
Alexa merasakan detak jantungnya yang tak beraturan. Dia tak bisa pergi atau menghindari sorot mata Kevin yang begitu dekat. Dia melangkah mundur dengan gugup. Kevin melangkah maju, mendekati Alexa yang kini terduduk di sofa.
Dia berjongkok, mendekatkan wajahnya pada Alexa, yang sontak saja membuat gadis itu gelagapan. Detak jantung yang sampai terdengar di telinganya semakin membuat Alexa gugup, khawatir jika Kevin pun mendengarnya.
"Kenapa? Bukankah kamu ingin di sini lebih lama, bersamaku?" Kevin menyeringai tipis.
"Ti-dak. Tapi, kamu mau apa? Lebih baik kita ngobrol santai aja," kata Alexa.
Alexa menggeser pantatnya ke samping kiri. Kevin mencegahnya, dengan meletakkan telapak tangan kirinya di sofa. Kini, telapak tangan kanan Kevin pun berada di sofa samping kanan. Alexa tak dapat pergi ke mana-mana lagi sekarang.
Ketika Kevin semakin mendekatkan wajahnya. Alexa memejamkan mata dengan tangan yang mulai sedikit gemetar. Seulas senyum dengan seringai tipis muncul di bibir Kevin. Tak menyangka dengan gertakannya ini, Alexa akan merasa gugup dan ketakutan.
Bibir Alexa yang merah merona tampak indah. Kevin menyentuhnya dengan ibu jari, mengusapnya perlahan. Rona merah muncul di kedua pipi putih Alexa. Gadis itu masih enggan untuk membuka mata.
'Ah, ini menyenangkan. Dia benar-benar ketakutan.'
"Alexa, buka matamu ...." Kevin berkata lirih.
Perlahan, Alexa membuka kedua matanya. Kevin dengan sigap mencium bibir ranum Alexa, seketika membuat gadis itu gelagapan. Dia mendorong dada bidang Kevin, namun dengan gerakan tangan yang lemas, tentu saja akan sia-sia saja.
Namun, perasaan aneh muncul di benak Alexa. Entah sejak kapan perasaan itu ia rasakan. Ciuman Kevin membuat hatinya berdesir nyaman, tenang dan hangat. Alexa tak lagi mendorong dada bidang Kevin, membiarkan Kevin mencium bibirnya cukup lama.
'Semua ini salahmu. Aku hanyalah pria biasa. Kau benar-benar membuatku seperti ini,' batin Kevin.
Alexa mulai menikmati ciuman lembut itu. Dia mulai ikut andil. Lidahnya bermain, mengusap lembut lidah Kevin, yang sontak saja membuat pria itu terbelalak kaget, namun masih belum melepas ciumannya.
'Dia ... apa dia ingin bermain denganku?'
Kevin yang hanyalah manusia biasa tak bisa menahan godaan itu. Dia semakin lebih agresif. Alexa melingkarkan kedua tangannya di leher Kevin, dengan wajah yang tampak merah merona. Lebih merah daripada tomat.
'Ini aneh. Aku tidak ingin melepaskannya. Tidak ingin,' batin Alexa.
Alexa membelai lembut leher Kevin, dengan ciuman yang semakin memanas. Kevin yang mulai kehilangan akal hendak bermain lebih panas.
Namun dia mulai tersadar dan melepas ciumannya. Napasnya mulai memburu, begitu juga dengan Alexa. Kevin memegangi kepalanya sambil duduk di sofa.
"Sial, aku terbawa."
"Entah apa yang sudah terjadi padaku," kata Alexa. Kevin diam saja, tak menoleh pada Alexa.
Gadis itu masih menginginkannya. Dia melirik pada Kevin. Matanya mulai melirik bibir Kevin yang kembali membuatnya tergoda.
Alexa beranjak dan berdiri di hadapan Kevin. Dia berjongkok, memasukkan salah satu kakinya pada celah kedua kaki Kevin, yang membuat pemuda itu cukup kaget.
"Apa kau, merasakan apa yang kurasakan?" tanya Alexa disela napasnya yang memburu, dengan rona merah di pipinya.
"Merasakan apa? Jika itu gairah, aku cukup merasakannya. Dan semua itu karena kau," kata Kevin dengan wajah datar.
"Bukan itu. Aku merasakan hal aneh lagi. Hatiku merasa aneh."
"Apa yang kau bicarakan? Hati apa?" tanya Kevin dengan kening berkerut, dia tak merasakan gairah itu lagi.
Alexa menyentuh pipi Kevin, membelainya lembut. Namun perlakuan itu tak lagi membuat Kevin tergoda, dia masih memasang wajah datar.
"Kau akan membuat kesalahan. Aku tak tertarik dengan ini," kata Kevin.
"Kau tidak sedang mabuk 'kan? Kau mulai bertingkah aneh."
Alexa mendaratkan ciuman panas pada Kevin. Dan pemuda itu sudah dapat menduganya dengan sikap Alexa yang mulai aneh. Alih-alih melepasnya, pemuda itu mmebiarkan permainan Alexa yang semakin memanas.
'Bagaimana jika aku menghancurkannya? Ini pasti akan seru,' batin Kevin. Tatapan matanya mulai berubah, menunjukkan sorot mata yang lebih aneh.
Kevin melepas ciumannya. Dia mulai mendapat ide yang bagus. Tentu ide itu benar-benar gila. Namun bagi Kevin, itu tak apa. Alexa bukan siapa-siapa baginya, gadis itu datang kepadanya, yang membuatnya sedikit kesal.
'Dan tentu aku harus membalas rasa kesal ini bukan? Aku tidak peduli jika dia akan hancur,' batin Kevin dengan seringai tipis di bibirnya.
"Ada apa? Apa kamu benar-benar tidak merasakan apa yang kurasakan?" tanya Alexa sambil memeluk dada bidang Kevin.
"Ya, mungkin aku merasakannya," kata Kevin lirih dengan seringai lebarnya.
Dia meraih tubuh Alexa, menggendongnya dengan lembut.
"Kau bilang ingin bermain denganku?" tanya Kevin yang dibalas anggukan Alexa. Gadis itu benar-benar terlihat kacau.
'Ya, aku yakin akan perasaan ini. Aku, jatuh cinta padanya,' batin Alexa.
Kevin menyeringai tipis. Dia membawa Alexa menuju kamarnya, menutup pintu, menguncinya dengan rapat. Hanya ada Kevin dan Alexa.
Kevin merebahkan tubuh Alexa di atas ranjang. Kevin mendaratkan tubuhnya di atas Alexa, menatap Alexa dengan sorot mata kosong, jahat, dan lebih gelap.
Kevin mendekatkan wajahnya, mendaratkan ciuman panas pada leher Alexa, yang membuat gadis itu mendesah sambil memeluk Kevin.
"Kau yakin ingin bermain? Aku tidak akan terkena masalah dengan semua ini," kata Kevin dengan santainya.
Alexa diam saja. Dia mulai melepas jaket di tubuh Kevin, yang kini menyisakan dada telanjang Kevin. Kevin masih menunjukkan wajah datarnya, membiarkan Alexa melepas semua yang ia pakai.
Bahkan, gadis itu dengan mandiri melepas semua pakaiannya. Dan Kevin diam menyaksikan, bahkan ia tak lagi tergoda dengan tubuh cantik Alexa. Pria itu hanya ingin bermain, menghancurkan gadis yang berbaring di bawahnya.
"Come on baby, make me happy," kata Kevin lirih.
Seringai yang kini lebih lebar tersungging di bibir Kevin, sebelum ia akhirnya memulai permainan panasnya. Membuat gadis itu benar-benar merasakan gairah yang lebih panas.
Permainan semakin panas saat Alexa mendorong tubuh Kevin ke samping Kiri. Kini Alexa berbaring di atas Kevin, dialah yang memimpin permainan kali ini.
Kevin hanya menikmati dengan wajah datar dan seringai yang sesekali muncul di bibirnya. Gadis itu benar-benar menikmatinya, permainannya cukup lama.
Sampai berakhir mereka terlelap tidur dengan Alexa tidur di pelukan dada bidang Kevin, tanpa sehelai kain pun menutupi tubuh mereka, kecuali selimut tebal itu.
Kevin terbangun lebih dulu dari Alexa. Pria itu menatap datar tubuh polos Alexa yang hanya tertutup selimut tebal.
"Dia benar-benar gila. Kupikir dia polos," gumam Kevin.
Dia mengenakan celana dan jaketnya, lantas beranjak pergi dari kamarnya.
"Aku tidak peduli dengannya. Jika terjadi suatu padanya." Kevin menyeringai lebar. "Itu bukan urusanku."
^^^<< BERSAMBUNG ....^^^