
Pagi itu kaisar meminta Austin untuk pergi ke kediaman keluarga mertuanya mengingat mereka belum pernah megunjungi orang tua Hellen sama sekali.
Sayangnya Austin menolak dengan tegas, alasannya adalah dia masih memiliki pekerjaan yang menumpuk.
"Pekerjaanmu akan ayah serahkan pada Alex jadi kau pergi saja!"
Austin menggeram, sementara Hellen tersenyum senang.
"Cukup ayah! Ayah sudah memaksaku untuk menikahi gadis tidak tahu malu ini dan sekarang memaksaku juga untuk pergi menemui orang tuanya. Dari awal aku sudah menentang pernikahan ini. Jadi jangan harap kalau aku akan bersiap baik, sekalipun kau ayahku tentu aku tidak akan menurut lagi!"
"Austin!"
"Kaisar!"
Keduanya saling berteriak, lantas suasana menjadi semakin tegang. Datanglah permaisuri,Victoria, Alex dan istrinya.
"Ada apa ini?" tanya permaisuri yang mencoba membaca suasana.
"Bahkan jika anda mengancam akan menghentikanku sebagai calon kaisar, aku tidak takut. Aku tidak sudi jika harus menginjakan kaki ke rumah perempuan licik ini dan berhenti memaksa kehendakku. Aku bukan anak kecil lagi yang harus diatur, berhenti ikut campur urusan hidupku!"
Austin lantas pergi dari sana, dia benar-benar muak dan membutuhkan Natasha sekarang, sementara Lilian nampak tersenyum puas melihat wajah kesal Hellen.
Victoria mendekati ayahnya lalu berkata. "Berhenti ikut campur masalah rumah tangga mereka, ayah. Seharusnya ayah menyesal karena telah menikahkan kakak dengan orang yang tidak dicintainya."
Permaisuri hanya menghembuskan napasnya lelah.
"Apa ayah sebegitu ingin cepat meninggalkan tanggung jawab sebagai kaisar dan memberikan beban berat itu pada kak Austin? Apa yang ayah pikirkan? Ayah masih belum tua, tubuh juga sehat bugar. Jadi mengapa harus terburu-buru?"
Kaisar nampak terdiam mendengar ucapan anak bungsunya.
"Sudahlah, dari dulu ayah memang selalu saja egois. Tidak bisa memikirkan perasaan anak-anaknya. Jika aku jadi kak Austin, maka aku akan pergi dari sini sejauh mungkin."
Victoria akhirnya meninggalkan tempat itu. Permasuri pun mulai angkat bicara.
"Untuk penobatan calon kaisar baru akan ditunda sampai beberapa tahun ke depan dan berhenti ikut campur urusan Austin."
Lilian pun akhirnya mengajak Alex untuk pergi saja daripada harus mendengarkan mereka bertengkar.
Hellen nampak panik, apalagi setelah pembicaraan tadi. Jika penobatan calon kaisar ditunda, itu berarti dia bisa saja diceraikan oleh Austin.
Di sisi lain nampak Austin yang sudah berada di istana Beverly. Saat ini dia tengah menikmati waktu berdua dengan Natasha.
"Jika saja masa penobatanku menjadi kaisar masih lama, pasti aku akan menceraikan dia!" ucapnya dengan menatap wajah ayu Natasha dari bawah.
Posisi Austin kini sedang meletakan kepalanya di paha Natasha. Gadia itu mengelus lembut rambut Austin lantas tersenyum.
"Memangnya kaisar setuju?"
Dia lantas mendengus kesal.
"Setuju atau tidak, aku akan melakukannya. Aku sudah tak peduli dengan ancaman apapun dari ayahku, aku muak Natasha. Aku tidak tahan jika harus memiliki ikatan sebagai suami istri dengannya. Aku benci itu!"
Natasha masih mempertahankan senyumannya. Di hati kecilnya, dia berteriak senang.
"Lakukan apapun yang kau inginkan Austin. Itu adalah hakmu, kau memiliki hak untuk menolak dan menerimanya."
"Bukan salahku, aku tidak melakukan apapun jika nantinya Austin dan perempuan licik itu bercerai."
Natasha membatin sembari tersenyum menatap Austin.
Pria itu terlihat begitu tenang ketika berada di dekat Natasha. Kedekatan keduanya juga dirasakan oleh kakek neneknya.
Saat ini nenek dan kakek Natasha tengah memandangi keduanya dari jendela atas. Posisi mereka sedang duduk di taman utama.
"Aku rasa memang pangeran lebih nyaman berada di dekat Natasha apalagi hanya cucu kita dulunya yang mau berbicara dengannya," ucap sang nenek dan dibalas anggukan dari suaminya.
"Aku sudah dengar dari Azalea, bahwa ada keributan di kekaisaran, makannya pangeran datang ke mari!"
Saat Natasha sedang saling mengeluarkan isi hatinya, datanglah Azalea. Kali ini justru keduanya yang terkejut bersama-sama.
"Ratu, ada informasi penting. Ini juga mengenai perbatasan timur."
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Banyak warga desa yang mendengar suara-suara aneh dari hutan di sana. Marquess Alpha sudah mengeceknya, tetapi sampai saat ini belum juga kembali. Sebentar lagi salah satu prajuritnya akan datang untuk melaporkan masalah ini."
Natasha terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Austin. Dia segera bangun dan membenarkan posisi duduknya.
Datanglah salah satu prajurit milik Alpha.
"Hormat ratu. Saya datang ingin memberikan informasi!"
"Aku sudah tahu. Lalu apakah kalian masih mencari keberadaan marquess Alpha?" tanya Natasha pada prajurit itu.
"Sebagian prajurit kami mencarinya, tetapi mereka tidak keluar lagi dari hutan. Jadilah saya buru-buru ke mari untuk memberitahukannya pada Ratu."
"Apa kalian sudah mengevakuasi warga di sana?"
"Sudah ratu. Salah satu warga juga bilang bahwa setiap malam pasti ada suara gaduh di luar rumah mereka. Beberapa anak di desa juga ikut menghilang ketika sore menjelang malam tiba!"
Mendengarnya, Natasha tak bisa berdiam diri lagi.
"Azalea, katakan pada kepala prajurit bahwa kita akan pergi ke perbatasan timur dan bawa sebagian saja. Austin, kau pulanglah. Jika nantinya aku tidak kembali, Azalea akan melaporkannya padamu."
Austin memang sangat khawatir, dia takut jika Natasha tidak kembali juga. Namun, gadis itu juga tidak mau memberatkan dirinya.
Menurut Natasha, Austin juga memiliki kesibukan sendiri di kekaisaran.
"Aku akan mengganti pakaianku. Azalea, kau nanti tunggu saja di luar hutan bersama prajurit marquess Alpha."
"Baik ratu."
Setelah semua persiapan selesai, Natasha tak memiliki waktu untuk menjelaskannya pada keluarganya.
"Rose, tolong katakan pada kakek bahwa aku akan pergi ke perbatasan timur lagi. Mungkin aku tidak akan cepat kembali, tetapi kalian jangan khawatir. Jaga Lucas, nenek dan kakek untukku!"
Belum Rose berbicara, Natasha sudah lebih dulu pergi.
Para prajurit telah berjalan lebih dulu sesuai arahan Natasha, karena dia akan terbang saja menggunakan sihir anginnya.
Perasaan Natasha campur aduk akan hal ini. Dia tiba lebih cepat dan melihat desa sudah sangat sunyi.
Natasha sendiri sengaja turun di sana untuk sekedar melihat-lihat. Dia berkeliling, lantas mendengar suara yang dimaksud.
Memang di dekat perbatasan ada sebuah hutan. Hutan tersebut hampir tak pernah dijamah oleh tangan nakal manusia jadi bisa saja ada binatang buas atau monster yang mendiami tempat itu.
Saat dia akan pergi, Natasha merasa seperti sesuatu mengawasi dirinya. Ketika berbalik, hanya menemukan keheningan saja.
"Ratu, apakah anda akan masuk? Jika iya, kami bisa ikut!"
"Tidak perlu. Kalian tunggu saja di sana sampai bala bantuan datang dan jelaskan detailnya pada pimpinan pasukan. Aku pergi!"
Azalea yang kala itu sedang berdiri di salah satu dahan pohon, mengamati Natasha yang mulai memasuki hutan. Dia dimintai oleh gadis itu untuk sekedar mengawas saja.
Natasha bisa mencium sesuatu yang lumayan busuk. Setelah beberapa saat melangkah, dia merasa bahwa ada yang mengikutinya.
Sebelum benar-benar melangkah lebih jauh lagi, dia mengambil pedang dan menggoreskan satu dahan. Beberapa menit kemudian, goresan itu tertutup dengan sendirinya.
"Hutan ini hidup!" ucapnya.
Natasha menyentuh lembut pohon tersebut dan bisa merasakan bahwa sesuatu mengalir di tangannya.
"Aku harus cepat sebelum sesuatu terjadi pada yang lainnya!"
Natasha mempercepat langkahnya, sesekali dia akan menengok ke belakang. Firasat mengatakan bahwa memang ada yang mengikutinya semenjak dia memasuki hutan ini.
Ketika mendengar suara ranting patah, Natasha spontan menengok ke belakang dan tidak menemukan apapun, tetapi dia merasakan adanya energi tadi.
Akhirnya Natasha memilih untuk menggunakan sihir anginnya saja, dia segera terbang ke atas dan bersembunyi di balik dahan pohon untuk mengintip siapa pelaku yang mengikutinya sejak tadi.
Brilian!
Terlihat seorang pria dengan pakaiannya yang sudah lusuh mencari-cari keberadaan Natasha. Dia juga terlihat kebingungan dengan menggaruk-garukan lehernya yang tidak gatal.
Tiba-tiba sebuah pedang mengarah langsung dan menancap ke tanah di sebelahnya. Pria itu segera mendonga dan menemuka Natasha melompat dari atas dan langsung saling berhadapan.
Hendak berlari, Natasha lebih dulu menarik bajunya dan mengancamnya.
"Jika kau lari lagi, akan aku bakar hutan ini beserta dirimu menggunakan api hitam!"
Natasha menghidupkan api hitam di tangan kirinya hingga pria itu tidak memberontak lagi.
"Siapa kau dan mengapa bisa berada di sini?"
Pria itu nampaknya enggan berbicara, dia juga seperti menghindari kontak mata dengan Natasha.
"Mau jawab atau ka-"
"Aku tidak tahu. Aku tidak punya nama, aku juga hidup di sini sejak dulu!" ucapnya membuat Natasha terkejut.
"Huh, kau serius? Hutan ini hampir tidak pernah dimasuki oleh manusia, bagaimana kau bisa bertahan hidup di sini seorang diri?"
"Kata siapa? Ada sebuah desa di hutan ini, juga sekarang mereka sedang melakukan sesuatu untuk memanggil makhluk besar."
Natasha mengernyit.
"Makhluk besar katamu? Lalu, di mana desa itu berada?"
"Ada di tengah hutan ini. Oh, beberapa orang yang datang ke sini juga sedang di kurung. Kata tetua di desa, mereka akan dijadikan persembahan untuk makhluk itu!"
Sontak Natasha segera melepaskan cengkraman tangannya pada pria di depannya itu dan mengambil kembali pedangnya.
"Sial. Aku tidak bisa membuang waktu lagi."
Saat akan pergi, tangannya di cekal.
"Apa lagi? Aku harus menyelamatkan mereka!"
"Mereka akan marah jika orang asing sepertimu memasuki desa."
"Aku tidak peduli. Untuk sekarang, orang-orangku harus aku lindungi!"
Pria itu memiringkan kepala.
"Melindungi?" tanyanya.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kau tunggulah di sinu, aku akan pergi sendiri!"
Natasha akhirnya pergi dengan memadatkan angin dan menaikinya. Sedetik kemudian terlihat seringaian di bibir pria itu.
Di sisi lain, Kekaisaran sedang digemparkan oleh Austin yang akhirnya membuka suara terkait keinginannya, apalagi setelah permaisuri mengatakan padanya bahwa penobatan dirinya menjadi kaisar akan ditunda beberapa tahun kedepan.
"Aku akan menceraikan dia, sekarang juga. Jika ayah masih mau menghalangiku, maka nikahi saja dia!"
Seluruh anggota keluarga berada di ruang pertemuan, terkejut dengan ucapan Austin. Terlihat Hellen tak dapat melakukan apapun, karena memang dia bodoh.
"Mengingat bahwa saat ini ayah masih menjadi kaisar selama beberapa tahun ke depan jadi aku akan bercerai denganmu. Segera laksanakan prosesnya, aku ingin cepat-cepat lepas dari perempuan ini!"
Berita mengenai perpisahan antara Austin dan Hellen telah terdengar oleh publik, termasuk keluarga gadis itu sendiri.
Mereka dengan buru-buru mendatangi keluarga kaisar dan meminta penjelasan. Ada raut tidak terima pada keluarga Hellen.
"Kaisar, bagaimana bisa anda menyetujui keinginan pangeran? Lalu, bagaimana dengan nasib putriku?"
Austin pun angkat bicara.
"Dengar, aku tidak sudi hidup berdampingan dengan perempuan bermuka dua. Dulu saat wajahku masih belum seperti sekarang, putrimu lah yang paling bersemangat menghinaku, tetapi setelah wajahku sembuh dia juga yang lebih bersemangat untuk menikah denganku. Apa kalian sekeluarga tidak punya malu?"
Setelah kejadian itu, banyak bangsawan dan beberap warga desa yang datang untuk menjadi saksi bahwa keduanya telah resmi berpisah.
Hellen mengepalkan tangannya saat mereka dinyatakan bukan suami istri lagi.
"Akhirnya aku bebas dari iblis sialan itu!"
Ketika hari menjelang sore, saat itu Austin sedang memandangi langit dari jendela kamarnya. Dia penasaran sekarang Natasha sedang melakukan apa, perasaannya juga menjadi tidak tenang.
Ketika dia memperhatikan Victoria, Austin melihat ada seseorang yang berbicara dengannya. Sebelum akhirnya sesuatu menghantam orang yang berada di depan Victoria, membuat Austin terkejut bukan main dan mencari pelakunya.
"Natasha?"
Austin bisa melihat raut wajah Natasha. Gadis itu terbang menuju Victoria dan membawa adiknya Austin menjauh.
Bergegas Austin turun untuk menghampiri mereka. Di sisi lain, Victoria terlihat pucat pasi dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Natasha dengan mulai menenangkan Victoria.
"T-tadi tubuhku bergerak bukan sesuai dengan kemauanku dan p-pria itu tiba-tiba berada di hadapanku."
Austin menghampiri mereka dan mulai bertanya, mengapa sang adik terlihat pucat.
"Bawa masuk Victoria dan katakan pada kaisar bahwa salah satu musuhnya telah tiba!"
Bersambung...