
Apa?
Pikiran Irene terhenti sejenak.
Matanya melebar seketika. Bagaimana mungkin?!
"Saya tahu ini sulit dipercaya, namun saya yakin hal paling penting yang perlu Anda ketahui adalah kasus antara Nona Irene dan Yang Mulia Theodore adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana tingkat kekuatan mental kalian ternyata memiliki kecocokan yang melampaui persentase rata-rata."
Mu ZiXi menyerahkan sebuah berkas kepada Irene. Ketika melihat persentase kecocokan antara dua gelombang kekuatan mental, mata Irene melebar seketika. Dia menatap laporan itu dengan erat, sambil bergumam, "Bagaimana mungkin? Ini sangat tidak masuk akal."
Mu ZiXi, "Awalnya kami juga berpikir begitu. Tapi inilah faktanya. Tingkat kecocokan 99,9% seolah mengatakan bahwa keberadaan kalian berdua ada untuk satu sama lain. Kami menyebutnya 'belahan jiwa'."
"Tapi Presiden Mu, kami sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Bukankah tingkat kecocokan yang tinggi hanya akan terjadi jika kedua belah telah membangun kepercayaan dan melakukan transfer kekuatan mental dalam waktu yang lama?" tanya Irene dengan kerutan jelas di antara alisnya.
"Benar, itulah sebabnya kami mengatakan situasi ini belum pernah terjadi sebelumnya, kalian adalah kasus pertama. Kami belum bisa menemukan alasannya, jadi kami berasumsi bahwa ini ada kaitannya dengan ikatan pribadi kalian sendiri. Karena itulah kami mengambil kesimpulan bahwa kalian berdua adalah 'belahan jiwa' untuk satu sama lain," jawab Mu ZiXi.
Irene terdiam. Bahkan pihak Menara tidak bisa menemukan alasan sebenarnya dari kejadian ini..
"Jadi Nona Irene, apakah Anda ingin bertemu dengan Yang Mulia Theodore?"
Irene menegang sejenak. Dia tahu Menara sudah lama ingin menemukan pasangan untuk Yang Mulia Theodore, hanya saja sampai saat ini usaha mereka tidak berhasil. Sekarang setelah mereka menemukan kasus seperti ini, apakah mereka akan menerima penolakan?
Irene menggigit pipi bagian dalamnya. Situasi ini benar-benar sulit. Dia memang tidak terlalu memikirkan masalah pernikahannya, tetapi dia juga tidak berharap kalau pasangannya adalah orang yang sama sekali asing baginya. Karena Presiden Menara memanggilnya, maka itu artinya Yang Mulia Theodore telah mengetahui masalah ini dan mungkin juga tertarik.
"Gadis kecil."
Irene menatap Blaire.
Blaire tersenyum, "Luangkan waktumu untuk berpikir dengan jernih. Aku cukup mengenal Theodore. Jika kamu memang benar-benar tidak ingin menjadi pasangannya, maka katakan saja. Dia bukan tipe yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain, jadi jangan ragu untuk mengutarakan pikiranmu. Tapi kamu juga harus tahu, ini adalah masalah yang sangat serius. Jika masalah ini tersebar keluar, kalian berdua mungkin akan menarik perhatian beberapa pihak yang berniat buruk. Theodore mungkin sulit dijangkau, namun kamu berbeda. Menara bisa memberikan bantuan perlindungan, tapi akan lebih aman jika kamu bersama Theodore."
Mendengar kata-kata Blaire, kecemasan Irene perlahan mereda. Namun, dia masih tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya. Jika saja Dylan ada bersamanya...
"Aku....Aku tidak tahu."
Blaire menghela nafas dan memeluk Mu ZiXi. Tindakan ini menarik perhatian Irene.
"Tahukah kamu sebenarnya aku dan ZiXi juga tidak mengenal satu sama lain pada awalnya. Karena kecocokan kekuatan mental kami, aku menyetujui proposal Menara berdasarkan ketertarikan sekilas. Adapun suamiku ini, dia menyetujui proposal Menara karena salah menandatangani dokumen. Jadi, hubungan kami sebenarnya dimulai karena kesalahan kecil ini."
"Meskipun begitu, kami berhasil bergaul dengan baik satu sama lain. Yang ingin kukatakan adalah suatu hubungan yang belum dimulai belum tentu akan berakhir buruk. Mengapa tidak saling mengenal dulu? Jika memang tidak cocok maka belum terlambat memutuskan hubungan. Lagipula, bukankah kamu juga tahu pernikahan roh itu tidak harus didasarkan pada cinta. Jika kamu memang ingin pernikahanmu didasarkan atas perasaan kasih sayang yang timbal balik, maka tidak perlu mengikuti saranku."
Irene merasa kata-kata Blaire ada benarnya. Dia sendiri tidak pernah memikirkan untuk jatuh cinta, Irene hanya berharap dia dan Dylan bisa bahagia dan aman di masa depan. Mungkin nasibnya memang buruk sehingga terikat dengan fakta luar biasa seperti ini, tapi jika memang sudah seperti itu, bahkan jika dia menolak proposal Menara, bukankah akhirnya dia hanya akan terlibat masalah juga? Mengapa tidak mengikuti arus dan menentukan pilihan yang paling menguntungkan?
"Terima kasih atas sarannya, Nyonya Blaire. Saya setuju untuk bertemu dengan Yang Mulia."
...
Irene berdiri di depan gerbang mansion tertentu dan merasa ingin memukuli dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa memutuskan sesuatu dengan gegabah?!
Tepat setelah Irene setuju untuk bertemu dengan Yang Mulia Theodore, Mu ZiXi langsung mengirimkan pesan ke pihak Theodore, lalu mengatakan kepadanya kalau dia bisa pergi ke Mansion Yang Mulia Theodore sekarang.
Jadi di sinilah dia sekarang...
Irene mengirimkan pesan ke kontak yang diberikan Mu ZiXi. Beberapa saat kemudian, pintu gerbang terbuka dan memperlihatkan seorang pria muda dengan tuksedo menyambutnya.
Mansion ini lebih besar dari Mansion Adler, namun jumlah penghuninya tampaknya sangat sedikit. Sepanjang perjalanan, jumlah orang yang ditemui Irene bisa dihitung dengan dua tangan.
Mereka masuk ke rumah kaca dan Irene terpesona dengan pemandangan yang dilihatnya. Seorang pria berambut perak panjang memejamkan matanya sambil beristirahat di gazebo. Bunga-bunga disekitarnya meskipun indah, namun hanya menjadi latar belakang jika dibandingkan dengan pria itu. Cahaya keemasan dari sinar matahari ternyata cukup serasi dengan rambut perak itu.
Irene memegang dadanya, jantungnya berdegup kencang, namun entah kenapa rasanya ingin menangis. Dia tidak tahu mengapa emosi ini bisa muncul. Seolah merasakan gangguan di sekitarnya, bulu mata perak pria itu sedikit bergetar kemudian kelopak matanya terbuka. Ketika Irene melihat sepasang pupil ametis menatapnya, dia tidak pernah berpikir warna ungu yang jarang diperhatikannya ternyata bisa menjadi favoritnya. Jika Irene belum bertemu pria ini, maka dia akan merasa pupil ruby Blaire adalah yang terindah.
Aku akhirnya menemukannya.
"Felix, tinggalkan kami sendiri."
Felix, pria muda yang mengenakan tuksedo, membungkuk sebelum meninggalkan rumah kaca.
Irene sedikit bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang. Untungnya, pria di depannya mungkin menyadari kecanggungannya dan mempersilakan Irene duduk di hadapannya.
"Selamat datang di rumah ini, aku yakin Menara sudah memberitahumu masalah kita. Aku Theodore, pemilik rumah ini."
Irene tidak menyangka roh yang dikenal acuh tak acuh ini ternyata sangat ramah. Setelah bertemu dengan Blaire dan Theodore secara langsung, Irene mempelajari kalau para roh mungkin tidak sepenuhnya seperti yang dirumorkan.
"Halo Yang Mulia, saya Irene Adler."
Irene tidak tahu harus bagaimana melanjutkan pembicaraan. Dia takut kata-katanya bisa menyinggung roh di depannya. Tanpa dia sadari, jauh di lubuk hatinya, dia ingin membangun kesan baik di hadapan Theodore.
Theodore sedikit kecewa ketika Irene memanggilnya dengan panggilan kehormatannya. Ini adalah pertemuan pertama Irene dengannya, jangan sampai dia terlalu antusias dan membuat gadis ini takut. Sayangnya Theodore sendiri juga bukan pembicara yang baik, dia tidak tahu harus bagaimana memulai percakapan. Hening menimpa keduanya yang membuat mereka diam-diam cemas dalam hati, hingga suara tertentu tiba-tiba terdengar dari perut Irene.
Wajah Irene semerah apel. Dia memeluk menyentuh perutnya dan menyalahkan dirinya dalam hati, mengapa perutnya harus berbunyi di saat seperti ini?! Sungguh memalukan...
Irene menatap Theodore yang tertegun dan rasa malunya bertambah besar. Theodore menjentikkan tangannya ke pohon apel terdekat dan setumpuk apel tercabut dari batangnya dengan sentuhan tak terlihat, lalu semuanya melayang dan menumpuk di meja. Irene tertegun dengan pemandangan ini, dia memang pernah mendengar kalau kekuatan mental sebenarnya bisa digunakan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, namun dia sendiri belum mampu mengendalikan kekuatan mentalnya. Theodore tahu apa yang sedang dipikirkan Irene, namun yang dia gunakan sebenarnya bukan kekuatan mentalnya, melainkan kemampuan alami roh. Akan tetapi, dia tidak mengatakannya atau dia akan terkesan terlalu banyak bicara.
Sambil memakan apel, Irene merasa lebih terbuka dan memulai percakapan terlebih dahulu. Mereka membicarakan hal-hal kecil seperti hobi, pengalaman, lelucon masa kecil, dan sebagainya. Namun, sebagian besar Irene yang bercerita dan Theodore hanya mendengarkan. Irene menatap Theodore yang mendengarkannya dengan serius, dia sebenarnya ingin roh di depannya berbicara lebih banyak tentang dirinya. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pihak lain. Irene bahkan ragu apakah Theodore sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan masalah pasangan masa depannya. Blaire memang mengatakan kalau sebagian besar roh tidak akan terlalu peduli dengan urusan duniawi dan tidak suka terikat oleh aturan yang memaksa mereka di luar kehendak mereka.
"Yang Mulia, mengenai masalah kecocokan kekuatan mental kita, apakah Yang Mulia ingin membangun hubungan ini?" tanya Irene dengan ragu setelah berpikir dengan hati-hati. Dia harus mengetahui pendapat pihak lain tentang masalah ini.
"Irene, jika kamu bisa datang kesini, maka itu artinya aku tidak mempermasalahkan hal ini. Justru kamu sendiri, apakah kamu ingin menjalin hubungan ini?"
"Aku..."
Theodore sebenarnya kecewa ketika mendengar Irene ragu-ragu, tetapi kekecewaannya tidak muncul di wajahnya. Dia tersenyum dan berkata, "Inilah yang harus kamu pikirkan. Jika kamu memang tidak menginginkan hubungan ini, maka kita tidak akan membahasnya lagi. Sekarang sudah sore, kamu sudah harus pulang ke rumah. Jika kamu sudah memikirkannya, kamu boleh memberiku jawaban kapan pun."
Irene tahu Theodore pasti merasa tidak nyaman dengan keraguannya. Meskipun Theodore menyambutnya dengan ramah, tapi dia adalah roh yang dijunjung tinggi dan dihormati oleh masyarakat, banyak yang ingin menjadi pasangannya. Tapi dia malah mendapatkan jawaban yang tidak pasti. Theodore pasti berpikir dia tidak menghargainya. Beberapa kalimat terakhir Theodore juga secara halus mengusirnya.
Theodore tidak tahu bahwa Irene salah paham kalau dia sedang marah karena sikap ragu-ragu Irene, sekarang Theodore hanya memikirkan bagaimana harus meningkatkan kesan baik Irene terhadapnya dan tidak menyadari kalau gadis di depannya sudah cemas.
Irene melihat Theodore menolak untuk menatapnya dan sebaliknya menatap bunga-bunga di rumah kaca. Rasa tidak nyaman tumbuh di lubuk hatinya, namun dia memaksakan senyuman dan mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi dengan tergesa-gesa. Yang tidak Irene ketahui, Theodore yang melihatnya pergi dengan tergesa-gesa mengira dia benar-benar tidak menyukainya dan perasaan sedih kembali muncul.
Felix sedang menunggu di depan rumah kaca. Ketika Irene keluar, dia mengantarkannya ke pintu gerbang dengan sopan. Irene memanggil taxi dan kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ketika dia membuka pintu vila dan melihat tidak ada siapa pun di rumah, rasa tidak nyaman Irene bertambah besar. Dia lupa kalau Dylan tidak akan pulang hari ini. Irene merasa kesepian yang mendalam dari lubuk hatinya. Biasanya di saat dia sedang merasa tidak nyaman, saudaranya akan selalu ada untuk menghiburnya dan mendengarkan keluhannya. Sekarang dia benar-benar membutuhkan Dylan. Irene tidak tahu mengapa hanya dengan pertemuan pertama, sosok Theodore sudah mampu mempengaruhi suasana hatinya. Irene tahu ini tidak wajar. Mungkin inilah salah satu pengaruh dari kekuatan mental mereka yang kompatibel.
Irene naik ke kamarnya dengan perasaan campur aduk dan tidak memperhatikan robot rumah tangga yang sedikit aneh, tampak seolah sedang memperhatikannya dari sepasang mata hitam mekanik.
....
Dylan tidak bisa mengontrol tubuhnya. Semua anggota badannya mati rasa, tanpa bisa digerakkan. Matanya ditutup dengan kain dan kesadarannya sangat buyar. Meskipun otaknya sedang tidak berpikir jernih, namun Dylan bisa menebak apa yang terjadi kepadanya. Dia diculik dan dibius. Dylan sudah menggunakan obat-obatan sejak kecil dan telah mengembangkan resistansi terhadap obat-obatan. Obat bius biasa tidak akan terlalu berpengaruh padanya, tapi kenyataan kalau tubuhnya sepenuhnya mati rasa dan bahkan kesadarannya melambat, itu artinya obat yang diberikan kepadanya bukan obat bius biasa atau bahkan mungkin obat terlarang. Dengan kata lain, identitas penculiknya tampaknya tidak sederhana dan penculiknya benar-benar waspada dengannya meskipun kabarnya yang sakit-sakitan sudah tersebar ke publik sejak lama.
Suasana hati Dylan bergejolak. Ini pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini dimana dia tidak bisa meminta bantuan dari luar. Dylan mendengar suara langkah kaki yang samar dan segera melambatkan nafasnya seolah dia masih pingsan.
Suara deritan pintu besi yang terbuka bergema di ruangan. Dylan bisa mendengar suara langkah kaki yang datang ke arahnya, sosok itu berhenti di depannya. Jantung Dylan berdetak kencang, namun nafasnya masih teratur. Sebuah tangan menyentuh rahangnya dan memiringkan kepalanya untuk memperlihatkan lehernya kemudian sengatan kecil datang dari lehernya.
Orang ini sedang mengambil darahnya?
Setelah mengambil dua suntikan darah, sosok itu keluar dari ruangan dan mengunci pintu besi tanpa melakukan apa pun yang serius terhadap Dylan. Dari kedatangan sosok itu, dia bisa mencium aroma aneh dari pria itu. Dylan tidak mendapat petunjuk apa pun selain dari dia dikunci di sebuah ruangan dengan pintu besi dan aroma aneh yang berasal dari pria itu.
Sebenarnya apa tujuan penculikan ini?