Stuck In The Middle Ages

Stuck In The Middle Ages
24| END



Hari ini Natasha telah kembali berkuliah. Rasanya dia sudah bertahun-tahun meninggalkan tubuhnya, ternyata setahun di abad pertengahan sama saja dengan setengah minggu. Entahlah, tetapi itu yang Natasha rasakan.


Hari ini universitas mereka kedatangan mahasiswa yang melakukan pertukaran. Natasha dan Prita sedang asik menunggu makanannya di kantin.


     "Bu Marninya lama, aku ambil gorengannya dulu, ya!"


Prita hanya mengangguk, lantas Natasha berjalan menuju tempat gorengan berada. Setelah selesai mengantri dan mengambil gorengannya, Natasha mendengar suara para gadis yang kehebohan. Beberapa mengatakan betapa tampannya mahasiswa pertukaran itu.


Natasha lantas berbalik dan hendak kembali ke tempat duduknya, tetapi tubuhnya membeku di tempat ketika manik hitamnya bertemu dengan manik biru laut.


Seorang pria yang berdiri tak jauh dari Natasha tersenyum dengan sangat manis membuat para gadis berteriak heboh.


    "I found you!" ucapnya dengan berjalan perlahan mendekati Natasha.


Pria itu tersenyum dan langsung memeluk gadis itu. Prita yang sedang minum air sampai tersedak melihatnya.


     "Gila, ternyata siswa pertukaran itu kenal Natasha."


     "Wah, gosip panas ini!"


     "Irinya!"


Natasha dapat merasakan tubuhnya gemetar dengan matanya yang memanas. Piring gorengan itu tiba-tiba saja hingga membuat suasana kantin menjadi diam.


Dia tiba-tiba menangis membuat pria itu tersenyum dan mengelus lembut gadis yang telah menunggunya.


     "Maaf membuatmu menunggu lama."


Seisi kanting terkejut melihat Natasha yang tiba-tiba saja dipeluk oleh salah satu mahasiswa pertukaran. Prita spontan berdiri dan mendekati keduanya.


    "N-Natasha, kau kenal dia?" tanyanya membuat pria itu segera melepas pelukannya dan menatap teman Natasha.


     "Kau pasti temannya. Aku Austin!" Segera pria tampan itu menjabat tangan Prita membuat para gadis berjerit iri. Sedangkan Prita sendiri menatap tangannya yang baru saja dijabat oleh seorang pria tampan dengan wajah yang bukan dari negaranya.


     "Ayo ikut aku, kita harus berbicara bagaimana susahnya aku selama mencarimu!"


Setelah meninggalian kantin, keduanya melangkah menuju sebuah pohon yang tak jauh dari kantin. Natasha masih tak percaya bahwa pria yang berdiri di depannya ini adalah Austin.


     "I-ini benar-benar kau?" tanyanya hampir tak percaya.


Austin mengangguk sembari menggenggam kedua tangan Natasha.


     "Aku sudah menunggu dalam waktu yang lama. Akhirnya kita bertemu. Andai saja waktu itu aku menolak permintaan dekan untuk melakukan pertukaran mahasiswa, mungkin kita akan bertemu beberapa tahun lagi. Aku sangat merindukanmu!"


Austin meletakan kepalanya di pundak Natasha.


     "Setelah kejadian waktu itu, aku sama sekali tidak menikah dengan siapapun dan memilih untuk memberikan kedudukan kaisar pada Alex. Natasha, bahkan dikehidupan inipun aku masih mencarimu dan akhirnya kita bertemu. Aku sangat senang!"


Natasha lantas mengelus pelan rambut Austin.


     "Terima kasih ... Terima kasih karena sudah mau menungguku. Kau tahu, setelah aku kembali ke tubuh asliku, aku merasa hampa. Beruntung ada Prita yang selalu ada untukku!"


     "Kita akan memulai awal yang baru dan aku juga tidak akan segan-segan untuk melindungimu dari para gadis yang mencingarmu. Oke!"


Austin mengangguk hingga akhirnya seorang gadis berambut pirang datang menghampiri keduanya. Hidung mancung bak seluncuran serta bibir yang tidak terlalu tebal itu menatap tak suka pada Natasha.


     "Austin, kita harus kembali ke kelas. Kau lupa kalau ada kelas tambahan!" Gadis itu sesekali melirik sinis pada Natasha.


Natasha langsung peka bahwa perempuan di depannya itu jelas menyukai Austin. Bibirnya tersenyum lalu mulai membuat Austin mengangkat kepalanya. Dia juga menangkup kedua pipi pria tampan itu dan menatap manik indahnya.


     "Ingat kata-kataku tadi."


Natasha spontan mengecup pipi Austin membuat pria itu terkejut sekaligus senang, sementara perempuan tadi sudah menggeram kesal. Ketika hendak meraih tangan Austin, dia lebih dulu menjauhkan tangannya.


     "Aku ke kelas dulu. Oh benar, berikan nomormu!"


Setelah bertukar nomor, Austin segera pergi dan disusul oleh perempuan tadi.


     "Hm, sepertinya perempuan tadi menyukai Austin. Oke, kita lihat apakah Austin akan tertarik dengannya atau tidak!"


Natasha tersenyum lantas mulai pergi. Sore harinya Austin meminta dia untuk menunggu di gerbang kampus. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pria itu menampakan wujudnya.


     "Maaf membuatmu menunggu lama!"


Natasha menggeleng sembari menebarkan senyum hangatnya.


     "Kenapa kau menyuruhku menunggu di sini?" tanyanya, dia bahkan meminta Prita untuk pulang sendiri hanya untuk menunggu Austin.


      "Mau berkencan denganku?" tawarnya, terlihat jelas raut kegugupan di wajah Austin serta pipinya yang menunjukan semburat merah membuat Natasha tak dapat menahan tawanya.


      "Ahahaha, wajahmu memerah. Kenapa harus bertanya? Tentu aku mau!"


Natasha pun mulai menggenggam tangan Austin dan menatapnya dengan hangat.


     "Aku tahu restoran yang paling enak dan harganya terjangkau untuk anak kuliahan. Ayo!"


Setelah kepergian keduanya, perempuan pirang tadi muncul dengan mengepalkan kedua tangannya.


     "Gadis sial*n itu!"


Malam harinya Natasha sudah berada di kamar kosnya. Dia menatap layar ponsel di mana tadi dirinya dan Austin berfoto ria.


     "Benar, wajah ini yang selalu ingin aku lihat."


Natasha pun akhirnya memilih untuk pergi tidur, tetapi akhirnya mengurungkan niat ketika mendengar suara gaduh dari luar.


Ketika hendak mengintip dari balik jendela, tiba-tiba dia mendengar ada seseorang yang berniat untuk membuka paksa pintu kosnya.


Bukannya takut, dia justru pergi ke sisi kiri lemari pakaian dan mulai mengambil pemukul bisbol milik temannya yang sempat dititipkan. Natasha memegang erat pemukul itu sembari bersiap di depan pintu. Maksudnya adalah ketika seseorang itu berhasil membukanya, maka Natasha akan langsung memukulnya tanpa ampun.


Ketika pintu terbuka dan menampilkan seseorang menggunakan topeng, Natasha tak menunggu lama lagi. Dia langsung memukul orang itu tanpa ampun. Mulai dari kepala, lengan, kaki bahkan pinggangnya pun terkena pukulan Natasha.


Suara umpatannya terdengar sampai ke tetangga kos membuat mereka terbangun dan terkejut melihat Natasha tengah memukuli seseorang hingga tak berdaya.


Seorang perempuan segera menjauhkan Natasha dan mengatakan untuk berhenti.


     "Berhenti Natasha, dia sudah tidak sadarkan diri. Sebaiknya kita lapor pada pihak kepolisian!"


Keesokan harinya Natasha dimintai mendatangi kantor polisi. Gadis itu dengan kesalnya memasuki sebuah ruangan dan bertemu dengan pelaku yang membobol rumahnya.


     "Kami sudah mengintrogasinya dan menurut pelaku, motifnya melakukan pembobolan kos anda adalah karena ada yang menyuruh pelaku untuk melakukannya. Dia juga disewa sebanyak lima puluh dollar untuk melukai anda!"


Natasha menghela napas lalu membuangnya. Dia jelas kesal, tetapi berusaha untuk menutupinya.


     "Soal itu, kami sedang memaksanya untuk berbicara, tetapi sepertinya akan sedikit sulit!" ucap kepala kepolisian membuat Natasha terdiam sejenak.


     "Biarkan saya berbicara dengannya. Tenang aja, dia tidak akan bisa melukai saya!"


Akhirnya Natasha pun berada di dalam ruang introgasi bernama pria itu dan juga seorang polisi.


Natasha sendiri nenatapnya dengan datar.


     "Siapa pelakunya?" tanyanya, tetapi pria itu hanya menatapnya sekilas lantas beralih menatap arah lain.


Natasha menghembuskan napasnya kesal. Dia lantas mulai sedikit mencodongkan badannya dan menatap manik pria itu dengan serius.


     "Aku pandai mencaritahu latar belakang seseorang yang mencari masalah denganku. Sekalipun aku dari keluarga biasa saja, tetapi akan aku caritahu sampai ke akarnya dan jika sudah mengetahuinya maka ... Aku tidak segan menyiksa keluargamu!" ancamnya membuat pria itu langsung menatapnya terkejut.


Natasha tersenyum dan hendak beranjak dari sana, tetapi pria itu dengan cepat menghentikannya.


    "Aku mohon, jangan sakiti mereka. Aku melakukan semua ini hanya untuk mereka bisa makan setiap hari!"


Natasha berbalik menatap pria itu.


     "Katakan, siapa yang sudah menyuruhmu untuk melukaiku? Jika kau katakan, akan aku cabut surat tuntutannya dan tidak membiarkan publik mengetahui perbuatan burukmu!"


Dia terlihat menelan salivanya lantas mulai berbicara lagi.


     "A-aku tidak tahu namanya, tetapi dia memiliki rambut pirang dengan hidung yang seperti seluncuran. Juga bahasa negara kita lumayan buruk jadi aku pikir dia bukan orang asli sini. Kalau tidak salah dia berkuliah di universitas xxx."


Natasha tiba-tiba tersenyum, lalu mulai paham siapa pelaku yang sudah berani menyewa orang untuk mencelakainya.


    "Oke, terima kasih atas jawabanmu. Aku sudah merekam semua ucapanmu dan ciri-cirinya sudah aku kenali, jadi aku akan mencabut surat tuntutannya. Saatnya menendang dia untuk keluar dari negara kita!"


Natasha pun pergi dengan ponsel yang berada di saku bajunya. Sejak tadi dia merekam semuanya dan segera meminta pihak kepolisian mencabut surat tuntutannya.


Akhirnya dia tiba di kampusnya, tak jauh dari sana matanya menangkap seorang gadis berambut pirang tengah tertawa senang. Berpikir bahwa Natasha berhasil dilukai dan tak akan ada yang mendekati Austin lagi.


    "Ah, bahkan rasanya seperti aku mulai posesif!"


Bertepan dengan itu datanglah Austin. Dia menghampiri Natasha dan mulai memeriksa lengan serta wajah gadis itu.


     "Kau tidak apa-apa, kan? Tadi aku ke kosmu dan kata tetangga kos, kau ke kantor polisi karena kejadian semalam. Orang itu tidak melukaimu, kan? Katakan padaku!"


Terlihat jelas raut khawatir dari seorang Austin. Natasha lantas tersenyum dan menunjukan rekaman di mana pelaku mengakui telah disewa oleh seorang perempuan untuk melukainya.


"Aku sudah tahu orangnya!"


Natasha menarik tangan Austin untuk pergi menemui temannya itu. Terlihat pulak gadis tersebut berhenti tertawa ketika melihat Natasha yang baik-baik saja bahkan dia membawa Austin juga.


Kini keduanya telah saling berhadapan dengan Natasha yang tersenyum miring ke arah gadis itu.


"Apa?" tanyanya dengan sesekali menatap ke arah Austin.



"Kau mau mengakuinya atau aku sendiri yang menyebarkan kelakuan busukmu di depan publik?" tanya Natasha membalik, membuat gadis di depannya gelagapan.



"A-apa maksudmu, kalau tidak ad ... "


Natasha segera mengeluarkan rekaman tadi dan membesarkan volume ponselnya hingga terdengar oleh mahasiswa yang lain.


"Di kampus ini tidak ada yang memiliki rambut pirang dengan ciri-ciri yang sudah disebutkan, karena mayoritas orang di sini tidak suka pirang. Juga bahasamu lumayan buruk, jadi kau mau mengakuinya atau aku akan menyeret pria itu untuk melihat dan mendengar langsung suaramu!"


Mereka yang ada di sana terkejut bukan main.


"Jangan asal menuduhku. Kau pikir aku terlalu senggang sampai-sampai harus menyuruh orang untuk melukaimu? Aku bahkan tidak tahu kau mengekos di mana!"


Natasha kembali tersenyum penuh arti, membuat gadis itu kembali kebingungan.


"Jadi, kau sudah menyelidiki latar belakangku? Padahal Austin saja tidak tahu aku mengekos atau tidak, tetapi kau tahu."


Austin sudah menatap nyalang pada temannya itu karena berani menyakiti Natasha.


"Kau mau meminta maaf atau perlu aku mempermalukanmu?" tanya Natasha mengancam.



"K-kau ... Aku tidak sudi untuk sekedar mengatakan kata maaf padamu. Kau sudah berani mengambil Austin dariku jadi itulah balasan dariku karena berani mendekatinya, jala\*g!"


Austin mendengar itu langsung naik pitam, ketika hendak berbicara Natasha lebih dulu menampar kedua pipi gadis itu secara bergantian sebanyak dua kali hingga pipinya memerah. Mahasiswa yang ada di sana menatap mereka dengan panik.


"Katakan sekali lagi maka aku akan menghajarmu sampai kau tak berani lagi menginjakan kaki ke negaraku!" ancamnya membuat Austin tersenyum dan membatin.



"That's my girl!"


Setelah kejadian itu banyak siswa yang tak berani mendekati Austin. Mereka tak menyangka bahwa sosok Natasha yang kelihatan lemah lembut bisa menjadi singa betina yang galak. Bahkan Prita juga tidak menyangka temannya bisa sekeren itu.


Beberapa tahun kemudian Natasha telah menyelesaikan kuliahnya, dia bahkan bekerja di salah satu perusahaan yang ternyata sedang melakukan kerjasama dengan klien luar negeri dan Natasha akan melakukan presentasi di depan mereka.


Sudah lama sejak kepulangan Austin ke negaranya, keduanya harus melakukan hubungan jarak jauh atau LDR, membuat Austin selalu mengeluh karena ingin terus berada di dekat Natasha. Dia bahkan sering mengadu di pesan bahwa banyak perempuan yang genit padanya.


Saat pertemuan itu dilakukan, Natasha memasuki ruangan dan terkejut melihat klien perusahannya kali ini. Seorang pria dengan jas hitam yang rapi menatap hangat manik Natasha lantas tersenyum.


"Halo!" ucapnya pada Natasha, tetapi hanya gerakan mulut saja.


Natasha membalasnya dengan senyuman. Setelah selesai rapat, pria itu segera mencari Natasha dan mengajaknya untuk dinner. Tentu saja dia akan menerimanya.


Malam harinya Natasha sudah datang dengn dress yang telah dipilihkan oleh Prita. Ketika memasuki sebuah cafe, Natasha terkejut melihat tempat itu banyak digantungi foto dirinya. Jika dilihat, itu foto ketika Natasha sedang melakukan kegiatan, berjalan, makan di kantin dan tertawa bersama Prita.


Detik berikutnya lampu cafe dimatikan, lantas lampu kembali menyala dan menampilkan Austin sudah berdiri di depan Natasha dengn stelan jas yang membuatnya semakin berwibwa.


Hampir saja Natasha memukul wajah Austin, pris itu berjongkok dan mulai menunjukan sebuah cincin.


"Maukah kau menghabiskan sisa umurmu untuk menemani masa tuaku?"


Natasha shock, seketika air matanya keluar dan akhirnya dia menangis. Disela-sela tangisan bahagianya, Natasha mengangguk membuat para pekerja di cafe bersorak gembira, sementara Austin sudah memeluk gadis itu erat.


"Terima kasih!"


Tamat