Suffering

Suffering
Bab 29



"Jangan khawatir. Hanya satu pertanyaan. Dan kamu hanya perlu menjawabnya dengan jujur. Maka, aku akan berbaik hati dan membuang peluru dalam pistol ini." Kevin melangkah mundur, berdiri di samping kanan tempat sampah, menyenderkan punggungnya pada dinding.


Arnold menatap tangan Kevin yang memegang pistol. Kini, tangan itu bergerak ke bawah, mendekatkan pistol pada tempat sampah, seolah bersiap untuk membuangnya.


"Baik. Aku, akan menjawabnya. Karena, aku memang tak berniat untuk membunuhmu. Jika bukan karena rasa balas budiku pada Ayah."


Kevin mengangguk dengan bibir mengulas senyum, terkesan mengejek. Dia menghela napas pelan, kemudian sedikit membenarkan gaya berdirinya.


"Siapa orang yang menyuruh ayahmu untuk membunuhku?" tanya Kevin tanpa aba-aba. Arnold menelan ludah dengan wajah tegang.


"Aku, tidak tahu," kata Arnold pelan.


Kevin berdecak sambil membuang muka. Dia kembali menarik pistolnya, mengangkatnya ke depan, menghadap pada Arnold. Dengan senyum seringai di bibirnya.


"Kamu tidak bisa menjawab satu pertanyaan saja dengan jujur? Padahal aku sudah akan membuang pistol ini," kata Kevin santai. Namun, sorot matanya yang terkesan mengintimidasi membuat Arnold menelan ludahnya kembali.


Arnold selangkah maju ke depan dengan mata berkaca-kaca. Dia sungguh tidak berbohong tentang jawabannya. Tapi, tampaknya Kevin tak akan mudah percaya akan hal itu. Kini, Arnold tidak tahu, apa yang akan Kevin lakukan jika dia mengatakan hal yang keliru.


"Sungguh! Aku bersumpah! Aku hanya tahu jika Ayah mendapat pekerjaan untuk membunuhmu. Tidak lebih dan tidak kurang!"


"Sepertinya bicara denganmu hanya akan membuang waktuku saja. Sekarang, kamu ingin apa?" Kevin bangkit dari senderannya. Melangkah maju, berdiri di hadapan Arnold. Mengangkat pistolnya di depan wajah Arnold.


"Kamu ingin langsung, atau ...." Kevin tak melanjutkan ucapannya ketika Arnold menunjukkan bola mata yang berkaca-kaca.


Kevin menghela napas panjang dengan wajah menunduk. Dia melangkah mundur, menjauh dari Arnold. Menurunkan pistolnya sedikit gontai, dan menghempaskan pantatnya di tepi ranjang.


"Kenapa?" Arnold melangkah maju, mendekati Kevin. Berjongkok di hadapan Kevin. "Kenapa kamu tak langsung membunuhku? Aku akan menerimanya!"


"Aku bisa membedakan apa yang baik dan benar," kata Kevin. Masih dengan wajah menunduk, memainkan jari-jari yang memegang pistol.


Arnold duduk di lantai berbalut karpet merah maroon. Dia menyenderkan punggungnya pada kaki ranjang dengan satu kaki terangkat, menopang lutut dengan satu tangan.


"Aku sungguh orang yang bodoh dan pengecut. Aku, akan membantumu, Kevin. Sepertinya aku juga harus berbuat sesuatu.


Seharusnya, dari dulu aku sudah melakukannya! Balas dendam pada Ayah, melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak awal. Dengan ini, maka Ibu pasti akan bahagia di alam sana."


"Jangan lakukan dosa ini," kata Kevin singkat. Dia memasukkan pistolnya dalam saku jaket, lantas beranjak berdiri. Melangkah maju, mendekati balkon.


"Kenapa? Aku harus melakukannya!" seru Arnold.


"Biarkan semuanya begini. Jangan khawatir tentang balas dendammu." Kevin berbalik. Sinar rembulan menerpa tubuhnya. "Mungkin, tanpa kamu sadari, balas dendammu akan selesai."


"Apa maksudmu? Apa, kamu akan ...."


"Aku bukan orang naif. Jadi, aku akan katakan ini." Kevin melangkah maju, kembali mendekati Arnold. "Aku akan membunuh siapapun yang berhubungan dengannya. Dan aku tahu jika ayahmu berhubungan dengannya."


"Berhubungan dengan siapa?"


Arnold menghela napas panjang. "Aku tahu. Kamu tidak ingin aku melakukan dosa ini. Tapi, apa kamu akan tetap melakukannya?"


"Aku tidak peduli jika Tuhan akan menghukumku atas dosa yang kulakukan nanti. Tapi yang pasti, aku akan tetap melakukannya."


Arnold membuka lemari, meraih sebuah peti berukuran sedang. Dia membukanya, meraih sebuah pistol dengan ornamen emas mengelilingi tubuhnya, terlihat indah dan mewah.


"Arnold, jangan salahkan aku jika kamu tak akan pernah bertemu dengan ayahmu lagi. Jika kamu ingin melindunginya, lindungi saja. Dan aku akan menghabisimu juga." Kembali Kevin menampilkan sorot mata tajam itu.


Arnold menggeleng pelan. Dia mengulas senyum hangat, membuat Kevin sedikit membelalakkan matanya. Tak menyangka jika Arnold akan dengan mudah melepaskan ayahnya.


"Kamu tahu. Aku lebih percaya padamu ketimbang ayahku." Arnold menepuk-nepuk pundak Kevin, matanya sedikit berkaca-kaca. "Lakukan apa yang kamu lakukan. Nampaknya, aku tak akan bisa menghentikanmu untuk tidak melakukan dosa ini."


"Jangan khawatir. Aku sudah berulang kali melakukan dosa. Dan mungkin ini adalah terakhir kalinya aku melakukan dosa ini." Kevin mengulas senyum, namun terkesan mengejek pada Arnold.


* * *


Gery mengangkat kepalanya ke atas. Bintang dan bulan di atas langit mulai tak terlihat dengan awan hitam yang mulai menutupinya. Sesekali angin kencang datang, menerpa rambut setengah memutih itu.


"Aku tidak tahu apakah anak itu akan bisa membunuhnya. Dia benar-benar tidak becus melakukan satu tugas mudah yang kuberikan."


"Ya, dia memang anak yang tidak becus." Sebuah suara datang dari luar rumah, tepat di depan pintu jendela kaca. Yang memperlihatkan sosok Kevin berdiri dengan kedua tangan masuk saku jaket.


"K-amu!"


Kevin mengulas senyum seringai, membuat Gery terkesiap. Dia hendak menutup jendela kaca itu. Namun, Kevin lebih cepat mendekatinya, masuk lewat pintu jendela. Sontak membuat Gery melangkah mundur, hampir terjatuh ke lantai.


"Oh, jadi ini yang namanya Gery. Pembunuh bayaran terhebat. Tapi, aku tak bisa katakan kamu hebat jika belum berhasil membunuhku." Kembali Kevin menunjukkan seringai di bibirnya, terkesan mengintimidasi.


"Bagaimana kamu tahu rumahku? Apa yang kamu inginkan?" Gery kembali melangkah mundur dengan keringat dingin yang mulai membasahi keningnya, dan entah kenapa itu terjadi.


"Heh ... tenang saja, Tuan Gery. Aku datang ke sini hanya untuk berbincang-bincang denganmu. Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu? Aku tidak akan menggigit."


Kevin melangkah maju, dan Gery kembali melangkah mundur, hingga kini dia berdiri di depan sofa. Ketika Kevin dengan cepat mendekatinya, sontak membuat Gery tersentak, membuat tubuhnya yang melemah terjatuh ke sofa.


"Santai saja, Tuan Gery. Aku hanya ingin menanyakan hal penting. Dan pertanyaan itu sudah tentu akan bisa kamu jawab."


"Aku tidak tahu apa-apa! Sekarang lebih baik kamu pergi. Atau ...." Gery meraih pistol di balik bajunya, menodongkannya di depan wajah Kevin. "Kamu aku habisi."


"Hah ... rasanya cukup sulit untuk membuatmu bicara." Kevin melangkah mundur. Gery tersenyum menyeringai, mengira jika Kevin mulai takut.


Namun dugaannya salah ketika Kevin meraih pistol dari saku jaketnya, mengangkatnya ke depan. Dengan senyum seringai di bibirnya.


"Oke. Sekarang kita sama-sama impas. Jadi, mungkin salah satu dari kita akan mati. Tapi, rasanya akan sangat sulit untuk membuatku mati. Jadi, sudah pasti yang akan mati adalah ... kamu."


^^^<< Bersambung ....^^^