduk di tepi jalan sambil meletakkan tas ranselnya.


"Sial! Ayah berpikir dia akan langsung membawaku ke rumahnya. Tapi, dia datang menemuiku hanya untuk mengatakan hal yang tidak perlu," gerutu Arnold.


"Tapi, aku harus mencari cara untuk membuat Kevin mau membawaku ke rumahnya. Tapi, bagaimana caranya?" pikir Arnold sambil mengelus dagu.


Matanya yang menatap lurus ke depan cukup lama tiba-tiba saja tersentak, hingga membuat tubuhnya terjatuh ke belakang ketika sosok kaki berdiri di hadapannya. Arnold meringis sambil memegangi pantatnya. Perlahan matanya mulai menelisik sosok siapa yang berada di hadapannya itu.


"A-yah?" Kedatangan sang Ayah tiba-tiba sontak membuat Arnold bangkit berdiri dengan cepat, berdiri dengan tegap.


"Untuk keberhasilan semua ini, kamu harus merasakan rasa sakit dulu." Gery menyeringai lebar. Arnold menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang mengering seketika.


"Rasa sakit? A-pa yang harus aku lakukan Ayah?" tanya Arnold ragu. Senyum seringai di bibir Gery menjelaskan semuanya, menjelaskan semua yang ingin Arnold ketahui. Arnold langsung memasang wajah masam.


Kevin menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia merentangkan kedua tangannya dengan kedua mata yang fokus pada langit-langit atap bercat putih bersih itu.


"Kejadian tadi kembali membawa memori masa laluku yang bahkan tidak ingin aku ingat lagi," gumam Kevin. Dia berpindah posisi, berbaring menghadap samping kiri. Kini matanya berpaku pada pintu balkon berbalut gorden.


Perlahan pelopak matanya mulai terpejam, kian rapat, terlelap tidur. Namun, itu tak berselang lama ketika suara tembakan membuat Kevin tersentak bangun. Tembakan yang entah berasal dari mana itu melontarkan satu butir peluru, tepat menghantam pintu kaca balkon, membuatnya seketika hancur menjadi serpihan kaca.


"Ulah siapa ini!" Kevin beranjak dari atas ranjang. Berjalan mendekati pintu kaca balkon yang sudah pecah, menyisakan sepihan kaca dengan gorden yang berlubang.


"Sial! Siapa yang sudah dengan berani mengusikku!"


Kevin melangkahi setiap serpihan kaca yang berserakan di lantai granit. Kini dia berdiri di balkon, kedua matanya menelisik setiap area di bawahnya. Hingga, matanya berhenti pada sosok dengan pakaian serba hitam berdiri di balik pintu gerbang dengan sebuah senapan di tangannya.


"Dia, seperti orang yang juga ingin mencelakaiku? Siapa dia sebenarnya?" Kevin berbalik badan, melangkahkan kakinya untuk mencari tahu siapa sosok serba hitam itu.


Kevin berdiri di depan pintu keluar rumah. Dia menghela napas pelan, lantas meraih pistol yang berada dalam saku jaketnya. Tangannya mulai memutar gagang pintu, membukanya lebar.


"Aku akan mengakhiri semua ini. Dia pantas mati!"


Ketika pintu besar dengan gagang emas itu terbuka lebar. Jari-jari berbalut sarung tangan hitam yang menempel pada pelatuk mulai bergerak, menarik pelatuk. Mengeluarkan percikan api dengan satu butir peluru yang melesat ke arah Kevin berdiri di ambang pintu.


"Sial! Aku terlambat!" Kevin tak bisa menghindar karena gerakan peluru yang lebih cepat. Namun, ketika peluru itu sudah hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba saja sosok lelaki berdiri di hadapan Kevin dengan kedua tangan terlentang. Dan Kevin dapat mengenali siapa sosok yang kini melindunginya, mmebiarkan peluru itu mengenai punggung kanannya.


"Arnold?" Kevin terbelalak walau masih dengan wajah datar.


Tepat ketika tubuh Arnold ambruk ke teras depan rumah dengan punggung kanannya yang bersimbah darah. Kevin mengangkat pistol, menarik pelatuk. Melontarkan satu butir peluru pada sosok yang kini berlari pergi, berhasil menghindari peluru itu.


"Sial! Siapa dia! Sial, sial!" Kevin berjongkok, dia menggoyang pelan tubuh Arnold yang tak lagi bergerak dengan mata terpejam rapat.


"Hei Arnold, bangun! Bertahanlah!" seru Kevin. Dia meraih tubuh Arnold, mencoba untuk menariknya masuk rumah.


...----------------...


Sepasang mata mengerjap-erjap. Penglihatannya yang masih setengah buram beredar pada sekeliling. Memperhatikan setiap benda yang berada di depannya.


"Di mana ... aku?" pikir Arnold dengan suara terbata-bata. Dia beranjak bangun, namun tubuhnya kembali ambruk di atas ranjang ketika punggung yang sudah terbalut perban itu berdenyut hebat.


Dan kini Arnold dapat melihat dengan jelas. Dapat melihat jika kini dia terbaring dengan bertelanjang dada. Dia melirik pada punggung kanannya yang kini sudah diperban rapi.


"Apa, Kevin yang membawaku ke sini?"


<< Bersambung ....