
Aiden berdiri di depan gedung yang telah ditinggalkan. Dia bisa merasakan aura kematian yang pekat di depan pintu. Tampaknya jumlah manusia yang telah meninggal dengan tragis tidak sedikit. Aiden berjalan menembus gerbang. Di dalam gedung, suasana kematian bahkan lebih pekat. Terkadang Aiden bisa mendengar jeritan dan tangisan dari jiwa-jiwa yang sudah meninggal.
Sebuah bayangan tengkorak tangan menjerat kakinya, suara jeritan yang memekakkan menembus telinga Aiden. Mendecakkan lidahnya, tulang tengkorak tangan itu langsung dihancurkan dengan sekali injakan. Aiden menatap dingin sekitarnya, "Bisa diam? Kalian menggangguku."
Suara-suara tidak jelas itu tiba-tiba mandek seperti kaset rusak sebelum menjadi semakin bising. Aiden menggosok telinganya, kekuatan tak kasat mata langsung memotong beberapa sosok jiwa gentayangan, "Kan sudah kukatakan, diamlah."
Aiden menekankan setiap kata dengan ancaman telanjang. Kali ini suara-suara bising langsung lenyap, jiwa-jiwa yang bergentayangan menyembunyikan bentuk mereka di sudut-sudut ruangan, tetapi beberapa masih melayangkan tatapan rakus mereka ke Aiden.
Bangunan ini cukup besar, Aiden benar-benar tidak mood berada di sini lebih lama lagi. Sebagai roh kuno, dia tentu saja tidak senang melihat begitu banyak roh gentayangan yang terperangkap di gedung ini. Tatapannya menangkap jiwa anak kecil yang menatapnya dengan malu-malu dan ketakutan.
Kegelapan di sekitar jiwa anak itu sangat pucat dibandingkan jiwa lainnya. Melihat Aiden menatapnya, anak itu dengan ragu-ragu berjalan ke sisi Aiden. Setelah berada dalam jarak satu meter, anak itu memejamkan matanya seolah menunggu Aiden menghancurkannya seperti dia menghancurkan jiwa-jiwa sebelumnya. Setelah menunggu beberapa detik, anak itu membuka sebelah matanya dan melihat Aiden menatapnya dengan tatapan bertanya.
Anak itu langsung berjongkok dan menuliskan beberapa kata di lantai.
Orang, monster, selamatkan, tolong
Aiden mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, "Kamu ingin aku menyelamatkan orang dari monster?"
Anak itu mengangguk.
Aiden memiliki firasat kalau dia bisa mengetahui keberadaan Dylan dari anak ini. Dia berjongkok dan mensejajarkan pandangannya dengan anak itu, "Pertama katakan padaku, orang yang kamu maksud itu perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan angkat tangan kiri dan kalau laki-laki angkat tangan kanan."
Anak itu mengangkat tangan kanannya.
Aiden menyulap foto Dylan dan menunjukkannya kepada anak itu, "Apakah dia orangnya?"
Anak itu mengangguk keras, lalu kembali menulis di lantai.
Cepat, teriak, bahaya
Aiden mengulurkan tangannya ke arah anak itu dan membuat anak itu langsung memejamkan matanya dengan ketakutan. Ketika anak itu merasakan sebuah gosokan lembut di puncak kepalanya, dia membuka matanya lebar-lebar dan menatap Aiden dengan penuh kejutan.
Aiden tersenyum dan memuji, "Anak baik. Sekarang tolong bawa aku untuk menyelamatkan orang itu."
Anak itu menundukkan kepalanya malu-malu lalu tersenyum dan mengangguk kuat. Kali ini, sang anak dengan berani menggapai tangan Aiden dan mengarahkannya ke lokasi Dylan.
....
Dylan berbaring di kasur besi dengan gemetaran. Hembusan nafas terendam keluar dari bibirnya. Tidak jauh darinya, sang badut duduk di kursi besi mengamati Dylan sambil menggerogoti sebuah lengan. Meja besi di samping badut memiliki beberapa potongan lengan dan kaki, serta beberapa organ dalam manusia seperti otak, usus, jantung, dan sebagainya ditumpuk di baskom besi. Selain itu, di sebuah mangkuk lainnya berisi darah segar yang baru diambil dari Dylan.
Di sudut ruangan, beberapa bola berdarah ditumpuk menggunung hingga beberapa menggelinding berserakan. Bola berdarah itu tidak lain adalah kepala-kepala manusia dari berbagai usia dan jenis kelamin. Beberapa kepala kehilangan matanya atau bola matanya melorot keluar dengan saraf-saraf yang menghubungkannya ke rongga mata.
Kali ini pakaian Dylan tidak hanya berdebu, tetapi juga berlumuran darah. Dia bisa merasakan darah yang telah mengering di kulitnya. Semua darah ini berasal dari mayat-mayat yang dibawa badut.
Dylan benar-benar tidak mengerti mengapa badut itu tidak membunuhnya, tetapi harus menyiksanya seperti ini! Dia yakin badut itu tahu kalau dia memiliki kecenderungan kebersihan yang kuat, tetapi badut itu masih membuatnya berdebu dan berlumuran darah mayat-mayat itu! Dia benar-benar membenci makhluk itu! Tetapi dia bahkan lebih membenci dirinya sendiri karena sangat lemah dan tidak bisa membunuh makhluk itu!
Ya, setelah siksaan mental yang berturut-turut, Dylan tidak hanya menyimpan ketakutan yang mendalam pada badut, tetapi juga kebencian dan keinginan untuk membunuh badut. Melihat badut itu menggerogoti tulang manusia seperti menggerogoti tulang ayam, Dylan benar-benar membencinya karena memperlakukan manusia seperti itu.
Seolah merasa reaksi Dylan cukup membosankan, badut itu menghisap tulang di mulutnya dengan suara keras. Sayangnya Dylan sudah menemukan tujuan badut itu. Badut itu tampaknya sangat suka melihat reaksi ketakutannya. Semakin takut Dylan, semakin senang badut itu. Dylan menggertakkan giginya penuh kebencian, mengapa tidak ada yang menemukan keberadaan makhluk ini? Dengan seberapa banyaknya manusia yang mati, tidak mungkin masyarakat tidak curiga.
Kepedihan yang kuat perlahan menguasainya lebih dari emosi kemarahan, sudah berapa lama dia di sini? Mengapa masih belum ada yang menemukannya? Mau sampai kapan lagi dia menunggu...
Melihat Dylan tidak memberikan reaksi yang diinginkannya, badut itu dengan kesal melemparkan tulang yang digerogotinya ke meja. Dylan tersentak dengan gerakan itu dan perlahan berbalik. Dylan merasa mata badut itu lebih merah dari biasanya dan menatapnya dengan ekspresi dingin.
Dylan mengerutkan keningnya ketika badut itu memasukkan beberapa bola mata ke gelas, menghancurkan bola mata dengan sendok dan menuangkan darah dari mangkuk ke gelas, lalu mengaduknya. Setelah itu, badut itu membawa gelas itu dan berjalan ke arah Dylan dengan senyuman lebar.
Pupil Dylan menyusut seketika. Mungkinkah...
Badut itu ingin membuatnya meminum benda itu?!
Sebelum Dylan bereaksi, badut telah berada di depannya dan mencengkeram rahangnya. Dylan melihat gelas itu semakin dekat dengannya dan dia mencakar tangan badut itu dengan keras.
Tidak! Tidak mau!
Tolong! Siapapun! Tolong hentikan monster ini!
Tiba-tiba pintu besi itu ditendang dari luar hingga terbang mengenai punggung badut. Mengambil kesempatan ini, Dylan menggunakan seluruh kekuatannya untuk melepaskan cengkraman badut, melemparkan gelas itu ke lantai, dan menjauh dari badut.
Seorang pria berambut perak dan bermata ametis memasuki ruangan. Dylan menatap sosok itu dengan cahaya harapan yang membara di matanya.
Aiden merasa pengap dengan begitu banyaknya bau darah dan kematian yang berputar di ruangan ini. Anak laki-laki yang dirantai di ranjang besi menatapnya dengan tatapan berbinar. Meskipun Dylan berdebu dan kotor dengan jejak darah di tubuhnya, Aiden merasa anak laki-laki yang sakit-sakitan itu tanpa diduga cukup menarik perhatiannya. Melihat penampilan Dylan yang menyedihkan terutama dengan tambahan jejak memar di tubuhnya, Aiden mengerutkan keningnya tidak senang. Anak ini adalah keluarga calon kakak iparnya, dan yang lebih penting dia sebenarnya cukup menyukainya.
Badut yang terkena bantingan pintu besi menggerakkan tubuhnya yang sedikit kaku, mata merah yang menakutkan itu menatap Aiden dengan tatapan kejam. Tubuh badut itu tiba-tiba membengkak, pakaian yang menutupinya terkoyak dan memperlihatkan sosok raksasa. Mulut badut itu terbuka lebar dan menumbuhkan taring raksasa. Dengan seringai buas, monster itu menerjang sosok yang memasuki wilayahnya.
Dylan menahan nafasnya ketika melihat perubahan pada badut itu. Dia tidak takut dengan penampilan mengerikan badut itu, dia takut sosok berambut perak itu tidak bisa melawan badut. Namun, ketakutannya sia-sia karena sosok ramping itu dengan mudah melemparkan monster badut ke tumpukan kepala manusia. Dampak dari benturan monster itu menyebabkan beberapa kepala penyok, hancur, dan terbang. Dinding dan lantai juga menunjukkan tanda-tanda retak.
Dylan, "..."
Tanpa menghiraukan rasa sakit monster badut, Aiden dengan kejam mencabuti lengan lainnya dan menginjak tubuh monster itu hingga berbaring telungkup di lantai. Suara patah tulang terdengar dari punggung monster tempat kaki Aiden mendarat.
Api muncul di lengan Aiden dan membakar lengan monster di tangannya hingga hanya tersisa tulangnya. Aiden tersenyum sinis dan memenggal kepala monster itu dengan tulang lengan monster itu sendiri. Badut yang menurut Dylan sangat menakutkan, dibunuh dengan begitu mudah...
Mayat badut itu perlahan berubah menjadi sebuah boneka badut kecil yang kehilangan kepala dan kedua lengannya. Dylan terpana dengan perubahan itu, namun Aiden tampaknya sudah menduganya.
Dylan menatap boneka badut di lantai dengan tatapan tajam, monster itu akhirnya mati. Dia tertawa miris, kebencian dan keluhannya yang telah dipendam akhirnya dibebaskan. Menutupi wajahnya, air mata menetes dari sudut matanya. Dia tidak peduli jika sosok itu bukan datang untuk menyelamatkannya, bahkan jika sosok itu akhirnya membunuhnya, dia masih akan berterima kasih kepadanya karena telah mengakhiri mimpi buruknya. Hanya saja, kalau dia mati, Irene...
Aiden melihat tindakan Dylan dan ekspresi kejamnya perlahan melembut. Setahan apa pun anak itu, dia baru berusia tujuh belas tahun, tidak seharusnya mengalami hal-hal seperti ini. Aiden mendekati Dylan dan dengan satu remasan, dia mematahkan rantai yang membatasi Dylan.
Gerakan Aiden membuat Dylan membeku. Dia menatap sepasang mata ametis yang tersenyum itu.
"Aku akan mengantarmu pulang ke rumah," ujar Aiden yang menyandarkan kepala Dylan ke bahunya lalu menggendongnya. Dylan kaku sejenak, dia tidak bisa melakukan kontak fisik...
Namun, perasaan tidak nyaman yang ditunggunya tidak muncul. Mungkinkah penyakitnya hilang setelah berhari-hari tinggal di tempat yang kotor ini? Jelas tidak mungkin...Dylan bisa merasakan perasaan yang tidak nyaman ketika dia masih di ranjang besi, tapi ketika dia berada dalam pelukan penyelamatnya, tidak ada rasa jijik sedikitpun, sebaliknya rasa hangat yang sudah lama tidak dia rasakan. Seolah berada dalam pelukan Irene.
Dylan dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya dan menggenggam beberapa untai rambut perak penyelamatnya, tidak ada rasa jijik. Kemudian dia menyentuh borgol yang masih berada di pergelangan tangannya, dinginnya besi membuat Dylan kembali merasakan perasaan tidak nyaman yang familiar.
Aiden mengamati anak laki-laki di pelukannya, Apa yang dilakukan anak ini? Bukankah file itu menuliskan kalau dia tidak suka melakukan kontak fisik dengan orang lain?
Aiden mengira Dylan akan menolak sentuhannya, siapa sangka anak laki-laki ini malah mengambil inisiatif untuk menggenggam rambutnya...
Borgol yang tersangkut di tubuh Dylan berubah menjadi debu dengan remasan tak kasat mata. Dylan tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada rambut perak itu. Dia sedikit menebak tentang identitas penyelamatnya, seperti yang diduganya, pria bersurai perak ini jelas bukan manusia.
Merasakan sengatan kecil di kulit kepalanya, Aiden merasa situasi ini sedikit tidak terduga. Ternyata toleransinya untuk anak ini lumayan besar.
"Tidurlah. Ketika kamu bangun, rumah telah kembali menyambutmu."
Setelah kata-kata Aiden jatuh, rasa lelah karena situasi yang dihadapinya berhari-hari menyerang Dylan. Sebelum kesadarannya memudar sepenuhnya, Dylan sempat menarik lembut untaian perak di tangannya dan bergumam, "Terima kasih..."
....
Sangat lembut...
Hangat...
Dylan merasakan sentuhan kelembutan di punggungnya yang sudah lama tidak dia rasakan. Sumber kehangatan berasal dari sebuah tangan yang menggenggam erat tangannya. Dia membuka matanya perlahan dan menemukan pemandangan yang familiar. Kamarnya...
Memiringkan kepalanya, Dylan bisa melihat sosok familiar yang tertidur di samping kasur sambil memegang tangannya. Irene...
Memandang langit-langit kamarnya, Dylan bisa merasakan matanya sedikit perih. Dia tidak bermimpi...
Pria itu tidak membohonginya, dia benar-benar kembali ke rumahnya dan bisa melihat Irene lagi...
Tidak ada lagi ruangan gelap yang penuh dengan pemandangan menjijikkan dan bau darah. Tidak ada lagi monster badut yang menyeramkan.
Kali ini, dia benar-benar kembali ke rumah.
Terima kasih.
Dylan merasakan genggaman pada tangannya sedikit bergerak. Dia segera menggunakan tangan lainnya untuk membersihkan sisa air mata dan mengatur suasana hatinya. Dia tidak boleh membiarkan Irene melihat kesedihannya.
Irene menggosok matanya dengan lelah dan melihat saudaranya tersenyum padanya.
"Dylan!"
Irene langsung memeluk saudaranya dengan erat, "Maaf, maafkan aku."
"Kenapa kamu yang meminta maaf? Apa yang terjadi tidak ada kaitannya padamu," ujar Dylan dengan lembut.
Irene tidak menjawab dan menahan tangisannya di bahu Dylan. Dia benar-benar merasa bersalah ketika mengetahui kemungkinan Dylan keluar rumah adalah untuk menggantikannya pergi ke sekolah. Jika dia tidak begitu malas saat itu, maka saudaranya tidak akan diculik oleh monster sesat.
"Sudahlah, semuanya sudah berakhir. Dibandingkan merasa sedih, kita seharusnya bahagia karena aku akhirnya pulang dengan selamat," kata Dylan, meskipun dia tidak yakin kalau dia bisa melupakan semua mimpi buruk itu.
Irene melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dan tertawa, "Iya, kita seharusnya bahagia. Selain itu, kita harus berterima kasih dengan Yang Mulia Aiden."
"Yang Mulia Aiden?"
"Iya, orang yang membawamu kembali ke rumah."
Jadi pria yang menyelamatkannya adalah Yang Mulia Aiden...Mata Dylan berbinar dengan rasa syukur, kekagumannya untuk Aiden perlahan tumbuh.
Jika ada kesempatan, dia akan berusaha membalas pria itu.