Suffering

Suffering
Bab 22



Kevin menghentikan langkah kakinya yang tampak gontai. Dia menarik tudung jaketnya, menutupi kepala dan kedua telinga ketika angin berhembus cukup kencang. Membuat setiap pori-pori kulit merasakan hawa dingin, menaikkan bulu-bulu tangannya yang tipis.


"Ini, masih sore. Tapi anginnya sangat kencang. Sepertinya aku harus cepat pulang jika tidak ingin sakit," gumam Kevin. Dia kembali melangkahkan kakinya di bawah lampu jalan temaram yang sudah sebagian menyala.


Kedua kaki yang kini mulai berjalan lebih cepat kembali berhenti. Bola mata biru kristal itu bergerak cepat, melirik kanan kiri dan juga atas. Dia langsung mendongak, dan dengan cepat melangkah mundur. Membiarkan satu butir peluru yang tiba-tiba meluncur tak mengenainya. Kevin sedikit menundukkan kepalanya.


Satu butir peluru yang tergeletak di tengah jalan masih tampak mengepulkan asap panas dari percikan api yang muncul. Kevin kembali mengangkat kepalanya ke atas. Sosok lelaki dengan jaket hitam dan sebuah masker menutupi wajahnya berdiri di atap genting. Dia sedikit mengayunkan senapan di tangannya, lantas berlalu pergi.


"Apa dia, akan membunuhku tadi? Siapa dia? Hah ...." Kevin menghela napas pelan. "Seharusnya aku sudah tahu itu. Laki-laki itu tak akan membiarkan aku hidup dengan apa yang sudah terjadi padanya."


Kevin kembali melirik butir peluru yang sudah tak mengepulkan asap panas di jalanan aspal. Hembusan angin yang lebih pelan kembali datang, menerpa helai rambut yang sedikit menutupi bola mata kristal itu. Kevin mengeluarkan satu tangannya dari saku jaket. Dia berjongkok, meraih butir peluru dengan tangan yang dibalut kain polos.


"Hmm ... ini akan kubawa. Aku ingin mencari tahu, siapa orang yang sudah dengan berani akan membunuhku.


Tapi, caranya menembak. Tentu dia bukanlah orang sembarangan. Sepertinya dia juga salah satu dari pembunuh bayaran." Kevin memasukkan butir peluru dengan balutan kain polos pada saku jaket. Lantas dia kembali melangkahkan kakinya pergi.


* * *


Gery membuka pintu besar dengan gagang perak itu, lantas menutupnya dengan kasar. Hingga suara keras pintu yang tertutup membuat Arnold tersentak. Dia langsung meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Lantas berjalan tergopoh-gopoh mendekati sang Ayah.


"Ada apa, Ayah? Kelihatannya Ayah sangat marah?" Arnold memiringkan kepala. Saat Gery menampakkan sorot mata tajamnya pada Arnold, pemuda itu langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Sial! Aku gagal! Dia memang hebat. Aku seperti dipermainkan olehnya!" Arnold duduk di sofa. Dia meraih gelas berisi air putih di atas meja kaca, lantas menenggaknya hingga tandas.


"Siapa yang Ayah maksud? Apa Ayah membunuh seseorang lagi?" tanya Arnold lirih. Tenggorokannya mulai mengering, dia menelan ludah sedikit kasar.


Gery memukul meja kaca dengan keras, meninggalkan sedikit retakan pada meja kaca itu. Arnold kembali menelan ludahnya dengan kasar. Kedua matanya mulai sedikit gemetar, bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi kedua tangan yang sedari tadi meremas pinggiran celananya.


"Aku tak bisa membunuhnya. Sial sekali! Kenapa dia bisa menghindari tembakanku yang dari dulu tak pernah meleset!" Gery kembali memukul meja, dan kali ini lebih pelan, hingga retakan kecil itu tak semakin membesar.


Arnold menelan ludah. Tenggorokannya masih mengering, ludahnya yang sedari tadi ia telan tak membuat tenggorokannya nyaman kembali. Dia menghela napas pelan.


"Sebenarnya siapa yang Ayah maksud? Siapa orang yang coba Ayah bunuh?" tanya Arnold setengah enggan.


"Kevin! Dia bocah ingusan yang benar-benar membuatku naik darah." Gigi-gigi Gery mulai gemeretak, dia bahkan mencoba untuk mencabuti kuku jarinya sendiri.


"Kevin!" Arnold tersentak. Namun kedua matanya tampak berseri-seri, seolah tengah merasakan kebahagiaan mendalam.


"Kamu kenapa?" tanya Gery. Putra tunggalnya itu terus saja mengulas senyum sejak dia berbicara tentang pembunuhan terhadap Kevin.


"Apa Ayah mencoba membunuh Kevin karena aku? Ayah khawatir denganku?" tanya Arnold. Keringat dingin yang sebelumnya membasahi kedua tangannya, kini mulai berkurang.


"Apa yang kamu katakan! Ini bukan karena kamu! Ini memang pekerjaan Ayah yang harus membunuhnya!


Setelah melihat bagaimana dia menghindari seranganku tadi. Kamu memang pantas kalah melawannya kemarin," kata Gery tak acuh. Arnold kembali menelan ludah, jantungnya mulai berdegup kencang. Hingga setiap detak jantung itu terdengar di kedua telinganya.


"Selamat malam, Ayah. Aku akan masuk kamar." Arnold berbalik, berjalan menaiki tangga. Sementara Gery masih tampak tak acuh, dia mulai fokus pada ponselnya.


Arnold memutar gagang pintu kamar dengan gontai. Tangannya yang tampak malas tak membuat pintu itu terbuka. Arnold mengepal tangan kanannya dengan erat, lantas memukul pintu dengan keras. Hingga membuat pintu terbuka.


"Sialan! Kevin, kau benar-benar sudah menghancurkan hidupku! Kau puas sekarang!


Karena kau, ayahku jadi meremehkanku. Karena kau, ayah marah padaku!" Arnold mengacak-acak rambutnya kasar, hingga membuat cairan merah kental yang menempel pada punggung tangannya mengenai helai rambut coklat itu.


* * *


Kevin menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia meraih ponsel yang berada dalam saku jaketnya.


"Siapa orang itu? Aku harus mencari tahu tentangnya. Dan peluru yang kubawa ini akan sangat berguna nantinya," gumam Kevin.


Dia beranjak bangun. Tangannya kembali merogoh saku jaket, meraih butir peluru berbalut kain polos itu.


"Sidik jari orang itu pasti ada pada peluru ini. Aku hanya perlu membawanya pada Polisi. Yah, hanya Polisi yang sekarang masuk otakku," gumam Kevin. Seulas senyum seringai tersungging di bibirnya sambil menelisik setiap sudut pada butir peluru di tangannya.


...----------------...


Sebuah mobil sedan hitam berhenti di tepi jalan dekat gedung kantor polisi. Carlos memperhatikan Kevin yang tampak duduk santai dengan kaki menyilang dari kaca spion.


"Kenapa larut malam begini Tuan muda ke kantor polisi?" tanya Carlos.


"Aku ada urusan penting. Kamu tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama." Kevin membuka pintu, keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung kantor polisi.


Angin cukup kencang datang, menerpa setiap helai rambut pekat itu. Kevin menghentikan langkah kakinya saat muncul suara tembakan pistol dari belakangnya. Kevin menoleh ke belakang dengan cepat. Kedua tangan yang masuk saku jaket kini keluar dengan lunglai.


"Carlos!" Kevin berlari secepat mungkin mendekati Carlos yang terbaring dengan bagian perutnya bersimbah darah di belakang Kevin.


"Bangun Carlos! Apa yang sudah terjadi padamu!"


Tak berselang lama kejadian itu terjadi. Para petugas kepolisian yang berada dalam gedung langsung berhamburan keluar dengan pistol di genggaman tangan mereka.


"Kenapa ini? Apa terjadi sesuatu?" tanya salah satu Polisi. Kevin menoleh, sorot matanya tampak tajam menatap petugas kepolisian di belakang.


"Kalian tidak lihat! Kalian sudah buta ya! Lihatlah apa yang sudah terjadi! Lebih baik kalian bantu aku dan jangan diam saja!" seru Kevin. Hingga ucapannya yang sembarangan membuat para petugas kepolisian saling beradu pandang.


"Kita bawa dia ka rumah sakit!"


<