
Siang itu Natasha tengah disibukkan dengan banyaknya laporan yang masuk. Dia menatap tumpukan kertas sembari sesekali bergumam.
"Aduh, keluhannya tidak ada habisnya. Mau sampai kapan aku duduk di sini terus?" ocehnya sembari melihat-lihat kertas tersebut.
"Lucas, cepatlah kau besar agar beban berat ini kau yang tanggung."
"Dia sudah berumur sepuluh tahun. Masih lama baginya untuk tumbuh menjadi pria dewasa, agh menyebalkan!"
Ketika sedang sibuk mengoceh, dia tiba-tiba teringat tentang madu. Entah mengapa pikirannya lari ke sana.
"Tunggu dulu. Bukankah dulu bibi pernah menyembuhkan bekas luka bakar pada Andre menggunakan madu dan kunyit? Bagaimana jika Austin bisa sembuh dengan madu dan kunyit juga?"
Natasha mulai berpikir keras. Detik berikutnya dia mulai memanggil Azalea dan satu pengawal.
"Kami yang mulai ratu!" jawab keduanya serempak.
"Azalea, tolong carikan aku dengan kunyit. Eum, dia tumbuh di tanah dengan berwarna kuning oranye. Ah, cari saja pokoknya. Atau cari pedagang India dan coba tanyakan pada mereka. Harus dapat jika tidak, kau tak boleh pulang!" ucap Natasha mutlak, sementara Azalea hanya mengangguk dan menghilang.
"Kau, pergilah ke pasar untuk membeli madu. Berapapun bayar saja, jika tidak ada coba cari di hutan. Juga antarkan surat ini pada kaisar!"
"Baik yang mulia!"
Setelah kepergian sang pengawal, Natasha tidak sabar jika nantinya wajah Austin bisa menjadi seperti semula. Dia tahu bahwa hatinya telah tertuntun untuk menyukai pria itu. Walaupun begitu, Natasha masih tahu batasan.
Dia dan Austin jelas berbeda. Kedudukan kaisar dan ratu sangat jauh, jadi dia cukup sadar diri. Memendam diam-diam perasaannya sudah menjadi keahliannya sejak zaman SMA. Natasha ahlinya!
Setelah menyelesaikan sebagian keluhan serta berdiskusi dengan beberapa bangsawan, Natasha memilih untuk pergi ke taman utama untuk melihat patung ibu dan ayahnya.
Dia berdiri dan menyentuh tangan keduanya. Sungguh Natasha sangat merindukan kasih sayang mereka, sekalipun buka orang tua kandung. Mengingat bahwa dia hanyalah jiwa yang memasuki tubuh orang yang sama persis wajah dengannya.
"Ayah, ibu. Setahun kalian pergi, Lucas juga semakin besar dan tidak bertanya tentang kalian lagi, tetapi suatu saat dia akan mengetahui kebenarannya. Tolong bimbing aku untuk bisa menjaga negeri ini sampai Lucas bisa menggantikanku. Aku juga akan membalaskan dendam kalian. Jika saat saat itu ayah dan ibu tidak menyuruhku membawa Lucas pergi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
Natasha nampak menangis.
"Aku bukan Natasha, anak kalian. Melainkan hanyalah orang asing yang kebetulan memiliki rupa dan nama yang sama. Jiwaku masuk ke dalam tubuh kosong anak kalian. Maaf karena telah membohongi kalian, hanya saja aku bingung harus berkata apa. Sekalipun aku jujur, kalian pasti tidak akan percaya. Aku saja sempat ragu kalau bisa datang ke abad pertengahan dan berpikir bahwa ini hanyalah mimpi."
"Tolong awasi aku dari atas. Restu kalian yang paling aku butuhkan. Bantu aku dalam mengambil tindakan kedepannya. Aku sayang kalian!"
Tanpa dia sadari, Lucas sedang mengintip dari balik tembok. Menatap sang kakak yang menangis dengan memeluk patung kedua orang tuanya. Lucas tidak bodoh dan hanya berpura-pura polos selama ini.
Dia tahu bahwa orang tuanya telah tiada. Lucas juga tidak mau jika kakaknya itu bersedih terlalu lama nantinya.
"Kakak, Lucas janji akan cepat tumbuh besar dan bergantian menjaga kakak. Lucas akan belajar lebih giat lagi dalam berpedang agar bisa membanggakan kakak dan ayah ibu. Kakak tunggu saja, aku pasti akan melindungimu dan kerajaan ini."
Beberapa hari berlalu, akhirnya Azalea datang dengan membawa pesanan milik Natasha. Madu juga sudah Natasha siapkan di dalam botol.
"Ini adalah kunyit yang anda minta. Ternyata lumayan sulit juga mencarinya bahkan saya harus menawarkan harga tinggi untuk ini!"
Natasha sangat puas.
"Bagus, kau memang bisa diandalkan hehe."
"Kalau boleh saya tahu, kunyit itu untuk apa ratu?" tanyanya penasaran.
Setidaknya Azalea juga harus tahu.
"Madu dan kunyit bisa menghilangkan bekas luka bakar pada tubuh manusia. Aku akan pergi ke kekaisaran untuk membantu Austin mengobati bekas luka bakarnya. Tolong kau awasi kerajaan selama aku pergi!"
"Perintah siap dilaksanakan!"
Natasha dan Lucas akhirnya berpamitan pada nenek dan kakek untuk pergi ke kekaisaran, tak lupa juga mereka membawa pelayan pribadi masing-masing.
"Hati-hati sayang di jalan!"
"Siap, nek!" jawab Lucas antusias.
Kereta kuda akhirnya meninggalkan kerajaan. Natasha tahu, meninggalkan posisinya sangatlah tidak aman, tetapi dia yakin bahwa tak akan ada yang berani macam-macam pada kerajaannya.
Setelah menempuh perjalanan yang lama, mereka tiba pada kekaisaran. Segera permaisuri dan Austin datang untuk menyambut mereka. Mendengar bahwa Natasha bisa menyembuhkan bekas luka bakar membuat permaisuri menjadi sangat bahagia.
Natasha dan Lucas turun dari kereta, lantas segera memberi hormat.
"Salam hormat permaisuri, pangeran!" ucap keduanya serempak.
"Mari masuk, kalian pasti kelelahan duduk selama itu di dalam kereta kuda. Kita berbicara di dalam saja!"
Keempatnya segera berjalan masuk, sementara pelayan pribadi Natasha dan Lucas mulai mengikuti pelayan milik permaisuri menuju kamar tuannya masing-masing.
Mereka kini berada di satu ruangan, Natasha juga mengeluarkan sebotol madu dan sekantung kunyit.
"Pangeran, campuran madu dan kunyit ini mampu menghilangkan bekas luka bakar hingga delapan puluh persen. Tunggu di sini!"
Setelahnya Natasha nampak sibuk di dapur. Beberapa pelayan hanya akan bergerak begitu dia suruh. Setelah cukup lama, dia meminta mereka membawa campuran kedua bahan, juga membawa air dan kain bersih.
Mereka tiba dan ratu sudah tidak sabar. Natasha meminta Austin untuk duduk di sebelahnya, lantas mulai melepaskan topeng pria itu membuat Austin benar-benar bedebar.
Tangan lembut itu mulai menyentuh pipi Austin dan mengoleskan secara merata pada bekas luka bakarnya. Setelah selesai, dia mulai mencuci tangan.
"Diamkan dulu selama sepuluh sampai lima belas menit."
Akhirnya lima belas menit berlalu, Natasha mulai membasahi kain tersebut dengan air bersih dan mengusap bekas madu dan kunyit tersebut.
"Pangeran bisa melakukannya sendiri, setelah itu lihat hasilnya seminggu kemudian. Semoga dengan ini wajah pangeran akan kembali seperti semula dan pangeran bisa mendapatkan pasangan!"
Mendengar kata pasangan, raut wajah Austin mendadak berubah. Perubahan ini langsung dipahami oleh permaisuri.
"Natasha, bolehkah kita berbicara berdua saja?"
Melihat itu Natasha hanya mengangguk setuju. Austin kini sedang bermain dengan Lucas, sementara dua perempuan itu tengah berbicara serius.
"Natasha, apakah kau menyukai anakku Austin?"
Pertanyaan itu membuat Natasha seketika terkejut. Dia gelagapan dan mencoba mencari alasan.
"Ma-mana mungkin permaisuri. Saya cukup sadar diri dengan posisi saya. Pangeran tentu bisa mendapatkan gadis yang lebih dari saya!"
Permaisuri lantas tersenyum, dia tahu bahwa Natasha takut ditolak.
"Bagaimana jika Austin juga menyukaimu?"
Terkejutnya menjadi double sekarang.
"Setelah bertemu denganmu hari itu, Austin terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Dia bahkan secara terang-terangan menunjukan rasa tertarik padamu di depan semua orang. Walaupun sebenarnya dia juga takut jika kau menolaknya, mengingat wajahnya yang masih memiliki bekas luka bakar ditambah dengan ejekan dari adiknya, yaitu Alex."
"Austin pernah bilang padaku bahwa dia tidak pernah menemukn perempuan sebaik dirimu. Bahkan tidak memandang apapun darinya. Walaupun pada awalnya dia mengira bahwa perempuan tulus di dunia ini sudah tidak ada, ternyata dia salah. Kau adalah alasan mengapa Austin selalu mencoba untuk tidak mempedulikan ucapan orang lain lagi. Kau selalu menasehatinya, memberikan dia semangat. Bahkan tidak jijik ketika Austin menunjukan bekas luka bakarnya!"
"Aku akan sangat senang jika kau menjadi bagian dari keluarga kekaisaran."
Natasha sangat amat spechless mendengar pernyataan permaisuri. Bernarkah bahwa Austin akan bahagia jika bersama dengan dirinya?
"Permaisuri, bukannya saya tidak mau, tetapi saya tidak bisa meninggalkan kerajaan Beverly begitu saja mengingat kejadian akhir-akhir ini benar-benar mengkhawatirkan. Saya hanya bisa menerima permintaan itu setelah Lucas menggantikan posisiku. Kakekku sudah semakin tua dan akan kesulitan nantinya, aku belum siap meninggalkan semua itu!"
Permaisuri lantas mendekati Natasha dan mengusap pelan rambutnya.
"Austin pasti mau menunggu, tetapi aku khawatir jika nantinya kaisar akan mendesak dia segera menikah untuk meneruskan tugasnya. Pasti kalian akan berada dalam situasi yang sulit!"
Natasha mencoba menetralkan debaran di dadanya.
"Keputusan apapun nantinya, akan saya terima dengan ikhlas. Saya tidak mau terlalu berharap lebih dan berakhir kecewa. Berharap pada manusia hanya akan membawa kekecewaan tanpa ujung."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan anak bungsu permaisuri. Dia masuk dan langsung duduk di sebelah Natasha. Lantas menatap lamat wajah gadis itu dan tersenyum.
"Pilihan kak Austin memang tidak salah. Kakak harus menikah dengan kak Austin. Aku tidak mau orang lain, hanya kakak saja yang bisa menerima kekurangan kak Austin."
"Selama ini tidak ada satupun perempuan yang mau mendekatinya atau sekedar menatapnya, hanya kakak saja. Jika kak Austin bahagia, maka seluruh kekaisaran ini juga ikut bahagia."
Natasha hanya bisa diam mendengarnya. Sudah jelas dia diberi lampu hijau, tetapi tidak bisa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ratu.
Lucas dan Natasha sudah berada di kerajaan. Berhari-hari gadis itu memikirkan ucapan permaisuri dan anak bungsunya.
"Aku mau seumur hidup dengan Austin, tetapi aku tidak bisa meninggalkan kewajibanku sebagai seorang ratu."
Natasha hanya bisa menangis di dalam kamar, memikirkan takdir rumitnya.
Sebulan kemudian wajah Austin sudah terlihat normal. Bahkan para pelayan pun terpana melihat ketampanannya, padahal sebelumnya mereka enggan melihat pria itu.
"Semua berkat Natasha, aku akan menemuinya nanti dan juga aku harus menyatakan perasaanku padanya. Tidak apa-apa kalau ditolak, aku masih bisa mencobanya lagi!"
Saat itu di kekaisaran sedang diadakan acara ulang tahun putri Victoria, adik bungsu dari Austin.
Dia lantas berjalan menuju tempat utama untuk memberikan sang adik dengan kado. Begitu dia terlihat, para gadis bangsawan itu mulai terpana melihat bagaimana tampannya Austin.
Mereka bahkan tak menyangka bahwa luka bakar itu bisa sembuh. Banyak yang kini mulai menyapa dan mencoba mendekatinya, tetapi Austin sebisa mungkin untuk menyingkir.
"Victoria, selamat atas penambahan umurmu. Ini kado dari kakak, semoga kau menyukainya!"
Victoria nampak tersenyum dan memeluk Austin.
"Terima kasih kak."
Tidak ada Natasha.
Alasannya adalah gadis itu sangat sibuk belakangan ini, apalagi setelah mendapatkan kabar bahwa panen di beberap desa mulai gagal. Dia harus berunding beberapa kali bersama para bangsawan untuk mengatasi masalah ini.
Hanya Lucas yang datang bersama Emma, pelayan pribadinya. Dia berjalan dan memberi ucapan selamat.
"Selamat atas penambahan umurnya putri. Inilah kado dari saya dan kak Natasha, semoga anda menyukainya!"
Victoria terpana melihat kado dari Natasha yang ukurannya lebih besar dari milik siapapun. Sebenarnya di dalamnya adalah pedang yang dibuat secara khusus oleh pengrajin dan beberapa perhiasan serta satu gaun yang dirancang secara khusus untuknya.
Setelah Austin pamit pergi, beberapa gadis bangsawan mulai mendekati Victoria.
"Putri, bukankah itu pangeran Austin? Kenapa menjadi sangat tampan?"
"Benar, rasanya seperti aku telah menyesal menolak lamarannya waktu itu."
Victoria lantas menunjukan raut ketidaksukaannya.
"Huh, berhenti menggosipi kakakku. Dia itu sudah ada yang punya!"
Mendengar itu mereka lantas terkejut.
"Siapa putri? Bangsawan mana yang telah memikat hatinya?"
"Ah, aku sangat iri!"
"Tentu saja ratu kerajaan Beverly. Hanya dia yang tidak memandang fisik seperti kalian, dia juga yang membantu kakakku untuk menyembuhkan bekas luka bakarnya. Jadi jangan berharap ingin menjadi istrinya, bermimpi saja!"
Pedas juga mulut Victoria. Pasalnya dia sangat geram pada gadis-gadis itu, bermuka dua!
Di sisi lain, seorang gadis yang sejak tadi memperhatikan Austin hanya tersenyum licik.
"Akan kudapatkan kau, bagaimana pun caranya!"
Bersanbung...