Stuck In The Middle Ages

Stuck In The Middle Ages
07| Pulang



Sore itu Natasha dan yang lainnya telah selesai menanam. Mereka senang melihat bagaimana gadis itu sangat ahli dan menanam sayuran.


     "Haha, selama tinggal di kampung, aku selalu membantu bibi dan nenek untuk menanam sekaligus memanen sayuran. Tentu saja hal seperti ini sudah menjadi kebiasaanku."


Para petani itu mulai mendekati Natasha dan berterima kasih kepadanya.


     "Putri, terima sudah mau membantu kami menanam sayur dan bibit gandum ini. Kami semua sangat terbantu!" ucap ketua desa.


Natasha tersenyum lembut.


     "Sudah menjadi tugas saya untuk membantu. Apakah Duke Grisam sering datang untuk sekedar melihat keadaan desa ini?" tanyanya penasaran.


     "Benar putri. Beliau biasanya ke mari setelah bertemu dengan marquess Alpha. Beliau juga yang menyampaikan keluh kesah kami terkait makanan yang semakin berkurang. Beberapa bulan kemarin, kami semua gagal panen padahal awalnya kami mengira sayur dan gandum yang ditanam akan tumbuh dengan baik, ternyata semuanya langsung menguning dan mati."


     "Lalu, apakah kejadian seperti ini pernah terjadi?" Oke, pembahasan kali ini lumayan menarik perhatian Natasha.


     "Baru pernah terjadi putri. Sebenarnya kami merasa heran, karena sekarang musim yang bagus untuk menanam sayuran, tetapi tumbuhan kami justru mati semua."


Seorang petani lantas maju untuk sekedar menyampaikan maksudnya.


     "Sebenarnya putri, beberapa minggu sebelum sayuran kami memguning dan mati, saya sempat melihat ada yang datang ke kebun. Suasana pada saat itu sudah gelap jadi tidak tahu itu siapa. Kebetulan saya baru selesai beristirahat dan berniat pulang, tetapi justru menemukan hal yang menurut saya mencurigakan."


     "Apa bapak bisa menceritakan ciri-ciri dari orang itu, misalnya seperti tinggi atau bentuk badannya?"


      "Orangnya lebih tinggi dari saya dan untuk bentuk badan, saya kurang tahu. Soalnya orang itu menggunakan jubah jadi benar-benar tertutup."


      "Ya, sudah. Nanti masalah ini akan saya bicarakan dengan raja dan Duke Grisam. Kalau begitu mari kita kembali mengingat hari semakin malam dan tolong untuk tidak membiarkan anak-anak berada di luar!"


      "Baik putri."


Mereka akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Natasha juga sudah tiba dengan Lucas yang terlihat kotor. Gadis itu hanya bisa menggeleng ketika melihat sang adik menyengir ala kuda.


     "Minta Emma untuk memandikanmu."


Malam pun tiba, saat itu semakin larut hanya saja Natasha tak dapat tidur. Perasaan mengatakan bahwa dia harus terjaga malam ini apapun yang terjadi.


Saat sedang asik dengan pikirnnya sendiri, sebuah ketukan di jendela kamarnya terdengar. Natasha awalnya enggan membukanya, tetapi dia merasakan energi yang familiar.


     "Azalea? Ada apa malam-malam begini datang?"


Natasha bergegas membuka jendela dan memang benar, tangan kanannya itu sedang berdiri di dahan pohon yang lumayan dekat jaraknya dengan jendela kamar Natasha.


     "Salam putri, maaf mengganggu waktu istirahat anda, tetapi saya membawa berita penting terkait kerajaan!"


      "Apa itu?"


      "Ada yang berniat meracuni raja dan ratu, kami belum menemukan pelakunya, tetapi salah satu pelayan langsung mati setelah mencoba masakan yang akan dijadikan makan malam bagi raja dan ratu."


Mendengar itu Natasha sontak terkejut. Jantungnya kini berdetak dua kali lebih cepat.


      "Putri tenang saja, saya akan mengerahkan bawahan saya untuk memcari tahu pelakunya, yang pasti tujuan mereka akan posisi milik putri. Saran saya adalah putri harus segera menyelesaikan pendidikan agar cepat menduduki posisi raja!"


Natasha mengangguk mengerti.


      "Terima kasih informasinya. Tolong untuk terus awasi nenek dan kakekku. Oh iya, datang ke kekaisaran dan temui pangeran Austin. Minta tolong padanya untuk sesekali datang ke kerajaan. Katakan saja bahwa aku yang memintanya. Kau boleh pergi!"


      "Sebelum saya pergi, ada hal penting juga yang ingin saya sampaikan!"


Azalea akhirnya mendekati jendela Natasha dan mulai membisikannya sesuatu. Lagi, gadis tersebut terkejut bukan main.


     "Berhati-hatilah putri, saya pamit undur diri!"


Setelah kepergian Azalea, Natasha mencoba memusatkan kosentrasinya. Memang benar, ada seseorang yang sedang mengawasi kekediaman mereka dari jarak yang lumayan dekat, bahkan seseorang itu memperhatikan dia dan Azalea tadi.


      "Sebisa mungkin aku harus menguasai sihir pertahanan. Daripada tidak bisa tidur, aku akan berlatih lagi. Meningkatkan sihir lebih penting sekarang!"


Keesokan paginya, Natasha akhirnya pergi untuk menemui Marquess Alpha. Dia juga ingin tahu keadaan di sekitar perbatasan.


     "Ayo kita berangkat!"


Di sisi lain, terlihat Austin yang sedang membersihkan pedangnya akibat terlalu lama tidak menggunakannya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tak lain adalah Azalea.


      "Salam hormat saya pangeran, maaf mengganggu waktu santai anda. Izinkan saya memperkenalkan diri. Saya adalah Azalea, tangan kanan dari raja Miller yang sekarang beralih menjadi tangan kanan putri Natasha. Kedatangan saya ke sini ingin menyampaikan permintaan putri bahwa anda diminta untuk sesekali datang ke kerajaan Beverly."


Austin nampak mengernyitkan dahi.


     "Tumben sekali Natasha memintaku untuk datang, memangnya ada apa?" tanyanya dengan menghentikan aktivitas membersihkan pedang.


      "Putri Natasha dan pangeran Lucas sekarang sedang berada di desa dekat perbatasan di timur. Mereka dimintai raja untuk membantu warga yang tanamannya tiba-tiba mati dan juga semalam raja dan ratu hampir diracuni."


Mendengar itu Austin terlihat terkejut. Siapa yang berani ingin meracuni nenek dan kakek Natasha?


Ya, berita tentang nenek dan kakek Natasha mengambil alih sementara kedudukan raja dan ratu sudah didengar langsung oleh keluarga kekaisaran, kaisar sendiri juga menyetujuinya.


      "Siapa yang berani melakukan hal seperti itu?" kini Austin balik bertanya.


      "Untuk sementara, kami belum menemukan pelakunya. Saya juga sedang melakukan penyelidikan secara sembunyi karena sudah dipastikan bahwa pelakunya bukan orang sembarang."


      "Terima kasih atas informasinya, ah tunggu. Lalu bagaimana dengan keadaan Natasha dan Lucas?"


Walaupun begitu, Austin juga harus mengetahui keadaan kakak beradik itu.


      "Mereka baik-baik saja, hanya semalam saya sempat melihat ada yang memperhatikan kekediaman putri dan pangeran. Dari energinya, saya rasa bahwa orang itu bukan berasal dari daerah kekuasaan Beverly ataupun kekaisaran."


Austin terlihat sedang berpikir.


     "Mungkinkah orang itu berniat mencelakai Natasha dan Lucas? Kalu begitu kau pergilah, katakan pada Natasha untuk selalu menjaga dirinya. Siang nanti aku akan pergi ke kerajaan Beverly!"


      "Baik pangeran, saya mohon undur diri!"


Setelah kepergian Azalea, Austin bergegas menemui ayahnya. Ketika sang ayah sedang berada di tempatnya, maka pantang bagi mereka memanggilnya ayah.


     "Salam yang mulia kaisar!"


Kaisar yang melihat raut wajah serius dari Austin pun mulai bertanya.


     "Ada apa pangeran?"


     "Tolong izinkan saya untuk tinggal di kerajaan Beverly sampai putri Natasha dan pangeran Lucas kembali. Saya mendapatkan informasi bahwa raja dan ratu Beverly hendak diracuni. Untuk sementara tidak ada yang bisa membantu Raja menjaga Kerajaan. Di kekaisaran ada pangeran Alex dan pangeran Arthur yang bisa membantu Kaisar menjadi tempat ini."


Kaisar tentu terkejut mendengarnya. Setelah kematian orang tua Natasha, ada saja kejadian yang tak menyenangkan.


     "Baiklah. Kau diberi izin untuk tinggal di kerajaan Beverly sampai putri dan pangeran Beverly datang. Jangan lupa untuk memberikan informasi lebih lanjut mengenai pelakunya."


       "Baik yang mulia kaisar, saya pamit undur diri!"


Sementara itu nampak Natasha yang sedang berbicara dengan Marquess Alpha.


     "Salam hormat, putri. Saya turut berduka cita atas meninggalnya raja dan ratu!"


     "Bagaimana kondisi perbatasan, marquess? Apakah ada tanda-tanda penyusup masuk?"


     "Aman putri. Kami selalu memeriksa setiap titik perbatasan dibagian timur dengan teliti."


      "Apakah Duke Grisam sering mengunjungi anda?" tanyanya lagi dan mendapatkan anggukan dari pria itu.


     "Benar. Duke Grisam sering datang untuk memberikan informasi terkait keadaan yang terjadi di kerajaan selama saya tidak datang ke sana."


     "Baiklah. Aku akan kembali, semangat untuk berjaganya!"


Selama Marquess Alpha datang ke kerajaan, belum pernah dia bertemu dengan Natasha bahkan saat pertemuan dengan gadis itupun, dia justru sedang bertugas. Jadi, inilah pertama kalinya pria tampan berkulit eksotis itu melihatnya secara langsung.


Natasha terlihat sangat cantik, suara yang lembut juga penampilan yang elegan. Marquess tadi menatap Natasha hampir tak berkedip.


     "Benar-benar cantik. Andai saja aku bisa memikat hatinya!" gumam Alpha dengan salah tingkah sendiri.


Bangsawan yang dipilih oleh ayah Natasha sendiri terbilang masih muda, maksudnya adalah mereka yang sama sekali belum menikah ataupun memiliki kekasih. Hanya beberapa saja yang sudah memiliki keluarga.


Natasha kembali bersama pengawal yang lain ke rumah. Awalnya dia ingin langsung masuk, tetapi merasakan adanya energi yang tidak dikenalinya, Natasha mengurungkan niatnya.


     "Tolong panggilkan Rose!" perintah Natasha pada salah satu pengawalnya.


      "Baik putri."


Beberapa saat kemudian Rose datang dengan pengawal tadi.


    "Rose, temani aku ke pasar sebentar. Aku ingin membeli lagi beberapa kain untuk dijadikan baju dan celana latihanku. Tidak mungkin jika aku nantinya latihan entah menunggangi kuda atau berpedang menggunakan gaun!"


     "Baik putri."


Akhirnya mereka beranjak dari sana. Natasha pun mereka seperti energi asing itu mengikuti mereka. Setelah membeli beberapa kain yang menurutnya bagus, Natasha lantas membayarnya.


     "Pu-putri, anda terlalu banyak memberikan koin emasnya. Kain ini hanya seharga dua koin emas saja!"


Natasha menggeleng dengan cepat sembari tersenyum.


     "Kainnya sangat bagus dan saya suka jadi itu harga yang pantas!"


Setelah pergi dari sana, dia mulai menyusul Lucas yang sedang bermain bersama teman-teman barunya.


Sudah sekitar dua bulan setengah dia berada di desa dekat perbatasan. Akhirnya Natasha telah selesai menunaikan tugasnya dari sang kakek. Mereka kini telah tiba di depan gerbang kerajaan dan disambut oleh banyaknya pengawal serta pelayan.


Natasha akhirnua turun bersama Lucas untuk menghampiri kakek dan neneknya. Namun, dia tidak menyangka kalau Austin akan berada di sana juga.


Keduanya membungkuk memberi salam, lantas sang nenek mulai memeluk kedua cucunya.


     "Akhirnya kalian kembali. Pasti kalian kelelahan selama perjalanan, mau langsung beristirahat atau bicara dulu dengan pangeran?" tawar sang nenek.


Natasha lantas menatap Austin, lalu mengalihkan pandangan pada neneknya.


     "Aku akan bicara dengan pangeran terlebih dahulu. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan."


      "Baiklah. Lucas, ayo masuk. Nenek sudah buatkan kue yang lezat sekali."


      "Wah, benarkah? Horee."


Setelahnya Natasha dan Austin pun pergi menuju taman utama kerajaan. Dia juga melihat patung ibu dan ayahnya telah berdiri kokoh, Natasha tersenyum.


    "Akhirnya patung ayah dah ibu jadi juga."


Austin pun ikut menatapnya.


     "Bagaimana keadaanmu setelah hampir tiga bulan tidak pulang?" tanya Austin membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangannya menatap hamparan bunga di depannya.


      "Yah, tidak ada yang berubah pangeran. Saya hanya membantu warga desa untuk menyuburkan kembali tanaman mereka. Saya juga sudah dengar keluhannya secara langsung dan itu sedikit aneh."


      "Aneh bagaimana?"


Natasha mulai menceritakan apa yang sudah dia dengar dari warga desa. Austin pun terkejut mendengarnya.


      "Juga marquess Alpha yang menjaga perbatasan bilang tidak ada orang asing yang memasuki daerah itu, tetapi saya bisa merasakan ada energi asing di dekat kekediaman saya. Azalea juga sudah memberitahukannya pada saya dan beruntung orang itu tidak mengganggu siapapun terutama Lucas."


       "Syukurlah jika orang itu tidak sampai mencelakaimu."


       "Oh, iya pangeran. Saya ingin bertanya mengenai pelaku yang berniat mencelakai nenek dan kakek saya. Apakah sudah ada petunjuknya?" tanya Natasha dengan raut wajah serius sekaligus penasaran.


      "Sampai sekarang kami bahkan belum tahu siapa pelaku yang sudah lancang ingin mencelakai raja dan ratu. Bahkan Azalea senantiasa memberikan informasi padaku mengenai keamanan di kerajaan ini."


Tiba-tiba Azalea datang tepat langsung di hadapan Natasha dan Austin. Sebenarnya gadis itu tidak terkejut karena bisa merasakan energi milik tangan kanannya itu, tetapi berbeda dengan Austin. Dia sudah beberapa kali terkejut akan kehadiran Azalea.


      "Astaga, aku pikir siapa!"


Austin nampak memegangi dadanya, sementara Natasha tertawa kecil.


      "Ada apa?" tanyanya yang kini raut wajahnya kembali seperti tadi.


      "Saya datang ingin memberika  laporan. Putri, sebaiknya anda memang harus sangat berhati-hati. Kali ini bukan hanya satu yang mengawasi anda, tetapi ada sekitar empat orang dan salah satunya sedang mengawasi kita. Saya bisa saja langsung menangkap mereka, tetapi saya hanya menunggu perintah dari anda!"


Natasha tahu, dia sangat tahu.


      "Terima kasih atas informasinya. Biarkan saja mereka, selagi tidak mengganggu keluargaku, jangan usik mereka juga. Tolong untik selalu awasi raja, ratu dan juga Lucas."


      "Baik, kalau begitu saya mohon undur diri, putri, pangeran!"


Setelahnya Azalea menghilang begitu saja. Memang bukan sembarang tangan kanan, batin Austin.


      "Lalu, apa rencanamu kedepannya Natasha?"


Natasha nampak berpikir dan akhirnya berdiri sembari meregangkan otot-otonya.


      "Saya rasa bersantai untuk senentara waktu, tidak masalah apalagi saya terlalu banyak berlatih sampai-sampai membuat badanku sakit. Apakah setelah ini pangeran akan pulang atau menginap barang semalam?"


     "Aku akan pulang saja, ayah juga pasti membutuhkan bantuanku. Kau berhati-hatilah, kalau ada apa-apa langsung kau kabari aku dengan pesan lewat burung merpati!"


     "Baik pangeran."


     "Ah, dan satu hal lagi. Tolong bersikap biasa saja padaku. Aku tahu kau sangat menghormatiku, tetapi jangan terlalu formal."


Natasha lantas tertawa, melihat bagaimana Austin menjelaskan padanya sungguh itu hal yang lucu. Baru kali ini dia melihat pria itu terlihat sedikit kesal, lantaran Natasha sering menyebutnya pangeran ataupun anda.


      "Baiklah, say- maksudnya aku tidak berani melanggar ucapan pangeran."


      "Pangeran lagi!"


Austin tiba-tiba menampilkan raut kesalnya, sementara Natasha sudah tertawa dengan memegang perut.


Bersambung...