
Saat ini Natasha sedang menatap kesal ke arah mejanya. Dia menghembuskan napasnya lelah. Saat sedang memikirkan tumpukan kertas itu, Azalea datang secara tiba-tiba hingga Natasha tak dapat merasak energi gadis itu.
"Salam hormat ratu!"
"Astaga. Agh! Azalea, kau mengejutkanku saja."
"Maafkan saya, tetapi saya membawa berita. Pangeran Austin sudah tiba di dalam kerajaan Beverly dan sedang menuju ke mari!"
Natasha terkejut mendengarnya, mendadak sekali. Dia juga akhir-akhir ini tak memiliki waktu itu sekedar memikirkan pria itu. Sudah sebulan dan pasti wajah Austin telah sembuh.
Belum habis rasa terkejutnya, kini pintu ruangan dia bekerja pun di buka oleh Austin, di sana juga ada beberapa pelayan.
Austin tersenyum dan berlari dengan riang menuju Natasha. Posis gadis itu sedang berdiri hingga akhirnya Austin dapat memeluknya. Oh lihatnya, pipi telah bersemu merah sekarang.
"Natasha, akhirnya wajahku tidak memiliki bekas luka bakar lagi!"
Setelah melepaskan pelukannya, Natasha terdiam di tempat. Austin lantas bingung, dia mulai sedikit mencondongkan wajahnya ke depan hingga bisa merasakan napas masing-masing.
Natasha yang terkejut pun tidak sengaja berteriak sembari mendorong Austin menggunakan Sihir angin sampai-sampai pria itu terdorong dan menabrak tembok. Mereka semua terkejut termasuk Azalea.
"A-aduh, punggungku!" keluh Austin membuat Natasha tersadar.
"Astaga, Austin ... Maafkan aku!" teriaknya sembari berlari ingin membantu Austin berdiri.
"Punggungku sakit sekali."
Natasha hendak menarik pria itu, tetapi justru dia yang di tarik hingga dia jatuh dan saling berpandangan. Azalea bergegas menutup pintu ruang kerja Natasha hingga para pelayan itu merasa kecewa.
Setidaknya mereka ingin melihat adegan romantis itu, walaupun hanya sekali.
Austin tersenyum hingga membuat Natasha tersadar dan bangkit seorang diri. Dia membelakangi pria itu dan mengipas-kipaskan wajahnya.
"Haduh, cuaca hari ini panas sekali, ya. Se-sebaiknya kita bicara di luar saja!"
Natasha jalan lebih dulu dengan posisi masih membelakangi Austin, Azalea dan pria itu hanya dapat menahan tawa akibat kesalah tingkahannya seorang Natasha.
Kini kedua nampak sedang berada di taman utama, cuaca hari itu sangat indah dengan langit yang bersih dari awan. Natasha mencoba untuk menetralkan debaran jantungnya.
"Sekarang wajahmu sudah bersih dan tidak ada lagi bekas luka bakar. Pasti sekarang banyak gadis yang mengincarmu!"
Natasha tersenyum getir, ada sebuah ketakutan dalam dirinya.
"Tetapi aku tidak. Hatiku sudah diisi olehmu, Natasha."
Mendengar itu jantung Natasha kembali berdebar bahkan wajahnya kembali memanas. Rasanya seperti dia akan terbakar.
"Ahahaha, ma-mana mungkin."
Austin lantas menangkup kedua pipi Natasha dan membuat keduanya saling berhadapan. Terlihat raut keseriusan dari pria itu.
"Sampai mati hanya kau yang aku mau, Natasha. Kau tahu sendiri siapa yang mau menerimaku dengan tulus, sementara perempuan diluaran sana tidak ada. Hanya kau, perempuan yang selalu ada di sisiku. Terima kasih karena mau berbicara denganku waktu itu!"
"T-tapi bagaimana kalau kaisar memintamu untuk menikah? Apalagi wajahmu sudah sempurna Austin, aku takut jika kau dipaksa untuk menikah dengan perempuan lain. Kau tahu sendiri, Lucas masih kecil dan aku harus menjadi seorang ratu sampai dia dewasa. Pastinya kaisar tidak mau menunggu hal itu!"
Austin menggeleng, rasanya Natasha sebentar lagi akan menangis.
"Aku akan menolaknya. Hanya kau perempuan yang aku mau. Jangan bicara begitu."
"Kau tidak akan bisa menolaknya, Austin. A-aku ikhlas jika nantinya kau akan menikah dengan salah sat-"
Austin lantas mengecup pelan bibir Natasha hingga membuat gadis itu terdiam seketika.
"Jangan ikhlas Natasha, jangan. Jika hal itu terjadi, kau tidak boleh mengikhlaskan aku menikah dengan perempuan manapun."
"Aku tidak punya untuk itu Austin!" tolaknya.
"Kau punya karena aku yang minta. Jangan pikirkan hal itu, dalam hatiku hanya kau. Perempuan yang mau menerima kekuranganku bahkan berani membelaku di depan gadis-gadis bangsawan pada hari itu."
Malam harinya Natasha nampak tertidur dengan pulas, sementara di kekaisaran sana telah terjadi kegaduhan antara Austin dan kaisar.
Ternyata hal yang ditakutkan oleh Natasha pun terjadi. Kaisar terus mendesak Austin untuk segera menikah, apalagi wajahnya telah sembuh otomatis akan banyak gadis yang menginginkannya.
Austin nampak menatap tajam sang ayah, ketika dia mengamuk maka kekaisaran seperti akan roboh saja.
Permaisuri mencoba meminta mereka untuk melakukannya dengan kepala dingin, tetapi kaisar justru membentak istrinya itu membuat Austin semakin marah.
Victoria yang melihat mereka dari ambang pintu hanya bisa terdiam. Pikirannya melayang pada Natasha, dia dan ibunya tahu betul bahwa gadis itu sangat menyukai kakaknya.
"Bagaimana perasaan kak Natasha kalau tahu hal ini?" tanyanya dengan khawatir.
Keesokan paginya Natasha terlihat sedang sibuk dengan kertas-kertas yang tersisa sedikit. Dia mencoba meregangkan ototnya mengingat bahwa dirinya belum melakukan gerakan yang dapat melenturkan ototnya selama sebulan ini.
Tiba-tiba Natasha seperti mendapatkan firasat buruk.
Disaat yang bersamaan, datanglah Azalea. Wajah gadis itu menunjukan keseriusan.
"Salam hormat ratu, saya datang dengan membawa berita yang telah tersebar luas dari semalam."
"Apa itu?" tanyanya mencoba santai.
"Pangeran Austin dijodohkan oleh salah satu bangsawan dari kerajaan Lagarde."
Deg
Perasaan tak mengenakan itu semakin membuat hati dan pikirannya campur aduk. Natasha mencoba untuk tetap tenang.
"Si-siapa nama gadis itu?"
Mendengar itu Natasha bagaikan dihantam oleh ribuat batu dari segala arah. Tubuhnya lunglai, rasanya seperti tak ada tulang lagi.
"K-kau boleh pergi."
"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Azalea khawatir, apalagi saat melihat Natasha yang langsung tak memiliki semangat.
"Aku baik-baik saja. Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu!"
"Baiklah."
Setelah kepergian Azalea, Natasha perlahan menangis. Dia turun dari kursi dan duduk di bawah meja. Matanya semakin memanas, debaran jantungnya juga kian cepat. Natasha menangis hingga sesegukan.
Dikarenakan sudah tersebar, Lucas berlarian menuju ruang kerja sang kakak. Dia melihat tempat itu kosong hingga telinganya menangkap suara tangisan yang berasal dari bawah meja.
Lucas melangkah perlahan dan melihat Natasha sedang meringkuk memeluk kedua lututnya. Menangis dengan tubuh yang gemetar hebat.
Lucas pun memeluk Natasha sembari mengepalkan tangan.
Ya, dia sudah mendengar beritanya dan itulah mengapa Lucas langsung berlari untuk mencari Natasha.
Di sisi lain, terlihat kamar Austin telah berantakan. Dia mengamuk sejadi-jadinya semalam dan pikirannya langsung melayang pada gadis pemilik senyum paling indah.
Hati Austin menjadi resah, dia pun mulai keluar untuk bergegas ke kerajaan Beverly demi menemui Natasha.
Kaisar yang melihat Austin menaiki kuda lantas memanggilnya, tetapi dihiraukan oleh anaknya itu.
Austin terus memacu kudanya dengan perasaan tidak tenang. Setibanya di sana, dia justru disambut oleh para pengawal. Mereka terlihat menutup akses jalan Austin, sementara pria itu turun dari kudanya.
"Bisakah aku bertemu dengan ratu kalian?" tanyanya dengan wajah yang tidak tenang.
"Maaf pangeran, tetapi ratu saat ini sedang tidak ingin diganggu. Kami juga diminta itu melarang pangeran memasuki kerajaan Beverly!"
Hati Austin sakit mendengarnya.
"Biarkan aku bertemu dengannya, sekali saja. Aku ingin lihat dan berbicara dengannya. Setidaknya dia harus mengetahui kebenarannya!"
"Kebenaran seperti apa pangeran?"
Itu adalah suara Lucas. Terlihat pengawal membuka jalan hingga kini kedua berhadapan.
"Lucas, biarkan aku bertemu dengan kakakmu."
"Hanya untuk memberinya ucapan manis saja? Pangeran anda sudah menyakiti hati orang yang saya sayang. Bagaimana bisa anda menikah dengan orang lain, sementara kemarin anda terlihat sangat meyakinkan sekali!"
Austin tahu, tetapi Natasha harus mengetahui kebenarannya.
"Aku sudah menolak dengan keras permintaan ayahku, tetapi aku kalah. Padahal aku sudah berjanji akan menunggu kau dewasa dan menikah dengan Natasha, tetapi aku justru mengingkarinya. Maafkan aku, tolong katakan pada Natasha aku minta maaf. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku menyesal."
Lucas bisa melihat itu.
"Seharusnya bekas luka bakar ini tidak sembuh, jadi ayah tidak perlu mendesakku untuk menikah. Seharusnya memang begitu!"
"Sudahlah pangeran, pernikahan anda akan diadakan besok jadi pulang dan beristirahatlah. Saya dan kakak saya tentu akan datang, menyaksikan pernikahan itu. Selamat atas pernikahanmu! Pengawal, tutup pintunya."
Lucas pun akhirnya kembali ke kamar sang kakak di mana ada nenek dan kakeknya.
Sang nenek terlihat sedang mengelus pelan rambut pirang cucunya.
"Tidak baik untuk terus menangis. Pangeran juga pasti sulit menolak permintaan kaisar, terlebih dia anak tertua dan umurnya juga sudah cukup untuk menikah. Tidak apa-apa, cucu nenek adalah orang yang kuat. Jangan hanya karena ditinggal menikah, kau sampai tidak memikirkan rakyat. Sibukan dirimu dengan mengurusi kerajaan saja, maka kau akan melupakan kejadian hari ini. Jika suatu saat nanti kau teringat lagi, menangis seperlunya saja."
Malam harinya kekaisaran terlihat sangat sibuk dengan para pelayan yang mendekor aula pernikahan untuk besok, tak sedikit juga yang mulai bergosip.
Sementara di bagian dapur ada beberapa pelayan yang mulai membicarakan calon istri Austin.
"Huh, bisa-bisa perempuan itu yang menikah dengan pangeran!"
"Iya, padahal dia yang sering sekali memaki dan menghina pangeran dulu!"
"Memang tidak tahu diri. Setelah ratu Natasha membantu pangeran menyembuhkan bekas luka bakarnya, dia mulai mencari perhatian kaisar."
"Entah apa yang ada dipikiran kaisar kemarin malam. Padahal jelas-jelas bahwa yang hanya menerima pangeran biarpun dalam keadaan memiliki kekurangan hanya ratu Beverly saja."
"Sudah-sudah. Nanti kalau didengar oleh orang itu, kita akan dimarahi. Sebaiknya kita segera menyelesaikan memasaknya, karena besok akan lebih merepotkan lagi."
Di ambang pintu dapur, terlihat Hellen mengeraskan rahangnya.
"Berani menghinaku? Lihat saja, akan aku buat kalian menderita setelah menikah dengan Austin!"
Bersambung...