
Setelah Natasha mendengar cerita dari sang kakek, dia mulai menduga-duga kalau empat orng asing itu bisa jadi ada hubungannya dengan kejadian di masa lalu.
Lantas jika mereka salah dan tidak mau mengakuinya, mengapa harus dendam?
Jelas-jelas mereka sudah tahu hukum di negeri itu seperti apa, masih saja berani melecehkan bahkan sampai membunuh keturunan penting Beverly.
Sebenarnya Natasha juga ingin melupakan kejadian siapa yang telah berani meracuni nenek dan kakeknya, tetapi dia mengurungkan niatnya itu setelah mendengar beberapa pelayan bergosip.
Mereka berbicara tentang seorang pelayan baru suruhan dari Baroness Vivian yang bertugas untuk membantu dibagian dapur.
"Pelayan baru? Kenapa baroness Vivian tidak membicarakannya dulu denganku? Memangnya pendapatku tentang memasukan orang asing ke dalam istana ini tidak penting?"
Natasha akhirnya pergi dari sana dan berjalan menuju sang kakek yang berada di ruang kerjanya.
"Salam hormat yang mulia raja."
Sang kakek lantas menghentukan aktivitas kerjanya.
"Ada apa putri?"
"Kedatangan saya ke mari ingin bertanya mengenai pelayan baru. Apa benar ada pelayan baru dan itu orangnya baroness Vivian?"
"Benar. Sehari setelah kau pergi, baroness Vivian datang dengan seorang perempuan, dia juga mengajukannya sebagai pelayan dibagian dapur!"
Natasha mengernyitkan dahi, kenapa tiba-tiba dan sewaktu dia sudah pergi?
"Maaf jika saya lancang, tetapi bukankah pendapat saya penting untuk menerima orang lain sebagai pelayan di kerajaan Beverly? Mengingat anda dan ratu hampir saja terbunuh karena makanan yang telah diracuni. Saya tidak bisa membuat anda dan ratu berada dalam bahaya lagi. Terlebih tidak ada yang tahu siapa pelaku sebenarnya!"
Tiba-tiba Azalea datang entah dari mana dan langsung menyapa raja serta Natasha.
"Salam hormat raja, salam hormat putri. Maksud kedatangan saya ke sini ingin memberitahukan informasi tentang pelayan baru. Saya baru-baru ini sering mengawasi pelayan itu dan gerak-geriknya lumayan mencurigakan. Beberapa kali saya mendapatkan dia sedang berjalan seorang diri ke belakang kerajaan pada malam hari. Dia memasuki sebuah rumah yang sudah lama tidak digunakan dan entah apa yang dia lakukan. Saya ingin masuk, tetapi seperti ada sesuatu yang membuat saya tidak dapat masuk!"
Natasha menatap sang kakek, menunggu untuk mendapatkan perintah.
"Lakukan penyelidikan secara diam-diam dan ikuti terus pelayan itu. Natasha, kau pergilah ke rumah tersebut dan cobalah untuk mencari cara agar kau bisa masuk!"
Mendengar itu Natasha pun segera mengangguk.
"Perintah diterima!"
Setelah mereka keluar dari ruang kerja raja. Natasha tahu, ada yang hendak menguping pembicaraan mereka, dikarenakan penjagaan tidak ada di depan ruang kerja sang kakek.
Beruntung dia memberikan kode pada Azalea untuk membuatnya terdengar sangat hening.
"Putri, sepertinya tempat ini telah dimasukan mata-mata. Saya akan segera mencari tahu untuk siapa mereka bekerja!"
"Lakukan!"
Azalea lantas tiba-tiba menghilang. Baru saja akan melewati dapur, dia melihat adanya dua orang yang sedang memasak sesuatu. Kebetulan keadaan disekitar sana sangat sepi jadilah Natasha mulai menguping.
Dia mendengar semua percakapan keduanya hingga akhirnya terbesit sebuah ide. Dia tersenyum dan mulai meninggalkan dapur.
Malam harinya Natasha memilih untuk duduk tenang di dalam kamae tanpa melakukan apapun, membiarkan dia melihat wajah pelayan baru. Dia sengaja meminta Rose untuk menyuruh pelayan tersebut membawakan makanannya sendiri.
Suara ketukan terdengar, pelayan baru itu masuk dan mulai meletakan makanan Natasha di atas meja.
"Jadi kau pelayan baru itu?" tanyanya basa basi, sesekali Natasha menatap ke arah makanannya.
"Benar putri. Saya orang suruhan baroness Vivian!"
"Dalam rangka apa baroness Vivian mengirimkan orang-orangnya ke mari?" tanyanya dengan menunjukan raut wajah penuh selidik.
"Sa-saya kurang tahu putri, saya hanya diperintahkan barones Vivian untuk menjadi pelayan di sini!"
"Lantas, sudahkah kau menolaknya? Apa kau tahu bahwa aku tidak akan menerima orang asing sekalipun kau sudara baroness Vivian?"
"Ampun putri, saya tidak berani menolak perintah baroness Vivian!"
Natasha tersenyum, dia lantas mempersilahkan pelayan itu untuk pergi.
"Pergilah, bawa juga makanan ini. Aku sedang diet jadi tidak membutuhkannya!" ucap Natasha membuat wajah si pelayan terkejut.
"Sesuai dugaan!" batin Natasha.
"Baik putri."
Setelah pelayan itu pergi, Natasha mulai memanggil Azalea. Gadis itu datang dan langsung berada tepat di bawah kaki Natasha.
"Ikuti pelayan tadi!"
"Baik!"
Keesokan harinya pelayan dihebohkan dengan raja dan ratu yang mengalami keracunan makanan. Natasha yang mendengar itu lantas segera berlari menuju kamar keduanya. Dia melihat bagaimana mereka tidak terbangun sama sekali, padahal pelayan pribadi sang nenek sudah membangunkan mereka dengan segala cara. Dia bahkan memerintahkan pengawal untuk memanggil siapapun yang telah memasak dan mengantarkan makanan ke kamar majikannya.
"Cepaat!"
Natasha datang, mereka semuanya lantas menunduk memberi salam.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah yang ikut khawatir.
"Raja dan ratu keracunan makanan putri. Saya sedang menyuruh pengawal untuk membawa pelayan yang sudah memasak dan membawa makanan ke kamar raja dan ratu!"
"Kenapa mereka lama sekali mencarinya. Tutup semua pintu gerbang kerajaan dan jangan biarkan siapapun untuk keluar dari ini, segeraa!" teriaknya dengan lantang membuat para pengawal itu bergerak dengan cepat.
Detik berikutnya beberapa pengawal menyeret dua pelayan tepat ke hadapan Natasha. Mereka lantas memohon ampun dan berlutut di bawah kaki gadis itu. Kini auranya sudah sedikit mencekam.
"Ambilkan pedangku!"
Rose segera berlari ke kamar Natasha untuk mengambil pedangnya, sementara dua orang itu mulai ketakutan setengah mati.
"Katakan, campurna apa yang sudah kalian masukan ke dalam makanan kakek dan nenekku?" tanyanya dengan menatap tajam mereka berdua.
"A-ampun putri, bukan kami pelakunya. Kami pelayan baru jadi tidak tahu apa-apa!"
"Di mana pedangku?" teriaknya membuat Rose segera berlari dan memberikan pedang milik Natasha.
Gadis itu lantas mengarahkan pedangnya ke leher salah satu pelayan baru itu.
"Azalea!" panggilnya hingga Azalea berjongkok tepat di sebelah keduanya.
"Saya putri!"
"Jelaskan pada mereka apa yang kau dapatkan dari mengikuti salah satunya tadi malam dan bagaimana dia dengan tidak tahu malunya menginginkan posisiku!"
"Semalam saat saya mengikuti pelayan baru ini, dia memasuki rumah di belakang kerajaan yang sudah lama tidak terpakai. Memang ada penghalang yang di pasang oleh baroness Vivian untuk melindungi dua pelayan ini untuk meramu racun. Beruntung putri bisa mengatasi penghalang itu hingga saya dapat masuk dan melihat betapa kotornya tempat itu. Padahal sebelumnya tempat tersebut sangat bersih dan terawat walaupun tidak terpakai lagi!"
Natasha menatap keduanya dengan sangat tajam. Tidak ada kata ampun untuknya yang telah berani dan lancang untuk menyakiti keluarga kerajaan.
"Kalian sudah bosan hidup? Baiklah, aku akan mengabulkan keinginan kalian. Seret mereka ke tempat pengeksekusian dan panggil seluruh rakyat untuk menyaksikan kematian keduanya juga undang keluarga baron Frank dan baroness Vivian. Jika mereka tidak ingin datang maka seret saja ke sana!"
Natasha lantas mulai bergerak, sementara para pengawal itu mulai menyeret kedua pelayan tersebut.
Tiba-tiba Lucas datang dan melihat keributan itu.
"Bawa mereka ke sana, aku akan menyusul!"
Setelah suasana kerajaan sedikit tenang, barulah Natasha berjongkok dan meminta Lucas untuk membangunkan nenek dan kakeknya.
"Lucas, bangunkan nenek dan kakek. Katakan kalau rencana kita berhasil!"
"Siap kak!"
Ya, ini semua hanya akal-akalan Natasha agar dia bisa membongkar kejahatan baroness Vivian. Kemarin sore dia sempat membicarakan rencana dengan nenek dan kakenya. Natasha meminta mereka untuk berpura-pura tidak bangun apapun yang terjadi sampai rencana mereka berhasil, juga menukar makanan yang telah pelayan pribadi nenek membawakan yang baru dan sama persis.
Di sisi lain nampak tempat pengeksekusian telah ramai dengan para warga desa. Wajah mereka nampak tegang kali melihat dua pelayan sudah berada di tempatnya. Terlihat juga keluarga baron Frank yang duduk dibagian depan. Raut wajah mereka terliht tidak baik dan juga sedikit khawatir.
Natasha akhirnya datang dan langsung duduk di tempatnya. Setelah melihat persiapan selesai, dia berdiri dan memulainya.
"Hari ini, saya sebagai calon ratu baru di kerajaan Beverly akan menunjukan sisi yang belum pernah kalian lihat sebelumnya. Pastinya kalian bertanya-tanya, mengapa sampai dua gadis itu berada di tempat eksekusi bukan?"
"Mereka telah berani membuat racun dilingkungan kerajaan dan berniat meracuni raja dan ratu kalian, bahkan dengan lancangnya menginginkan posisi saya. Mau bermain-main dengan saya, akan saya ladeni. Hari ini saya akan memberikan peringatan pada siapapun yang sudah berani mengusik ketenangan kerajaan Beverly."
Dia menatap baroness Vivian dengan tajam, hingga wanita itu tersentak.
"Raja dan ratu sudah mati bukan berarti kerajaan ini tidak memiliki pemimpin baru. Saya yang akan menggantikan posisi kedunya dan mulai mencari tahu siapa-siapa yang mengkhianati kerajaan. Pengawal, penggal kepala mereka!"
Keduanya berteriak histeris sebelum akhirnya darah mulai terciprat ke mana-mana. Warga menjadi sangat terkejut melihat pemandangan itu.
"Selanjutnya, saya akan menunjukan bukti kesalahan bangsawan yang sudah memiliki niat busuk dari awal dia diangkat menjadi seorang baron!"
Natasha tiba-tiba memberikan isyarat hingga baron Frank dan bariness Vivian diseret oleh pengawal di tengah-tengah tempat eksekusi.
"Apa-apaan maksud semua ini putri?" tanya Vivian dengan raut wajah tak senang sekaligus khawatir.
"Lucu sekali anda bertanya begitu, nona baroness. Jangan kira saya hanya diam saja setelah mengetahui niat busuk anda dan suami anda. Azalea!"
Azalea lantas memberikan beberapa bukti berupa korupsinya Frank dan memaksa sebagian rakyat kecil untuk membayar pajak padanya. Jika tidak ada yang membayarnya, maka dia tidak segan-segan untuk membunuh mereka.
Juga bukti mereka yang ingin meracuni raja dan ratu sebelumnya, tetapi gagal. Ditemukannya bubuk racun di kamar Vivian dan itu bubuk sama dengan yang Azalea temukan di rumah tak terpakai itu.
"Bahkan mereka sekeluarga berniat menjadikan anak tertuanya sebagai calon raja."
Semuanya sontak terkejut, mereka tidak menyangka bahwa ternyata keluarga Frank benar-benar senekat itu. Bahkan di sana para bangwasan seperti Duke Grisam, Earl Loye dan beberapa bangsawan lainnya menyaksikan hal tersebut.
"Niat busuk kalian sudah terbaca saat baron Frank mengajukan anaknya untuk menjadi raja sementara sampai saya menyelesaikan pendidikan. Apa hukuman yang pantas bagi mereka yang telah berani lancang untuk meracuni keluarga kerajaan?"
Beberapa warga berteriak meminta dihukum gantung saja, ada juga yang meminta untuk di seret sepanjang jalan agar penderitaan keduanya semakin lama, tak sedikit juga yang meneriaki keduanya.
"Dengan ini saya cabut gelar bangsawan baron dan barones, lantas menghukum gantung keduanya. Untuk keluarga yang tersisa, mereka akan diasingkan jauh dari sini!"
Terdengar suara sorak dari para warga melihat bagaimana keduanya dihukum gantung. Sang anak hanya bisa ketakutan di tempatnya, ingin bersumpah membalas dendam pun dia tidak berani apalagi saat melihat Natasha yang menatap tajam padanya.
Ini adalah peringatan bagi siapapun yang berniat menghancurkan kerajaan Beverly atau berani melukai keluarga kerajaan.
"Tempat yang telah orang tuaku jaga dengan baik, akan saya pertahankan sampai titik darah penghabisan. Pengawal, seret mayat mereka untuk dijadikan makan siang bagi binatang buas. Bahkan alam pun menolak untuk menerima mayat mereka!"
"Baik putri!"
Bersambung...