Stuck In The Middle Ages

Stuck In The Middle Ages
08| Terculiknya Lucas



Keesokan harinya Natasha harus pergi sekolah. Mengingat dia sudah tidak masuk selama dua bulan lebih, pastinya juga teman-teman yang lain akan ada yang menuntut dirinya sudah bisa menguasai sihir.


Setibanya di sana, dia akhirnya menghebohkan seisi tempat. Biarpun begitu, banyak juga yang tidak menyukainya setelah pesta minum teh waktu itu. Banyak yang bilang bahwa Natasha hendak mencari muka di depan kaisar dan permaisuri dengan cara membela Austin.


     "Putri, akhirnya anda datang ke sekolah juga. Bagaimana keadaan anda?" tanya salah satu dari tiga gadis yang juga waktu itu memuji ketampanan Austin.


      "Aku baik, terima kasih. Jadi bagaimana keadaan sekolah selama aku tidak ada?" tanyanya yang kemudian dijawab oleh orang lain.


      "Tentu akan baik-baik saja. Memangnya kau siapa sampai sekolah ini harus tidak baik-baik saja?"


Natasha hanya tersenyum, percuma juga meladeni manusia seperti dia.


     "Sebaiknya kita masuk, sebentar lagi guru akan datang!"


Keempat gadis itu segera berlalu, meninggalkan rombongan Hellen.


     "Dasar. Jangan mentang-mentang kau calon ratu, lalu bisa seenaknya pada orang lain!" teriaknya frustasi yang pada akhirnya tidak diladeni oleh Natasha.


Hari ini akan ada pelatihan sihir lagi, guru yang melatih adalah orng yang sama. Hellen tersenyum licik ketika mendapati sebuah ide.


Natasha sendiri telah mengganti pakaian yang biasa dia gunakan untuk berlatih. Beberapa bangsawan terkejut melihat pakaiannya, terlebih Hellen sudah lebih tertawa.


     "Ahaha, lihat pakaiannya. Calon ratu, kenapa pakaiannya seperti budak?"


Hanya teman-teman Hellen saja yang tertawa, sisanya memilih diam dan ada yang kesal.


Natasha tetap diam dan guru mulai penjelasan.


     "Baiklah, pelatihan kali ini saya ingin melihat sejauh mana sihir yang kalian kuasai dan berada di level berapa. Di mulai darii ... "


     "Natasha saja guru. Diakan tidak masuk selama kurang lebih dua bulan, pasti sihirnya sudah sangat meningkat!"


Hellen ini, memangnya memiliki dendam apa pada Natasha?


     "Baik Natasha, kau duluan!"


Natasha hanya mengangguk dan tersenyum.


Jangan pandang remeh dirinya, dia kini sedang berada dalam tahap menguasai sihir keempat, yaitu pertahanan. Natasha juga sedikit terkejut ketika dia dengan mudah menguasai tiga sihir lainnya hingga level tinggi.


Ketika dia mengeluarkan sihir api dengan level lima, semuanya spontan terkejut. Mereka sudah berada di level dua pada sihir tingkat satu saja sudah bersyukur, kini dia dengan mudahnya sudah di tingkat tiga.


Terlebih Hellen, dia melongo saat Natasha dengan mudahnya mengeluarkan api dari tangan dan mulai melemparnya ke arah kayu hingga terbakar hangus.


Guru itu terlihat puas bagaimana Natasha adalah satu-satunya murid yang berhasil sampai pada tingkat tiga level lima sihir api.


     "Bagus. Biarpun putri mendapatkan tugas dari raja untuk mengawasi desa di perbatasan kerajaan Beverly, dia tidak mengurungkan semangatnya untuk terus mengasah kemampuan sihir hingga sampai pada titik ini. Selanjutnya Hellen, maju dan tunjukan sihir apa saja yang sudah kau kuasai. Jangan menunjuk orang lain, cobalah mulai dari dirimu sendiri!"


Lantas Hellen maju dengan raut wajah kesal. Baru saja akan mengeluarkan sihir angin, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang entah dari mana asalnya.


Natashanya seketika merasa ada yang tidak beres. Perasaannya pun mendadak jadi tidak enak, dia teringat keluarganya sekarang.


     "Suara apa itu?"


Mereka melihat para guru yang keluar dengan wajah panik.


      "Pelajaran sampai di sini saja. Kalian sebaiknya cepat pulang."


Natasha setelah mendapatkan perintah tersebut lantas segera berlari menuju kereta kuda. Sebelum mereka pergi, tiba-tiba Azalea datang dengan memberikan informasi.


       "Putri, ini sangat gawat. Pangeran Lucas menghilang dari kamarnya setelah pelayan pribadinya pergi ke dapur untuk mengambilkan makan siang untuknya. Saya juga sempat mengejar beberapa orang yang hendak melarikan diri dari kerajaan hingga mereka mengeluarkan sihir api dan menghanguskan gerbang utama!"


Mendengar itu Natasha lantas keluar dari kereta dan mulai memadatkan angin agar bisa dia kendarai, beruntung saat itu dia sedang mengenakan pakaian berlatihnya.


Sebagian bangsawan melihat keahlihan Natasya menjadi kagum.


     "Azalea, pergi minta bantuan pada kekaisaran, sementara aku akan mencari Lucas."


     "Paman, cepat pulanglah dan lihat keadaan di istana. Sebisa mungkin untuk melindungi raja dan ratu."


      "Baik putri."


Natasha bergegas pergi tanpa mempedulikan panggilan para gurunya. Disaat seperti ini, Natasha tidak akan peduli pada sekitarnya.


Dia mulai mencoba merasakan energi milik Lucas. Natasha sekarang terlihat sangat serius. Setelah terbang dengan menjauhi kerajaan, Natasha bisa merasakan energi sang adik.


     "Lucas?"


Dia lantas mulai mengikutinya dengan empat energi asing lainnya. Dari kejauhan pula Natasha bisa melihat mereka tengah mengendong tubuh sang adik, sementara Lucas sudah berteriak meminta untuk dilepaskan.


Natasha mulai mempercepat angin yang sekarang akan menjadi kendaraannya di udara. Hingga dia akhirnya berada di depan mereka dengan raut wajah yang serius.


Gadis cantik dengan wajah yang serius itu melompat lantas menghadang mereka. Keempatnya segera berhenti melihat bagaimana Natasha mampu mengejar mereka.


      "Lepaskan adikku!" ucapnya lantang.


      "Kak Natasha? Kakak, tolongin Lucass!" rengeknya dengan sesekali memukuli punggung orang asing itu.


      "Cepat juga. Bagaimana dengan ini?"


Salah satu dari mereka lantas mulai melemparkan sihir api ke arah Natasha dan sayangnya dihindari dengan begitu mudahnya.


      "Giliranku!"


Natasha mengeluarkan api dari kedua tangan dan mendorong ke arah dua orang asing itu. Awalnya mereka memang bisa menghindar, tetapi siapa sangka justru api tersebut tetap mengejar targetnya sampai pemiliknya menghentikan mereka.


Keduanya lantas berpencar hanya untuk menghindari api itu. Mereka terkejut karena untuk pertama kalinya melihat hal semacam ini.


Natasha menyeringai, dia mulai membuka kepalannya hingga kedua apinya menjadi besar dan melahap keduanya.


     "Cobalah untuk menyingkir dari ini tuan!"


Natasha meletakan tangannya di tanah, detik berikutnya air mulai naik ke salah satu tubuh pria yang tak menggendong Lucas. Saat akan melangkah, kakinya sudah membeku. Mereka terkejut melihat bagaimana gadis itu menjadi lebih kuat sekarang.


Setelah tubuhnya terbungkus oleh es, Natasha mulai mengepal hingga es tersebut hancur bersama dengan orang di dalamnya.


      "Sekarang, giliran kau tuan!"


Baru saja dia akan menyerang, pria itu sudah lebih dulu melepaskan Lucas.


     "Jangan, bi-biarkan aku pergi!" ucapnya takut-takut.


Lucas berlari ke arah sang kakak dan bersembunyi di belakang kaki jenjangnya, dia juga sesekali menjulurkan lidah bermaksud untuk mengejek.


     "Sekarang tinggal paman sendirian. Tiga teman paman sudah dikalahkan sama kakakku!"


      "Katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk membawa adikku?" tanyanya dengan wajah yang serius.


Detik berikutnya pria itu tersenyum dan hendak melarikan diri, tetapi Natasha sudah lebih dulu menariknga menggunakan sihir angin hingga dia mencekik lehernya.


     "Mau kabur? Kau pikir bisa semudah itu?"


Natasha semakin mengencangkan cekikannya hingga orang itu memohon ampun, tetapi bagi Natasha adalah tidak ada ampun untuk mereka yang sudah berani macam-macam dengan keluarganya.


     "Meminta ampun padaku sama saja dengan mempercepat kematianmu!"


Tubuh pria itu seketika lemas dan kehabisan napas. Natasha pun melepaskannya dan memeluk Lucas. Tubuhnya seketika ambruk saat semuanya berakhir begitu saja.


     "Yeey, kakak menyelamatkan Lucas seperti pahlawan."


Anak itu lantas mencium pipi sang kakak dan memeluknya.


     "Ayo kita terbang. Lucas juga mau terbang seperti kakak tadi!"


Natasha akhirnya mendapatkan kekuatannya kembali, dia lantas memadatkan angin dan mulai membawa adiknya pergi. Lucas terlihat begitu senang.


Tanpa Natasha sadari, seseorang keluar dari balik batang pohon. Mata birunya memperhatikan kepergian Natasha yang semakin menjauh.


     "Menakjubkan. Keturunan Beverly memang sangat mengejutkan. Dia bahkan bisa menumbangkan empat murid tersayangku hanya seorang diri. Bagus, dengan begini rasa ingin menghabisi seluru keturunan raja sialan itu semakin tinggi. Akhirnya ada lawan yang bisa membuatku bersemangat. Tunggu pertemuan kita nanti putri Natasha!"


Berita Lucas diculik telah tersebar sampai ke kerajaan tetangga, beruntung tidak ada penyerangan yang terjadi selama kerajaan Beverly mengalami kekacauan.


Para pelayan merasa lega saat melihat Natasha kembali dengan membawa Lucas. Anak itu juga tersenyum senang karena sudah diajak terbang oleh Natasha.


Mereka akhirnya mendarat dengan selamat, di sana juga ada Austin dan Azalea. Sang nenek dan kakek pun bergegas berlari untuk memeluk Lucas.


     "Astaga Lucass. Cucu nenek selamat, terima kasih Tuhan!"


Natasha tersenyum kala melihat nenek dan kakeknya merasa lega. Austin bergegas mendekati Natasha untuk sekedar bertanya apakah dia baik-baik saja.


     "Natasha, apa kau baik-baik saja? Mereka tidak melukaimu, kan?" tanyanya membuat Natasha menjadi salah tingkah sendiri.


     "Aku tidak apa-apa."


Lucas tiba-tiba berceloteh.


      "Tadi kak Natasha hebat, banget. Bisa mengalahkan empat orang sendirian. Pertama kak Natasha membakar dua orang, terus membekukan satu orang dan yang terakhir dicekik hingga mati."


Lucas mempraktekan bagaimana cara Natasha mencekik lawannya itu. Gadis tersebut sudah menahan malu, sementara Austin, nenek dan para pelayan tertawa melihat tingkahnya.


      "Lihat, sekarang kau bahkan mirip kakakmu. Lain kali jangan membuka jendela pada orang asing, kalau kejadian seperti ini terulang, bisa-bisa kakakmu mengamuk dan membakar seluruh kerajaan!" canda sang nenek membuat Lucas menyengir ala kuda.


      "Hehe, habisnya paman tadi nawarin Lucas makanan manis."


Natasha menepuk dahinya sendiri, yah begitulah anak-anak. Dia lantas berjongkok di depan adiknya dan mulai memberika nasehat.


       "Dengar, kau dan seluruh orang yang berada dibawah kekuasaan kerajaan kita adalah tanggung jawab kakak. Jadi jangan pernah mengikuti orang asing sekalipun dia menawarkan Lucas dengan makanan manis. Kau kalau ingin makanan manis, para pelayan bisa membuatnya. Sudah cukup bagi kakak untuk merasakan kehilangan. Lucas percaya dengan kakak, kan?" tanyanya dan diangguki oleh Lucas.


      "Anak pintar. Sekarang pergi dengan Emma, kau belum makan siang. Setelahnya minta pelayan untuk membuatkanmu makanan manis, tetapi jangan banyak-banyak makannya, nanti gigimu bisa berlubang."


      "Iya kak."


Lucas lantas berjalan ke arah Emma dan menggandeng tangan pelayan pribadinya itu.


Di sisi lain Austin mulai mendekati Natasha kembali dan bertanya mengenai pengejarannya tadi.


      "Apa kau menemukan informasi terkait para penculik Lucas?"


       "Tidak. Aku membunuh ketiganya dan meminta yang masih hidup untuk menjawab pertanyaanku, tetapi dia justru melarikan diri jadi aku mencekiknya sampai mati."


Austin sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa gadis itu ternyata bisa sadis juga.


      "Tidak masalah dan yang terpenting adalah Lucas aman."


Austin pun segera pergi ke kepala prajurit untuk membahas masalah memperketat keamanan kerajaan.


     "Natasha, sepertinya ada yang harus kakek bicarakan denganmu. Menyembunyikan rahasia ini terlalu lama juga takutnya tidak ada waktu. Kemarilah!"


Natasha hanya mengangguk dan mengukuti langkah nenek dan kakeknya. Mereka kini tiba di ruang keluarga.


      "Kakek ingin menceritakan kejadian yang menimpa ayah kakek dulu. Kemungkinan besar penculikan Lucas ada sangkut-pautnya."


Kakek mulai bercerita. Dulu saat kakek seumuran dengan Natasha dan sibuk untuk mengembangkan sihir pertahanan, tiba-tiba seluruh prajurit berkumpul di depan istana. Mereka berbaris dengan rapi dan menunduk saat raja datang. Raut wajahnya begitu terlihat serius dan tegas.


       "Pergilah ke kekediaman keluarga Dixon dan seret mereka semua ke mari tanpa melepaskan siapapun. Anak tertua mereka telah berani menculik bahkan melecehkan putri bungsuku bahkan mayatnya tega mereka buang ke perbatasan. Cepaat!"


Kakek yang mendengar itu segera berlari memasuki kerajaan dan mencari-cari ibunya. Terlihat sang ibu sedang menangis histeris saat mengetahui fakta bahwa anak bungsunya telah meninggal.


Kakek juga baru mengetahuinya setelah sang ayah berucap seperti tadi. Lantas dia bertanya pada salah satu pelayan pribadi sang ibu.


     "Bibi, kenapa ibu menangis dan apa yang terjadi pada adikku?"


Pelayan itu menatap iba pada kakek.


      "Pangeran, tadi tangan kanan raja memberikan informasi kalau mayat putri ditemukan di dekat perbatasan kerajaan Beverly bagian barat. Padahal semalam putri masih berada di kamarnya dan pagi tadi menghilang. Raja akhirnya mendapatkan informasi tersebut pangeran."


Kakek tentu saja terkejut mendengarnya.


      "Ba-bagaimana bisa mereka mengetahui kalau pelakunya adalah anak tertua dari keluarga Dixon?" tanyanya lagi.


      "Ratu menemukan surat di kamar putri dan ada nama Henry Dixon diakhir kalimatnya!"


Mendengar itu gigi kakek bergemelatuk geram. Segera dia mengambil pedangnya dan berjalan keluar dari kerajaan. Baru saja akan pergi, raja menghentikannya.


      "Berhenti pangeran!"


Kakek langsung berhenti dan berbalik menatap ayahnya.


       "Biarkan para prajurit itu melakukan tugasnya. Kita hanya perlu menunggu sampai mereka menyeret seluruh keluarga tidak tahu malu itu kemari!"


Beberapa menit kemudian datanglah rombongan prajurit. Mereka benar-benar menyeret keluarga Dixon bahkan sampai yang paling kecil.


Semuanya lantas berlutut di depan raja dan pangeran Beverly untuk memohon ampunan.


      "Ampun Raja, maafkan kelakuan anak saya. Saya berani bersumpah atas nama kerajaan Beverly, anak saya tidak berniat untuk melecehkan putri bungsu Beverly!"


Mendengar itu Kakek menjadi sangat emosi dan akhirnya menendang si kepala keluarga itu.


     "Berhenti berbicara omong kosong. Adikku telah kalian bunuh dan dengan teganya kalian membuang mayatnya ke perbatasan. Apa kalian sudah bosan hidup?" teriaknya dengan lantas membuat anak kecil menjadi menangis ketakutan.


       "Aku tidak akan melepaskan siapapun dari keluarga kalian. Kalian telah membuat kesalahan yang amat sangat besar."


Raja lantas mengambil alih.


       "Seret mereka ke tempat pengeksekusian. Panggil seluruh rakyat untuk menyaksikan kematian mereka semua!"


Keluarga Dixon sendiri menjadi semakin histeris, apalagi anak tertuanya. Terlihat raut wajah yang menyesal karena telah dengan lancang mengajak putri bungsu dari keluarga Beverly untuk menemuinya padahal mereka hanya orang biasa.


Awalnya mereka hanya bertemu biasa, tetapi entah setan apa yang merasukinya hingga dia tengah menghancurkan masa depan putri Beverly. Setelah sang putri mengancam akan melaporkan kejadian ini pada ayahnya, akhirnya dia dibunuh dan mayatnya dibuang begitu saja. Sungguh ceroboh.


     "Kakek yakin, saat itu semua anggota keluarga Dixon telah mati terpenggal. Kakek juga sangat amat marah, karena adik satu-satunya yang kakek punya justru dibunuh."


Natasha yang mendengar itu menjadi iba, dia lantas memeluk sang kakek.


     "Kakek pasti sulit untuk menjalaninya sampai sekarang ini. Terima kasih karena kakek kasih bertahan. Natasha janji untuk menjaga Lucas bahkan jika itu memerlukan nyawa Natasha."


       "Jangan lupa untuk menjaga dirimu juga, Natasha. Kau adalah harapan negeri ini untuk bangkit lagi."


       "Iya, kek!"


Bersambung...