
Matahari di atas langit memancarkan sinarnya, menerpa sosok tubuh yang hanya berbalut kaos hitam polos tanpa lengan itu. Memperlihatkan otot lengannya yang tampak menonjol. Dialah Arnold.
Tangan terkepal yang hanya berbalut kain putih polos dililitkan memukul samsak di depannya dengan gerakan bertubi-tubi. Keringat mulai membasahi pelipisnya, hingga menetes pada wajah dan lehernya. Dan tak berselang lama, Arnold menarik kain polos yang melilit pungung tangannya sedikit kasar, lantas menghempaskan pantatnya di atas lantai granit.
Dia meraih botol minuman di atas meja pendek, lantas menenggaknya hingga tandas. "Hah ... aku tidak boleh kecolongan lagi. Jika aku terlihat lemah di depan Ayah, maka aku pasti akan diremehkan lagi."
Dia meletakkan botol minuman ke lantai dengan kasar, menimbulkan suara botol minuman besi itu berbunyi ketika menyentuh lantai granit dengan keras.
"Kevin, dia benar-benar membuatku jengkel. Sebenarnya siapa dia? Kenapa Ayah ingin membunuhnya?" pikir Arnold.
Dia kembali meraih botol minuman di samping kanannya duduk. Namun, ketika Arnold memiringkan botol minuman dekat mulutnya yang sudah terbuka, tak ada setetes pun air masuk, membuatnya berdecak.
Arnold meraih ponsel di atas meja, menatapnya sekilas. Matanya sedikit terbelelak dan langsung meletakkan benda pipih itu ke atas meja, lantas mulai bangkit berdiri. Dan berjalan pergi menuju lantai bawah.
"Ayah? Tumben sekali Ayah di rumah sekarang?" tanya Arnold sambil duduk di sofa, berhadapan dengan sang Ayah yang tampak fokus pada ponselnya.
"Kenapa kamu tidak sekolah?" tanya Gery tanpa mengalihkan pandangan dari benda pipih di tangannya.
"Karena kejadian pertengkaranku dengan Kevin. Aku discors selama satu Minggu." Arnold menundukkan wajahnya yang mulai merah merona. Bibirnya gemetar dengan kedua tangan yang menggenggam erat, terkesan aneh.
"Arnold, kamu harus membantu Ayah. Aku tidak bisa membunuhnya, tapi kamu bisa," kata Gery dengan senyum seringai lebar di bibirnya.
Ucapan Gery sontak membuat Arnold tersentak dan mengangkat wajahnya. "A-pa! Tapi, kenapa harus Arnold? Aku memang membencinya, tapi aku tak mungkin membunuhnya. Itu adalah pekerjaan Ayah, bukan aku." Arnold menggeser pantatnya mundur, raut wajahnya tampak panik.
Gery mencodongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya. Arnold menelan ludah ketika terlihat jelas sang Ayah dengan sorot matanya yang terkesan mengintimidasi. Membuat pemuda itu kembali menundukkan wajah.
"Kamu tidak ingin membantu Ayah? Apa selama ini tidak cukup apa yang sudah Ayah lakukan untuk kamu?
Memangnya, apa tujuan Ayah selama ini mendidik kamu? Mengajarkan bela diri, mengajarkan teknik menembak dengan benar? Semua itu Ayah lakukan untuk membuatmu menjadi lebih kuat, tidak lembek!"
Ucapan sang Ayah dengan sorot mata sinis itu membuat tenggorokan Arnold tercekat. Seketika itu juga tubuh Arnold mulai melemah, menggerakkan kedua tangannya dengan lunglai.
Dia kembali teringat akan masa lalunya. Otaknya kembali mencerna waktu di saat dia masih kecil. Dia kembali mengingat setiap kejadian di beberapa tahun yang lalu. Lebih tepatnya, pada saat tujuh tahun yang lalu ....
"Kenapa kamu melakukannya dengan salah! Jangan lemah begitu!" Gery membenarkan kedua kaki Arnold kecil yang tengah berdiri memasang kuda-kuda dengan sedikit kasar. Hingga membuat Arnold meringis menahan nyeri ketika sang Ayah menarik salah satu kakinya.
"Pelan-pelan Ayah, ini sakit," kata Arnold kecil memelas. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, mengumpulkan bulir-bulir air bening pada pelopak mata.
Namun, raut wajah Arnold yang memelas tak membuat Gery luluh. Dia masih dengan raut wajah tegas berdiri di depan Arnold, matanya menelisik setiap gerakan kuda-kuda yang sedari tadi tak juga benar.
"Kamu benar-benar payah! Apa kamu ingin terus seperti ini? Kamu benar-benar membuat Ayah malu!" tegas Gery. Membuat Arnold menggigit bawah bibirnya, hingga meneteskan sedikit cairan merah kental dari sana.
"Aku akan berusaha!" kata Arnold lantang. Dia mulai membenarkan kaki memasang kuda-kuda itu, hingga pada akhirnya kakinya mulai benar memasang kuda-kuda.
Lantas Gery berjalan pergi, meninggalkan Arnold yang terlihat dengan napas memburu. Dia menghempaskan pantatnya pada teras belakang rumah dengan kedua telapak tangan menopang belakang. Tubuhnya sedikit menyender belakang.
"Kenapa Ayah seperti ini padaku? Apa aku harus menjadi seperti ini untuk membahagiakan Ayah? Tapi, jelas apa yang Ayah inginkan tak Ibu inginkan," gumam Arnold kecil.
Perlahan-lahan, Arnold kecil memejamkan mata kecilnya. Angin datang berhembus, menerpa tubuh mungilnya yang tampak dengan debu menempel itu. Hingga dia kembali membuka matanya lebar ketika telinganya menangkap suara sesuatu yang pecah dalam rumah.
"Apa yang sudah terjadi!" Arnold beranjak berdiri dengan cepat, lantas berlarian kecil masuk rumah.
"Kenapa kamu melakukan ini pada putraku! Aku tak ingin putraku terluka hanya karena keinginan bodohmu itu!" seru sosok wanita dengan mata berkaca-kaca. Bulir-bulir air bening mulai menetes dari sudut netra.
Ucapan sosok wanita berambut perak panjang bergelombang di hadapannya membuat Gery mengeraskan rahang. Dia melirik pada meja samping kirinya, lantas tangannya meraih guci kaca di atas meja. Dan melemparkannya ke lantai, menimbulkan suara kaca pecah itu berbunyi nyaring.
"Kamu lebih baik diam saja dan jangan imut campur! Aku melakukan ini juga demi kebaikan Arnold!" seru Gery tak kalah lantangnya.
"Kebaikan Arnold?" Wanita itu terkekeh dengan wajah masam. "Kamu yakin demi kebaikannya? Bukankah karena kamu ingin dia menjadi seperti dirimu yang hina ini!"
Gery mengepal satu tangannya, lantas tangan satunya terangkat, mendaratkan tamparan cukup keras pada pipi wanita di hadapannya. Hingga membuat tubuh wanita itu terjatuh ke lantai granit.
"Kenapa kamu tidak diam saja dan menjadi istri yang berbakti pada suaminya! Kamu benar-benar sudah menghinaku!"
"Aku tidak menghina. Tapi ini memang kenyataannya!"
Gery mengedarkan pandangannya pada seisi rumah. Dan mata itu berhenti pada sebuah pistol yang tergeletak di atas meja kaca. Dia berjalan mendekati meja kaca, meraih pistol itu. Lantas menodongkannya tepat pada depan wajah wanita di depan.
"Kamu ingin menghabisiku? Tembak saja aku! Tembak!" seru wanita itu ditengah isakannya.
"Kamu istri yang tak tahu diuntung! Aku menyesal sudah menikahimu! Kamu selalu saja menentang setiap ucapanku, setiap hal yang kulakukan!"
Tangan Gery yang memegang pistol mulai menggerakkan jari-jarinya yang menempel pada pelatuk, hendak menarik pelatuk. Namun, dorongan kuat dari belakang membuat tubuh Gery terhuyung dan terjatuh ke lantai granit.
"Ayah tak bisa membunuh Ibu! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" seru Arnold. Dia memeluk sang Ibu dengan erat.
"Hei Arnold. Akan kuberitahu cara menjadi seorang pembunuh yang berbakat sepertiku." Seulas senyum seringai tersungging di bibir Gery.
Dia meraih tangan Arnold, menarik tangan itu untuk memaksa tubuhnya berdiri. Lantas tanpa Arnold sadari, Gery mulai menarik pelatuk pistol, tepat mengenai kepala sosok wanita itu.
"Ibu!"
<< Bersambung ....