Stuck In The Middle Ages

Stuck In The Middle Ages
17| Racun



Seorang gadis berparas ayu terlihat terusik dari tidurnya. Perlahan dia mulai membuka mata dan mendapati Rose sedang berdiri sembari menatap gadis itu dengan perasaan khawatir.


     "Ratu, anda sudah bangun."


Rose yang hendak membantu Natasha pun, dibalas dengan gelengan.


      "Kapan kau datang dan di mana Austin?" tanyanya penasaran sembari mencoba mengurangi rasa sakit pada kepalanya.


      "Saya datang setelah nona Azalea memberitahukan kejadian yang menimpa kekaisaran juga marquess Alpha dan pangeran sedang dirawat oleh tabib."


       "Apa keadaan Austin baik-baik saja?" tanyanya lagi dengan mencoba bangkit.


Rose nampak menggeleng.


      "Pangeran tidak sadarkan diri dari seminggu yang lalu dan kata tabib tubuh pangeran tak merespon apapun, tetapi pangeran masih hidup."


Mendengarnya Natasha mengernyit heran.


      "Tabib sudah memberikan banyak bau-bauan hingga yang paling menyengat pada hidung pangeran, tetapi pangeran tidak kunjung bangun."


Natasha pun berlari keluar, beberapa pelayan dikejutkan dengan kemunculannya. Dia lantas bergerak menuju kamar Austin yang ternyata sudah banyak orang. Terlihat permaisuri yang menangis tak ada henti-hentinya, sementara kaisar sudah mengancam tabib sebab tidak ada perubahan sama sekali pada anak tertuanya.


Di sisi lain, Alex telah sembuh. Dia yang paling pertama menyadari kehadiran Natasha lantas hendak mendekatinya, tetapi ditahan oleh Lilian. Walaupun dia tahu Alex tertarik pada Natasha, tetapi Lilian tidak membenci gadis itu.


Dia tahu bahwa Natasha bukanlah tipekal gadis yang akan menggoda milik orang lain, jadi itulah mengapa tidak ada raut wajah cemas atau kesal.


     "Salam kaisar, salam permaisuri!"


Natasha tak lupa memberi salam, lantas mulai melihat kondisi Austin.


      "Saya akan mencoba mengecek kondisi pangeran terlebih dahulu."


Mendengar itu, tabib kerajaan langsung mencegahnya.


      "Percuma saja, saya sudah melakukan segala macam cara, tetapi pangeran tidak kunjung bangun!"


Natasha tersenyum.


      "Karena cara penangan anda salah, tabib."


Mendengar itu membuat semuanya terkejut, sang tabib pun mulai kesal melihat tingkah gadis di depannya.


      "Ratu, apakah anda sedang menghina saya yang seorang tabib kekaisaran? Anda tahu apa mengenai pengobatan dan penanganan seperti ini, itu karena tuga anda hanya duduk diam di dalam kerajaan!"


Ouh, lancang sekali bukan?


Kaisar segera menampar tabib kerajaan itu karena telah berani menghina pahlawan kekaisaran. Jika tidak ada Natasha, maka mereka jelas sudah mati sekarang.


Natasha menghiraukan ucapan tabib tadi dan memilih fokus pada Austin.


     "Berhenti bicara omong kosong, tabib. Kau bahkan tidak bisa menyembuhkan anak tertuaku dan masih ingin sombong? Berani sekali kau menghina ratu Beverly dan pahlawan kekaisaran. Apa kau sudah bosan hidup?" tanya kaisar dengan menatap tajam tabib itu.


Sang tabib hanya dapat terdiam, memang dia sudah lancang. Hanya tabib kekaisaran bukan berarti dia lebih mengerti masalah medis daripada orang lain.


Kini perhatian semuanya tertuju pada Natasha. Gadis itu mendekatkan telinganya ke dada bidang Austin. Karena terhalang pakaian, dia tanpa ragu membukanya membuat semuanya terkejut, tetapi tidak berani protes.


Kini dia kembali menempelkan telinganya ke dada Austin.


     "Jantungnya berdetak dengan pelan. Sepertinya ada batu yang mengenai tubuhnya hingga menyebabkan dadanya sesak atau ada faktor lain?"


Natasha sendiri sedang memikirkan cara untuk membuat jantung Austin kembali berdetak dengan cepat.


Dia lantas mendekatkan jari telunjuk ke bawah hidung Austin dan merasakan pria itu kesulitan bernapas.


     "Tolong kalian menjauh terlebih dahulu, tempat ini terlalu sesak karena banyak orang di dalamnya. Rose, buka jendela kamar pangeran dan biarkan udara segar masuk!"


Mereka semua hanya menuruti Natasha, gadis itu sudah seperti seorang utusan Tuhan saja.


Natasha mulai meletakan kedua tangannya di atas dada tempat jantung Austin berdetak. Dia melakukan pertolongan pertama dengan menekan-nekan dada bidang itu beberapa kali dan mencoba mendengarnya.


Dia juga melakukan penyaluran oksigen melalui mulut ke mulut. Mereka tidak memiliki waktu untuk terkejut sekarang.


Seketika itu Natasha mulai membulatkan matanya. Dia melepas bibirnya dan membuka mulut Austin.


Betapa terkejutnya Natasha ketika melihat lidah Austin perlahan-lahan mulai menghitam. Dia berbalik dan menatap kaisar dengan raut yang serius.


     "Tolong siapkan beberapa alat yang saya katakan dan jangan banyak bertanya dulu. Nyawa Austin sekarang tergantung dari bagaimana kalian cekatan dalam mencari alat-alat itu!"


Setelah Natasha menyebutkannya, kaisar dan beberapa pengawal serta pelayan mulai mencari, sementara Austin telah dipindahkan ke sebuah ruangan dengan meja lebar di dalamnya.


Setelah apa yang dia minta sudah ada, Natasha pun mulai. Sebelumnya dia telah mencuci tangannya lantas mulai menutup matanya sebentar.


     "Dosen, maafkan diriku yang melakukan operasi pada orang. Padahal kau belum memberikan kami praktik mengoperasi manusia sungguhan. Doakan aku, semoga operasi ini lancar walaupun aku tidak menggunakan sarung tangan, karena ini abad pertengahan!" ucapnya yang kemudian mulai menenangkan diri.


Natasha harus segera mengeluarkan racun yang menempel pada jantung Austin sebelum menyebar ke seluruh tubuhnya.


Di luar ruangan, terlihat permaisuri tak henti-hentinya berdoa bahkan dia rela jika harus bertukar nyawa dengan sang anak. Kaisar nampak memeluk sang istri dan berharap apapun yang dilakukan oleh Natasha di dalam, akan membuahkan hasil yang memuaskan.


Sudah hampir enam jam mereka menunggu hingga akhirnya Natasha membuka pintu. Melihat tangannya yang penuh darah, mereka semakin khawatir.


     "Untuk sementara biarkan pangeran beristirahat. Saya sudah mengeluarkan segala racun dari dalam tubuhnya dan menjahit bekas bedahnya. Jadi tolong untuk tidak menyentuh dadanya sedikitpun karena jahitannya masih baru."


Natasha melirik ke arah tabib sebentar, lantas menatap Arthur dan Alex.


     "Tolong bawa kakak kalian ke dalam kamarnya, tetapi hati-hati. Jika dia bangun, maka pangeran harus merasakan sakit di dadanya."


      "Tentu saja akan sakit, operasi dilakukan tanpa memberikan obat bius pada pasien. Ah, semoga saja Austin cepat membaik." Natasha membatin sembari beranjak dari sana untuk membersihkan tangannya.


     "Ratu, saya minta maaf atas sikap dan perkataan sayang yang sudah merendahkan anda. Ternyata pengetahuan mengenai medis saya masih sangat tertinggal. Bisakah anda menjadikan saya sebagai murid? Saya masih harus belajar banyak!"


Mendengar itu Natasha mulai berpikir dan hal itu tidak buruk juga.


     "Oke."


Sang tabib lantas tersenyum senang mendengar ucapan Natasha. Setelah kejadian hari itu, Austin pun telah sadar dan sehat kembali.


Hari ini ada pertemuan di aula yang diadakan oleh kaisar terkait dengan kejadian penyerangan Bastian. Selain membahas mengenai kerusakan yang mereka alami, kaisar juga berniat memberikan Natasha penghargaan karena telah menyelamatkan nyawa banyak orang termasuk kaisar dan keluarganya.


Di sana ada Natasha dan juga Lucas. Setelah kaisar dan keluarganya datang, semua perhatian mengarah ke mereka.


      "Mengingat kejadian beberapa minggu lalu, saya selaku kaisar akan mengeluarkan uang dengan jumlah besar untuk mengganti kerugian warga desa. Untuk masalah kekaisaran, akan diurus oleh pihak kekaisaran."


Kini kaisar menatap Natasha yang dengan tenang menikmati kue.


      "Saya juga secara pribadi sangat berterima kasih pada pahlawan kita yang telah menyelamatkan banyak nyawa termasuk saya. Mengingat bagaimana dia berjuang untuk menghentikan Bastian dengan serta menyelamatkan nyawa calon kaisar kita yang bahkan tabib kekaisaran pun tak bisa melakukannya."


Natasha masih sibuk memakan kue hingga mulutnya benar-benar penuh. Austin yang melihat itu sangat gemas dan ingin sekali menggigit kedua pipi Natasha.


Alex sejak tadi sudah memiliki rencana busuk dengan senyuman yang mengembang. Dia pikir bahwa kali ini pasti berhasil untuk memiliki Natasha.


      "Pahlawan kita adalah seorang ratu dari kerajaan Beverly. Ratu Natasha!"


Kini semua pandangan tertuju padanya, Natasha pun spontan melihat ke depan. Banyak bangsawan yang merasa kagum dan tak sedikit juga gemas melihat pipinya mengembang lucu.


Lucas pun segera memberikan kakaknya minuman agar bisa menelan kue-kue itu dengan mudah.


Setelah tertelan, Natasha hanya menyengir dan langsung berjalan mendekati kaisar. Dia berdiri dengan menatap Austin, lantas mengedipkan mata sebelahnya.


Austin yang senyum menahan malu itu membuat para bangsawan keheranan. Pasalnya pria itu bahkan tak pernah tersenyum. Beberapa gadis yang melihat itu menjadi kegirangan sendiri.


     "Dia sangat tampan ketika tersenyum."


      "Kau benar. Beruntung ratu Beverly dapat memikat hatinya."


      "Ya, ya. Aku dengar kalau Hellen diceraikan begitu saja karena pernikahan mereka atas dasar desakan dari kaisar. Memang pantas, sih dia diceraikan secara selama ini yang menerima kekurangan pangeran hanyalah ratu Beverly!"


Para gadis bangsawan mulai menggosip, Natasha dapat mendengarnya, tetapi mencoba menghiraukan.


Kaisar berdiri dari duduknya, menatap Natasha sembari tersenyum.


      "Sebagai bentuk penghargaan, saya akan memberik-"


      "Maaf, menyela kaisar!"


Semua pandangan kini mengarah pada Alex termasuk Lilian. Pria itu lantas berdiri dan berjalan ke arah kaisar, lantas mulai berbisik.


Terlihat raut kebingungan dari kaisar, tetapi akhirnya dia mengangguk.


Alex pun kembali ke tempatnya membuat Natasha malas untuk sekedar menatap pria itu.


Natasha tahu siapa yang sudah mendesak kaisar untuk memerintahkan Austin segera menikah dan tentu pelakunya adalah Alex. Natasha mengetahuinya dari Azalea.


      "Saya berniat untuk memperluas wilayah kerajaan anda di bagian barat, mengingat tanah kosong di sana sudah lama tidak ada yang membelinya. Juga anda akan diangkat menjadi selir pangeran Alex!"


Mendengar itu sontak semuanya terkejut. Lucas sendiri menyemburkan minumannya ke arah meja dan langsung berlari menuju sang kakak.


Terlihat Lilian sudah mengepalkan tangannya, seperti siap menghajar suaminya. Kesal pada Natasha tidak akan ada untungnya, jadi dia harus melampiaskannya pada suaminya, si biang keladi.


Austin yang hendak menyela pun dihentikan oleh permaisuri.


    "Bu?"


    "Tenang Austin. Natasha tidak akan menerima permintaan ayahmu."


Natasha tersenyum dan membungkuk, bermaksud memberi hormat.


     "Terima kasih atas penghargaannya. Saya menerima mengenai wilayah bagian barat, tetapi menolak untuk menjadi seorang selir!"


Lilian sudah menduganya. Siapa juga yang mau menjadi selir pangeran kekaisaran kalau sudah menduduki posisi ratu, karena mereka tahu selir tetaplah selir.


     "Saya sangat menyanjungi permintaan pangeran Alex, tetapi maaf saya sedikit merasa terhina dengan permintaan itu kaisar!"


Kaisar mengernyit dan bertanya mengapa demikian? Sementara Alex sudah mengepalkan tangannya kesal.


      "Bagaimana bisa anda meminta saya, seorang ratu kerajaan Beverly untuk menjadi selir? Anda tahu betul posisi selir itu seperti apa dan jika saya berada di posisi tersebut, itu artinya saya telah jatuh terlalu jauh dari menjadi ratu ke selir sekalipun itu selir pangeran kekaisaran!"


Natasha lantas menatap Austin dan tersenyum, membuat keyakinan pada pria itu agar tetap tenang.


      "Lagipula saya tidak berniat menikah dalam waktu dekat mengingat Lucas masih dalam masa pertumbuhan. Sekalipun saya dipaksa menikah, maka orang itu harus anak tertua anda. Saya bukan mengincar kedudukannya sebagai calon kaisar, tetapi karena saya sudah terlalu menyukainya sampai-sampai rasanya saya ingin menghabisi siapapun yang mendekati kami berdua."


Permaisuri nampak puas dengan ucapan Natasha, sementara Victoria memberika dua jempolnya pada Natasha.


     "Silahkan saja kaisar melarang kami berhubungan maka saya akan bertindak sangat jauh dari yang kaisar bayangkan. Maaf telah lancang mengucapkan kata-kata tadi, tetapi saya sangat serius kaisar. Lagipula dalam sejarah keluarga Beverly, tidak ada yang pernah memiliki selir atau menjadi selir dan hal itu akan saya teruskan sampai keturunan saya yang berikutnya."


Kaisar sendiri tertohok oleh ucapan Natasha. Memang sebelumnya dia pernah ingin mengangkat selir, membuat permaisuri akhirnya mendiaminya selama sebulan dan juga tidur secara terpisah.


       "Baiklah, maafkan atas permintaan saya."


Natasha tersenyum puas melihat raut wajah Alex yang tidak puas dengan semua ini. Dia menginginkan Natasha, bagaimana pun caranya.


     "Bermain-main denganku, Alex? Kebetulan aku suka sekali dengan sebuah tantangan. Aku tahu kau pasti sedang merencanakan siasat lainnya untuk menjauhkanku dari Austin. Aku tak sabar menantinya!" batin Natasha.


Bersambung...