Stuck In The Middle Ages

Stuck In The Middle Ages
20| Reinkarnasi?



Saat ini Natasha tengah menenangkan Austin. Dia meminta pria itu untuk tetap tenang, jangan pernah membuang tenaga hanya untuk meladeni manusia seperti Alex. Padahal sudah memiliki istri secantik itu, tetapi masih saja menginginkan Natasha. Jelas bahwa dia hanya iri pada Austin yang sekarang wajahnya telah menjadi sempurna.


"Tenanglah. Kau hanya akan membuang tenaga demi mengurusi dia. Lebih baik pikirkan dirimu, sebentar lagi kaisar akan turun dari posisinya dan kau harus segera menggantikannya."



"Kau benar. Hanya saja aku masih menunggumu, Natasha. Tidak mungkin aku menikah lagi untuk kedua kalinya, tetapi bukan denganmu. Aku tidak mau hal itu terjadi!" ucap Austin khawatir. Pria tampan dengan hidung bak seluncuran itu menatap manik indah sang pujaan hati.


Natasha menangkup kedua pipi Austin, lantas tersenyum manis.


"Buat perlombaan, maka yang menang akan resmi menjadi milikmu!"


Mendengar itu Austin sontak menggeleng. Jika Natasha mau, sekarang juga mereka bisa menikah.


"Tidak. Aku sudah bilang hanya menginginkanmu bukan orang lain. Jangan buat aku memilih, aku tidak suka!"


Lagi Natasha menenangkan Austin.


"Jika kau membuat lomba itu, maka aku akan ikut. Pastinya akan banyak yang tertarik, tetapi buatlah lomba yang mampu membuat sebagian peserta langsung mundur."


Austin terdiam. Dia ingin, tetapi takut jika yang menang nantinya bukan Natasha.


"Jangan remehkan aku, Austin. Aku tidak mungkin selemah itu sampai-sampai harus menyerah lebih dulu. Jika lomba ini diadakan, maka tidak akan ada yang bisa mengatakan bahwa aku mempengaruhimu untuk menikahiku. Hal ini akan terlihat adil di mata warga juga para bangsawan."


Austin pun mengangguk setuju, dia juga tidak meragukan Natasha. Hanya, Austin takut akan ada sesuatu yang tak mengenakan terjadi nantinya.


"Baiklah, kau bisa berdiskusi bersama kaisar dan permaisuri untuk mementukan lomba seperti apa bagusnya. Pulanglah, hari juga sudah sore. Kau tidak bisa terus-terusan datang ke mari, bukan?"


Austin mengangguk pasrah, benar-benar pria yang menurut, batin Natasha.


Malam tiba, saat itu Natasha tiba-tiba bermimpi buruk mengenai dirinya yang terjebak di dalam kegelapan. Dirinya menggunakan pakaian seaktu tidur di kos dan berteriak, tetapi suaranya justru menggema.


Kepanikan melanda saat merasakan atmosfir di sekitarnya berubah drastis. Natasha bisa mendengar suara jeritan, isakan histeris serta tertawa yang melengking.


Dia menutup kedua telinganya sembari memohon meminta untuk berhenti. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya hingga membuatnya tersadar dari tidur. Dilihat ke samping, kucing berbulu putih miliknya tengah menatapnya.


Natasha lantas mulai mengatur napasnya, mencoba untuk tidak mempedulikan mimpinya tadi hingga sebuah ketukan di jendela kamar, membuatnya menoleh. Dia bisa melihat Azalea tengah berdiri di tempat biasa dia melapor.


Lantas gadis berambut pirang itu segera beranjak dari sana dan mulai membuka jendela. Ditatapnya langit yang masih lumayan gelap.


"Ada apa?"



"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, tetapi saya mendapatkan berita penting. Beberapa prajurit yang ratu perintahkan untuk menelisir area barat kembali hanya beberapa saja bahkan diantaranya ada yang terluka. Saya sudah coba bertanya dan mereka mengatakan bahwa tempat itu memiliki penghuninya."


Natasha mengernyit, memiliki penghuni? Jika iya, mengapa kaisar tidak memberitahukan detailnya.


"Di sana terdapat sebuah gua yang mana akan terdengar suara aneh setiap kali mereka menginjakan kaki ke wilayah itu!"


Natasha mengangguk mengerti. Besok dia dan Lucas akan memeriksanya.


Keesokan harinya kedua kakak beradik itu pergi, mereka menitipkan kerajaan pada kakeknya. Kebetulan saat itu sang kakek berada di kerajaan, kecuali neneknya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir setengah hari, mereka tiba. Terlihat tempat itu tidak terlalu banyak ditumbuhi oleh pepohonan dan rumpur liar. Natasha menghirup udara segar wilayah itu.


"Tempat ini masih belum ada yang mengusiknya. Jadi, di mana gua yang kalian maksud?" tanya Natasha pada prajuritnya.


Mereka lantas menunjuk ke sisi kanan tempat semuanya berdiri.


"Ratu akan menemukan gua ketika melewati pohon besar itu. Setiap kami ingin melakukan pengecekan agar terhindar dari binatang buas, suara aneh itu selalu muncul!" jelas salah satu prajurit.


Natasha mengangguk mengerti, lantas mengajak Lucas untuk mengecek bersamanya.


"Aku dan Lucas akan pergi melihatnya jadi kalian di sini saja bersama Azalea. Jika kami tidak kembali dalam waktu satu jam atau lebih, segera menghindar!"


Natasha akhirnya berjalan bersama Lucas sesuai dengan arahan prajuritnya. Benar saja, mereka baru berdiri di depan sebuah pohon yang ukurannya sangat besar, suara aneh terdengar.


"Kak, itu guanya!" ucap Lucas sembari menunjuk lurus.


Natasha menatap gua yang terlihat lumayan mencurigakan. Lantas keduanya bergegas mengecek, apa yang bersuara sejak tadi.


Baru berada di mulut gua, keduanya merasakan dingin yang menjalar di seluruh tubuh. Terpaksa Natasha harus mengeluarkan sihir api level lima agar mereka tetap hangat.


Mereka masuk dengan hati-hati, sesekali Natasha melihat ke arah dinding gua. Hingga matanya menangkap sebuah gambar.


"Seperti zaman purba saja!" gumamnya, beruntung Lucas tak mendengarnya.


Melihat adanya jalan bercabang, Natasha dan Lucas memutuskan untuk berpisah.


"Aku akan ke arah kiri!" ucap Lucas tanpa rasa takut, langsung menyalakan sihir api level tiga dan berjalan lebih dulu.


Dia memperhatikan area sekitar, sesekali menengok ke belakang, takut jika ada yang mengikutinya. Setelah beberapa waktu berjalan, Lucas seperti melihat cahaya di depan, karena memang gua itu gelap.


"Oh, ada cahaya!"


Dia mempercepat langkahnya dan hendak memasuki cahaya itu sebelum akhirnya seseorang menarik tangannya kembali hingga menimbulkan bunyi sampai ke telinga Natasha.


"Heh, itu suara Lucas. Apa terjadi sesuatu dengannya?"


Saat akan berjalan kembali, Natasha tidak tahu mengapa tempat itu menjadi licin hingga akhirnya dia terjatuh dan bergerak entah ke arah mana. Saat akan menabrak batu, segera dia menghentikan laju tubuhnya menggunakan sihir angin.


Helaan napas lega terdengar. Natasha menyalakan api menggunakan tangan kirinya dan melihat ke arah sekeliling. Betapa terkejutnya Natasha ketika dia tiba di suatu tempat yang membuatnya khawatir.


"Kenapa tempat ini rasanya seperti pernah aku datangi?"


Natasha mencoba mengingatnya, setelah beberapa saat akhirnya dia tahu.


"Benar. Saat liburan bersama Prita. Kita sempat memasuki gua yang tempatnya mirip dengan ini, lantas apa hubungannya?"



"Tentu ada!"


Natasha spontan melihat ke belakang dan melihat ada seorang pria berdiri tak jauh dari tempatnya. Natasha mengernyit heran dan mulai waspada.


"Tenang, aku tidak akan menyakitimu. Biar kuberitahu, kau adalah gadis yang pernah memasuki gua dan sama persis dengan tempat ini. Benarkan?"


Natasha mengangguk pelan membuat pria itu tersenyum.


Natasha semakin tidak mengerti dengan kata terhubung.


"Maksudnya?"


Tiba-tiba pria itu seperti menunjukan sebuah layar transparan tepat di depan Natasha hingga gadis itu terkejut.


"Lihatlah tubuhmu yang beraktivitas seperti biasa bahkan saat ini sedang menghabiskan waktu bersama temanmu."


Natasha terkejut bukan main. Apakah mereka bertukar jiwa atau apa?


"T-tubuhku ... Aku pikir itu kosong!"


Pria itu lantas menghentikan layar transparan itu hingga perhatian Natasha kembali padanya.


"Selesaikan tugasmu. Setelah selesai, maka aku akan memberitahukan yang sebenarnya hingga bagaimana wajah serta nama kalian bisa sama. Selama ini kau sudah mengubah sebagian alur dari takdir dari pemilik tubuh yang kau tempati. Hanya sebagian, karena kau masih tidak mengerti maksud dari semua ini. Hanya saja jika kau mengubahnya maka masa depan juga akan ikut berubah."


Natasha masih diam, dia mencoba untuk mencerna semua ini.


"Kembalilah dan datang ke sini lagi setelah tugasmu selesai. Kau harus bisa menyelamatkan nyawa Austin serta dirimu sendiri dari organisasi itu. Mereka mengincar kalian berdua. Berada di sisinya juga tidak masalah, tetapi tetaplah berhati-hati."


Kepala Natasha rasanya berputar, dia sulit untuk mencerna semua ini karena terlalu mendadak. Datang ke sini saja sudah tidak masuk akal.


"Sekarang kau akan tertidur!"


Tiba-tiba Natasha kehilangan kesadaran dan akhirnya pingsan atau tertidur, mungkin?


Di sisi lain, Lucas yang berhasil di tarik itu lantas mulai menjaga jarak.


"Siapa kau?" tanyanya waspada dengan nada tegas.



"Jangan sembarangan masuk ke sana, bisa-bisa kau langsung tembus ke masa depan!"


Mendengar itu Lucas mengernyit heran. Masa depan?


Terlihat seorang bocah laki-laki yang lebih muda darinya menampakan diri. Terdapat luka di sisi kiri pipinya.


"Aku tanya siapa kau dan mengapa bisa ada anak-anak di sini?"


Anak laki-laki itu mengendikan bahunya.


"Tempat tinggalku memang di sini bersama kakak. Lagipula kalian tidak sopan main masuk ke gua milik orang."


Lucas mengernyit tidak paham. Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.


"Kembalilah, kakakmu sudah menunggu di depan gua!"


Mendengar itu Lucas tak mau ambil pusing dan memilih untuk pergi saja.


"Kakak, jadi bagaimana?" tanya bocah laki-laki itu.



"Sebentar lagi akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran dan hal itu menentukan apakah nasib nona Natasha dapat diubah atau tidak. Kita sudah menemukan reinkarnasinya selama ribuan tahun lamanya. Jika dia berhasil menyelamatkan pangeran Austin, maka mereka akan dipertemukan di masa depan lagi. Jika tidak, maka maut adalah takdir nona Natasha!"


Mendengar itu membuat bocah tersebut mengangguk paham.


"Menurut kakak, apakah dia juga akan bertemu dengan adiknya di masa depan? Secara reinkarnasi itu nyata jadi pasti mereka hidup kembali, tetapi dengan zaman yang berbeda."



"Kita hanya dapat menduganya tanpa tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Nona natasha sendiri yang meminta untuk membiarkan reinkarnasinya yang menyelamatkan masa depannya sendiri. Aku hampir mati bosan menunggu dia menemukan tempat ini dan beruntungnya para prajurit itu yang lebih dulu lihat. Aku pikir wilayah ini akan selamanya kosong, ternyata kaisar telah memberikannya pada kerajaan Beverly. Ini akan memudahkan nona Natasha, karena guanya berada di dalam wilayah miliknya."



"Oh, aku lupa mengenai hewan peliharaan kakak. Berikan dia makan, jika tidak dia akan membuat suara-suara aneh dan manakut-nakuti penduduk desa yang akan tinggal di sekitar sini!"



"Ohoho, kau benar. Kita juga harus berterima kasih pasanya, berkat dia para prajurit itu menemukan tempat kita."


Lucas akhirnya kembali ke mulut gua dan menemuka Natasha yang tertidue di bawah pohon besar. Dia lantas berlari dan membangunkan sang kakak.


"Kak, bangun!"


Natasha terkejut dan malah bertanya jam.


"Oh, jam berapa sekarang. Aku harus mandi untuk kuliah!"


Mendengar itu membuat Lucas mengernyit heran.


"Kakak, banguuun!" teriaknya membuat Natasha langsung berdiri.



"Oh, sudah berapa lama aku tertidur? Sepertinya aku bermimpi aneh!"


Keduanya pun kembali, terlihat raut khawatir dari Azalea dan para prajurit.


"Astaga, ratu, pangeran!"


Azalea merasa bersyukur keduanya kembali dengan selamat. Tadi mereka sudah memasuki gua, hanya saja tempat itu justru buntu, karena keduanya tidak kembali-kembali hingga hari menjelang malam.


"Kami pikir anda mendapat masalah. Kami sudah memasuki gua untuk mencari ratu dan pangeran, tetapi hanya ada jalan buntu!" ucap Azalea menjelaskan membuat keduanya kebingungan.



"Bohong, ya? Tadi saja aku dan Lucas masuk ada dua jalan jadi kami berpisah."


Mendengarnya membuat mereka sontak terkejut berjamaah.


"Sudahlah, lebih baik kita kembali. Ada hal yang harus aku persiapkan. Kita juga harus memperkuat pertahanan mengingat musuh dari orang tuaku masih hidup dan mereka jelas akan mengincarku juga Lucas."


Bersambung...