Suffering

Suffering
Bab 21



Mobil sedan putih berhenti depan pintu gerbang. Sosok scurity yang tengah menikmati kopi di teras pun langsung beranjak berdiri, membuka pintu gerbang dengan lebar. Mobil sedan melaju pelan memasuki halaman yang sangat luas dengan rumah mewah di hadapannya.


Sosok lelaki paruh baya keluar dari mobil. Dia mengenakan topi khusus untuk sopir di rumah mewah itu, lantas membukakan pintu belakang. Sosok Arnold keluar dari mobil sambil menenteng tas di belakang punggung. Dia melepas kacamata hitam yang bertengger di atas hidung.


"Pak, Ayah belum pulang?" tanya Arnold pada Bapak scurity yang tengah menutup kembali pintu gerbang.


"Belum, Tuan muda. Apa Anda membutuhkan suatu?" tanya Pak scurity ramah.


Arnold bergeming. Seperti biasa, sang Ayah mungkin tak akan pulang hari ini. Dan itu sering kali membuat Arnold berdecak, meratapi hidupnya tanpa kehadiran keluarga. Dia berjalan santai masuk rumah mewah itu saat dua pelayan wanita membuka pintu besar dengan ornamen emas.


"Selamat datang, Tuan muda," kata kedua pelayan sambil membungkuk sopan. Arnold diam, hanya fokus melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga menuju kamar.


Arnold membuka pintu kamar. Dia melempar tas kesembarang tempat. Lantas membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dengan gontai. Kedua pelopak matanya mulai terpejam, tertidur lelap.


Hingga Arnold kembali membuka matanya lebar saat suara mobil berhenti di halaman rumah. Dia beranjak bangun dengan cepat, lantas berjalan mendekati balkon. Seulas senyum terukir di bibir Arnold. Mobil sedan berhenti di depan garasi, dan sosok Ayah Arnold keluar dari mobil sambil membawa sebuah koper kotak hitam yang ia tenteng sambil berjalan memasuki rumah.


Arnold ingin bertemu dengan sang Ayah, berbincang-bincang dengannya walau hanya untuk sebentar. Dia melangkah sedikit lebih cepat menuju keluar kamar, menuruni anak tangga sedikit cepat, hingga sesekali membuat kaki itu terpeleset.


"Ayah sudah pulang? Apa pekerjaan Ayah hari ini tidak banyak sehingga bisa pulang lebih awal?" tanya Arnold. Dia berdiri di belakang sofa, menopang sofa dengan kedua tangan, melongokkan tubuhnya ke depan.


Lelaki paruh baya itu duduk di sofa, lantas meletakkan kopernya di atas meja kaca. Arnold memiringkan kepala menatap koper itu. Apa isi dalam koper itu?


"Arnold," panggil sang Ayah. Arnold sontak langsung duduk si sofa, berhadapan dengan sang Ayah.


"Ada apa, Ayah?"


"Kenapa dengan wajahmu itu? Apa kamu baru saja berantem di sekolah?" tanya sang Ayah. Telunjuk jarinya menunjuk pada pipi Arnold.


"I-ya," jawab Arnold lesu, dia menundukkan wajahnya.


"Kamu menang?" tanya sang Ayah lagi. Arnold langsung mengangkat wajahnya yang tampak terlihat gusar. Dia menggerakkan jari-jemarinya aneh.


"Kenapa kamu diam? Kamu menang bukan melawan orang yang kamu ajak berantem?" tanya sang Ayah lagi. Kini raut wajahnya terlihat garang, seolah sedang mengintrogasi sang putra tunggalnya.


Jakun Arnold naik turun, beberapa kali menalan ludah. Apa yang harus ia jawab? Apa yang akan sang Ayah katakan saat Arnold mengatakan jika dia kalah melawan Kevin? Bagaimana reaksi sang Ayah saat Arnold mengatakan ketakutannya saat beradu pandang dengan Kevin?


"Arnold? Kamu diam saja? Apa kamu menang?" Kini pertanyaan sang Ayah lebih tegas dan lantang. Membuat Arnold terkesiap.


"Awalnya Arnold menang, Ayah. Tapi, ternyata lawanku lebih kuat, dan aku kalah," kata Arnold dengan nada setengah pelan. Wajahnya tertunduk, tak berani menatap ayahnya.


Ayah Arnold mengerutkan kening dengan mata melotot tajam, setajam elang. Tangan setengah renta yang sedari tadi menopang dagu ia angkat, memukul meja kaca dihadapannya. Hingga mengeluarkan suara bising dari kaca yang dia pukul. Membuat Arnold tersentak dan langsung mengangkat wajah.


"Bagaimana bisa kamu kalah? Apa selama ini Ayah kurang melatihmu? Bagaimana kamu bisa kalah? Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu benar-benar sudah membuat ayahmu malu!"


Arnold diam, bergeming. Dia bahkan menundukkan wajahnya lagi, tak berani menghadapi kemarahan sang Ayah.


"Maaf, Ayah. Lain kali tidak akan terjadi lagi," kata Arnold.


"Apapun yang akan kamu lakukan nanti, Ayah tidak akan peduli lagi. Kamu benar-benar sudah membuatku malu.


Bagaimana bisa kamu kalah melawan anak ingusan?"


"Dia bukan anak ingusan Ayah!" seru Arnold sambil mengangkat wajah. "Dia hebat, sangat hebat."


"Kamu memuji rivalmu sendiri? Memangnya siapa dia sampai membuat Anak dari seorang Gery kalah?" Dia melipat kedua tangan di depan dada. Kaki kirinya menyilang di atas kaki kanan.


"Namanya Kevin. Kalau tidak salah, dia berasal dari keluarga kaya. Ayahnya seorang direktur perusahaan terkenal bernama Gravil. Dan ibunya bernama Kirana.


Tapi yang pasti, dia pintar dalam hal bela diri. Dan bahkan, salah satu murid nakal dan berandal di sekolah berhasil dibuatnya takut dan lembek," jelas Arnold. Kedua tangannya terkepal erat.


Cukup menyakitkan menceritakan kehebatan rivalnya sendiri. Apalagi jika itu akan membuat ayahnya kagum dengan Kevin.


Gery manggut-manggut mendengarkan penjelasan Arnold setiap detail. Saat Arnold mulai kembali terdiam, Gery menepuk pelan puncak kepala Arnold. Membuat pemuda itu tercekat, namun juga senang.


"Kamu pintar, Arnold. Berkat kamu, Ayah menemukan siapa yang Ayah cari."


"Apa yang Ayah maksud?" Arnold mengerutkan kening. Tak mengerti dengan maksud sang Ayah.


* * *


Kevin berjalan gontai sambil menentang tas di belakang punggung menuju kamar sang Ibu dirawat. Dia menghela napas panjang, lantas membuka pintu.


"Selamat datang, Kevin. Kamu sudah pulang? Bagaimana sekolahmu?" tanya sang Ibu. Raut wajahnya tampak berseri-seri.


"Baik, Ibu. Ada apa dengan Ibu hari ini? Nampaknya hari ini ada sesuatu yang menyenangkan."


"Dokter bilang. Besok Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jadi, Ibu tidak sabar untuk bertemu dengan ayahmu."


Bertemu dengan Ayah? Kevin tersentak. Namun dia berusaha untuk tetap tenang di depan sang Ibu. Besok, Kirana sudah diperbolehkan pulang. Lantas, bagaimana cara Kevin memberitahu ibunya tentang sang Ayah yang sudah meninggal dunia?


Bagaimana jika keadaan Kirana akan kembali drop saat Kevin menceritakan tentang kematian sang Ayah? Dia mulai terlihat gelisah, namun masih bisa menutupinya.


"Itu berita bagus. Jadi, hari ini Ibu harus banyak istirahat. Agar besok saat Ibu pulang, Ibu terlihat sehat bugar," kata Kevin lembut.


"Ibu benar-benar sudah merindukan kebersamaan dengan kamu dan Ayah. Bagaimana dengan ayahmu? Dia sudah sembuh kan? Apa dia masih di rumah sakit?"


"I-ya. Ayah sudah sembuh. Tapi, sepertinya Ayah tidak akan di rumah saat Ibu pulang. Ayah ada pekerjaan mendadak yang mengharuskan dia pergi ke luar Kota."


<