
Arnold mengusap pelan punggung kanan dengan balutan perban itu. Sesekali dia meringis ketika punggung itu kembali berdenyut hebat, hingga membuat Arnold sulit untuk bernapas. Ketika gagang pintu emas mengkilap itu tiba-tiba saja bergerak, Arnold tersentak dengan mata yang menyipit.
"Tunggu! Kevin tak mungkin sebaik ini membawaku ke rumahnya. Apa jangan-jangan, ini bukan rumah Kevin?" gumam Arnold.
Dia menggeser pantatnya ke belakang, hingga kini ia duduk di tepi ranjang. Arnold menarik selimut tebal yang menutupi kedua kakinya ke atas, menutupi tubuhnya yang hanya bertelanjang dada.
Gagang pintu terus bergerak berlawanan arah, hingga pada akhirnya pintu pun terbuka. Memperlihatkan sosok Kevin yang berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi makanan dan minuman di salah satu tangannya.
"Kevin?" Arnold tersentak. Dia melepaskan selimut tebal itu, hingga kembali memperlihatkan tubuhnya yang bertelanjang dada, dengan perut roti sobeknya
Kevin menghela napas pelan. Dia berjalan masuk kamar, meletakkan nampan itu di atas meja sisi kanan ranjang. Lantas dia duduk di sofa panjang coklat yang berdekatan dengan pintu kaca balkon.
"Kenapa kemarin kamu menolongku? Karena kamu menolongku, aku harus mmebiarkanmu tinggal di sini. Sampai kamu dapat tempat tinggal," kata Kevin tenang, tanpa menatap lawan bicaranya. Dia sibuk mengupas buah apel dengan pisau dapur mini itu, meletakkannya di atas piring kecil.
'Tunggu! Dia, benar-benar peduli padaku? Aku pikir, dia masih akan tetap dingin walau aku baru saja menolongnya dari maut.' Arnold memasang raut wajah yang sulit untuk diartikan. Dia kembali melirik punggung kanan berbalut perban itu, lantas kembali menatap arah Kevin yang kini mulai berjalan mendekatinya. Meletakkan buah apel yang sudah dikupas itu di atas meja.
"Makan buah ini. Kamu harus cepat sembuh, dan mencari tempat tinggal." Kevin menyodorkan piring kecil dengan buah apel itu depan wajah Arnold, membuat pemuda di depannya sedikit menjauh dari piring itu.
"Kenapa? Apa kamu pikir aku akan meracuni buah ini?" Kevin memutar bola matanya jengah. Dia meraih satu buah apel itu, lantas memakannya. "Lihat, aku sudah makan. Dan aku baik-baik saja. Jadi, sekarang kamu makan ini dan istirahatlah."
Arnold tersenyum dengan wajah masam. Dia meraih buah apel yang sudah dikupas itu, memakannya pelan. Tanpa sadar, bola matanya tampak sedikit bergetar, mengumpulkan bulir-bulir air bening pada pelopak mata. Dan Kevin menyadari hal itu.
"Kamu, menangis?" tanya Kevin dengan kepala memiring. Buru-buru Arnold menyeka air mata yang masih berkumpul di sudut netra dengan rona di pipinya.
"Siapa bilang aku menangis! Hanya saja ...." Kembali Arnold mengulas senyum yang terkesan dipaksakan. "Bahkan ayahku saja tak pernah sepeduli ini padaku disaat aku sedang sakit. Dan kamu ...."
"Kamu jangan salah paham. Aku melakukan ini semata-mata hanya untuk membalas budi atas bantuanmu." Kevin meletakkan piring kecil itu di atas meja. Lantas dia beranjak berdiri, duduk di sofa panjang coklat itu kembali.
"Apakah sejahat itu Ayahmu padamu?" tanya Kevin.
"Sangat, sangat jahat. Dia bahkan berani melakukan hal yang sungguh membuatku ingin sekali balas dendam padanya.
Tapi, aku sadar jika selama ini Ayah yang sudah merawatku hingga sebesar ini. Walau cara dia memberlakukanku, sangat berbeda dengan Ayah lain pada anaknya."
Arnold menggeser pantatnya ke depan, duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan Kevin. Dia melipat kedua tangan dengan tubuh yang mencondong ke depan.
"Kamu sungguh beruntung bisa mendapat keluarga yang bisa menyayangimu. Dan aku? Aku satu-satunya manusia yang tidak pernah mendapat kasih sayang seorang Ayah." Arnold tersenyum masam.
"Kamu salah jika berpikir begitu tentangku," kata Kevin. Arnold mengerutkan kening.
"Apa maksudmu? Aku sudah pernah melihatnya. Dan, aku tahu Ayah dan ibumu sangat menyayangimu. Tapi, di mana mereka sekarang?
Aku pikir, sudah satu malam aku di sini. Tapi, aku tak melihat Ayah dan ibumu?"
"Keluarga, ya. Hmm ... lucu sekali jika aku akan menceritakan tentang masa laluku padamu. Aku bahkan belum tahu, apakah kamu kawan, atau ... lawan?" Kevin menaikkan salah satu alisnya dengan senyum seringai di bibir.
"Untuk cerita ini, kamu bisa mempercayaiku. Lagipula, kamu pasti akan menceritakan bagaimana keluargamu merawatmu dengan baik bukan?"
Kevin menggeleng pelan. Dia beranjak dari sofa panjang itu, lantas berjalan mendekati pintu kaca balkon. Berdiri dengan kedua tangan masuk saku celananya.
"Apa kamu percaya jika, keluarga yang kamu bicarakan ini bukanlah keluarga kandungku?" tanya Kevin tanpa menoleh. Matanya tampak mengawang jauh.
"Hah? Apa maksudmu? Ayah dan ibumu, ya keluarga kandungmu. Benar kan?" Arnold beranjak berdiri, berjalan mendekati Kevin, berdiri di belakangnya.
"Bukan. Mereka Ayah dan Ibu tiriku. Ayah dan Ibu kandungku tak akan sebaik dan sesayang ini padaku.
Mungkin, jika sekarang aku masih bersama dengan mereka. Entah apa yang akan terjadi padaku."
"Kenapa. Kenapa mereka malah membiarkanmu menjadi milik orang lain? Kenapa mereka lebih memilih anak kandungnya bersama dengan keluarga lain yang bahkan tak ada ikatan darah?"
"Ibuku meninggal saat aku berusia sepuluh tahun. Dan ayahku, aku tak tahu ke mana dia pergi. Dia meninggalkan aku dan Ibu, memilih untuk menikah dengan wanita lain di luar sana."
Arnold tercengang dengan pengakuan yang siapa sangka akan keluar dari mulut Kevin sendiri. Dia melangkah mundur, perlahan mulai kembali menghempaskan pantatnya ke tepi ranjang.
'Apa ini! Apa maksudnya, Kevin sama sepertiku? Pengakuannya, membuatku merasakannya. Membuatku memahami akan satu hal.'
Kevin berbalik. Sorot matanya terlihat kosong dengan bibir mengulas senyum yang terkesan dipaksakan. Dia berjalan mendekati Arnold, duduk kembali di sofa panjang itu.
"Kamu kenapa? Seharusnya kamu merasa senang. Sekarang kamu tahu, jika bukan hanya kamu yang menderita di dunia ini. Kamu bukanlah satu-satunya," kata Kevin santai. Dia melipat kedua tangan di depan dada.
"Terimakasih," kata Arnold lirih. Kevin mengerutkan kening. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan di telinga.
"Kamu bilang apa? Aku tak dengar."
"Terimakasih! Yah, ceritamu membuatku mulai memahami akan satu hal." Arnold tersenyum. Kevin diam dengan kedua bahu terangkat bersamaan.
"Aku tak ingin tahu apa yang sudah kamu pahami. Yang penting, kamu sudah tahu jika kamu bukanlah satu-satunya orang yang menderita di dunia ini." Kevin beranjak berdiri. Lantas berjalan mendekati pintu lemari, membukanya. Dia meraih pakaiannya dan juga celana, lantas melemparkannya pada Arnold.
"Pakai itu. Atau, kamu hanya ingin berpenampilan seperti itu? Dan lebih bagus lagi, sekarang kamu duduk di tepi jalan dengan membawa kantong plastik." Kevin terkekeh dengan seringai di bibirnya. Arnold mendengus kesal.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan!"
<< Bersambung ....