Suffering

Suffering
Bab 32



Sosok tangan berbalut sarung tangan hitam memegang gagang pintu, memutarnya perlahan, hingga pintu terbuka. Kaki berbalut sepatu but itu melangkah perlahan mendekati Kirana yang terbaring di atas ranjang.


Kini dia berdiri di samping kiri Kirana terbaring. Dia sedikit menarik penutup wajahnya. Menampakkan bibir merah merona itu yang tersenyum menyeringai.


"Ini baru seru," gumamnya pelan.


Dia menarik alat pernapasan yang menempel pada hidung Kirana, membuat wanita paruh baya itu tak dapat bernapas, kehilangan kesadarannya.


"Bagaimana kamu akan menangani ini, Kevin." Sosok itu pun berbalik, dan berlalu pergi meninggalkan Kirana.


* * *


Ketika Kevin hendak memejamkan matanya, mendadak ponselnya berdering, kembali membuat Kevin membuka matanya lebar. Meraih benda pipih itu di atas meja, Menatap sebuah pesan dari salah satu perawat di rumah sakit sang Ibu dirawat.


Sontak saja Kevin beranjak bangun dengan cepat sambil menggenggam erat ponsel di tangannya. Dia hendak beranjak dari atas ranjang, namun tak bisa ketika kepalanya kembali berdenyut, menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Sial! Kenapa kepalaku sangat sakit! Tapi, Ibu ...." Kevin kembali beranjak bangun, berusaha untuk tetap beranjak berdiri disela kepalanya yang terus saja berdenyut hebat.


Hingga ketika tubuhnya telah berdiri tegap, hampir saja tubuh itu akan kembali ambruk ke atas ranjang jika Arnold tak datang tepat waktu, dan menopang tubuh Kevin.


"Kamu mau ke mana? Kondisimu masih belum vit lho ini," kata Arnold. Dia hendak membantu Kevin untuk kembali berbaring di atas ranjang, namun Kevin langsung menepisnya.


"Aku harus pergi untuk menemui Ibu! Dia ...." Kevin tak melanjutkan ucapannya. Matanya mulai berkaca-kaca, mengumpulkan air bening di sudut netra.


"Ada apa dengan ibumu? Dia baik-baik saja kan?" tanya Arnold. Tangannya masih menopang tubuh Kevin.


"Ibu kritis! Aku harus ke rumah sakit. Ibu membutuhkanku!"


"Tapi, bagaimana dengan keadaanmu?"


"Aku tidak apa-apa. Bisakah kamu mengantarku?" pinta Kevin. Arnold mengangguk cepat. Dan membawa Kevin pada mobil taxi yang menunggu di depan. Dan mobil itu mulai melaju, menuju rumah sakit.


Tiba di rumah sakit. Kevin berjalan tergopoh-gopoh, menuju lantai atas, tak lagi memikirkan tentang kepala yang terus berdenyut itu. Bahkan, Arnold saja cukup sulit untuk mengimbangi langkah kaki Kevin.


Dia berhenti tepat depan pintu kamar sang Ibu dirawat. Sudah ada sekitar dua sampai tiga perawat yang sedari tadi datang dan pergi dari kamar itu. Kembali membuat Kevin gusar. Dia menghela napas panjang, lantas berjalan masuk kamar, mendekati sang Ibu yang terbaring lemah.


"Dok, bagaimana keadaan ibuku?" tanya Kevin. Dia meraih tangan sang Ibu yang mulai dingin, sedingin es, juga kaku.


Bahkan, tak ada tanda-tanda sang Ibu bernapas, atau bahkan menggerakkan salah satu jarinya. Kembali membuat Kevin panik, nyaris mengeluarkan air matanya.


"Maaf, Kevin. Saya sudah berusaha, sangat berusaha. Tapi, Ibu kamu tidak bisa kami selamatkan." Sang Dokter menundukkan kepala. Kevin terbelelak dengan mata yang mulai meneteskan bulir-bulir air bening.


Kakinya yang gemetar tak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Ambruk ke lantai dengan gontai. Sontak saja Arnold langsung mendekat, memegang bahu Kevin, memijitnya perlahan.


"Kevin, tenanglah. Jangan sampai kondisimu semakin melemah," kata Arnold. Dia meraih tangan Kevin, membantunya bangkit berdiri, membawanya duduk di atas sofa.


Para perawat mulai melepas alat pernapasan yang menempel di hidung Kirana. Juga melepas selang infus di punggung tangan Kirana. Lantas, melipat kedua tangan Kirana di dada, kemudian menutup wajahnya dengan selimut putih itu.


Tangannya terkepal erat dengan tubuh yang mulai gemetar. Mengeluarkan bulir-bulir air bening dari sudut netranya, kian deras. Kakinya yang tampak gontai membuat tubuh Kevin ambruk ke tanah.


"Kenapa. Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa aku tidak bisa menjalani kehidupanku dengan normal!" kata Kevin setengah berteriak.


Disela isakan tangis Kevin. Langit mulai menampakkan awan-awan hitamnya, memunculkan suara gemuruh, bersamaan dengan Rintik-rintik hujan yang berubah sebesar biji jagung. Menerpa tubuh Kevin yang berbalut kemeja hitam lengan panjang dan celana panjang.


"Aku, hanya ingin menjalani kehidupanku dengan kalian, Ayah dan Ibu. Tapi, kenapa Tuhan dengan begitu cepatnya mengambil kalian dariku? Apa aku tak berhak untuk bahagia?"


Arnold datang dengan payung di tangannya, menutupi rintik hujan itu, tak lagi menerpa tubuh Kevin. Dengan wajah sendu, Arnold berjongkok, memegang bahu Kevin pelan.


"Kevin, kamu harus bisa ikhlas dengan meninggalnya Ibu kamu. Jangan terus bersedih seperti ini."


Arnold membantu Kevin bangkit berdiri, dan membawanya pulang, meninggalkan makam sang Ibu yang mulai basah terkena derasnya hujan saat itu.


Kevin mendudukkan pantatnya di lantai, bersender pada kaki ranjang. Tak menghiraukan pakaiannya yang basah kuyup, menteskan air di lantai.


"Kevin, kamu ganti pakaian dulu. Sekarang, keadaanmu kamu masih dalam keadaan sakit. Jangan sampai kamu tambah sakit lagi." Arnold menjulurkan sebuah handuk pada Kevin. Namun pemuda itu diam saja, tak meraih handuk itu.


Arnold menghela napas. Dia berjongkok, kembali menjulurkan handuk itu. Namun, Kevin tetap bergeming, bahkan tak menatap pada Arnold.


"Kevin, sekarang ini justru kamu harus tetap kuat, bertahan untuk mencari tahu penyebab kematian ibumu," kata Arnold. Sontak saja Kevin mengangkat wajahnya dengan sorot mata tajam.


"Apa maksudmu?" Kevin mengerutkan kening.


"Tadi saat di rumah sakit. Dokter sempat mengatakan jika Ibu kamu meninggal karena ada seseorang yang melepas alat pernapasannya," jelas Arnold.


Kevin mengepal erat kedua tangannya, hingga menonjolkan otot-otot kekar itu. Mengeluarkan cairan merah kental dari punggung tangan bekas selang infus. Arnold meraih kotak p3k, mengobati luka itu.


"Hati-hati, Kevin! Di sini aku seperti sedang menjaga anak kecil yang susah sekali diatur," gerutu Arnold.


Kevin menyeka air mata di sudut netranya, lantas beralih menatap pada Arnold. "Apakah kamar Ibu tak ada kamera cctvnya?" tanya Kevin.


"Sepertinya tidak. Karena Dokter tadi juga tak mengatakan apa-apa. Tapi, entahlah. Apa perlu aku pergi ke rumah sakit untuk menanyakannya?"


"Tidak perlu. Kamu telfon saja. Aku ada nomornya." Kevin memberikan nomor telepon Dokter yang merawat sang Ibu.


Dan cukup lama Arnold berbicara dengan sang Dokter lewat sambungan telepon. Hingga ketika Arnold usai berbicara dengan sang Dokter, dia menghampiri Kevin.


"Ada kamera cctvnya. Tapi di kamera itu ada bagian rekaman yang hilang. Dan itu pasti rekaman saat orang itu melepas alat pernapasannya," jelas Arnold.


"Mungkin aku bisa memperbaikinya. Aku akan pergi ke rumah sakit!"


^^^<< Bersambung ....^^^