
Terlihat Natasha, Austin dan kaisar sibuk melawan Zack berserta dengan bawahannya. Gadis cantik itu bisa merasakan adanya rasa ingin membunuh pada Zack begitu besar. Dirinya terus-terusan diincar oleh api hitam milik pria itu.
Natasha sebisa mungkin menghindar dan menyerangkan disaat yang bersamaan. Austin juga tak tinggal diam, selama ini dirinya melatih sihirnya sendiri hingga bisa menguasai lima tingkatan sihir itu.
Kaisar sendiri tengah melawan bawahan Zack hingga akhirnya hanya tersisa beberapa orang saja.
"Ternyata dia sulit ditaklukan!" ucap Natasha dengan memutar otak demi bisa mengalahkan atau setidaknya sihirnya mampu mengenai pakaian Zack.
Zack menatap Natasha dengan nafsu membunuhnya. Dia terus-terusan mengincar gadis itu tak dan memberikannya celah sedikitpun untuk membalas.
"Dia menyerangku dan tidak memberikan jeda sedikitpun, bisa-bisa aku kehabisan tenaga hanya dengan menghindari serangannya!"
Ketika Natasha tidak fokus dan hampir saja dibakar oleh api hitam milik Zack, Austin segera memberikan sihir pertahanan untuk Natasha membuat gadis itu selamat.
"Natasha, fokuslah!" teriak Austin membuat gadis itu menganggukan kepalanya.
Kini giliran Natasha, dia mulai membuat kepalannya dikelilingi oleh api hitam lantas mulai menyerang Zack dari jarak dekat.
Natasha meninju wajah Zack yang ternyata kena membuat pria itu terdorong jauh hingga menghantam batang pohon. Lagi, dia membekukan tangannya lantas kembali memukul perut pria itu dan tak memberikannya ampun.
Sampai pada akhirnya Zack terlihat tidak bernyawa lagi. Natasha yang merasa pandangannya mulai memburam pun akhirnya memilih untuk menjaga jarak dan mencoba mengisi kembali energinya yang dirasa habis.
Ketika dia sedang duduk di dekat sebuah pohon, tiba-tiba Austin berteriak dengan kencang menyebutkan nama Zack membuat Natasha tersentak.
"Zaaackkk!"
Natasha bergegas berdiri dan berlari ke arah Austin yang sudah berteriak penuh emosi.
"Ada apa Austin?" tanya Natasha dengan wajah lelahnya.
"Dia menghilang!" balas Austin dengan raut wajah panik membuat Natasha segera membuang pandangannya ke arah tadi Zack tak berdaya.
Memang benar bahwa pria itu tidak ada, bahkan Natasha pun tak merasakan energinya sama sekali. Sebelum akhirnya perasaan tak menyenangkan menghampirinya.
Natasha tiba-tiba kepikiran pada Lucas yang sedang menjaga kerajaan. Entah kenapa perasaan Natasha menjadi sangat gelisah sebelum akhirnya Azalea datang bersama wajahnya yang pucat pasi.
"L-lapor ratu ... "
Azalea seperti tidak sanggup untuk sekedar mengucapkan satu kata saja membuat Natasha tidak sabar.
"Apa yang mau kau laporkan, cepat Azalea. Aku harus mencari kepar*t sial*n itu dan membunuhnya!" ucapnya frustasi.
"Saat ini pangeran sedang melawan orang yang mengincar ratu dan pangeran s-sebelum akhirnya p-pangeran Lucas terhempas menghantap dinding kerajaan dan tidak sadarkan diri. Saya sempat mengecek pernapasannya dan ... Dan ... "
"Dan apa?" teriaknya saking paniknya Natasha kala itu.
"P-pangeran tidak bernapas lagi!"
Deg ...
Kepala Natasha bagaikan dihantam oleh ribuan batu, matanya membola sebelum akhirnya dia menyusul sang adik dengan kemarahan yang tertahan di hati. Austin tak dapat menghentikan gadis itu dan segera menyusulnya bersama Azalea serta kaisar.
Dalam perjalanan, Natasha memohon agar Lucas bertahan. Setidaknya dia bisa membantu sang adik, hanya saja perasaannya semakin tak karuan. Matanya memanas dan berair, dari kejauhan Natasha dapat melihat kerajaan yang hancur sebagian.
Ada Zack yang ternyata tubuhnya telah berubah. Energinya sangat besar dan seperti tidak terkendalikan. Amukannya membuat para prajurit tewas seketika.
"Aku akan menghancurkan keturunan Beverly!" teriaknya membuat bulu kuduk Natasha berdiri.
Namun, dia mengesampingkan rasa takutnya. Apalagi setelah melihat seorang pria yang sangat dia kenal tergeletak tak berdaya di atas puing-puing kerajaan.
Natasha pun melompat turun dan berlari mendekati Lucas. Kepalanya mengeluarkan darah serta lengannya yang patah. Bahkan Natasha meringis meliht kondisi sang adik yang lebih mengenaskan.
"Lucas bangun, kumohon bangunlah!"
Natasha menangis dengan memangku mayat sang adik. Matanya semakin memanas dan tubuhnya gemetar hebat saat mendapati tidak ada pergerakan sama sekali dari lawan bicaranya.
"Lucass, buka matamu. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Ayah dan ibu sudah pergi, kenapa kau juga menyusul mereka. Lucaaas!"
Saking marahnya, percikan petir merah mulai keluar dari tubuhnya. Natasha merasa dirinya telah gagal untuk sekedar menjaga Lucas. Padahal dia benar-benar menyayangi pria itu. Natasha mulai menenangkan dirinya, membawa tubuh Lucas ke taman utama dan meletakan mayat itu di samping patung kedua orang tuanya.
"Ibu, ayah ... Tolong jaga tubuh Lucas sebentar, begitu aku mengalahkan manusia itu, aku akan menyelamatkan nyawa Lucas. Kalian tenang saja, yang seharusnya pergi bukan dia tetapi aku, karena aku hanyalah orang orang asing."
Natasha mendengar suara amukan Zack yang semakin menjadi, Lantas petir merah kini mulai terlihat.
Dia menaiki angin dan terbang bersama dedaunan yang tersapu oleh angin. Natasha menghapus jejak air matanya sebelum akhirnya dia berhadapan langsung dengan Zack yang kini telah berubah menjadi monster tak terkendali.
Natasha menatap tajam Zack yang juga menatapnya.
"Aaaaaa!"
Natasha berteriak begitu kencang dan pilu secara bersamaan hingga langit menjadi mendung. Petir tiba-tiba terlihat membuat warga desa yang berkumpul menjadi semakin ketakutan. Banyak anak-anak yang memeluk orang tua mereka berharap bencana ini segera berakhir. Mereka juga dapat dengan jelas mendengar teriakan Natasha.
"Itu suara ratu!"
"Iya, benar. Itu suara teriakan ratu."
"Apa yang terjadi?"
"Semoga ratu dan pangeran baik-baik saja!"
Di sisi lain Austin, kaisar dan Azalea kini telah tiba di kerajaan. Kedua pria itu terkejut melihat kerajaan Beverly yang telah hancur sebagian.
"Natasha?"
Austin melihat bagaimana Natasha mulai mengendalikan petir merah, bahkan suara gemuruh di langit pun seperti mengerti akan penderitaan gadis itu.
Kini pandangan Austin dia alihkan pada patung kedua orang tua Natasha.
"Lucas?"
Austin berlari ke taman utama dan menghampiri tubuh Lucas. Dia terkejut melihat kondisi pria itu yang mengenaskan. Tubuhnya telah bersimbah darah, lantas perhatiannya dia alihkan pada Natasha.
"Kau telah membunuh orang tuaku dan kini adikku juga. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah memaafkan manusia sepertimu!"
Semakin keras Natasha berteriak, maka tubuh Zack akan dihantam oleh banyaknya petir, membuatnya tak memiliki kesempatan lagi untuk sekedar membalas. Teriakan memilukan dari Natasha membuat warga desa menjadi panik dan khawatir. Perasaan mereka juga menjadi tidak enak sejak teriakan itu terdengar.
Hingga teriakan terkahir Natasha membuat Zack lenyap seketika. Tubuhnya tercerai-ber*i membuat Azalea segera mengalihkan pandangannya. Enggan melihat hal-hal seperti itu.
Natasha merasa seperti dia tidak memiliki tenaga lagi dan hendak jatuh, tetapi seseorang dengan sigap menangkap tubuh itu dan membawanya ke dekat mayat Lucas.
Gadis cantik itu membuka matanya secara perlahan dan berterima kasih.
"Marquess Alpha? Terima kasih!"
Natasha akhirnya turun dari gendongan Alpha dan memilih untuk mendekati Lucas. Tubuhnya seperti tak memiliki tenaga lagi, ketika hendak terjatuh, Austin segera menangkap tubuhnya.
"Natasha, kau kehabisan tenaga. Istirahat saja dulu!"
Natasha menggeleng dan meminta Austin membawanya ke mayat sang adik.
"Tolong bantu aku, aku mau ke tubuh adikku!"
Austin hanya mengangguk lantas mulai membantu Natasha jalan dan membawanya ke mayat Lucas. Gadis itu duduk, melihat wajah pucas Lucas dia kembali menangis.
Natasha menyentuh pipi Lucas, bibirnya kelu untuk sekedar mengucapkan satu kata saja.
"Maafkan aku!"
Natasha mulai meletakan dua tangannya di atas perut Lucas hingga sebuah cahaya hijau muncul. Azalea berlari dan memukul tangan Natasha.
"Apa yang ratu lakukan? Hentikan! Ratu hanya akan menyakiti diri sendiri."
Natasha menatap tajam Azalea dan mengisyaratkan gadis itu untuk tidak ikut campur.
"Jangan campuri urusanku."
Natasha kembali pada posisinya yang tadi. Cahaya hijau itu semakin terlihat jelas.
"Pangeran, lakukan sesuatu!" ucap Azalea khawatir.
"Memangnya apa yang Natasha lakukan?"
"Ratu ingin menukar nyawanya dengan nyawa pangeran Lucas!"
Mendengar itu Lucas dan Alpha terkejut bukan main. Ketika hendekat mendekat, ternyata Natasha telah membuat penghalang agar mereka tidak mendekat. Terlihat kaisar mendekat dan meminta mereka untuk mundur. Lalu, Natasha mulai berbicara sebelum jiwanya menghilang.
"Selama ini aku bukanlah Natasha yang kalian tahu. Aku hanyalah jiwa asing yang memasuki tubuh gadis dengan wajah dan nama yang sama. Aku dari masa depan, terserah kalian mau percaya atau tidak, tetapi aku sama sekali tidak berbohong. Tugasku sudah selesai, menyelamatkanmu Austin. Aku juga sudah terlalu lama berada di sini dan sangat merindukan tempat asalku. Setelah Lucas sadar, ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi dan tolong katakan padanya bahwa kerajaan Beverly menjadi tanggung jawabnya sekarang. Azalea, tolong bimbing Lucas agar dia menjadi raja yang bertanggung jawab, adil juga bijaksana ... Marquess Alpha, segeralah cari pasangan kalau tidak anda akan menjadi perjaka tua."
Mereka seperti samar mendengar suara kekehan Natasha.
"Kaisar, tolong percepat pernikahan Austin agar dia tidak terlalu lama menyendiri. Banyak gadis yang menginginkan dirinya, carilah pasangan yang baik untuknya. Aku tidak bisa menempati janjiku untuk menikah dengannya, karena aku tidak bisa."
Austin hanya menggeleng, napasnya tercekat mendengar ucapan Natasha. Dia sangan ingin berlari dan memeluk gadis itu, memohon untuk tidak pergi meninggalkannya.
"Dan untuk Austin ... Terima kasih!"
Natasha tiba-tiba berdiri dan menghilangkan sihir penghalangnya. Mereka dapat melihat dada Lucas yang naik turun, itu berarti pria itu kembali hidup. Natasha berbalik menatap Lucas dan tersenyum.
"Terima kasih karena masih mencintaiku. Mari bertemu lagi di masa depan. Aku akan menunggumu bahkan jika itu ribuan tahun lamanya!"
Austin berlari dan memeluk Natasha. Gadis itu berbisik di telinga Austin sebelum akhirnya jiwanya pergi meninggalkan tubuh itu.
"Aku sangat mencintaimu, selama tinggal!"
Austin menangis dengan memeluk tubuh tak berjiwa itu. Tangisannya membuat tiga orang yang berdiri sejak tadi hanya mampu berdiri tanpa tau mau berbuat apa.
Pria yang terlihat sangat keras itu, kini sedang tidak baik-baik saja. Kekasih, cinta pertamanya pergi meninggalkannya. Pergi ke masa depan untuk menunggu kehadirannya bahkan jika itu ribuan tahun lamanya.
Lucas tersadar, dia memegangi kepalanya yang sakit dan akhirnya melihat Austin yang menangis sembari memeluk tubuh Natasha yang sudah tak bernyawa.
"Apa yang terjadi pada kakakku?" tanyanya dengan berjalan tertatih menuju Austin.
Austin masih terus menangis, kaisar akhirnya menceritakan apa yang baru saja terjadi. Lucas terkejut dan melihat tubuh kakaknya. Orang yang menemaninya selama ini ternyata hanyalah orang asing, tetapi perasaan Lucas sangat familiar, itulah mengapa dia nyaman ketika berada di dekat Natasha.
Dia lantas menangis dengan menggenggam tangan sang kakak. Menumpahkan segala kesalahan pada dirinya.
Hingga setahun kemudian keadaan kembali seperti semula. Namun, banyak warga desa yang masih terpukul atas meninggalnya Natasha. Alice yang mendapatkan kabar tentang kematian Natasha bahkan menangis selama seminggu. Permaisuri dan Victoria juga merasa terpukul atas kepergian gadis manis itu.
Di sebuah pohon dengan dengan rerumputan luas, seorang pria duduk menatap awan yang bergerak bebas mengikuti arah angin.
"Ini sudah setahun, bagaimana kabarmu? Aku ... Aku sangat merindukanmu. Bahkan jika wajah dan suaramu tidak sama dengan Natasha, aku tetap mencintaimu. Aku merindukanmu, sungguh."
Austin meremat bajunya sendiri, mencoba menyalurkan rasa kesepian pada rerumputan di sekitarnya.
"Pada akhirnya aku memilih untuk tetap sendiri hingga kita bisa bertemu lagi seperti yang kau katakan. Aku juga akan menunggu hari itu tiba, hari di mana kita saling bertatapan, bersentuhan dan tersenyum. Aku menunggunya!"
Sementara itu di masa depan, Natasha terbangun dari tidurnya. Tidak, bukan tidur, tetapi koma.
Prita yang kala itu sibuk membaca buku pun dikejutkan dengan pemandangan temannya yang telah sadar. Spontan dia bergegas memanggil dokter untuk memeriksa temannya itu.
Setelah memeriksa, dokter menyatakan bahwa Natasha telah melewati masa kritisnya dan akan dipindahkan di ruang inap.
Prita juga mulai menceritakan kejadian bahwa beberapa bulan lalu gadis itu mengalami kecelakaan ketika hendak menyebrang dan berakhir koma di rumah sakit. Bibi dan para sepupunya juga sering datang untuk melihat kondisinya.
Sebetulnya sebelum Natasha sadar, dia bermimpi bertemu dengan Natasha dan kedua orang tuanya.
Di mana Natasha seperti bercermin ketika melihat gadis yang wajahnya sangat persis dengannya. Dia juga mendapati fakta bahwa Natasha adalah reinkarnasi gadis itu.
Setelah beberapa hari di rawat, keadaan Natasha sudah sangat stabil dan diperbolehkan pulang.
"Akhirnya pulang juga, kangen kasur!"
Bersambung...