
"Teman Kevin?" Kevin terkekeh. "Ternyata Anda masih saja menganggapku sebagai teman Kevin ya, Ayah." Kevin menyeringai lebar.
Ucapan Kevin sontak saja membuat Guren membulatkan matanya sempurna. Dia menopang kedua tangan ke lantai, berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, kembali tubuh setengah renta itu gemetar, dan ambruk kembali ke lantai granit.
"Kamu, Kevin? Tapi, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya!"
"Menyadari? Anda tak mungkin akan bisa sadar. Dari saya masih kecil, Anda tak pernah sekalipun mengajakku bicara, atau bahkan menatap wajahku hanya untuk satu detik.
Tidak heran jika Anda tak bisa mengenaliku. Dan, itulah yang semakin membuatku membencimu."
Kevin merogoh saku jaket yang sudah penuh dengan bercak cairan merah kental itu. Bau anyir menusuk hidung datang menyambut ketika sebuah pistol dengan ujung penuh darah keluar dari saku jaketnya. Dia menodongkan pistol penuh darah itu depan wajah Guren yang kini sudah tak berdaya.
"Saya, ingin menuntaskan semua ini. Bahkan aku sudah menghabisi Tuan Gery, orang yang sudah Anda pekerjakan.
Tapi, dengan Anda mempekerjakan banyak orang. Anda hanya akan menambah dosa, Tuan Guren." Kembali Kevin menunjukkan senyum seringai lebarnya. Guren menelan ludah.
Langit gelap kembali menunjukkan sinar rembulannya, menerpa wajah dengan bercak darah menempel. Senyum seringai lebarnya semakin menambah kesan menyeramkan dari sosok Kevin.
Jari-jari yang menempel pada pelatuk mulai bergerak, hendak menariknya. Namun, mata berkaca-kaca, mengumpulkan bulir-bulir air bening di pelopak mata membuat Kevin tak bisa mengendalikan perasaannya, dan berakhir menjatuhkan pistol di tangannya yang mulai gemetar.
Kevin menyeka bulir-bulir air bening yang hendak keluar dari sudut netranya sedikit kasar. Dan dari situ, Guren meraih pistol yang tergeletak di lantai, lantas beranjak berdiri. Dia mendaratkan satu tendangan kasar pada perut Kevin, membuat pemuda itu terjatuh ke lantai granit.
"Kamu tak bisa membunuhku. Apa aku berkata benar, Kevin?" Guren menyeringai lebar. Dia menodongkan pistol Kevin yang kini berada di tangannya ke depan, tepat di depan wajah Kevin.
Kevin meringis dengan tangan memegang perut, meremasnya kasar. Dia terkekeh dengan wajah masam, membuat Guren menaikkan salah satu alisnya.
"Jadi, memang benar jika seorang Ayah mempunyai sisi jahat yang sampai tega membunuh anaknya sendiri?"
Kevin menopang lantai dengan salah satu tangannya, berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, Guren mendaratkan satu tendangan keras, dan kini tepat mengenai ulu hati Kevin, membuat pemuda itu terkulai lemas di lantai.
"Benar, kamu benar. Aku bahkan bisa saja menghabisi siapapun yang berani melawanku." Guren merentangkan kedua tangannya dengan bangga. Kevin menatap sinis dengan tangan yang memegang bagian ulu hatinya.
Guren menampilkan bibir dengan senyum seringai lebarnya. Dia mengangkat kakinya, mendaratkan tendangan bertubi-tubi pada tubuh Kevin. Hingga mengeluarkan cairan merah kental pada sudut bibir Kevin, juga bagian pelipisnya.
Kevin masih terkulai lemas dengan napas mulai memburu. Sementara Guren, dia duduk di sofa dengan pistol di tangannya. Terkesan arogan dengan salah satu tangan menopang pegangan sofa.
"Dasar lemah! Kamu ingin menghabisiku? Kamu tidak akan bisa, mustahil!" Guren tergelak, tertawa dengan wajah garang.
Kevin beranjak bangun dengan mulut yang terus meringis ketika denyut nyeri pada ulu hatinya kembali menyerang. Dia menopang lantai dengan kedua tangan, berusaha untuk bangkit berdiri.
Namun gagal, ketika Guren mengangkat pistolnya ke depan, menarik pelatuk, melontarkan satu butir peluru yang mengenai tepat pada bagian paha Kevin. Membuat pemuda itu kembali menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Tangannya yang gemetar hebat memegang paha dengan cairan merah kental mulai merembes keluar, dengan bau anyir menusuk. Kevin mengangkat wajahnya ke atas sambil menggigit bibir bawahnya, menahan denyut hebat pada pahanya.
Disela mulut Guren yang terus saja berceloteh dengan mata yang mulai tidak fokus. Kevin kembali menopang lantai dengan kedua tangan, berusaha bangkit berdiri. Dia mendekati Guren yang menatap langit-langit atap dengan menyeret kaki kirinya, walau denyut itu akan kembali menyerang ketika kaki mulai melangkah.
Guren tersentak dengan mata membulat sempurna ketika kini Kevin berdiri di hadapannya. Dia mengangkat pistolnya lagi. Namun Kevin lebih cepat mengelak ketika Guren menarik pelatuk. Kevin meraih tangan yang memegang pistol itu, mencengkeramnya erat, membuat Guren meringis.
"Aku akui. Aku masih tak berani untuk melukaimu. Tapi sekarang berbeda lagi setelah aku tahu bagaimana sisi lain dari dirimu, Ayah." Kevin merebut pistol dari tangan Guren.
Lantas mundur beberapa langkah. Menodongkan pistol itu ke depan, dan dengan cepat juta tangan itu menarik pelatuk. Berhasil mengenai bagian jantung Guren, membuat lelaki paruh baya itu tergeletak di sofa dengan tubuh bersimbah darah.
Tangan Kevin gemetar, menjatuhkan pistolnya tanpa ia sadari. Kaki yang juga gemetar tak dapat menopang tubuhnya lebih lama, dan membuat tubuh itu ambruk ke lantai. Bola mata biru kristalnya mulai berkaca-kaca, perlahan mengeluarkan bulir-bulir air bening dari sudut netranya, kian deras.
"Aaaaa ...!" Kevin berteriak, sekencang mungkin. Dia mengacak-acak rambutnya kasar dengan mata yang terus mengeluarkan bulir-bulir air bening.
"Aku, sudah menuntaskan semuanya. Aku, sudah berhasil!" Kevin tertawa dengan bulir-bulir air bening yang masih mengalir deras dari sudut netranya.
Hingga ketika penglihatan Kevin mulai buram, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sayup-sayup matanya yang setengah terpejam menangkap sosok Arnold mendekatinya, menggoyangkan tubuhnya.
"Kevin, bangun! Bertahanlah! Maaf, aku terlambat!" seru Arnold.
Kevin mengulas senyum dengan wajah masam. Dan kemudian, matanya perlahan mulai terpejam, kian rapat. Arnold kembali menggoyangkan bahu Kevin, namun pemuda itu tetap bergeming dengan mata terpejam rapat.
"Kevin! Bertahanlah!"
Sayup-sayup teriakan Arnold memanggil masih terdengar di kedua telinga Kevin. Hingga dia terjatuh pingsan, dan terbangun di suatu tempat yang terlihat asing.
"Di mana, aku?" gumam Kevin, pelan.
Dia mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Dia melirik tangan kanannya yang berdenyut hebat, menunjukkan selang infus menempel pada punggung tangannya.
"Ini, rumah sakit? Apa, Arnold yang membawaku kamari?" pikir Kevin.
Dia menopang ranjang dengan tangan kiri, berusaha untuk bangun. Namun, kepalanya mulai pusing berkunang-kunang, kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Pintu terbuka, menunjukkan sosok Arnold dengan buah-buahan di tangannya. Dia mendekati Kevin, meletakkan buah-buahan itu di atas meja samping kanan ranjang. Lantas mendudukkan pantatnya pada kursi samping kanan ranjang.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Kevin. Sungguh, aku benar-benar panik waktu itu. Kamu tidak sadarkan diri selama lima hari. Dan itu membuatku panik," kata Arnold.
Dia meraih salah satu buah, mengupasnya dengan pisau mini. Dan menyodorkannya pada Kevin. Pemuda itu memakan buahnya pelan.
"Terimakasih. Aku pikir, waktu itu adalah terakhir kali aku berada di dunia ini."
^^^<< Bersambung ....^^^