Suffering

Suffering
Bab 35



"Alexa!" Sosok gadis berambut coklat sepanjang bahu berlarian kecil menuju kantin, duduk di samping Alexa yang kini tengah menikmati teh hangatnya.


Alexa hampir tersentak, nyaris menjatuhkan gelas kaca itu jika ia tak memegang gelas kaca itu dengan erat. Kedua tangannya masih setengah menggigil ketika dia meletakkan gelas itu di atas meja.


"Ada apa? Kebiasaan ya kamu itu membuat kaget," kata Alexa. Dia menyeka sedikit embun yang menempel di lensa kacamatanya.


Rani menggembungkan kedua pipinya, membuat Alexa mendengus dan langsung merangkul pundak gadis itu.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu basah kuyup begitu? Bukankah kamu sering bawa payung?" tanya Rani.


Dia menggeser tempat duduknya ketika pakaian basah Alexa membuat bulu tangannya seketika berdiri. Alexa memutar kedua matanya malas. Rani tersenyum kuda.


"Apa kamu bawa baju ganti? Seragam olahraga mungkin?" tanya Alexa. Dia mulai menggigil lagi kali ini.


"Aku bawa baju ganti." Rani tersenyum dengan dada sedikit membusung.


"Kenapa? Apa kamu mau tidur di sekolah malam ini?" Alexa tertawa kecil. Rani mendengus dan membuang muka.


"Bercanda Ran. Jadi, bisa aku pakai baju gantimu? Pasti akan aku cuci dengan bersih."


Tepat ketika Rani memberikan seragam gantinya pada Alexa, Kevin datang dengan seragam basah kuyup, dan tak lupa dengan ekspresi datarnya, nyaris tanpa ekspresi.


Kevin mendekati bangkunya, duduk di sana tanpa memperhatikan setiap mata yang fokus pada dirinya.


"Dia juga basah kuyup. Kenapa si tampan itu basah kuyup? Ingin sekali aku melepas bajuku dan memeluknya dengan hangat." Rani tersenyum dengan wajah memerah.


Alexa mendekatkan wajahnya pada pipi yang kini sudah Semerah tomat itu. Dia menepuk kasar pundak Rani, membuat gadis itu tersentak dan langsung mengusap pelan wajahnya yang memerah.


"Kamu suka ya sama dia?" tanya Alexa dengan tatapan sinis.


Rani tersenyum sambil menggaruk belakang lehernya yang mungkin tak gatal. Dia langsung duduk di bangkunya, mengabaikan tatapan sinis Alexa.


"Alexa, kamu kan juga baru satu Minggu lebih sekolah di sini. Jadi kamu belum tahu aja pesona dia," kata Rani tanpa menoleh. Matanya masih fokus pada pemuda tampan duduk di kursi paling belakang dekat pintu jendela itu.


Kini kedua mata Alexa terpaku pada sosok Kevin yang tak sama sekali memperhatikan sekelilingnya, menatap luar jendela dengan tatapan kosong.


Cukup lama mata Alexa fokus pada Kevin. Hingga dirinya tak sadar akan pipi yang mulai memerah. Sontak saja dia langsung membuang muka dan keluar dari kelas dengan membawa seragam ganti milik Rani ketika mata Kevin sedikit melirik ke arahnya.


"Dia, yang memberikan payungnya bukan?" gumam Kevin.


Kevin beranjak berdiri, dan pergi meninggalkan kelas. Menuju kamar mandi khusus perempuan, yang langsung saja disambut dengan pipi merona para gadis yang berada di kamar mandi.


Kevin tak mengindahkan mereka. Ia melangkah mendekati salah satu pintu, mengetuknya sedikit kasar.


Sementara Alexa yang tengah mengenakan seragam tersentak ketika ketukan pintu sedikit kasar terus saja berbunyi. Dia berpikir jika itu salah satu temannya.


"Sebentar! Apa kamu tidak lihat masih ada orang di sini?" kata Alexa setengah berteriak sembari mengenakan seragamnya.


Kevin yang mendapat jawaban itu dari Alexa kembali mengetuk pintu, kini lebih keras lagi dia mengetuknya. Membuat Alexa jengkel. Dia membuka pintu dengan beberapa kancing kemejanya yang masih terbuka, sedikit memperlihatkan dada yang menonjolnya.


Kevin dengan wajah datarnya melangkah maju, membuat Alexa sontak melangkah mundur. Hingga dirinya tak sadar kini telah berdiri di ambang dinding, tak dapat lagi bergerak ketika Kevin mendekatinya.


"Kamu, mau apa?" tanya Alexa sedikit tergagap.


Kini wajah Kevin semakin mendekat, membuat Alexa menelan ludahnya sedikit kasar. Ketika matanya beradu pandang dengan Kevin, dia tak sadar jika Kevin meraih handuk dan menutupi dada menonjol milik Alexa yang sedikit terlihat, membuat gadis itu tersentak.


"Jangan salah paham. Aku tadi mengikutimu karena wajahmu tadi memerah. Kupikir kamu sakit karena memberikan payungmu padaku," kata Kevin datar. Dia selangkah mundur, menyenderkan punggungnya pada dinding sambil bersedekap.


"Aku, baik-baik saj—" Tubuh Alexa mendadak melemas, nyaris terjatuh ke lantai jika Kevin tak segera menangkap tubuhnya.


"Kamu memang sakit. Beritahu rumahmu, aku akan mengantarmu pulang. Sepertinya hanya akan sia-sia jika kamu di UKS," kata Kevin.


Alexa yang kesadarannya mulai melemah memberitahu alamat apartemen kecilnya dengan nada setengah pelan, nyaris tidak terdengar.


Kevin akhirnya meminta izin pada wali kelasnya untuk membawa Alexa pulang, dan wali kelas mengizinkannya. Kevin sampai tak mmeberitahu pada Arnold.


Tiba di apartemen kecil Alexa, Kevin menggendong gadis itu masuk apartemen, merebahkan tubuh Alexa di dalam kamarnya.


"Kamu masih kuat? Aku akan mengambil kompres, lalu membelikanmu obat," kata Kevin. Alexa yang dengan wajah memerah hanya mengangguk lesu.


'Wajahku memerah bukan karena aku sakit. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja tubuhku lemas seketika,' batin Alexa ketika Kevin keluar dari kamarnya.


Kevin kembali dengan kompres dan air hangat. Dia memberikan handuk kecil yang sudah dimasukkan dalam air hangat pada kening Alexa.


"Apa kamu, juga ganti pakaian dalam?" tanya Kevin dengan santainya. Sontak saja Alexa kembali menunjukkan wajah yang kini semakin memerah itu.


"Kamu kenapa?" Kevin mendaratkan telapak tangannya pada pipi dan leher Alexa. "Kamu semakin panas. Aku akan belikan kamu obat. Sebaiknya hingga aku kembali kamu ganti pakaian dalam. Percuma saja kamu ganti pakaian luar jika pakaian dalam tidak ganti," kata Kevin. Dia beranjak berdiri, dan pergi meninggalkan Alexa.


Sekitar lima belas menit telah berlalu, dan Kevin datang dengan obat di tangannya. Dia juga sempat bertanya pada Alexa, apakah dia sudah mengganti pakaian dalamnya. Dan Alexa hanya menganggukkan kepala, masih dengan wajah memerah.


"Sebenarnya, aku benci dengan apa yang aku lakukan saat ini," kata Kevin usai memberikan obat pada Alexa.


"Kamu bisa pulang. Aku paham jika kamu tak ingin melakukan ini," lirih Alexa. Dia kembali merebahkan tubuhnya.


"Aku masih memiliki sedikit rasa kemanusiaan. Walau itu hanya sejengkal." Kevin meraih kompres di kening Alexa, kembali memasukkannya dalam air hangat, lantas kembali mengompresnya di kening Alexa.


Ponsel Kevin berdering, membuat pemuda itu tersentak dan meraih ponselnya. Dia menatap sekilas layar benda pipih itu, lantas kembali memasukannya dalam saku jaket usai mengetik beberapa kata.


"Tak apa. Kamu bisa pulang. Aku baik-baik saja," kata Alexa.


"Kamu tinggal bersama keluargamu?" tanya Kevin. Alexa menggeleng pelan dengan wajah masam.


"Itu artinya. Aku tak bisa meninggalkanmu. Kamu sakit karena aku. Jujur saja, aku tak ingin melakukan ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Hati kecilku menyuruhku untuk membantumu."


^^^<< Bersambung ....^^^