
Mansion Theodore, di Rumah Kaca.
"Bagaimana menurutmu?"
"Theo?"
Aiden mengerutkan keningnya ketika tidak mendapat balasan dari lawan bicaranya. Dia mengalihkan pandangannya dari data ke pria yang menjadi lawan bicaranya.
Mereka saat ini berada di gazebo kayu yang ada di dalam rumah kaca Theodore. Lawan bicara Aiden, Theodore, saat ini sedang duduk di seberangnya sambil mengamati data dengan serius. Theodore telah pindah dari istana tua mereka dan kembali ke mansionnya sendiri. Membelai nama "Irene Adler" dengan ujung jarinya, Theodore tersenyum.
Aiden, "..."
Dia tahu saudaranya sangat tampan bahkan di luar batas estetika kecantikan manusia. Jujur saja kulit pucat dengan rambut perak panjang yang mengalir ke bawah dan pupil ametis yang bersinar dengan cahaya ungu yang memikat benar-benar sesuai dengan estetikanya. Di hari-hari biasa dia tidak keberatan menggunakan saudaranya sebagai objek kenikmatan visualnya, namun saat ini dia hanya merasa mati rasa.
Theodore sudah seperti ini sejak tadi. Menatap data-data ini dengan serius kemudian tersenyum sendiri. Awalnya dia masih sedikit terkejut karena Theodore yang selalu menunjukkan wajah beku selama berabad-abad, ternyata bisa tersenyum? Pemandangan ingin cukup mengagumkannya, namun ketika Theodore mengulangi perubahan ekspresi ini berkali-kali, dia merasa ingin membanting tumpukan berkas di tangannya ke wajah tampan itu! Serius-tersenyum-serius-tersenyum, dia kira saudaranya ini mungkin mengalami kejutan mental karena informasi ini.
"Saudaraku, apakah kamu mendengarkanku?" tanya Aiden dengan senyuman yang dipaksakan.
"Aiden."
Tanda tanya muncul di kepala Aiden. Namun, kali ini dia benar-benar terkejut karena saudaranya mengalihkan pandangannya dari data dan menatapnya dengan senyuman yang benar-benar tulus, "Aku akhirnya bertemu dengannya lagi."
"Dialah orang yang kutunggu selama ini, Adik."
Aiden tahu Theodore selalu mencari seseorang selama ini. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa saudaranya begitu terobsesi dengan sosok yang berasal dari masa lalu. Aiden menganggap tindakan ini sangat sia-sia karena bahkan jika suatu hari dia benar-benar menemukan orang yang dicarinya, orang itu sudah bukanlah orang yang dikenalnya di masa lalu.
"Theo, bagaimana kamu bisa memastikan kalau gadis ini adalah orang yang kamu cari? Kalian bahkan belum bertemu," ujar Aiden ketika dia menatap mata saudaranya yang berbinar penuh kehidupan. Mungkin terlalu sulit untuk membuat saudaranya bangun dari obsesi yang tidak masuk akal ini, namun dia ingin saudaranya sadar. Terus seperti ini hanya akan menyakiti saudaranya.
"Aiden, kamu mungkin tidak mempercayainya, tapi sejak awal hanya ada satu orang yang terikat denganku," jawab Theodore yang kemudian menatap Aiden dengan pandangan yang tidak di mengerti Aiden, "Mungkin suatu hari nanti, kamu akan menemukan belahan jiwamu. Pada saat itu kamu akan mengerti perasaanku."
Aiden mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak mempercayai hal seperti ini. Tidak ada yang bisa mengikatnya secara paksa tanpa persetujuannya.
"Jadi, tanggapan apa yang perlu kita kirim ke Menara?"
"Aku setuju dengan proposal mereka. Tapi, jika Irene tidak menyetujuinya, jangan memaksanya," jawab Theodore sambil menekankan kalimat terakhir.
....
Dua minggu kemudian.
Suara ketukan pintu membangunkan Irene yang sedang tertidur lelap. Menarik selimutnya menutupi kepala, gadis itu mengabaikan suara yang mengganggu istirahatnya.
"Irene, bangun. Kamu perlu pergi ke sekolah untuk mengambil hasil kelulusanmu."
Irene yang tidurnya terganggu memaksakan dirinya bangun dan membuka pintu. Dylan menatap saudarinya yang masih setengah tidur dengan kantong mata tebal yang menghiasi wajahnya. Setelah membuka pintu, Irene kembali ke dalam kamarnya, memanjati kasurnya, dan tidur kembali.
Dylan tercengang melihat tindakan Irene. Menggelengkan kepalanya dengan senyuman geli, dia mendorong kursi rodanya masuk ke kamar Irene. Sambil menepuk lengan Irene, Dylan memanggilnya lagi, "Irene, kamu harus bangun sekarang atau kamu akan terlambat. Jangan lupa, kamu membuat janji temu jam sembilan dengan gurumu. Irene!"
Irene menarik lengannya dan berguling ke samping, "Lima menit lagi..."
"Astaga anak ini...," Mengerutkan keningnya, Dylan menghela nafas pelan. Sepertinya dia harus menggantikan Irene ke sekolah.
Dylan mengganti pakaiannya dan meminta robot rumah tangga untuk mengirimkan pesan kepada Ethan yang isinya untuk meminjam mobilnya. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan vila. Pengemudi membantu Dylan menaruh kursi rodanya ke mobil. Setelah mengucapkan terima kasih, Dylan mengirimkan alamat sekolah Irene.
Biasanya ketika Dylan berada di dekat orang asing atau sedang menggunakan barang-barang yang bukan miliknya, seperti kendaraan umum, properti umum, atau barang-barang milik orang lain, dia akan merasa sedikit tidak nyaman dan waspada. Namun, tanpa diduga tidak lama setelah berada di mobil, dia merasa sedikit mengantuk dan lelah. Kesadaran Dylan perlahan memudar hingga akhirnya pandangannya menjadi hitam. Yang tidak disadari Dylan, dari kaca spion dalam terlihat senyuman pengemudi perlahan mengembang.
....
Suara ponsel yang berdering membangunkan Irene. Menggosok matanya, dia mengangkat panggilan, "Halo..."
"Irene Adler, apakah kamu masih tidur?! Tahukah kamu sudah jam berapa sekarang?! Saya sudah menunggu kamu selama tiga jam! Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini kamu perlu menggambil hasil kelulusanmu!"
Seruan wali kelasnya segera membangunkan Irene. Dia melihat jam kamar dan waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Astaga! Janji temunya dengan gurunya adalah pukul sembilan pagi, jadi dia benar-benar telah membuat gurunya menunggu selama tiga jam!
Mengapa Dylan tidak membangunkannya....Tunggu..., kilasan peristiwa pagi ini terlintas di benak Irene. Dylan memang sudah membangunkannya, tapi karena dia terlalu lelah, dia mengabaikan panggilan saudaranya dan melanjutkan tidurnya.
"Irene Adler! Apakah kamu mendengarkan saya?!"
Seruan kesal lainnya terdengar dari ponsel. Irene meringis dan berkata dengan nada meminta maaf, "Iya Pak, saya minta maaf. Saya akan segera berangkat ke sekolah. Sekali lagi saya minta maaf, Pak."
Setelah beberapa teguran marah, wali kelasnya akhirnya menutup telepon. Irene menghela nafas lelah dan keluar dari kamar. Dia turun ke lantai pertama, namun sosok Dylan tidak terlihat. Irene merasa sedikit aneh, biasanya saudaranya ada di ruang tamu dan membaca buku atau menonton berita.
"Dylan."
Tidak ada yang menjawab panggilan Irene. Setelah pergi ke dapur, perpustakaan, dan kamar Dylan, dia masih tidak bisa menemukan saudaranya. Keraguan Irene tumbuh semakin besar ketika dia tidak bisa menemukan saudaranya di vila, namun ponselnya berdering menandakan pesan masuk.
Irene aku akan keluar untuk urusan tertentu. Jadi, aku mungkin tidak akan pulang dalam waktu dekat, mungkin beberapa hari. Tidak perlu mengkhawatirkanku, dan jangan lupa pergi ke sekolah meskipun sudah terlambat. Pagi ini kamu sangat sulit dibangunkan.
Irene mengacak-acak rambutnya, sekarang ada masalah yang lebih penting yang harus dihadapinya. Dia harus cepat bersiap-siap ke sekolah!
Irene segera mandi dan berganti pakaian, lalu memesan taxi online. Di dalam mobil, Irene menghabiskan rotinya dengan enggan. Dia benar-benar ingin tidur kembali.
Ketika Irene tiba di sekolah, wali kelasnya sudah menunggu di dalam kantor dengan ekspresi kusam tentunya. Melihatnya saja Irene tahu kalau dia pasti akan diomeli. Seperti yang diduganya. Pria tua itu benar-benar mengomelinya selama setengah jam sebelum mereka masuk ke topik utama.
Ketika Irene keluar dari sekolah dengan hasil kelulusannya. Perasaan lega segara membanjirinya, tidak hanya lega dari omelan, tetapi juga lega karena dia akhirnya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, bahkan wali kelasnya sempat memujinya beberapa kata setelah selesai mengomelinya.
Tiba-tiba ponsel Irene berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Menatap pengirim pesan tersebut, Irene tertegun.
Menara?
Ini...surat undangan dari Menara?
Isi undangan ini bahkan terkesan cukup tergesa-gesa karena mereka meminta bertemu dengannya segera jika dia memiliki waktu luang. Memangnya masalah apa yang membuat Menara ingin segera bertemu dengannya?
Saat ini waktunya memang sedang kosong jadi Irene mengirimkan pesan balasan bahwa dia akan segera tiba di Menara dan langsung memesan taxi. Irene sedikit tidak nyaman karena isi surat tidak menyebutkan alasan dia dipanggil. Dia tidak bisa memikirkan hal apa yang membuat dia terkait dengan Menara, organisasi tua yang telah berdiri sejak awal masa evolusi. Dia hanya pernah datang sekali ke Menara yaitu beberapa saat yang lalu ketika dia menguji kekuatan mental dan fisiknya.
Irene memiliki kebiasaan buruk dimana setiap kali dia merasa gugup, dia akan memikirkan hal-hal yang negatif. Terlebih lagi ketika Dylan sedang tidak berada di sisinya.
Perjalanan ke Menara hanya beberapa menit. Ketika dia tiba, seorang staf sudah menunggunya. Tanpa diduga staf memberitahunya bahwa Presiden Menara adalah orang yang ingin bertemu dengannya. Tanda tanya besar tumbuh di kepala Irene.
Presiden Menara?
Irene hampir ternganga. Sosok paling terhormat di Menara ingin bertemu dengan gadis biasa sepertinya? Kegugupan Irene bertambah besar saat mereka menuju Kantor Presiden. Bahkan ketika dia memasuki ruangan, Irene tidak bisa mengendalikan detak jantungnya meskipun dia sudah berusaha terutama ketika staf yang memandunya langsung pergi tepat ketika dia sudah memasuki ruangan.
"Gadis kecil ini sangat pemalu."
Suara seorang wanita memasuki telinga Irene, yang membuat kegugupannya terlupakan sejenak. Suara wanita? Bukankah Presiden Menara adalah seorang pria?...
Irene mengangkat kepalanya yang memandang lantai dan terpana dengan pemandangan di depannya. Seorang wanita berambut pirang cerah duduk di kursi presiden dan menyilangkan kakinya. Sepasang pupil seperti batu permata ruby itu sedang mengamatinya.
Irene terpesona dengan wanita cantik di depannya.
Cantik sekali...
Kilatan geli melintas di pupil ruby wanita itu, "Terima kasih atas pujiannya. Kamu juga sangat imut, gadis kecil."
Wajah Irene memerah seketika. Tampaknya dia tanpa sadar menyuarakan pikirannya. Seketika, kegugupannya kembali lagi, namun kali ini bukan karena cemas tapi karena malu.
Blaire sedikit terhibur dengan gadis muda di depannya. Di matanya gadis kecil ini tampak seperti kelinci kecil yang imut. Pikirannya sangat mudah dibaca karena isi hatinya semua tertulis di wajahnya. Namun, dia masih tidak mengerti bagaimana gadis kecil yang naif ini bisa memiliki kekuatan mental yang sangat cocok dengan Theodore, hantu tua itu. Meskipun Blaire sedikit menyukai kepolosan gadis ini, namun dia tidak bisa melihat sesuatu yang istimewa dari gadis kecil ini.
Awalnya Blaire mengira Theodore tidak akan terlalu peduli dengan informasi yang dikirimkan kepadanya. Mungkin hantu tua yang kaku itu hanya berpikir masalah ini cukup menarik dan kemudian melupakannya. Lagipula, sebagai roh yang berasal dari zaman kuno, mereka pada dasarnya tidak terlalu tertarik dengan hal-hal duniawi seperti ini, kecuali kasus tertentu. Yang tidak dia duga, masalah ini ternyata menangkap minat Theodore bahkan mendapatkan respon positif dari pria itu.
Blaire benar-benar tidak mengerti pola pikir pria itu. Mungkinkah setelah tidur terlalu lama, dia ingin menemukan hiburan untuk mengisi kebosanannya?
Irene semakin tersipu ketika mendengar pujian dari wanita cantik di depannya. Sungguh, jantungnya hampir tidak tahan.
Blaire melihat reaksi Irene terhadap pujiannya dan berpikir mungkinkah hantu tua Theodore akan terpesona oleh kelinci kecil ini? Dia tidak sabar melihat bagaimana reaksi Theodore...
Pintu dalam kantor terbuka dan memperlihatkan seorang pria muda bermantel putih dengan kaca mata perak. Irene merasa hari ini jantungnya mungkin akan meletus. Dia tidak hanya bertemu dengan wanita cantik, tetapi juga pria tampan! Pria tampan ini memiliki sosok ramping, namun terkesan kuat dengan temperamen dingin. Benar-benar berbanding terbalik dengan Dylan yang ramping karena penyakit dan sifatnya yang lebih hangat.
Pria ini seharusnya Presiden Menara yang mencarinya...
Mu ZiXi melihat tamunya sudah datang dan mempersilakan Irene untuk duduk di sofa, kemudian dia sendiri duduk di hadapan Irene, "Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk pertemuan ini. Saya adalah Presiden Menara saat ini, Mu ZiXi."
Blaire berjalan ke arah mereka dan memposisikan dirinya di samping Mu ZiXi, "Namaku Blaire, tapi biasanya kalian memanggilku Nyonya Blaire. Senang bertemu denganmu, gadis kecil."
Irene tidak menyangka kakak cantik ini ternyata adalah Nyonya Blaire, roh terhormat yang telah mengukir prestasi militer hingga saat ini. Rumor mengatakan Nyonya Blaire termasuk kedalam daftar roh terkuat yang terlibat dalam perang masa awal evolusi. Tapi...kakak cantik di depannya ini tidak terlihat seganas rumor...
Blaire mengaitkan lengannya ke bahu Mu ZiXi dan tersenyum, "Selain itu, kami adalah pasangan resmi."
Wanita cantik dan pria tampan...Mereka benar-benar pasangan yang serasi...
"Namaku, Irene Adler, senang bertemu dengan Anda berdua."
Mu ZiXi mengangguk sopan, "Nona Irene, Anda pasti tahu setiap data orang-orang yang datang melakukan tes akan tersimpan di sistem Menara. Anda pasti juga tahu bahwa sudah menjadi tradisi, kalau salah satu tugas Menara adalah mencocokkan data kekuatan mental para roh dengan kekuatan mental lainnya, yang tujuan utamanya untuk membantu para roh menemukan pasangan mereka."
Irene mengangguk. Entah kenapa Irene sepertinya hampir bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini dan dia mungkin tidak akan terlalu senang.
"Masalah yang ingin saya bahas juga terkait dengan salah satu tugas Menara."
"Nona Irene, kami menemukan gelombang kekuatan mental Anda ternyata cocok dengan milik salah satu roh."
"Roh yang saya maksud adalah Yang Mulia Theodore."