
Beberapa tahun kemudian, Lucas telah tumbuh menjadi pria tampan yang digilai oleh banyak gadis. Bahkan semakin dewasa, dia juga jarang tersenyum, hanya ketika bersama keluarganya saja dia menampakan senyum manisnya itu.
Saat ini adalah perayaan ulang tahun Lucas yang ke sembilan belas. Setahun lagi maka Natasha akan menyerahkan posisinya pada sang adik dan menikmati waktu luangnya.
"Lucas, sambut para tamu undangan sementara kakak akan menunggu Austin dan Victoria!"
"Ya!"
Setelahnya Lucas pergi ke aula kerajaan untuk menyambut para tamu, termasuk teman-teman sekolahnya.
Ya, Lucas juga bersekolah di tempat Natasha dulu. Saat semua teman-temannya telah datang, dia nampak menatap pintu masuk dengan wajah tak sabar hingga akhirnya seorang teman menghampirinya.
"Pangeran, selamat ulang tahun!" ucapnya dengan menjabat tangan Lucas dan menggoyangkannya secara pelan.
"Apa kau menunggu putri Winter? Kau masih mengejarnya? Oh ayolah, dari sekian banyak gadis bangsawan yang mengagumimu, kenapa harus dia yang jelas-jelas tidak tertarik padamu?"
Lucas memutar bola matanya malas, harus berapa kali dia mengatakannya pada temannya yang satu ini.
"Aku sudah menjelaskan padamu ribuan kali alasannya jadi berhenti bertanya dan sana cari saja perempuan untuk kau jadikan kekasih!"
Lucas mendorong temannya itu hingga dia mengalah dan membiarkan Lucas menunggu.
Tepat sekali setelah temannya pergi, Winter datang. Wajah datarnya itu selalu menjadi yang paling Lucas nantikan.
"Cantik, selalu cantik!" gumamnya.
Tiba-tiba seseorang menjewer telinganya, membuat Lucas berteriak kesakitan hingga menjadi pusat perhatian.
"Siapa yang kau bilang cantik?"
"A-aduh, kak sakit. Jangan tarik telinga Lucas!" mohonnya, sementara beberapa gadis dan teman-temannya tertawa melihat Lucas.
"Aku tanya, siapa yang cantik?"
"Kak Natasha yang cantik, iya kakak. Lepaskan telingaku, ini sakit!"
Natasha akhirnya melepaskan tangannya dari telinga Lucas membuat pria itu menatapnya kesal.
"Fokus pada sekolahmu dulu, baru kau boleh mencari kekasih.
"Iyaa. Kakak ini suka sekali marah-marah semenjak Lucas besar."
Natasha mendengus dan menjitak kepala sang adik.
"Karena kau semakin hari sulit untuk dikontrol. Sudah kakak bilang untuk tidak membolos, tetapi kau tetap melakukannya. Apa kau mau kakak kirim ke tempat yang jauh untuk menuntu ilmu?" ancamnya membuat Lucas tersedak air ludahnya sendiri.
"Jangaaan. Lucas tidak akan membolos lagi, janji! Lagian Lucas diajak sama William."
Mendengar namanya disebut, William pun langsung mengelak.
"Tidak ratu, eh kak Natasha. Lucas yang selalu mengajakku dan Bruno untuk bolos. Katanya pelajaran tentang sihir terlalu membosankan!"
Lucas mendelik ke arah William, lagi dan lagi dia mendapatkan jitakan dari sang kakak.
"Bagus kau mengkambing hitamkan orang lain. Sudahlah, Austin dan Victoria telah tiba jadi mulai saja."
Setelahnya mereka mulai bersenang-senang dengan ulang tahun Lucas. Terlihat semuanya asik dengan teman-teman mereka kecuali Winter.
Gadis itu terlihat sedang berdiri di meja paling pojok sembari melihat-lihat kue. Natasha lantas meninggalkan Austin yang berusaha mengusir gadis-gadis bangsawan dan pergi ke Winter.
"Kuenya enak, loh!"
Mendengar itu, Winter segera mengalihkan pandangannya pada Natasha. Dia lantas tersenyum dan memberinya hormat.
"Ratu, maaf saya tidak tahu anda ada di sini!"
Natasha tersenyum lantas menggeleng.
"Panggil kak saja, kalian teman Lucas jadi jangan terlalu formal. Kenapa sendirian saja, tidak mau gabung dengan yang lainnya?" tanya Natasha penasaran.
Winter menatap mereka yang memang sibuk sendiri, dia lantas menggeleng pelan sembari tersenyum dan menatap manik indah Natasha.
"Mereka semua sudah punya teman jadi tidak membutuhkanku. Aku tidak apa-apa jika harus sendiri!"
Natasha diam, apakah gadis itu dikucilkan?
"Kenapa? Apa alasan kau sampai tidak memiliki teman?"
"Semuanya karena ulah kakakku. Dia selalu mengancam siapapun yang mendekatiku kecuali Lucas. Pernah sekali Lucas dan kakak bertengkar hanya karena aku tidak diperbolehkan untuk mengikuti acara sekolah!"
Natasha mengernyit.
"Siapa kakakmu? Bisa-bisanya dia membatasimu untuk berinteraksi dengan orang lain. Jika kita bertemu nanti, tolong pertemukan aku dengan kakakmu. Aku akan memberikannya peringatan!" ucap Natasha sedikit kesal.
Bukan apa-apa, hanya saja dia tidak suka jika seorang anak memiliki keinginan tetapi dibatasi oleh keluarganya sendiri. Anak-anak memiliki hak dalam memilih dan menetukan masa depan mereka.
"Kakakku akan datang ke sini sebentar lagi, untuk menjemputku."
"Bagus. Aku akan langsung memarahi dia begitu tiba di sini!"
Winter terlihat tersenyum mendengar penuturan Natasha. Dia senang ketika mendengar Lucas mengundang semua teman-temannya untuk datang ke acara ulang tahunnya.
Dia sangat ingin melihat langsung seperti apa kakaknya itu. Mendengar beberapa cerita dari gadis bangsawan yang terkagum-kagum padanya, membuat rasa penasaran Winter semakin menjadi saja.
Winter suka sekali dengan perempuan yang tangguh, menurutnya itu sangat keren.
Saat sedang menikmati pembicaraan dengan Winter, datanglah Azalea untuk memberikan informasi.
"Ratu, raja dari kerajaan Voresham datang."
Natasha mengernyitkan dahi. Untuk apa raja dari kerajaan tetangga tetangganya lagi itu datang ke sini.
"Katakan padanya untuk langsung masuk ke aula saja!"
"Baik."
"Sepertinya kakakku telah datang."
Natasha langsung terkejut, ternyata kakaknya adalah raja Voresham.
Saat seorang pria tampan memasuki aula, dia lantas menjadi pusat perhatian. Matanya menatap ke sana ke mari dan akhirnya menemukan objek yang dia cari.
Baru saja akan mendekati Winter, Natasha sudah lebih dulu menghalangi jalannya pria itu.
"Na-Natasha?"
"Cedric? Serius ini kau?" tanya Natasha keheranan.
Setelah mereka semua dinyatakan lulus, perlahan-lahan Natasha mulai kehilangan kabar terkait teman-temannya, termasuk tiga gadis yang sering mengikutinya.
Ketika Cedric hendak memeluk, Austin sudah lebih dulu menghalangi dan hasilnya mereka berdualah yang saling berpelukan.
Mendapati bukan Natasha yang dipeluknya, Cedric lantas melepaskan pelukannya.
"Jangan sembarangan memeluk orang, apalagi dia adalah Natasha!"
Winter terkejut, mengetahui fakta bahwa Natasha mengenali sang kakak. Dia lantas mendekati Cedric dan bertanya.
"Kakak kenal dengan kak Natasha?" tanyanya dan dibalas anggukan oleh Cedric.
"Kita pernah berbicara sewaktu sekolah, tetapi hanya sekali!"
Natasha pun maju dan mulai bertanya.
"Jadi, apakah dia yang melarangmu untuk berteman dengan teman-temanmu?" tanya Natasha memastikan dan mendapatkan anggukan dari Winter.
Natasha akhirnya menatap heran ke arah Cedric, sementara pria itu menduga-duga bahwa sang adik tah menceritakan hal yang iya-iya ke Natasha.
"Cedric, kenapa kau tidak membiarkan adikmu berinteraksi dengan orang lain? Karena kau, dia selalu sendirian!"
Cedric hanya bisa menelan salivanya, apalagi saat melihat tatapan tajam Natasha.
"Jangan pernah melarang adikmu untuk melakukan hal yang dia suka selagi itu masih wajar. Dia hanya ingin memiliki teman, tetapi kau membuatnya dijauhi oleh teman-temannya. Jangan terlalu keras padanya."
Cedric menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Sebenarnya aku hanya tidak ingin dia berinteraksi dengan lelaki manapun, apalagi dia masih harus banyak belajar untuk menjaga diri. Aku hanya tidak bisa percaya pada mereka saja!"
Natasha spontan memukul lengan Cedric hingga membuat semuanya tercengang tak percaya, termasuk Winter.
Menurutnya, Cedric adalah orang yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang apalagi perempuan, tetapi dia hanya meringis kesakitan setelah dipukul oleh Natasha.
"Kau bahkan sampai bertengkar dengan adikku. Sudahlah, jangan kau larang adikmu untuk berteman dengan yang lainnya. Mereka jadi takut ingin mendekati dia!"
Cedric hanya diam dan mengangguk.
"Karena kau sudah ada di sini, lebih baik nikmati saja kue yang telah dihidangkan. Aku harus pergi mengurus sisa pekerjaanku. Kau juga sudah menjadi raja, tak kusangka ternyata kau dulunya seorang pangeran."
Ulang tahun Lucas telah berlalu, kini mereka kembali ke kesibukan masing-masing.
Saat ini Natasha sedang disibukan oleh sang nenek yang tiba-tiba menginginkan cucu membuatnya kebingungan.
"Nenek, aku belum bisa memberikanmu cucu. Apa nenek lupa kalau aku masih harus mengurus kerajaan ini, apalagi Lucas baru saja berumur sembilan belas tahun. Kurang setahun lagi, dia akan lulus dari sekolahnya dan menjadi raja."
"Setidaknya kau sudah memiliki calonnya maka nenek akan sedikit tenang mendengarnya."
Natasha nampak menghembuskan napasnya lelah. Entah dengan cara apa lagi untuk membuat sang nenek mengerti masalah dirinya.
"Masalahnya, aku tidak mungkin meminta Austin untuk langsung menikahiku. Mau taruh di mana wajah cantikku ini!" batinnya frustasi.
Datanglah Lucas yang baru saja pulang dari sekolah. Hari ini dia teramat sangat senang sekaligus kesal.
Senang karena pada akhirnya Winter mau merespon dirinya, kesal lantaran gadis itu justru bertanya-tanya mengenai Natasha ke dirinya.
"Kenapa wajahmu kelihatan murung begitu?" tanya Natasha dengan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Lucas menatap kakaknya itu dengan sengit, lantas berlalu begitu saja membuat Natasha bertambah kesal.
"Hah, sudahlah. Hari ini cukup melelahkan jadi mari kita jalan-jalan sebentar."
Natasha mulai melangkah keluar dari kerajaan dan berjalan menuju taman utama. Dia mulai memandangi patung ayah dan ibunya, lantas mulai berbicara sendiri, seolah-olah dua orang itu tengah berada di sisinya.
"Ibu, ayah. Sekarang Lucas sudah tumbuh menjadi pria yang tampan dan banyak gadis yang mengidolakannya. Tugasku sebagai ratu sebentar lagi akan selesai dan digantikan oleh Lucas. Aku juga berniat mencari tahu siapa yang sudah membunuh kalian beberapa tahun yang lalu."
Natasha terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali berucap.
"Beruntung selama pertumbuhan Lucas, mereka tidak menampakan diri setelah hari itu berusaha membawanya pergi. Sekarang aku akan sedikit kerepotan karena harus mencari tahu identitas mereka. Kematian kalian tidak akan memnuat semangatku dan Lucas luntur. Kami selalu berdoa untuk kalian, tolong selalu awasi kami."
"Sejujurnya aku sedikit merindukan kehidupanku di zaman modern. Aku rindu pada temanku, Prita. Merindukan omelan dari dosen dan suara ribut dari sepupu-sepupuku. Aku merahasiakannya dari semua orang termasuk kalian dan sekarang kalian sudah mengetahuinya."
Dia tertunduk, rasanya mata Natasha memanas sekarang.
"Aku juga senang bisa berada di sini dan merasakan kehangatan dari kalian walaupun tidak lama. Aku senang memiliki adik seperti Lucas dan kakek nenek yang selalu memberikanku dukungan. Aku jadi merindukan mereka. Aku rindu pada ayah dan ibuku. Sampai kapan aku berada di sini? Aku bahkan tidak tahu tujuanku apa dan ... Semua ini tidak ada kejelasannya. Tiba-tiba jiwaku berpindah ke abad pertengahan dan masuk ke tubuh gadis yang nama dan wajahnya mirip denganku. Apa yang harus aku lakukan?"
Dia terduduk dengan sesekali menghapus air matanya. Natasha bahkan sudah lupa bagaimana rupa orang tuanya. Jika dia tak melihat foto mereka, maka dipastikan bahwa Natasha akan melupakan wajah kedua orang tuanya.
"Jika tujuanku adalah untuk mengubah takdir Natasha, lantas apa yang harus aku ubah?"
Setelah sedikit merasa tenang, dia lantas mulai bangkit dan menatap langit senja.
"Kemungkinan besar karakter Natasha berterbalik dengan karakterku, jadi mari kita lakukan perubahan itu. Aku akan melihat apa yang akan terjadi nantinya di masa depan dan kapan kembali ke tempat asalku. Sekarang fokus saja mencari tahu mengenai mereka yang telah membunuh ibu dan ayah!"
Natasha lantas mulai berjalan memasuki kerajaan sebelum akhirnya seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon keluar. Dia mendengarkan segala bentuk curhatan Natasha hingga terlihat raut kebingungan.
"Jadi dia bukan Natasha?"
Di sisi lain, terlihat Lucas yang sedang sibuk membaca buku mengenai sihir api hitam pun dikejutkan dengan kehadiran pelayannya, yaitu Emma.
"Astaga, untung aku tidak punya penyakit mematikan."
"Maafkan saya pangeran, tetapi pangeran Austin datang dan meminta anda untuk menemuinya di taman utama!"
Mendengar itu Lucas mengernyit dan merasa heran. Biasanya Austin akan langsung menemui Natasha, tetapi kali ini berbeda.
"Baik."
Setelah menutup buku dan meletakan pada tempatnya, Lucas lantas pergi untuk menemui Austin. Setibanya di sana, dia segera bertanya tujuan lelaki tampan itu menemui dirinya.
"Ada apa pangeran menemuiku? Tidak biasanya!" ucap Lucas dengan membuat Austin menatap ke arahnya.
Raut wajah pria itu terlihat kebingungan sekaligus khawatir, Lucas lantas mengernyit heran.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Kakakmu ... !" ucapnya menggantung.
"Ada apa dengan kakaku?" Lucas terlihat begitu kesal dengan ucapan Austin yang terkesan memancing kesabarannya.
"Dia bukan Natasha yang kau kenal, Lucas!"
Bersambung...