Stuck In The Middle Ages

Stuck In The Middle Ages
21| Surat ancaman



Natasha kini terlihat sedang duduk sembari menikmati semilir angin sore. Dia menerawang jauh apa yang akan terjadi kedepannya.


      "Hm, aku penasaran. Apa yang dia maksudkan dengan masa depan terubah? Apa mungkin jika aku menyelamatkan nyawa Austin dan diriku sendiri maka di masa depan nanti ada perubahan? Lantas, perubahan macam apa?"


Terlalu banyak pertanyaan yang terlintas di otak Natasha, membuatnya hanya bisa menghembuskan napasnya lelah.


Natasha tahu, dia hanya bisa melakukan yang terbaik tanpa mengetahui hasilnya nanti.


Malam harinya, Natasha hendak pergi tidur setelah memeriksa sekitar kamarnya. Entahlah, perasaannya sejak tadi tidak enak.


Baru saja akan menutup mata, tiba-tiba sebuah batu menghantam kaca jendelanya membuat para penjaga bergegas berlari ke arah kamar Natasha, tetapi tak berani untuk sekedar membuka pintu kamar.


     "Ratu, apakah anda baik-baik saja?" tanya salah satu pengawal dengan nada paniknya.


Natasha menatap keheranan pada batu yang dilapisi oleh kertas itu.


     "Aku tidak apa-apa!" jawabnya yang kemudian mengambil kertas itu.


Natasha membuka dan membaca isinya.


      "Cepat atau lambat, kau akan mati ditanganku!"


Natasha mengernyit, siapa yang berani mengiriminya hal semacam ini? Jelas itu bukanlah sebuah candaan dan Natasha membencinya. Saat menatap ke jendela, matanya menangkap sebuah bayangan yang tadinya berada di dahan pohon lantas menghilang.


     "Energi itu ... "


Natasha nampak menelan ludahnya. Dia tadi merasakan energi yang besar.


Semenjak kejadian semalam, Natasha menjadi gadis yang semakin waspada dan tidak gegabah. Dia bahkan cenderung akan menjaga jarak jika sedang berada di luar istana.


     "Semalam energinya tidak terlalu asing, tetapi terlalu besar. Siapa yang memiliki energi sebesar itu?" tanyanya dengan mengetuk-ketukan dagu menggunakan jari telunjuk.


      "Jika orang yang kukenal, lantas siapa? Tidak mungkin Hellen, dia tak mempunyai energi, bahkan milikku lebih besar."


Tiba-tiba Azalea datang untuk memberikan sebuah informasi.


     "Salam ratu. Saya baru saja menyelidiki organisasi Avigator dan mendapatkan informasi bahwa kekediaman mereka berada jauh dari sini. Bahkan banyak yang tidak tahu letak spesifiknya, kemungkinan besarnya mereka menggunakan sihir penghalang untuk menyembunyikan tempat mereka!"


     "Sihir penghalang?" tanyanya membuat Azalea mengangguk.


     "Sihir ini tidak termasuk dalam kategori lima sihir yang wajib dipelajari oleh setiap bangsawan yang bersekolah, tetapi sihir penghalang sendiri memiliki tingkatan yang rumit. Hanya sekitar dua persen orang saja yang mampu menguasainya dan salah satunya adalah ketua dari organisasi Avigator."


Azalea kembali melanjutkan.


      "Saya menemukan beberapa pergerakan mereka yang sepertinya bersiap untuk membuat rusuh di daerah kekaisaran. Tidak tahu apa motifnya, tetapi pangeran Austinlah yang mereka incar. Saya menduga ini ada hubungannya dengan kejadian di masa lalu. Apalagi orang tua ratu adalah bagian terpenting dari kejadian itu!"


Natasha kemudian berpikir dan mulai menduga.


     "Jangan-jangan yang kau maksud adalah kejadian di mana keluarga Dixon diseret dan dieksekusi mati semuanya akibat ulah anak tertua mereka?" tanya Natasha yang langsung mendapatkan anggukan mantap dari Azalea.


     "Benar ratu, tetapi menurut beberapa desas-desus, ada yang melihat anak bungsu dari keluarga Dixon masih hidup. Wajahnya terlihat mirip dengan ayahnya, padahal mereka menyaksinya sendiri kematian keluarga itu."


Natasha menganguk.


     "Sepertinya memang begitu. Jadi kemungkinan besarnya dia berniat membunuhku dan Lucas agar keturunan Beverly tidak ada lagi, lantas kenapa mereka juga mengincar Austin?"


      "Saya sudah mencari tahu dan ternyata nona Hellen, mantan istri pangeran melakukan kontrak kerjasama. Bahkan dia juga rela tubuhnya dijadikan jaminan asalkan kepala pangeran di bawa oleh mereka untuk diberikan pada nona Hellen!"


Mendengarnya sontak membuat Natasha terkejut bukan main.


     "Tidak mungkin. Mengapa dia sampai melakukan hal gila sejauh itu?"


Setelah menerima informasi itu, dia segera menemui kepala prajurit untuk memerintahkan mereka.


      "Segera perkuat pertahanan pada area kerajaan dan beri mereka latihan yang ketat. Aku punya firasat buruk jadi jangan banyak bertanya. Jika waktunya sudah tiba, kau akan tahu alasannya!"


      "Baik ratu!"


Natasha akhirnya memilih pergi ke tempat biasa dia berlatih pada malam hari. Matanya menatap langit yang begitu cerah, membuatnya enggan meninggalkan tempat itu.


      "Jika menyelamatkan Austin dan diriku akan membuatku kembali ke tubuh asli, maka aku akan dengan hati menunggunya. Bukan karena aku tidak senang berada di sini, tetapi tempatku ada jauh di sana."


Natasha bermonolog seorang diri. Baru saja akan bergerak untuk melatih sihirnya agar menjadi lebih kuat, Azalea datang.


     "Ratu, saya mendapatkan berita dari para warga kalau pangeran Austin mengadakan perlombaan dan yang menang akan diangkat menjadi istrinya. Namun, perlombaan kali ini benar-benar akan diikuti oleh banyak gadis bangsawan."


Natasha tersenyum, sepertinya Austin sangat tidak sabaran.


      "Apa ratu tidak berniat untuk ikut?" tanyanya membuat Natasha menatap Azalea.


      "Tentu saja, terlebih Lucas sudah bisa menggantikan posisiku walaupun masih berumur sembilan belas tahun, tetapi aku tidak akan menampakan diri dan sebaliknya. Aku akan menggunakan topeng agar wajahku tidak terekspos."


Natasha memiliki rencananya sendiri. Daripada harus mengumbar diri dan membuat sebagian kontestan menyerah, dia harus menutupi dirinya agar tidak menjadi pusat perhatian.


Tidak, tentu saja dia akan menarik perhatian banyak orang!


Saat ini Natasha tengah menjahit pakaiannya sendiri. Dia juga sudah mendapatkan kabar tersebut dari pesuruh kaisar dan lombanya diadakan tiga hari lagi, sekaligus mereka akan mencari tempat yang strategis.


Setelah pakaian selesai dia jahit, Natasha tersenyum. Namun, dia juga merasakan hal buruk terkait lomba kali ini. Dia takut ketika hari itu tiba, di mana para warga desa berkumpul hanya untuk menonton, ada kejadian yang mampu merenggut nyawa mereka.


Dia lantas meletakan bajunya di atas kasur, kemudian berjalan mendekati jendela.


Tiba-tiba bayangan Austin muncul di kepalanya. Dia tersenyum sembari mengalihkan pandangannya pada seseorang yang berada di taman utama. Itu adalah Lucas yang sedang berbicara dengan Chris. Ya, Chris datang lagi karena pria itu harus pulang segera setelah mendapatkan informasi bahwa kerajaan membutuhkannya.


      "Chris sendiri saja?"


Natasha pun segera pergi untuk menemui keduanya. Setelah tiba, Chris seperti akan pergi.


     "Oh, halo Natasha!" sapanya dan dibalas dengan senyuman gadis manis itu.


     "Kau akan pulang?" tanyanya dan melihat Chris yang sudah selesai berbicara dengan Lucas.


     "Jika aku tidak segera pulang, maka Alice akan mencariku dan mengamuk ketika tahu aku ke mari tanpa sepengetahuan dia!"


Mendengar itu, Natasha sontak tertawa kecil. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Alice ketika Chris meninggalkan gadis itu di dalam kereta kuda sendirian.


     "Ya, sudah. Sebaiknya memang kau pulang sebelum dia mengamuk dan menyusul ke mari!"


Chris akhirnya pulang dan menyisahkan dua kakak beradik ini. Natasha pun mengajak Lucas untuk masuk mengingat hari semakin sore.


Malam itu Natasha keluar dari kamar menuju tempat biasa dia latihan.


"Bukan sihir api hitam yang lebih kuat dan sulit untuk di pelajari, tetapi sihir petir merah. Beruntung aku menemukan buku tentang petir merah!"


Natasha lantas membuka halaman pertama pada buku yang dia bawa. Setelah beberapa kali mencoba menghafalkan, Natasha bersiap untuk melakukannya.


Dia berlatih bahkan hampir tersambar sihirnya sendiri membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Hampir saja aku terkena sihirku sendiri. Jelas petir merah ini lebih sulit daripada api hitam. Aku hanya punya waktu dua hari sampai hari itu tiba!"


Natasha yang saking asiknya berlatih sampai-sampai tak sadar matahari sudah terbit dari ufuk timur. Mendengar kicauan burung barulah dia tersadar.


"Astaga, aku latihan sepanjang malam sampai-sampai tak sadar sudah pagi!"


Bergegas Natasha kembali ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh di atas ranjang.


"Aku mau tidur dulu, kemungkinan hari ini akan baik-baik saja!"


Akhirnya Natasha tertidur, bahkan lebih pulas. Dia tak mempedulikan tubuhnya yang berkeringat, asalkan rasa kantuknya hilang. Hari semakin siang, terdengar pintu kamar Natasha didobrak paksa hingga terbuka, menampilkan sosok Lucas yang wajahnya sudah kesal. Dia berjalan mendekati Natasha dan mulai berteriak.


"Banguuuuuun!"


Natasha terpelonjak kaget dan bersiap untuk menyerang membuat Lucas menggelengkan kepalanya.


"Ah, kau mengganggu waktu tidurku saja. Sana, aku masih mengantuk!" usir Natasha membuat Lucas seketika menarik tangan gadis itu.



"Kita ada pertemuan dengan para bangsawan. Mereka mau melaporkan keadaan akhir-akhir ini. Cepat bersiap, bahkan ayam lebih tepat waktu daripada kau!"


Natasha nampak menggerutu karena Lucas sudah mengganggu waktu tidurnya.


Setelah selesai mandi dan bersiap, Natasha bergegas berjalan menuju ruang pertemuan. Begitu pintu terbuka, menampilkan para bangsawan yang sedang berdiskusi. Dia lantas duduk di tempatnya dan meminta maaf.


"Maafkan aku karena sudah membuat kalian menunggu lama!"


Mereka akhirnya berdiskusi dan Natasha meminta untuk memperkuat wilayah masing-masing. Mengingat apa yang dikatakan oleh Azalea kemarin membuatnya tak tenang.


"Lalu, wilayah perbatasan apakah ada yang aneh?" tanya Natasha dengan menatap dua marquess yang bertugas untuk menjaga perbatasan kerajaan.



"Tidak ada yang aneh ratu," jawab keduanya serempak.


Natasha hanya bisa mengangguk paham. Setelah pertemuan itu berakhir, mereka mulai kembali dengan kegiatannya masing-masing. Lucas sedang melatih pedangnya, dia juga telah menguasai sihir pertahanan. Lucas sendiri menjadi lulusan termuda, itu juga permintaan dari Natasha yang sempat berdiskusi dengan para guru.


Tidak akan ada waktu lagi sampai menunggu Lucas lulus sekolah, mengingat dia sudah harus bertanggung jawab pada kerajaan. Natasha berjalan ke tempat pelatihan dan menemui sang adik. Badan Lucas tentu sudah terbentuk dengan sempurna dan membuat siapapun akan tertarik padanya.


"Bagaimana pelatihan sihirmu?" tanya Natasha penasaran.



"Berjalan lancar, hanya saja aku kesulitan untuk menguasai sihir api hitam." Lucas menyeka keringat yang mengalir di tubuhnya.



"Malam nanti datang ke kamarku, kita akan pergi ke tempat biasa aku berlatih. Aku akan melatihmu sampai kau bisa menguasai sihir api hitam. Ingat Lucas, semenjak kepergian orang tua kita, semuanya menjadi tak terkendali. Banyak juga musuh yang mulai menampakan batang hidungnya. Kelak kau akan menjadi raja, menggantikan posisiku. Jadi kau harus bisa melihat mana yang baik dan tidak. Siapa yang dapat kau percayai. Tidak mudah untuk percaya pada orang-orang sekarang karena banyak musuh dalam selimut."


Natasha menatap awan yang bergerak mengikuti arah angin. Dia menghembuskan napasnya.


"Jika suatu saat aku pergi menyusul orang tua kita, kau harus berjanji untuk menikahi gadis yang mampu membuatmu bahagia. Melahirkan anak-anak yang akan menjadi penerusmu!"


Mendengar ucapan asing sang kakak membuat Lucas langsung menatapnya heran.


"Apa maksudmu? Kau tidak berniat menyusul mereka, kan?" tanya Lucas takut-takut.


Natasha tersenyum dan menggeleng.


"Manusia itu pasti mati. Sudahlah sebaiknya kau lanjutkan saja latihannya. Semangat!"


Bersambung...