Stuck In The Middle Ages

Stuck In The Middle Ages
10| Penobatan menjadi ratu



Berita tentang Baron dan Baroness dari kerajaan Beverly serta dua pelayannya di hukum mati pun terdengar hingga ke telinga kaisar dan kerajaan-kerajaan lainnya. Selama ini yang mereka tahu adalah Natasha gadis yang lembut bahkan sangat tidak enakan pada orang lain.


Ternyata mereka salah, siapapun bisa menjadi iblis jika menyangkut keluarganya. Hellen sendiri yang sedang berada di rumahnya juga terkejut mendengar berita itu. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menjatuhkan nama baik Natasha, apalagi setelah kejadian di sekolah waktu itu.


Setelah kejadian hari itu, Natasha menjadi semakin gencar ingin menguasai sihir api hitam. Dia bahkan tidak lupa untuk berlatih pedang dan memanah.


Setengah tahun kemudian, Natasha telah menyelesaikan pendidikannya dan menjadi lulusan terbaik. 


Jangan lupa, Natasha memberikan pengumuman pada rakyat Beverly bahwa kakek neneknya sudah baik-baik saja.


      "Putri, anda harus segera mandi. Para bangsawan juga keluarga kaisar telah datang. Mereka tinggal menunggu anda saja!" celoteh Rose sembari mempersiapkan pakaian milik Natasha.


Gadis itu sendiri yang meminta untuk disiapkan pakaian seperti sang ayah. Alasannya adalah agar dia dapat bergegak dengan bebas dan dapat melakukan apapun nantinya.


Natasha hanya dian sembari membuka gaunnya.


      "Iyaa!" ucapnya tak kuasa mendengar celoteh pelayan pribadinya.


Di sisi lain kerajaan telah dipenuhi oleh para bangsawan. Hari ini adalah penobatan Natasha untuk menjadi ratu. Kaisar sendiri yang akan mengangkatnya.


Setelah setengah mereka menunggu, si tokoh utama akhirnya datang. Dia berjalan dengan gagahnya menuju kaisar dan memberi salam. Ada nenek, kakek dan Lucas yang tersenyum dengan bangga melihat dia.


Upacara penobatan pun dilakukan, Austin hanya bisa menatap kagum pada gadis itu.


Ada banyak bangsawan yang datang, tak sedikit juga yang jengah melihat Natasha akhirnya menjadi seorang ratu.


Setelah resmi, dia pun menduduki tempatnya. Matanya menangkap beberapa orang asing yang tidak diundang. Natasha tersenyum dan membiarkan mereka berulah. Dia tahu bahwa akan ada pemberontakan yang telah diinformasikan oleh Azalea.


Menurutnya pemberontakan itu akan terjadi ketika penobatan dirinya menjadi ratu. Natasha merasa cukup tertantang dan mulai menikmati semua ini.


      "Ingin memberontak? Mari kita lihat, ada berapa banyak pemberontak yang ada!" batinnya tersenyum.


Saat para bangsawan sedang asik menikmati kue, terdengar suara gaduh di luar. Seorang pengawal berlari untuk memberitahukan masalah yang terjadi padanya. Dia berjongkok dan mulai menunduk.


      "Salam ratu, saya datang ingin memberikan informasi. Ada sekitar dua puluh orang sedang berusaha masuk melalui gerbang utama. Seperti yang sudah ratu duga, mereka datang untuk melakukan pemberontakan. Mereka terus berteriak memanggil nama ratu!"


Semuanya terkejut mendengarnya, suasana pun menjadi tegang. Inilah saatnya tugas pertama Natasha menjadi seorang ratu. Nenek nampak khawatir, tetapi kakek meyakinkan dia bahwa semuanya akan baik-baik saja.


      "Biarkan mereka masuk dan berikan jalan. Aku ingin tahu alasan mereka melakukan pemberontakan di saat acara penobatanku!"


      "Baik ratu!"


Setelah pengawal itu pergi, beberapa saat kemudian orang-orang itu masuk. Natasha bisa merasakan bahwa energi mereka semua sangat asing.


Mereka menatap penuh amarah padanya, bahkan ada juga yang sudah menyiapkan api di tangan kiri dan pedang. Austin sudah bersiap ingin mengeluarkan pedangnya, tetapi kaisar menghentikannya.


      "Katakan. Apa alasan kalian ingin melakukan pemberontakan pada acara penobatanku?" tanyanya dengan menatap mereka satu persatu.


Bukan tanpa alasan, Natasha sedang membaca raut wajah mereka. Salah satu dari pemberontak itu lantas maju dang berbicara dengan suara lantang.


      "Turunkan jabatanmu. Kau tidak pantas menjadi ratu di negeri ini!" teriaknya dan disambut dengan sorakan rombongannya.


Di samping Natasha juga ada Azalea yang ketika mereka mulai menyerang maka gadis itu akan langsung menebas mereka tanpa ampun.


      "Letak tidak pantasnya diriku menjadi seorang ratu di mana? Lalu, siapakah yang lebih pantas untuk menjadi pemimpin di negeri ini?" pancingnya.


Orang-orang itu mulai diam dan saling menatap satu sama lain.


       "Energi kalian semua sangat asing, itu berarti kalian bukan berasal dari negeriku. Berani melewati perbatasan  maka sama saja dengan mengantarkan nyawa kalian pada kematian. Sekarang cepat jawab, siapa yang lebih pantas untuk menjadi penerus ayahku?"


Tiba-tiba salah satu energi asing yang Natasha rasakan lebih awal maju dan tersenyum lembut ke arahnya.


      "Siapapun pantas menjadi pemimpin, ratuku!"


      "Lantas, mengapa mereka mengatakan bahwa aku tidak pantas. Apakah kau memiliki pendapat?"


Tangan Natasha memberikan isyarat pada Azalea untuk pergi melakukan tugasnya. Gadis itu segera menghilang begitu menerima perintah.


       "Menurut saya adalah seharusnya pangeran Lucas, lah yang menjadi penerus raja terdahulu. Mengingat bahwa anda perempuan jadi kemungkinan besar akan kerepotan dalam mengurusi kerajaan ini!"


Natasha tersenyum, tentu saja mereka akan menggunakan gendernya sebagai alasan tidak pantas dirinya menjadi seorang pemimpin. Bahkan sistem partriarki di abad pertengahan pun sudah ada.


      "Pangeran Lucas masih kecil, lantas siapakah yang cocok untuk menduduki posisi raja sampai adikku tumbuh dewasa?"


Pria itu melihat ke dalam manik Natasha, tidak ada keraguan ataupun kepanikan sama sekali. Suasana semakin tegang.


      "Anda bisa meminta anak dari Count Graham untuk menggantikan posisi pangeran Lucas sementara waktu!"


Mendengar itu mereka lantas menatap pada keluarga Graham. Ada raut keterkejutan di wajahnya. Lantas dia bergegas maju untuk memberi penjelasan.


      "Ampun yang mulia ratu, saya benar-benar tidak pernah mengajukan apapun dan tidak mengenal mereka semua. Saya berani bertaruh atas nama anak dan istri saya. Saya difitnah!"


      "Bangunlah Count Graham, aku sudah tahu."


Natasha mulai menunjukan raut keseriusan.


      "Kaisar, lakukan sesuatu!" ucap Austin khawatir.


      "Tenanglah pangeran, ratu Beverly tidak akan mudah untuk mereka tipu. Lihat bagaimana dia akan menangani masalah ini!"


      "Siapapun dapat menjadi pemimpin, tua muda, perempuan ataupun laki-laki. Perempuan bisa menjadi pemimpin sekaligus mengurus keluarga mereka, tetapi laki-laki belum tentu mampu melakukan seperti yang kami buat."


Mereka mulai tertegun dengan ucapan Natasha. Suaranya yang lantang mampu membuat mereka mendengar dengan jelas.


      "Ketika perempuan hamil, mereka bisa mengurus suami, memasak bahkan membantu untuk mengurus rumah dan menjadi pemimpin ketika suami tidak ada. Lantas apakah laki-laki bisa melakukannya? Sebagai kaum laki-laki, kalian tidak boleh meremehkan perempuan yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kalian ke dunia!"


     "Mengatakan bahwa perempuan tidak pantas menjadi pemimpin, apakah mulut kalian pantas mengatakan hal seperti itu? Semua orang bisa menjadi pemimpin, menjadi apa yang mereka mau asalkan ada usaha. Jangan pernah meremehkan kaum wanita jika kalian tidak ingin celaka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, negeri ini dipimpin oleh seorang perempuan dan kalian akan merasakan perbedaannya."


      "Azalea, bawa mereka masuk!" perintahnya.


Azalea dan beberapa pengawal terlihat membawa kepala pemimpin dari pemberontakan itu dan sisa bawahannya. Pemimpimnya itu dilempar oleh Azalea hingga berlutut di hadapan Natasha.


      "Viscount Gordon. Kepala pemimpin dari pemberontakan, mengkambinghitamkan Count Graham karena rasa iri tidak terpilih menjadi Count dan hanya memiliki gelar Viscount. Anda kira selama ini aku tidak memperhatikan gerak-gerik anda yang mencurigakan?"


      "Terima kasihlah pada anak bungsu kalian, nona sophie yang secara terang-terangan memberitahukan sifat busukmu. Putrimu akan aku beri penghargaan atas keberaniannya telah menunjukan sisi gelapmu. Setelah keluarga Baron Frank, kini kau yang berulah. Apakah peringatanku waktu itu kau anggap sebagai lelucon?"


     "Kau juga telah menyewa warga desa kerajaan Zephyra untuk memberontak ke kerajaanku. Pengawal, pulangkan mereka semua dan beritahukan tujuanku pada raja mereka. Katakan bahwa rakyatnya telah melakukan pemberontakan di kerajaanku dan berani menghinaku. Lakukan!"


Para pengawal Natasha mulai menyeret mereka satu persatu untuk dipulangkan.


     "Aku tahu bahwa rencana busuk ini hanya kau yang melakukannya Viscount Gordon. Kau akan diturunkan gelarmu menjadi warga biasa dan diasingkan selamanya dari wilayah kekuasaan Beverly. Seret dia keluar dari sini dan panggilkan putrinya!" 


Setelahnya datanglah Sophie, menunduk dan memberikan hormat pada Natasha.


     "Salam hormat saya pada yang mulai ratu."


     "Bangunlah. Karena kau telah memiliki keberanian untuk menceritakan kebusukan ayahmu, maka dengan ini aku akan memberikan gelar bangsawan milik ayahmu padamu. Kau secara resmi telah menjadi Viscountess kerajaan Beverly. Berjanjilah untuk tidak mengkhianati kerajaan ini apapun yang terjadi!"


Sophie nampak terkejut mendengarnya, akhirnya dia memiliki gelarnya sendiri. Selama ini sang ayah selalu saja memperlakukannya dengan tidak baik, apalagi ketika rencana sang ayah tidak berjalan lancar maka dia yang akan menjadi pelampiasannya.


      "Saya sangat berterima kasih atas gelar yang telah yang mulia ratu berikan. Dengan ini saya berjanji akan membantu menjaga kerajaan Beverly dan tidak mengkhianati ratu!"


Natasha tersenyum mendengarnya, acara pun kembali berjalan dengan lancar. Austin bisa melihat adanya jiwa kepemimpinan dari gadis itu, senyumannya mengembang sempurna.


Di sisi lain terlihat Alex yang rasanya setiap kali melihat Natasha, ingin menjadikan gadis itu selir. Walaupun telah menjadi ratu, pasti dia tidak akan menolak menjadi selir calon kaisar setelah Alex. Percaya diri sekali!


Austin berjalan mendekati Natasha dan memberikan ucapan selamat. Dia juga menyodorkan sebuah kado padanya.


      "Selamat atas penobatanmu, ratu!"


Mendengar itu Natasha menjadi malu sendiri.


       "Ini, semoga kau suka!"


Natasha menatap sebuah kalung yang berada di tangan Austin.


        "Apakah kalung ini untukku pangeran?" tanyanya, dia terpukau melihat adanya sebuah batu ruby kecil di tengah-tengah kalung.


       "Benar!"


Natasha maju selangkah ke depan membuat debaran di jantung Austin semakin menjadi.


       "Tolong pasangkan pada saya pangeran!"


Austin berdehem malu, mereka sekarang menjadi pusat perhatian. Apalagi Alex yang telah mengepalkan tangannya sempurna, sementara sang istri melihat tak suka ke arah gadis itu.


Austin pun segera memakaikan Natasha dengan kalung pemberiannya. Beberapa gadis bangsawan lantas mulai memuji kalung tersebut, apalagi saat Natasha yang menggunakannya.


      "Ya ampun, ratu. Anda terlihat sangat cantik menggunakan kalung batu ruby itu!"


       "Benar. Pangeran Austin sangat pintar mencarikan kado untuk ratu!"


       "Semoga pangeran Austin dan ratu selalu berada dalam lindungan Tuhan!"


Lucas tiba-tiba datang dan menghampiri keduanya.


       "Sekarang kakak dan kak Austin mirip seperti ayah dan ibu!" ucapnya asal membuat semua orang langsung terkejut.


Sementara keduanya sudah menahan malu, lantas nenek dan permaisuri mulai tertawa melihat tingkah mereka.


      "Sstt, anak kecil tahu apa!" ucap Natasha dengan mencubit hidung Lucas gemas.


Bersambung...