
Keesokan harinya, Natasha telah kembali seperti semula keadannya. Dia juga sudah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Austin walaupun terlihat tidak ada semangat di wajahnya.
Rose menatap khawatir tuannya itu.
"Ratu, apa sebaiknya anda di rumah saja? Saya takut nantinya ratu hanya akan jadi bahan tontonan di sana!" ucapnya khawatir sembari membawa beberapa hadiah yang telah Natasha siapkan.
Natasha mulai tersenyum untuk meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita bergegas pergi, karena kita akan menginap selama dua hari di sana. Aku menitipkan kerajaan ini pada kakek dan Azalea. Ayo!"
Terlihat Lucas sudah menunggu sang kakak untuk menaiki kereta kuda. Mereka akhirnya berangkat setelah berpamitan pada nenek dan kakek.
Natasha terus-terusan melamun saat berada di perjalanan, membuat Lucas khawatir.
"Kak, apa sebaiknya kita kembali saja?" tanyanya dan langsung mendapatkan gelengan dari Natasha.
"Jangan. Kita harus datang untuk melihat apakah Austin bahagia atau tidak. Aku juga ingin bertemu dengan putri Victoria!"
Lucas menghembuskan napasnya pasrah.
Mereka akhirnya tiba di kekaisaran. Terlihat sudah banyak kereta kuda yang terparkir. Natasha meminta Rose dan Emma untuk pergi saja, sementara dia dan Lucas akan langsung ke aula pernikahan.
Jantung Natasha begitu berdetak dengan sangat cepat. Beberapa kali dia memukul dadanya, bermaksudbingin menetralkan rasa gugup.
Ketika dia memasuki aula, semua perhatian tertuju padanya. Bahkan Austin pun hendak berlari untuk memeluk gadis itu, tetapi ditahan oleh Kaisar.
Natasha tersenyum, sementara beberapa bangsawan merasa iba padanya.
Setelahnya pernikahan pun dimulai, Natasha tahu dia tidak akan kuat untuk mendengar janji yang mereka ucapkan. Lucas sendiri sudah menggenggam erat tangan sang kakak, sementara Austin hatinya campur aduk.
Hellen juga sesekali menatap ke arah Natasha, menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
Di sisi lain, tiga gadis yang tak lain adalah teman Natasha mulai bergosip.
"Dasar, padahal dia yang paling bersemangat untuk mengejek saat pangeran Austin wajahnya masih memiliki bekas luka bakar."
"Iya. Setelah wajah pangeran membaik, dia pula yang paling bersemangat untuk menikah dengannya."
"Rasanya aku ingim mencakar wajah Hellen. Dia benar-benar licik!"
"Natasha pasti sangat sedih. Dia yang paling berjasa dalam hidup pangeran."
Setelah janji terucap, Hellen hendak mencium bibir Austin, tetapi pria itu lebih dulu menatapnya tajam hingga dia tak berani maju.
Austin sudah berjanji pada dirinya untuk tidak membiarkan dirinya tersentuh sedikitpun oleh perempuan di depannya. Sekarang dia akan menunjukan sisi kejamnya yang selama ini dia sembunyikan.
Bukan tanpa alasan. Austin merasa bahwa sisi kejamnya tidak cocok dengan dirinya yang dulu.
Setelah sesi memberikan selamat.
Natasha dan Lucas maju secara bersamaan. Victoria dan permaisuri menatap iba pada Natasha yang justru dibalas dengan senyuman, sementara Alex dia justru merasa senang karena akhirnya tidak akan ada yang bisa menghalangi jalannya untuk menjadikan Natasha sebagai selirnya.
Tibalah Natasha berhadapan dengan Austin, pria itu menangis menatap gadis tercintanya sedang tersenyum.
"Selamat atas pernikahannya pangeran. Semoga pernikahan kalian bertahan hingga maut memisahkan. Terima kasih atas waktunya, sekarang anda telah memiliki seseorang yang senantiasa berada di sisi anda."
Semuanya terdiam saat Natasha mulai berbicara. Tenggorokan Austin tercekat, dia bahkan kesulitan untuk sekeder melangkah memeluk Natasha.
"Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tidak menyakiti siapapun. Sekarang kalian resmi menjadi suami istri dan sebentar lagi akan bersama-sama memimpin kekaisaran."
Natasha nampak tersenyum, tetapi Austin bisa melihat bahwa ada bulir bening yang muncul di ujung matanya. Detik berikutnya Natasha tiba-tiba tak sadarkan diri dengan Austin yang bergegas menangkap tubuhnya.
"Natasha, Natasha bangun. Natasha!"
Austin terlihat begitu panik, sementara Hellen sudah kepanasan melihat suaminya menggendong musuhnya.
"Austin, cepat bawa Natasha ke kamar!" pinta permaisuri.
Segera Austin membawa Natasha tanpa mempedulikan kaisar, Hellen dan para tamu undangan. Lucas juga sudah mengejar mereka dengan tiga temannya Natasha.
Austin membaringkan tubuh Natasha di atas kasur dan membiarkan tabib untuk memeriksa keadaannya. Di saja wajah Austin lah yang paling khawatir.
"Syukurlah. Ratu hanya kelelahan saja akibat kurangnya tidur, biarkan ratu beristirahat maka keadaannya akan kembali normal."
Austin mengangguk dan mulai mendekati Natasha. Dia menyentuh dahi gadis itu dan menggenggam erat tangan Natasha.
"Natasha!" panggilnya lembut.
"Aku tidak bisa melihatmu begini. Tolong untuk selalu menjaga kesehatanmu. Aku berjanji, biarpun kami sudah terikat janji, aku tidak akan membiarkan perempuan itu untuk menyentuh diriku. Tenang saja, sampai Lucas tumbuh dewasa dan siap menggantikan posisimu, aku akan langsung menceraikannya dan menikahimu biarpun kita sudah tua nantinya. Aku tidak peduli, yang aku mau hanyalah dirimu."
Dia mengecup pundak tangan Natasha dengan lembut membuat mereka hanya bisa terdiam.
Keadaan kembali tenang dengan sebagian sudah pergi ke aula pernikahan, hanya tersisa Lucas dan Rose saja.
Natasha tiba-tiba membuka matanya dan langsung duduk, membuat kedua orang itu terkejut.
"Pintar juga aktingku tadi, pasti Hellen kepanasan!"
Duarr...
Ternyata adegan pingsan tadi hanyalah akting belaka. Natasha jelas tidak mau pasrah begitu saja ketika Austin direbut oleh orang lain terlebih itu Hellen.
Dia sudah memikirkan rencana-rencana gila dari semalam.
"Enak saja dia mau merebut Austin dariku, dasar menusia gila!" ucapnya membuat Lucas dan Rose kembali tercengang.
"Dia pikir sedang hidup di negeri dongeng dengan dirinya sebagai tokoh utama? Akan aku tunjukan bagaimana seorang Natasha membalas semua rencana licikmu bersama Alex. Kalian berdua memang manusia tidak tahu bersyukur. Mereka pikir aku bodoh dan akan menyerahkan Austin begitu saja? Ini bukanlah novel romantis dengan kepasrahan si tokoh utama."
Lucas bingung sendiri melihat sang kakak yang mulai berbicara tidak jelas. Natasha lantas menatap mereka dan tersenyum.
"Kalian dengar apa yang dikatakan Austin tadi? Dia tidak akan sudi jika tubuhnya disentuh oleh Hellen. Akan aku buat drama ini semakin dramatis!"
Ya, Rose dan Lucas mendengarnya.
Mulai detik ini Natasha akan menunjukan sisinya yang lain. Dia tidak mau mengalah, apalagi setelah mendapatkan restu dari Victoria dan permaisuri. Bahkan kaisar pun tidak akan mampu menghalangi Natasha dalam menjalankan rencananya untuk membuat rumah tangga Austin dan Hellen hancur.
Setelah acara pernikahan itu selesai, Austin tidak menuju kamarnya, justru dia pergi menemui Natasha membuat Hellen kepanasan.
"Natasha, apakah keadaanmu sudah membaik?" tanyanya dengan menggenggam jemari lentik itu.
"Aku baik-baik saja dan selamat atas pernikahanmu, Austin!"
Natasha mencoba tersenyum, Austin merasakan sakit pada hatinya ketika mendengar ucapan selamat dari mulut orang yang sangat dia cintai.
Di ambang pintu, Natasha melihat Hellen tengah menatap tajam ke arahnya. Gadis itu tersenyum lantas mulai mengadu pada Austin.
"Austin, sebaiknya kau kembali saja ke kamarmu, pasti istrimu sedang menunggu. Apalagi kalian akan malam pertam-"
"Sstt! Aku tidak akan menyentu perempuan lain Natasha. Sudah kubilang bahwa hanya dirimu yang aku mau. Jika dia berani macam-macam atau menyentuh dirimu secenti saja, maka dia akan tahu sendiri akibatnya."
Benar, inilah yang ingin Natasha dengar apalagi Hellen benar-benar sudah habis stok kesabaran. Dia lantas mulai berjalan memasuki kamar yang digunakan oleh Natasha dengan ekspresi sedih.
"Natasha temanku, astaga. Bagaimana dengan kondisimu sekarang?" tanyanya yang mencoba mencari perhatian Austin, tetapi pria itu menghiraukannya dan memilih untuk merapikan rambut sang pujaan hati.
"Kondisiku jauh lebih baik setelah anak seorang grand duke datang menjengukku. Ah, sebentar lagi gelarmu akan menjadi permaisuri dan jelas lebih tinggi dariku. Maafkan atas kelancanganku!"
Austin lantas berdiri dan menatap tajam Hellen.
"Siapa yang memberimu izin untuk masuk?" tanyanya.
Hellen menatap Austin, kemudian dia tersenyum dan hendak menyetuh lengan pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
"Aku ha-"
"Jangan menyentuhku. Berani tangan kotormu itu menyentuh kulitku maka akan kuberikan kau hukuman yang sepantasnya. Dasar perempuan licik, kau yang selalu menghinaku bersama teman-temanmu dan kini menghasur ayahku untuk menikahkanmu denganku."
Mendengar itu Hellen terkejut, seharusnya dia tahu malu, tetapi sepertinya tidak.
"Maafkan aku suamiku, dulu aku dipaksa oleh teman-temanku untuk berkata begitu."
Dia mencoba memanas-manasi Natasha, tetapi gadis itu justru menikmati pertunjukan di depannya.
"Apa kau tidak memiliki malu? Kau tahu, ketika saat itu tiba maka aku akan menceraikanmu. Jika bukan karena ayahku, maka aku sudah membuangmu jauh dari sini. Perempuan gila!"
Hellen terlihat kesal, Austin jelas tidak tertarik padanya sama sekali.
"Pengawal, seret dia keluar dari sini!" teriaknya dengan lantang membuat Hellen terkejut.
Datanglah dua pengawal dan langsung menyeret pergi Hellen. Gadis itu sudah memberontak, tetapi pengawal tak mengindahkan ucapannya.
Malam harinya Natasha dan Lucas diajak bergabung untuk makan malam bersama. Alex tentu tak henti-hentinya memandangi wajah cantik Natasha membuat sang istri merasa kesal.
Victoria nampaknya senang ketika Natasha mengambilkan lauk pauk padanya.
"Kak Natasha, tolong aku mau buah pisang!"
Belum Natasha bergerak, Hellen sudah lebih dulu mengambilnya dan memberikannya pada Victoria. Dia jelas bermaksud ingin mengambil hati adik bungsu Austin.
Tiba-tiba suasana menjadi berubah dengan Victoria yang menatapnya sinis.
"Aku tidak mau pisang, kak Natasha ambilkan aku apel saja."
Natasha bergerak dengan cepat untuk mengambilkan Victoria dengan apel, gadis itu tersenyum senang.
"Terima kasih."
Permaisuri senang melihat kedekatan Natasha dan anak bungsunya, begitupun dengan Austin.
Setelah selesai makan malam, kini Natasha sedang sibuk di perpustakaan bersama Victoria dan Lucas. Mereka nampaknya sangat menikmati buku-buku yang ada di sana.
Datanglah Austin yang langsung memeluk Natasha dari belakang, membuat gadis itu hampir saja berteriak.
Lantas Victoria dan Lucas saling memandang, kemudian mengintip dari balik rak buku. Mereka terkejut melihat keduanya yang terlihat begitu mesra.
"Bagusnya kak Natasha yang menikah dengan kakakku, bukan perempuan ular itu!"
Lucas mengangguk setuju.
Saat ini Hellen sedang mencari-cari keberadaan Austin. Dia berpikir bahwa malam pertama dengan pria itu akan berakhir harmonis, tetapi justru semuanya kacau.
"Ke mana perginya dia. Seharusnya malam ini kami menghabiskan waktu berdua bukannya menghilang!"
Ketika sedang mencari, Hellen berpas-pasan dengan istri Alex yang diketahui bernama Lilian.
Gadis itu berhenti dan menyapa Hellen.
"Selamat malam pengantin baru, kenapa kau di sini? Seharusnya kau menghabiskan malam ini bersama suamimu!"
Hellen mengepal kesal.
"Seharusnya memang begitu, tetapi Austin pergi entah ke mana!"
Lilian tersenyum licik, dia juga sedikit tak menyukai perempuan di depannya ini. Selain ingin mendapatkan wajah tampan Austin, dia juga mengincar posisi permaisuri.
"Percuma saja kau mencarinya, dihati Austin hanya ada Natasha seorang. Sadarilah posisimu, kau hanya pengganggu bagi keduanya. Sudah, ya suamiku menunggu di kamar. Kami harus berbagi kehangatan. Semoga kau bisa melewati malam ini dengan tenang!"
Setelah pergi, Hellen kembali kesal. Dia tahu bahwa saat ini Austin sedang bersama Natasha, pasti itu!
Bersambung...