
Hari ini adalah hari di mana paling ditunggu-tunggu oleh banyak gadis bangsawan termasuk Natasha. Banyak yang sudah berada di lokasi dan telah membaca peraturan untuk lomba tersebut.
Austin terlihat tidak senang melihat pesertanya lumayan banyak. Matanya sejak tadi mencari-cari Natasha dibarisan peserta. Saat ini kaisar sedang memberikan arahan apa yang boleh dan tidak selama perlombaan dimulai.
"Kalian hanya boleh menangkap setidaknya lima ekor kelinci hutan yang masih hidup dan membawa tanaman rambat dengan warna khasnya yaitu ungu. Bagi peserta pertama yang berhasil membawanya tepat di sini, maka dia pemenangnya."
Beberapa peserta mulai bergosip, mereka juga tak melihat kehadiran seorang Natasha.
"Aku yakin, pasti Natasha itu tidak akan datang. Secara dia seorang ratu dan adiknya belum bisa menggantikan posisinya!"
"Kau benar. Peluang kita untuk menang pasti sangat besar!"
Mereka terlihat sombong, tidak tahu saja Natasha telah mengenakan pakaian yang dibuatnya pada malam hari hingga orang-orang tak mengenalinya. Bahkan saat dia keluar dari kamar menggunakan pakaian buatannya, Lucas hampir menyerang Natasha jika gadis itu tak segera membuka topengnya.
Loma pun dimulai, mereka diminta untuk memasuki hutan. Menurut prajurit yang mengecek hutan tersebut, aman.
Natasha masuk dengan menaiki sihir angin. Beberapa gadis bangsawan ada yang membawa panah, pedang juga belati untuk berjaga-jaga. Walaupun terbilang aman, belum tentu tidak ada bahaya.
Baru memasuki hutan, Natasha sudah memiliki firasat buruk. Matanya menatap awas di area sekitar dia berdiri dan mulai kembali mencari kelinci hutan.
Menurut informasi, kelinci hutan sangatlah lincah. Bahkan prajurit terlatih pun kesulitan untuk menangkapnya, selain itu populasi mereka juga yang semakin langka membuat para gadis itu susah untuk mencari.
Ada yang menggerutu karena kakinya tergores kayu, ada juga yang mengeluh lelah karena tidak pernah berjalan jauh. Bahkan tak sedikit yang mengatakan ingin menyerah.
Natasha mengintip dari balik pepohonan. Dia melihat satu kelinci hutan berwarna cokelat sedang memakan rumput. Lantas ia mulai menyiapkan anak panah dan diarahkan ke kelinci tersebut.
Ketika sedang membidik, Natasha melihat ada seorang gadis yang hendak menangkapnya menggunakan tangan kosong. Terpaksa Natasha menghentikan bidikannya dan memilih untuk memperhatikan pesaingnya itu. Namun, sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi. Gadis tadi tiba-tiba diserang oleh puluhan bola api membuat Natasha spontan mengeluarkan sihir pertahanan dan melindungi gadis tadi.
Bola api tersebut terus menghantam sihir pertahanan membuat gadis tadi hanya bisa berlindung dibalik tubuh Natasha.
"Pergilah dari sini dan kalau bisa kembali ke tempat awal. Beritahu kaisar, perlombaan ini sepertinya akan gagal. Kita kedatangan musuh!"
Gadis itu menatap mata Natasha, lantas mengangguk. Segera mereka berdua bergerak mundur hingga perempuan tadi bisa menghindar dan berlari. Setelah dirasa cukup jauh, Natasha pun menaiki sihir angin dan berlindung dibalik pepohonan.
Dia bisa merasakan energi yang begitu besar. Beberapa pohon telah terbakar hangus hingga menimbulkan kepulan asap membuat Austin terhenyak melihatnya.
"Ayah, lihat!" Austin mengarahkan ayahnya untuk melihat ke arah kepulan asap yang keluar dari tengah hutan.
Awalnya kaisar berpikir mungkin salah satu peserta tak sengaja mengeluarkan sihir api hingga membakar beberapa pohon.
"Ayah, sepertinya ada yang tidak beres!"
Lagi, Austin menunjukan para kawanan burung yang terbang menjauhi hutan tersebut. Terlihat juga para hewan yang menempati hutan tersebut berlari keluar dengan suara khas mereka.
Kaisar pun mulai merasa panik dan tiba-tiba saja sekelompok orang menggunakan jubah hitam sudah mengelilingi mereka. Austin bisa merasakan bahwa akan terjadi hal yang buruk.
Di sisi lain terlihat Natasha yang ternyata posisinya ketahuan hingga dia harus pintar menghindari bola api yang selalu saja mengincarnya.
"Kalau aku terus menghindar, bisa-bisa aku membawa orang itu ke peserta yang lain."
Natasha akhirnya memilih untuk mengeluarkan api hitamnya dan membalas serangan tadi. Hasilnya pria yang mengejarnya berhenti. Keduanya kini saling menjaga posisi masing-masing.
"Kenapa kau mau menyerang para peserta?" tanya Natasha sebelum akhirnya seseorang itu melepaskan tudungnya dan menampakan wajahnya.
Betapa terkejutnya Natasha mengetahui siapa yang hendak melukai peserta tadi.
"Hellen?"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang melengking mampu membuat Natasha merinding.
"Apa maumu?" teriak Natasha diselingi dengan rasa waspada.
"Hellen jelas tidak memiliki energi sebesar ini. Apa yang sudah dia lakukan selama ini?" Natasha membatin sembari menduga-duga.
"Lama tidak berjumpa, Natasha!"
Natasha terkejut mendengar suara yang keluar dari mulut Hellen. Hampir mirip dengan suara seorang pria dewasa juga sedikit serak.
"Apa kau menunggu kedatanganku untuk merebut kembali apa yang sudah menjadi milikku, hm?"
Natasha mengernyit, pasti yang dia maksud adalah Austin. Lantas ia mulai tersenyum dan menegakan badannya.
"Hebat juga kau bisa tahu kalau ini, aku!"
Natasha pun membuka topengnya hingga terlihat jelas wajah cantiknya.
"Hahaha, apa yang tidak hebat dariku? Sekarang aku sudah jauh lebih kuat berkat bantuan dia!"
Natasha mengerti maksud dari Hellen, dia lantas hanya mengangguk.
"Jadi kau berniat mengambil kembali Austin?" tanya Natasha yang sebenarnya sedang mempersiapkan mental. Dia hanya tidak menyangka bahwa Hellen benar-benar melakukan semuanya sejauh ini hanya untuk mendapatkan kembali Austin.
"Dari awal, dia memang milikku!"
"Hm, mungkin dia sudah terobsesi!" gumam Natasha.
"Dari awal kau hanya mengincar posisi permaisuri saja. Padahal sebelum Austin seperti sekarang, kau yang paling bersemangat untuk menghinanya. Apakah kepalamu terbentur hingga melupakan semua perbuatan menjijikanmu?" Natasja berucap dengan sangat lantang dan mampu memancing emosi Hellen.
Memang pada dasarnya kesabaran Hellen seperti sehelai rambut.
"Mau merebut Austin? Pertarungan ini akan menentukan siapa yang paling layak!" Natasha tersenyum miring dan kemudian mengenakan kembali topengnya.
Terlihat Hellen yang sudah marah, mengumpulkan bola-bola api hingga menjadi besar, sementara Natasha mencoba menjaga jarak untuk mengindari bola api itu. Dia lantas mengeluarkan anak panah dan mulai menbidik ke arah Hellen, lalu mengalihkannya ke bola api.
Terlihat percikan petir mulai mengalir dari tangan kanan ke ujung anak panah.
Natasha mulai melepaskan anak panahnya hingga melesat jauh menuju bola api tersebut. Lamtas petir mulai menyebar dan nenyetrum tubuh Hellen yang masih terhubungan dengan bola apinya.
Dia berteriak dengan sangat keras sampai-sampai membuat Austin dan kaisar terkejut.
"Siapa kalian dan mau apa?" tanya salah satu prajurit.
Para prajurit itu terlihat mengelilingi kaisar dan Austin, bermaksud melindungi keduanya. Tiba-tiba seorang pria bertudung maju. Lantas tudungnya di lepas dan mulai menatap kaisar.
"Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu langsung dengan kaisar. Ah, salam pangeran Austin!"
Kaisar mengernyit, wajah pria di depannya itu sangat tidak asing.
"Pasti anda sedang menebak wajah saya mirip dengan siapa. Bagaimana jika kita mengingat kembalu peristiwa yang merenggut habis nyawa keluarga saya?"
Seketika kaisar terkoneksi dengan maksud pria itu. Tentang kematian keluarta Dixon. Rumor tentang anaknya yang masih hidup ternyata memang benar.
"Setelah bertahun-tahun menghilang, sekarang baru kau menampakan wujudmu."
Dia tertawa dengan sangat keras.
"Saya sangat ingat wajah kedua orang tua Natasha yang menatap saya dengan penuh kebencian, berharap anaknya bisa membalaskan dendam mereka. Ah, apakah pada akhirnya kita hanya akan saling mendendam?"
Mendengar itu Austin sudah mengepalkan kedua tangannya, tetapi kaisar memintanya untuk tenang.
"Seharusnya aku yang menghabisi gadis itu, tetapi sepertinya Hellen ingin bermain-main sebentar dengannya."
Ketika Austin hendak menyerang, tiba-tiba sesuatu melayang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah pria tadi. Beruntung dia cepat menghindar kalau tidak sudah jelas tangan kanannya putus.
Terlihat seorang gadis berdiri menatap pria itu dengan penuh amarah, tetapi masih mampu ditahan. Dia lantas melepas topengnya dan juga busur yang kehabisan anak panah.
"Lumayan liar juga si Hellen, hanya saja aku mampu melebihi kekuatannya!" ucap Natasha dengan tersenyum ke arah pria di depannya.
Segera Austin berlari menghampiri Natasha. Dia sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.
"Kau tidak apa-apa?"
Natasha tersenyum dan menatap manik hitam Austin.
"Menurutmu, apakah dia bisa melukaiku?"
Natasha terdengar begitu sombong, tetapi memang itu kenyataannya. Sekalipun Hellen memiliki energi yang lebih besar darinya, tentu tidak akan bisa mengalahkan kekuatan gadis modern itu.
"Ternyata mereka menggunkan tubuh Hellen untuk memasukan monster peliharaan mereka. Walaupun begitu, ingatan milik Hellen masih teringat jelas. Untunglah dia hanya bisa menguasai sihir api saja!"
"Oke, cukup untuk berdiskusinya!"
Kini Natasha dan Austin mulai menatap pria tadi.
"Biar kuperkenalkan diri, agar lebih sopan saja. Panggil aku Zack, pemimpin dari organisasi Avigator."
"Oke Zack. Aku tahu tujuanmu ke sini untuk menghabisiku dan adikku, bukan? Aku juga tahu kau melindungi tempat kalian menggunakan sihir penghalang."
"Benar sekali. Memang keturunan Beverly tidak usah diragukan, tetapi bagaimana kau akan melindungi wilayah kerajaanmu sendiri sedangkan kau berada jauh?"
Zack melihat Natasha dan mulai menyeringai. Seringaian itu membuat Austin dan kaisar menjadi waspada.
"Kau meremehkan para bangsawanku? Hei, Lucas tentu tidak selemah seperti yang kau bayangkan, tuan Zack. Jadi karena kau sudah ada di hadapanku, aku tidak perlu lagi mencarimu. Kau tahu, setelah mendengar cerita dari kakekku yang kehilangan adiknya akibat ulah kakak tertuamu, naluri ingin membunuh jadi semakin besar."
Suasana benar-benar tegang, sementara para peserta yang ada telah diamankan oleh beberapa prajurit dan menjauh dari area tersebut.
"Kau mengincarku demi membalaskan dendam kematian keluargamu, sementara aku menginginkanmu untuk membalaskan kematian adik kakekku."
"Yah, tidak perlu membuang-buang waktu lagi!"
Tiba-tiba saja Zack dan anak buahnya menyerang membuat mereka lantas mulai menjaga jarak dan melindungi diri masing-masing.
Sementara itu di kerajaan, terlihat Lucas yang ternyata lebih cekatan dari yang orang kira. Setelah mendapatkan kabar dari Azalea terkait penyerangan Natasha, segera dia memerintahkan para prajuritnya untuk mengevakuasi para warga desa. Hingga ketika bawahan Zack datang untuk menghancurkan para penduduk, mereka hanya menemukan desa yang sudah kosong seperti tak berpenghuni.
Ketika itu pula Azalea menghadang mereka semua. Pedangnya telah terlapisi dengan api hitam serta tatapan matanya yang menajam.
"Mencari siapa tuan-tuan?"
Azalea menggunakan teknik berlari zigzag untuk menebas kepala mereka hingga tak menyisahkan satupun yang hidup.
"Sudah lama aku tidak melakukan ini. Ratu, semoga anda bisa membalaskan dendam orang tua anda. Sisanya biar aku dan pangeran Lucas yang mengurusnya!"
Lucas sendiri telah menghabisi bawahan Zack hingga halaman kerajaan dipenuhi mayat berjubah hitam.
"Aku harus berterima kasih pada kak Natasha, karena mau memberikan tips itu."
Lucas tersenyum senang mengetahui dia mampu menguasai sihir yang sama dengan Natasha dalam waktu singkat. Itupun berkat tips dari Natasha yang membuatnya tekun untuk melatih sihirnya.
"Yah, dengan begini rasa kesal akibat kematian orang tuaku mulai berkurang!"
Bersambung....