Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 17: Kesepakatan Dengan Letnan Jenderal Moore



Pintu kantor Mu ZiXi tiba-tiba dibanting terbuka.


Mu ZiXi mengerutkan keningnya pada pelakunya. Tanpa diduga, yang masuk adalah Profesor Liu yang selalu sopan.


"Presiden Mu! Di internet telah tersebar data pencocokan kekuatan mental Irene Adler dengan beberapa orang yang masing-masing memiliki nilai kecocokan di atas 70%!"


......................


Ponsel Irene berdering ketika dia tengah membaca buku di perpustakaan bersama Monica. Suara itu menangkap perhatian beberapa siswa. Irene memandang Monica dengan tatapan meminta maaf, dalam hati dia memarahi kecerobohannya sendiri, bagaimana bisa dia lupa mengubah ponselnya menjadi mode getar!


Irene segera keluar dari perpustakaan. Saat dia melihat siapa yang memanggilnya, Irene sedikit bingung, "Halo Ethan, ada apa?"


"Kak Irene di internet tersebar data pencocokan kekuatan mentalmu dengan beberapa orang yang semuanya cocok..."


Irene tertegun. Kata-kata Ethan selanjutnya tidak didengarnya lagi. Pikiran Irene sedikit mandek, Apa?


"Kak? Kak Irene, apakah kamu baik-baik saja?" terdengar suara cemas Ethan dari ponsel.


"Ethan apa maksudmu...," suara Irene bergetar yang mencerminkan suasana hatinya saat ini.


"Kakak coba lihat di internet dulu," ujar Ethan dengan pelan.


Irene memutuskan panggilan dan segera membuka internet. Seperti yang dikatakan Ethan beritanya sedang trending di internet. Dia bisa membaca semua komentar mengejutkan dari netizen. Tangannya gemetar dan wajahnya memucat seketika.


Monica yang baru keluar dari perpustakaan melihat wajah pucat Irene, "Apa apa?"


Tapi sebelum Irene menjawab, dia melihat layar ponsel Irene dan matanya melebar seketika.


Ponsel Irene kembali berdering, kali ini John yang menelepon. Ketika Irene mengangkat panggilan itu, suara ayahnya terdengar dingin, "Kembali ke Mansion."


......................


Di sisi lain, Dylan sedang melakukan konseling dengan psikiaternya. Setelah sering bertemu, tanggapannya juga sudah lebih ramah kepada psikiaternya. Saat psikiaternya membuka ponsel, Dylan bisa melihat keterkejutan menyebar di wajah psikiaternya. Ketika psikiaternya mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap dirinya, Dylan bisa merasakan kerumitan yang tercermin di mata psikiaternya.


"Ada apa?"


"Tuan Muda Dylan, tolong tenangkan dirimu...," kata psikiater itu dengan ekspresi bermasalah.


Firasat buruk tumbuh perlahan, dengan senyuman yang meyakinkan Dylan mengangguk setuju, Mungkin beberapa rumor buruk tentangku...


Tapi ketika psikiater menunjukan ponselnya, ekspresi Dylan membeku seketika. Bukan beritanya yang menyebar, tapi berita Irene!


Ponsel Dylan berbunyi, sebuah pesan dari Christine masuk, Dylan, ayahmu memintamu segera kembali ke mansion. Mobil sekarang sudah tiba di depan vila.


"Untuk hari ini sesi konsultasinya cukup sampai disini saja, Dok. Terima kasih."


Psikiaternya tidak mempermasalahkan hal ini dan langsung berpamitan.


Di dalam mobil, Dylan tanpa sadar mengeratkan cengkramannya pada punggung tangannya sendiri. Kegelisahannya perlahan merajalela, tetapi dia dengan paksa menekannya kembali. Irene...


......................


Mansion Keluarga Adler.


Setelah menerima surat izin dari kepala sekolah, Irene langsung pulang ke mansion dijemput oleh pelayan keluarga.


Saat ini suasana di ruang tamu sangat hening. Caroline dan Evan yang duduk di samping Christine tidak berani bersuara karena aura John saat ini sangat tidak menyenangkan.


Pintu terbuka dan terlihat Irene dan seorang pelayan.


"Ayah..."


"Duduk," perintah itu jatuh dengan tegas. Hati Irene semakin kacau ketika dia melihat reaksi dingin ayahnya.


Tidak lama kemudian, pintu besar kembali terbuka dan Dylan masuk dengan seorang pelayan yang mendorong kursi rodanya. John tidak mengatakan apa-apa. Kepala pelayan menggantikan pelayan itu mendorong kursi roda Dylan hingga berada di samping Irene.


"Aku tidak meminta Ethan kembali," ujar John. Christine sedikit tidak senang dengan hal ini. Dia tidak terlalu peduli dengan berita di internet itu, dia hanya ingin melihat Ethan karena sejak terakhir kali Ethan diam-diam masuk ke departemen pertempuran, anak itu tidak menghubunginya.


"Masalah di internet, kalian sudah melihatnya?"


"Sudah."


"Aku baru saja menerima beberapa surat undangan."


Semua tatapan terarah pada John. Irene memiliki firasat buruk kalau kata-kata selanjutnya dari ayahnya mungkin bukan sesuatu yang ingin didengarnya.


"Semua isinya ingin bertemu dengan Irene."


"Aku belum menjawab mereka, tetapi beberapa surat tidak bisa kita tunda terlalu lama karena pengirimnya berasal dari keluarga bangsawan manusia kelas satu," lanjut John.


"Aku sudah menghubungi Menara, tetapi mereka mengatakan kalau data-data ini bukan dikeluarkan oleh Menara. Jika berita ini hanya rumor, ini bukan masalah besar. Tapi surat undangan ini artinya pengirimnya sudah melakukan tes dan hasilnya memang terkonfirmasi benar."


"Ayah, siapa di antara mereka yang mengirimkan undangan, yang tidak bisa kita singgung?" tanya Dylan dengan tenang.


"Letnan Jenderal Moore."


Jantung Irene mengepal seketika. Jika dia ingat dengan benar, sepertinya kecocokan kekuatan mentalnya dengan milik Letnan Jenderal Moore mencapai 75%.


Dylan mengerutkan keningnya, Letnan Jenderal Moore adalah salah satu perwira militer yang usianya empat puluhan yang paling penting adalah ayahnya, Jenderal Moore adalah pemimpin Legiun Moore. Di zaman ini, masa hidup manusia bisa lebih dari 300 tahun. Jadi jangkauan usia antara Irene dengan Letnan Jenderal Moore sebenarnya tidak terlalu jauh. Apalagi sekarang pernikahan tidak didasarkan pada usia, bahkan ada banyak pasangan yang jangkauan usia keduanya lebih dari seratus.


Masalahnya, Letnan Jenderal Moore ini dikabarkan memiliki temperamen yang buruk dan tidak terlalu menyukai para roh. Keluarga Moore menganut kebiasaan kalau anggota keluarga mereka hanya boleh menikah dengan pasangan yang kekuatan mental nya di atas level B dan nilai kecocokan kekuatan mental mereka lebih tinggi dari 70% agar keturunan yang dihasilkan bisa mewarisi bakat orang tua mereka.


Letnan Jenderal Moore juga termasuk orang yang memiliki rasa patriarki yang kuat, hal ini diwariskan dari ayahnya. Baginya, tugas wanita seharusnya tinggal di rumah untuk menjaga suami dan anak-anak. Legiun keluarga Moore semuanya adalah tentara laki-laki.


Dylan mengerutkan keningnya, Letnan Jenderal Moore memang masalah besar. Surat undangan ini artinya letnan jenderal ini berencana untuk melamar Irene.


"Ayah, tidak bisakah kita menolak surat undangan ini?" tanya Irene dengan cemas.


"Jika bisa, maka aku tidak akan memanggil kalian pulang," jawab John dengan sedikit ketidaksenangan yang terdengar dari nadanya.


Christine yang mendengar hal ini sedikit tersenyum dan berkata, "Mungkin Irene memang perlu bertemu sebentar dengan Letnan Jenderal Moore. Jika kita menolak undangan itu begitu saja, keluarga Moore akan berpikir kalau kita meremehkan mereka. Hal ini tidak akan berdampak baik pada keluarga dan Irene juga mungkin tidak akan bisa belajar dengan tenang di Royal Academy mengingat sebagian besar anggota keluarga Moore berada di akademi."


Irene tercengang dengan ucapan Christine, tapi kata-kata Christine tidak salah. Dia tidak ingin menemui Letnan Jenderal Moore, tetapi dia juga takut keluarga tidak akan bisa menanggung konsekuensinya.


"Berapa lama kita bisa menunda undangan Letnan Jenderal Moore?" tanya Dylan.


"Maksimal seminggu."


"Ayah, tolong tunda selama ini. Aku akan segera memikirkan solusinya," ujar Dylan.


......................


Sewaktu makan malam, ayah mereka yang biasanya tidak suka berbicara ketika makan, melanggar kebiasaannya.


"Letnan Jenderal Moore mengirimkanku surat lagi. Kali ini dia menekankan kalau dia berharap untuk menemui Irene besok. Waktu dan tempatnya juga sudah ditentukan."


Irene merasa semakin tidak suka dengan letnan jenderal ini. Dia jelas-jelas tidak meminta pendapat, tetapi langsung memerintah. Bahkan waktu dan tempatnya sudah disediakan.


"Baiklah, besok aku akan pergi bersama Irene," jawab Dylan.


Christine mengerutkan keningnya, "Letnan Jenderal Moore hanya meminta untuk bertemu dengan Irene."


"Tapi Bu, di suratnya tidak tertulis kalau Irene tidak bisa datang bersama keluarganya."


John tidak mengatakan apa-apa, tetapi malamnya, isi surat itu dikirim ke akun Dylan. Melihat nama restoran yang tercantum, Dylan tersenyum dingin.


......................


Keesokan harinya.


Dylan memilihkan gaun Irene.


Ketika Irene melihat gaun merah terang yang mencolok, matanya hampir melotot. Dia sudah siap mengenakan gaun paling sederhana dan jelek, tetapi saudaranya justru memilihkannya gaun yang cantik ini.


"Jangan mengeluh. Pakai saja. Letnan Jenderal Moore terkenal dengan rasa patriarki-nya yang sangat kental. Jika kamu memakai gaun polos, tidak hanya dia akan merasa kalau kamu adalah wanita yang cukup penurut, gaun yang sederhana itu juga akan menonjolkan kepolosanmu, sepenuhnya sesuai dengan kriterianya."


"Sebaliknya kalau kamu memakai gaun merah ini, pada pandangan pertama, dia pasti akan terprovokasi karena orang itu paling benci wanita yang memakai gaun merah," jelas Dylan.


Selesai memakai gaun itu, Dylan merias wajahnya dan menata rambutnya. Irene menatap dirinya di cermin yang penuh dengan warna merah. Dia bisa membayangkan kemarahan Letnan Jenderal Moore mungkin akan sebanding dengan banteng.


Irene menghela nafas dan memandang saudaranya. Dylan sendiri hanya memakai sweater putih berleher tinggi dengan kardigan hitam dan celana panjang hitam.


Irene terdiam sejenak, mengapa saudaranya memakai pakaian sederhana ini sementara hanya dirinya yang tampil glamor.


Dylan tersenyum, "Ayo."


Ketika mereka turun ke bawah, Christine memandang pakaian Irene dengan senyuman, "Semoga kalian bisa bersenang-senang. Ingat jaga sopan santun ketika bertemu dengan Letnan Jenderal Moore."


"Tentu Ibu," jawab Dylan dengan senyuman patuh.


Adapun Irene, dia hanya berharap situasinya tidak terlalu buruk.


......................


Mobil keluarga Adler berhenti di sebuah restoran mewah, namun suasana restoran itu memancarkan rasa timur kuno yang kental.


Seorang pelayan menyambut Dylan dengan senyuman lembut, tetapi ketika dia melihat Irene, senyumannya membeku. Yang dilihat dari pelayan itu adalah seorang gadis bergaun merah berani dengan sepatu hak merah. Seluruh diri Irene dihiasi dengan merah glamor, bahkan perhiasan dan tasnya juga tidak luput dari warna merah.


Pelayan, "..."


Pelayan itu sendiri mengenakan cheongsam putih polos dengan rambut yang di sanggul. Tidak hanya pelayan itu, tetapi semua pelayan wanita di restoran ini berpakaian seperti itu. Pelayan itu mengantar mereka ke ruangan Letnan Jenderal Moore dan langsung pergi setelah mereka sampai di pintu.


Irene semakin gugup setelah melihat pelarian pelayan itu. Mungkinkah pakaiannya sangat buruk?


"Tenanglah. Ayo buka pintunya. Ingat jangan tunjukkan ekspresi gugup, takut, atau rendah diri," ujar Dylan.


Ketika Irene ingin mengetuk pintu, Dylan menghentikannya dan tersenyum, "Langsung buka."


Menarik nafas dalam-dalam, Irene menenangkan dirinya dan melakukan seperti yang dikatakan saudaranya.


Di dalam ruangan, seorang pria yang sedang menikmati tehnya tersentak dengan pintu yang tiba-tiba dibuka lebar. Mengerutkan keningnya, pria itu menatap pelakunya dan wajahnya berkerut seketika. Dalam pandangannya, seorang gadis yang memakai warna merah dari kepala hingga kaki sangat menyengat mata terutama ketika gadis itu dengan wajah sombong mendorong kursi roda seorang pemuda yang tampak seolah menghadiri pemakaman.


"Halo Letnan Jenderal, saya Irene Adler dan ini adalah saudara saya, Dylan Adler," salam Irene dengan acuh tak acuh.


Dylan hanya tersenyum dan mengangguk.


Letnan Jenderal Moore terdiam sejenak, namun dia menganggukkan kepalanya tanpa salam. Irene berpikir mungkin pria ini berpikir dia tidak perlu menurunkan kepalanya pada seorang wanita.


"Saya dengar Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Irene dengan dingin.


"Ya, saya yakin keluarga kalian juga sudah mengetahui alasan undangan saya. Jadi, Nona Irene untuk acara formal ini, busana pilihan Anda benar-benar keterlaluan. Seorang wanita seharusnya memakai pakaian yang sopan ketika bertemu orang lain-"


"Tunggu sebentar. Tuan Moore, saudari saya kemari bukan untuk membahas cara berpakaiannya," potong Dylan.


Letnan Jenderal Moore memandang Dylan dengan dingin, "Siapa yang mengizinkanmu ikut campur dalam pertemuan ini. Saya ingat saya hanya mengundang Nona Irene Adler."


"Sayalah yang membawanya kemari. Dan yang ingin saya sampaikan kepada Anda adalah saya tidak tertarik untuk menjadi pasangan Anda. Hanya itu tidak lebih," balas Irene dengan kesal.


Pria itu tampaknya tidak menduga kata-kata Irene, "Tampaknya keluarga Adler kurang mendidik putri mereka dalam hal sopan santun. Selain itu, apakah keluargamu tahu kalau kamu membuat keputusan sewenang-wenang menggantikan ayahmu."


"Pernikahanku tentu saja diputuskan oleh diriku sendiri. Letnan Jenderal Moore, di zaman sekarang tidak lagi berlaku tradisi pernikahan paksa yang diatur oleh orang tua, ini ilegal. Bahkan sebelum zaman evolusi, tradisi ini hanya sebuah tradisi kuno yang tidak dipedulikan masyarakat," ujar Irene dengan senyuman.


Ekspresi Letnan Jenderal Moore menjadi suram, "Sebagai seorang wanita mulutmu cukup tajam."


Dylan, "Tuan Moore, saudariku sudah mengatakan keinginannya. Jadi kami rasa masalah ini sudah selesai. Kuharap keluarga Moore tidak akan terus mengirimkan surat undangan kepada keluarga kami. Kami pergi dulu."


"Siapa yang mengizinkan kalian pergi? Kalian benar-benar berani."


"Irene, kamu keluar dulu," bisik Dylan dengan pelan. Irene sedikit cemas meninggalkan saudaranya sendiri, tetapi dia melihat tatapan tenang Dylan dan akhirnya mengangguk.


"Tuan Moore, disini adalah tempat umum. Jadi Anda sebaiknya menjaga amarah Anda. Selain itu ada yang ingin saya tunjukkan," ujar Dylan setelah Irene keluar dari ruangan.


Letnan Jenderal Moore mengerutkan alisnya, ketika dia membuka file yang dikirimkan Dylan padanya, wajahnya menghitam seketika. File itu berisi video tentang dirinya yang menghina para roh kuno, laporan korupsi bawahannya, dan informasi istri pertamanya yang telah meninggal karena kekerasan rumah tangga.


"Aku sangat bersyukur seseorang mengirimkanku file-file ini. Bagaimana mungkin aku akan membiarkan Irene menikahi pria yang membunuh istrinya sendiri? Jadi jangan pernah menargetkan saudariku lagi, atau aku akan menyebarkan file-file ini ke internet. Jika Tuan Moore berjanji tidak mengganggu Irene, saya akan menghapus file-file ini dan tidak akan mengatakan sepatah kata pun keluar," ujar Dylan dengan tegas, meskipun sebagian besar kata-katanya palsu karena semua informasi itu jelas digalinya sendiri. Dia ingin membuat pria ini berpikir ada kemungkinan kalau informasi-informasi ini disebarkan kepada beberapa orang.


Pria itu menatap tajam Dylan, "Siapa yang mengirimkanmu file ini?"


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti aku berterima kasih padanya. Saya tidak peduli dengan urusan keluarga Anda, jadi saya harap keluarga Moore bisa menghargai keputusan saudariku."


"Buat kontrak jiwa. Kamu akan melupakan semua informasi ini dan aku berjanji menarik minatku dari Irene Adler."


Kontrak jiwa adalah kontrak yang menggunakan jiwa sebagai jaminan. Jika salah satu pihak melanggar janjinya, maka jiwanya akan dibubarkan dengan kata lain langsung mati. Kontrak ini sangat terjamin karena berlaku bagi siapa saja dan apa saja selama memiliki jiwa.


Dylan menggeleng kepalanya, "Anda juga harus berjanji tidak akan membalas dendam pada keluarga Adler karena masalah ini. Jangan khawatir, tidak ada di keluargaku yang mengetahui masalah ini kecuali aku."


"Sepakat."