
Saat ini Austin dan Natasha sedang duduk di taman utama. Mereka tengah membicarakan tentang kejadian tadi.
"Sudah saya bilang, pangeran hrus mampu mengambil tindakan. Pangeran tahu? Alam saja, jika manusia merusak mereka makan alam jelas akan membalasnya dua kali lipat. Segala di muka bumi ini memiliki sebab-akibatnya. Apa yang kita perbuat akan mendapatkan balasan di masa depan!"
Natasha melihat Austin yang ternyata sibuk memandanginya.
"Pangeran?" panggilnya membuat Austin seketika terbangun dari lamunannya.
"Ah, maafkan aku."
"Takmasalah jika pangeran tidak marah ketika dihina, tetapi tolong tunjukan bahwa diri anda tidak seperti itu. Sepertinya hari sudah mau malam, saya pamit untuk pulang jika tidak Lucas akan mencari saya. Tolong sampaikan salam saya pada permaisuri dan kaisar. Terima kasih juga telah mengadakan pesta minum teh dan mengundang kami."
Setelah kepergian Natasha, datanglah Alex yang ternyata sejak tadi menguping pembicaraan mereka. Entah sejak kapan dia jadi semakin membenci Austin, apalagi setelah ada seorang gadis cantik yang mendekatinya tanpa memandang fisik atau apapun.
"Berhenti senyum-senyum seperti orang gila, kak. Jangan berbangga dulu karena akhirnya ada gadis yang mau berbicara denganmu. Natasha cepat atau lambat akan aku jadikan selir!"
Austin hanya diam, detik berikutnya dia menatap Alex dan mulai berkata.
"Natasha adalah calon pemimpin bagi kerajaan Beverly, seseorang seperti dia tentu tidak akan mau dijadikan selir. Apalagi kedudukannya yang sudah tinggi dan tiba-tiba diturunkan menjadi yang lebih rendah? Alex, aku selama ini diam karena memang enggan mengurusimu, tetapi jika kau sampai membawa-bawa Natasha, aku tidak akan tinggal diam. Kau tahu sendiri istrimu itu akan melakukan cara apapun untuk menyingkirkan para selirmu. Berhenti mengganggu kehidupanku dan urus saja dirimu sendiri!"
Austin lantas bergegas pergi dari sana, dia juga lama-lama kesal dengan adik tertuanya itu. Selalu saja mencari cara untuk mengganggunya. Alex sendiri mereka marah atas ucapan kakaknya.
"Kau berpikir begitu? Kita lihat, bagaimana Natasha akan menolak permintaan kaisar!"
Di sisi lain, Natasha sudah tiba di kerajaan. Dia juga sudah membersihkan dirinya dan duduk bersantai bersama nenek dari pihak ayahnya.
Lucas saat ini sedang berada di kamarnya, bermain dengan kucing milik Natasha.
"Nenek, Natasha ingin bertanya. Bukannya Natashanya terlalu percaya diri, hanya saja ini terus terpikirkan!"
"Apa itu cucuku?"
"Bagaimana jika suatu saat kaisar memintaku menjadi selir salah satu anaknya? Apakah aku berhak untuk menolaknya secara tegas?"
Tidak tahu mengapa, Natasha sering kali memikirkan hal tersebut. Apalagi setelah melihat Alex, energinya membuat Natasha enggan berlama-lama di dekatnya.
Sang nenek tersenyum ramah sembari mengusap lembut rambut pirang sang cucu.
"Kau berhak menolaknya apalagi kau adalah calon ratu. Kau akan memimpin negeri ini menuju kemakmuran. Jika kau menjadi selir, maka itu sudah seperti sebuah penghinaan. Kedudukan ratu lebih tinggi dibandingkan seorang selir. Keturunan nenek dan kakek tidak ada yang menggunakan selir bahkan kerajaan-kerajaan tetangga pun sampai heran. Dari zaman buyutmu, mereka tidak pernah mengangkat siapapun menjadi selir hingga akhirnya kebiasaan itu terjadi sampai sekarang."
Natasha mengangguk paham.
"Itulah kenapa ayah tidak mempunya selir?"
"Benar. Ibumu sudah mengizinkan ayahmu untuk memiliki selir, tetapi tetap ditolak. Menurutnya memimpin kerajaan bersama keluarga kecilnya saja sudah sangat cukup."
"Terima kasih atas penjelasannya, nek. Natasha juga akan mulai belajar dalam mengurus kerajaan kedepannya. Begitu Lucas sudah pas usianya, baru posisi Natasha akan diberikan padanya."
"Jangan terlalu terburu-buru. Kakekmu masih kuat untuk sekedar mengurusi kerajaan."
"Eum, bagaimana pendapat nenek tentang ayah yang bisa mengendalikan sihir api hitam?"
"Itu hebat. Saat ayahmu seumuran denganmu, dia sudah mampu menguasai tiga sihir dengan level yang tinggi. Bahkan ayahmu menjadi incaran banyak gadis dan sayangnya tidak ada satupun yang mampu menarik perhatiannya. Sihir api hitam juga mulai ditaklukan oleh ayahmu ketika dia akan dinobatkan menjadi raja selanjutnya."
"Jika ayah mampu menguasai sihir yang tingkatnya paling tinggi, lalu kenapa mereka bisa kalah? Natasha penasaran dengan orang yang telah membunuh orang tuaku. Apakah mereka memiliki dendam? Lalu sihir apa yang mereka gunakan sampai-sampai bisa mengalahkan ayah?"
Pertanyaan Natasha terlalu banyak membuat sang nenek hanya bisa tersenyum saja. Dia sadar bahwa anak seumuran Natasha jelas akan memiliki rasa ingin tahu yang besar apalagi dia akan memikul tanggung jawab seluruh negeri Beverly ini.
"Untuk masalah itu, hanya kau yang tahu Natasha. Jika hanya penasaran dan tanpa mencari tahu, maka rasa penasaran itu akan bersarang selamanya dari pikiranmu."
"Jadi aku bisa menyelediki kasus kematian orang tuaku? Apa itu tidak masalah?"
"Tidak sayang. Memang kematian orang tuamu menjadi tanda tanya besar bagi seluruh rakyat desa. Mereka juga penasaran siapa lawannya sampai mampu menumbangkan raja dan ratu Beverly, mengingat mereka berdua pernah menumbahkan sekitar lima puluh ribu pasukan dari kerajaan lawan yang menginginkan kepala ayahmu!"
Natasha nampak mengangguk-angguk.
"Kalau begitu aku akan mulai berlatih juga. Selain ingin menguasai sihir api hitam, aku juga mau belajar menungganggi kuda, menanah dan berpedang. Hehe, banyak, sih. Demi melindungi tempat ini dan warha desa, aku harus melakukan apa yang aku bisa."
"Selesaikan pendidikanmu dengan menjadi lulusan terbaik seperti ayahmu, maka orang-orang tidak akan memandang rendah dan meremehkanmu. Semangat, cucu nenek pasti bisa!"
Malam harinya, Natasha keluar secara diam-diam melalui jendela untuk pergi ke lapangan luas yang berada di luar istana. Dia menggunakan pakaian yang sempat dibelinya di pasar agar saat berlari, dia bisa bergerak bebas tanpa harus menggunakan baju layaknya seorang putri.
Natasha sendiri mulai meningkatkan level sihir angin hingga akhirnya dia bisa mencapai level tinggi hanya dalam jangka waktu setengah jam. Dia terkejut melihat hasilnya.
"Wow, akhirnya aku bisa menguasai sihir kedua, yaitu air. Mari kita coba lakukan. Banyak tumbuhan di sini jadi otomatis akan ada air juga."
Natasha mulai mengikuti tata caranya dari buku yang sudah dia baca. Saat fokus, wajahnya menambah kesan cantik. Namun, kosentrasinya terganggu saat dia merasakan ada energi orang lain di sini selain dirinya.
Natasha bergegas menajamkan angin dan segera mengarahkan ke salah satu pohon yang jaraknya tak jauh dari dia. Sesaat kemudian seseorang keluar dan berjalan perlahan ke arahnya.
"Siapa kau?" tanya Natasha dengan nada yang tegas.
Tiba-tiba seseorang itu berlutut dan memberi Natasha hormat.
"Hormat saya putri. Maaf telah lancang memperhatikan anda latihan secara diam-diam. Saya adalah Azalea, salah satu tangan kanan raja. Saya diperintahkan oleh ayah anda untuk menjadi tangan kanan putri. Sebenarnya saya ingin datang menemui anda beberapa hari yang lalu, tetapi anda terlihat sibuk dan saya baru bisa menemui anda sekarang."
Lantas gadis itu membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Berdirilah, karena ayah yang menugaskanmu jadi mohon bantuannya. Aku tentu akan memerlukan bantuanmu kedepannya dan tolong berjanjilah setia pada kerajaan Beverly apapun yang terjadi!"
"Saya berjanji atas nama kerajaan Beverly. Saya akan melindungi negeri ini bersama putri."
Setelahnya Natasha kembali melanjutkan aktivitas berlatihnya.
Keesokan harinya Natasha dimintai oleh kakeknya untuk mengunjungi salah satu desa yang berada di dekat perbatasan.
"Pergilah ke desa dekat dengan perbatasan di sebelah timur, beritahu pada mereka bahwa raja memberikan mereka dengan bibit gandum serta sayur-sayuran untuk di tanam kembali. Bantulah mereka sampai tanaman itu subur. Kakek akan meminta izin pada gurumu di sekolah."
Setelah persiapan semua selesai, Natasha mulai berpamitan. Lucas sejak tadi merengek minta untuk ikut, karena dia tidak mau sendirian nantinya.
"Lucas mau ikut kakak saja, Lucas tidak mau sendirian di sini!"
Natasha hanya tersenyum pasrah melihat adiknya itu.
"Ada nenek, Lucas bisa bermain dengan nenek nantinya!"
Lucas lantas menggeleng dengan cepat.
"Sebagai calon raja nantinya setelah kakak, Lucas harus bisa mengambil hati warga desa. Jadi nenek dan kakek tidak boleh melarang Lucas untuk pergi. Tenang saja, Lucas bisa jaga diri!"
Mendengar itu semuanya terkejut atas ucapannya, tak sedikit juga yang tertawa gemas melihat tingkah lakunya.
"Astaga, ternyata cucu nenek sudah besar sekarang!"
Natasha akhirnya turun lagi dari kereta kuda dan mendekati mereka.
"Biarkan aku membawa Lucas. Sebentar lagi dia juga akan memasuki masa remaja jadi Lucas harus bisa terbiasa dengan keadaan kedepannya. Rasa tanggung jawab harus dimiliki sejak dini. Tenang saja, aku berjanji akan menjaga dia."
Neneknya nampak tersenyum melihat kedua saudara kandung tersebut saling meminta izin.
"Baiklah, nenek beri izin asalkan Lucas mau belajar dan tidak boleh sombong. Sekalipun kau calon raja, tidak boleh memiliki rasa tinggi hati dan harus sopan pada orang lain."
"Siap, nek."
Setelah menyiapkan barang-barang milik Lucas, mereka akhirnya berangkat meninggalkan kerajaan. Banyak warga desa yang menunduk saat rombongan itu lewat.
Keduanya nampak menikmati perjalanan, Natasha juga memerintahkan Azalea untuk menjaga kerajaan selama dia tidak ada. Takutnya jika sewaktu-waktu tempat tersebut akan diserang, tidak ada yang tahu.
Walaupun sudah damai sejak beberapa tahun, Natasha selalu saka cemas mengenai orang-orang luar yang nekat menyerang kerajaan Beverly.
"Kak, nanti Lucas mau main, ya di sana. Soalnya Lucas kesepian tidak punya teman. Lucas tidak masalah kalau harus bermain dengan rakyat biasa!"
Natasha tersenyum dan mengelus pelan kepala sang adik.
"Terpenting jangan nakal. Lucas harus bisa adil dalam berteman. Ingat, tidak boleh memilih-milih teman. Selagi mereka baik, kenapa tidak dijadikan teman, iyakan?"
"Siap!"
Selain para pengawal, ada pelayan pribadi milik Natasha dan Lucas juga yang ikut. Mereka harus mengurus keperluan keduanya ketika berada di desa timur.
Mereka akhirnya tiba di desa dekat perbatasan. Natasha menongolkan kepalanya dan melambai antusias pada warga desa. Mereka yang ingin menunduk akhirnya terpana saat tak sengaja melihat cantiknya Natasha.
"Itukah penerus Raja?"
"Seperti memang dia. Cantik sekali!"
"Keturunan Beverly tidak ada yang tidak cantik dan tampan."
"Kau sudah dengar, kan? Putri akan berada di sini sampai tanaman yang kita nama tumbuh dengan subur. Ketua sudah memberitahukannya pada kita terkait masalah ini."
"Beruntung keluhan kita didengar."
"Tentu saja. Selama ini kita bisa merasakan kedamaian juga berkat raja terdahulu hingga sekarang, semoga saja putri bisa membawa kita semua ke kedamaian yang abadi."
Akhirnya mereka tiba pada sebuah rumah yang besar. Di setiap desa yang jaraknya tidak dekat dengan kerajaan, akan ada rumah sebagai tempat persinggahan atau tinggal keluarga kerajaan.
"Putri, kita sudah tiba. Mari saya bantu untuk keluar!"
Setelah melihat rumah tersenyum, Natasha tersenyum. Dia lantas meminta setengah pengawal untuk membawa bibit gandum dan sayur ke rumah ketua desa.
"Kita akan mulai menanamnya sore nanti, aku akan jalan-jalan sebentar dengan Lucas. Nanti Rose dan Emma akan menemani kami. Sisanya tolong untuk melatakan barang-barang di dalam."
"Siap putri!"
"Ayo!"
Akhirnya mereka berempat mulai berjalan-jalan di sekitar desa, sesekali Lucas menyapa beberapa anak yang menatapnya kagum. Saat sedang melihat-lihat bahan pakaian di pasar, Lucas sendiri sudah akrab dengan anak-anak yang sedari tadi mengikutinya. Dia begitu senang bermain dengan mereka, karena inu pertama kali Lucas dapat merasakan memiliki teman.
Setelah selesai berbelanja dan menyapa warga desa, Natasha berjalan ke arah Lucas.
"Mainnya nanti lagi, ya. Sekarang kita pulang. Sebentar lagi sore, kakak harus pergi ke kebun bersama warga untuk menanam bibit gandum dan sayuran!"
Natasha tersenyum ramah pada anak-anak itu. Mereka bahkan menatapnya tanpa berkedip.
"Lucas ikut, ya?" tanyanya dan akhirnya mendapatkan anggukan dari sang kakak.
"Asiikk. Nanti kalian juga datang, ya. Kita bantu kakakku nanam sayur. Kalau sayurnya sudah bisa dipanen, kalian akan menikmatinya juga!"
Beberapa anak itu nampak tersenyum senang dan mengangguk apalagi ada yang orang tuanya petani.
Akhirnya mereka meninggalkan desa dan kembali ke rumah. Seorang pengawal mendekati Natasha dan memberikannya informasi.
"Putri, kalau tidak salah di dekat perbatasan ada Marquess Alpha yang menjaga perbatasan kerajaan dibagian timur. Apakah putri tidak memiliki niat untuk sekedar mengunjungi beliau?"
Natasha nampak berpikir, bukan ide yang buruk juga.
Marquess Alpha adalah seorang pria dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap musuh. Datang ke kerajaan hanya untuk melaporkan bahwa daerah perbatas sangatlah aman.
"Aku akan mengunjungi marquess Alpha besok pagi saja. Sore ini aku harus pergi ke kebun warga."
"Baik putri."
Bersambung...