
Dylan merasa dirinya mungkin akan segera menjadi gila. Dikurung di ruangan sempit yang gelap dan dingin serta borgol besi yang menahannya di ranjang besi membuat otaknya melahirkan pikiran negatif, apalagi ketika dia harus sering melihat monster yang dia rasa bukan manusia, datang mengambil darahnya.
Setiap kali badut itu datang, dia akan selalu menggunakan mantel hitam dan sarung tangan hitam yang menutupi semua bagian kulitnya kecuali wajah. Setiap kali, ketika badut itu mendekatinya untuk mengambil darahnya, wajah yang tidak enak dipandang itu akan tersenyum lebar kepada Dylan. Dylan bisa mencium aroma darah dari mulutnya yang membuat Dylan sulit bernafas. Penyakit OCD nya telah kambuh beberapa kali, namun dia harus menahannya.
Terkadang Dylan merasa dia ingin mengupas bagian kulitnya yang disentuh oleh badut itu. Dia tahu penyakitnya pasti bertambah parah. Dylan telah mencoba melakukan konseling psikologis pada dirinya sendiri untuk menyembuhkan stressnya, namun dia rasa usahanya tidak akan mempan lagi.
Jika dia tidak segera keluar dari tempat berhantu ini, dia mungkin akan benar-benar menjadi orang sakit mental dalam rumor. Dia sungguh merindukan Irene, Ethan, dan bahkan ayahnya. Setiap kali dia bangun dari tidur dan melihat kalau dia masih di ruangan gelap ini, suasana hatinya semakin memburuk. Jika tujuan dari badut itu adalah membuatnya perlahan kehilangan kewarasan, maka dia rasa badut itu akan segera berhasil.
Dylan berbaring di ranjang besi sambil memeluk erat dirinya. Dia lelah, benar-benar lelah. Seluruh sarafnya terasa sakit ketika merasakan dinginnya ranjang besi dan borgol yang menguncinya. Dia merasa sangat tidak nyaman ketika memikirkan sudah berapa lama dia berada di ruangan ini dan tidak mandi. Setiap kali dia menelan roti keras, dia akan memikirkan apakah roti itu telah basi atau mungkin bercampur dengan sesuatu yang lain. Rasanya seolah dia menelan segumpalan bakteri yang akan berenang di ususnya.
Sarung tangannya telah lama hilang. Tangan yang selalu dicuci dengan bersih sekarang tampak kotor dengan debu yang menempel.
Irene...
Dylan terus melafalkan nama saudarinya. Irene adalah pilar spiritualnya saat ini. Dia tidak pernah tahan membuat Irene merasa tersakiti. Dia tahu kematiannya hanya akan berdampak buruk pada Irene, itulah sebabnya dia menolak gagasan bunuh diri setiap kali pikiran itu melintas di benaknya.
Tiba-tiba Dylan mendengar suara langkah kaki yang dikenalnya. Menggigit bibir bawahnya, Dylan berusaha menenangkan ketakutan yang mulai melonjak. Dia menggertakkan giginya dan perlahan berbalik, namun pupilnya menyusut seketika.
Kali ini badut itu tidak hanya membawa plastik berisi gelas dan suntikan seperti biasa, tetapi dia menyeret sebuah tubuh anak kecil tanpa kepala. Dylan bisa lihat bagian lehernya terpotong rapi terseret dan meninggalkan jejak darah di lantai. Badut itu menggerakkan mulutnya seolah sedang mengunyah. Ketika bibirnya terbuka, sebuah daging seperti jari kecil terlihat di sela-sela giginya yang berdarah.
Darah Dylan membeku seketika. Dia menutupi mulutnya yang berteriak tanpa suara.
Badut itu berhenti mengunyah dan menatap Dylan dengan tatapan seolah sangat tertarik dengan reaksinya. Badut itu kembali mengunyah dan suara gesekan tulang bergema di ruangan itu sebelum badut itu menelan isi di mulutnya. Lidah panjang menjilati sisa darah di bibirnya, namun dengan tindakan itu, semakin banyak darah yang menempel di bibir merah badut itu. Aroma darah yang kental dan sisa daging busuk menyebar ke penciuman Dylan membuatnya ingin muntah tapi tidak berani.
Badut itu menyipitkan matanya dan tersenyum, lalu berjalan ke arah Dylan sambil menyeret mayat itu.
Dylan segera mundur dengan panik, tetapi ketika punggungnya menyentuh dinding, ngeri langsung menjalari dirinya. Melihat badut itu semakin dekat, Dylan melipat kakinya, menyembunyikan kepalanya di lutut dan menutupi kedua telinga dan matanya. Tali ketenangannya akhirnya terputus dan dia meneriakkan nama saudarinya-
Irene!!!
....
Irene tiba-tiba terbangun. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Potongan-potongan gambar yang menakutkan berenang di benaknya.
Ethan yang telah menjaga Irene di kamar Irene selama dua hari, terkejut dengan gerakan tiba-tiba Irene. Dia sedikit bingung ketika melihat kakaknya yang telah pingsan itu tiba-tiba bangun dengan ekspresi ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan. Ethan segera menjangkau Irene, "Kak ada apa-"
"Dylan! Dylan!" Irene langsung menangkap erat tangan Ethan sambil meneriakkan nama Dylan yang mengejutkan Ethan.
Keributan ini menarik perhatian beberapa orang. Pintu terbuka dan memperlihatkan John dan Christine yang kaget dengan situasi Irene, pasalnya Irene sekarang tampak sedikit menakutkan dengan air mata ketakutan yang terus jatuh.
"Dylan dalam bahaya!"
Mu ZiXi dan Blaire yang baru tiba mendengar kalimat ini.
Seolah melihat tali penyelamatnya, Irene menatap Mu ZiXi dan Blaire dengan penuh keputusasaan dan harapan, "Tolong...Tolong selamatkan Dylan!"
....
Kota S
Saat ini, di jalanan kumuh yang banyak berkumpul berbagai macam orang dari masyarakat rendah, sesosok bermantel hitam dengan tudung yang menyembunyikan wajahnya, memasuki sebuah bar murah.
Seisi bar terdiam sejenak ketika melihat kedatangan tamu baru. Mereka mengamati sosok bermantel hitam itu dengan tatapan tajam, seolah ingin menyelidiki wajah di balik tudung itu.
Sosok itu duduk di ujung. Ketika para tamu melihat bahwa sosok itu tidak memperhatikan mereka, suasana di bar kembali marak. Pelayan bar yang melayani tamu baru itu terkagum mendengar suara yang menyenangkan telinga, "Segelas bir."
Sebelum pelayan itu kembali untuk mempersiapkan pesanan, dari ujung matanya, dia melihat kilasan untaian perak yang tersembunyi di balik tudung tamu baru itu. Dalam hati, pelayan itu membayangkan penampilan seperti apa yang cocok dengan rambut perak itu.
Setelah pelayan pergi, sosok itu sedikit mengangkat kepalanya. Di balik tudung, terlihat sepasang pupil ametis yang mengawasi meja berdebu di depannya dengan jijik.
Sosok itu tidak lain adalah Aiden yang ditugaskan oleh Theodore untuk mencari keberadaan saudara dari calon kakak iparnya. Jujur saja dia benar-benar malas, Theodore bisa meminta bawahan mereka, namun kenapa saudaranya ingin dia turun tangan sendiri?
"Sudahkah kalian memutuskan ingin dijual ke mana barangnya?"
"Belum, aku ingin menunggu tawaran tertinggi. Harga yang diberikan pelanggan kemarin masih terlalu rendah."
"Jangan terlalu rakus, Nak. Dengarkan saranku, jika kamu menyinggung para pelanggan ini kamu akan selesai."
Aiden mendengar percakapan mereka dengan tenang. Kota S sangat tidak terawat, banyak orang miskin dan pengungsi yang tidak memiliki uang semua tinggal di sini sehingga tempat ini sering menjadi pesta bagi kejahatan. 'Barang' yang mereka sebutkan itu mungkin tidak sesederhana yang dipikirkan orang biasa.
"Bagaimana ini...Apa yang harus kulakukan...Tuan kecil Dylan..."
Sebuah suara bisikan yang sangat rendah masuk ke telinga Aiden. Dia mengangkat alisnya dan tersenyum, sepertinya tugasnya akan segera selesai. Dengan suasana hati yang cukup riang, Aiden menghabiskan birnya dengan perlahan. Sebenarnya bir ini rasanya benar-benar tidak enak. Setelah meninggalkan uang di meja, Aiden bangkit dan meninggalkan bar. Salah seorang pelanggan yang membahas tentang 'barang' melihat sekilas surai peraknya yang bergoyang keluar dari mantel karena gerakannya. Sebuah kejutan melintas di mata pelanggan itu.
Tidak jauh dari bar, Aiden menemukan seorang wanita tua yang duduk di jalanan. Wanita tua itu tampaknya tidak menyadari sekitarnya dan hanya bergumam tidak jelas, namun bagi Aiden yang memiliki indera yang sangat tajam, dia bisa mendengar dengan jelas semua gumaman itu.
Wanita tua itu akhirnya menyadari kehadiran seseorang di depannya ketika sebuah bayangan menimpanya.
"Nenek, apakah kamu berbicara tentang Dylan Adler?"
Wanita tua itu membeku. Dia perlahan mengangkat kepalanya dan melihat sepasang pupil ametis yang menakjubkan di balik tudung itu. Wanita tua itu tersadar dari kekagumannya, ekspresi panik dan waspada muncul di wajahnya, "Siapa..."
Wanita tua itu tertegun.
....
Aiden mengikuti wanita tua itu ke rumahnya. Di sepanjang jalan, dia bisa menemukan semakin banyak pengemis yang menatapnya. Mungkin sudah lama mereka tidak melihat kedatangan orang luar.
Mereka sampai di depan sebuah rumah kumuh yang akan berderit setiap kali mereka menginjak lantai kayu. Di zaman sekarang seharusnya bahkan rumah termurah tidak akan terbuat dari kayu, namun hal ini sulit dikatakan di Kota S.
Kota S adalah salah satu kota miskin yang telah ditinggalkan pemerintah sehingga tingkat kejahatan di kota ini cukup tinggi. Di sinilah sisi kegelapan manusia dilepaskan dengan bebas.
"Silakan duduk."
Rumah itu hanya memiliki satu kursi plastik yang sudah sangat tua. Aiden menghentikan wanita tua yang ingin pergi menyajikan air minum, di tempat ini bahkan segelas air bersih yang hangat sangat berharga. Pada saat ini, seorang gadis kecil yang tampaknya berusia dua tahun menjulurkan kepalanya dari ruangan lain dan menatap Aiden dengan takut-takut.
Wanita tua itu menggendong gadis kecil itu dengan penuh kasih dan membawanya kembali ke dalam.
"Maaf membuat Anda menunggu, yang tadi adalah cucu saya."
"Tidak masalah. Sekarang mari kita langsung ke topik. Nenek sepertinya mengenal dekat Dylan Adler dan tahu kalau laki-laki itu sedang dalam masalah. Berita ini bahkan belum dikonfirmasi jelas oleh para bangsawan, jadi bagaimana nenek yang tinggal di kota S bisa tahu mengenai masalah ini?"
Wanita tua itu sedikit tertegun dengan keterus terangan Aiden. Dia tersenyum canggung dan berkata, "Saya dulu adalah salah satu pelayan di Mansion Adler. Setelah keluar dari keluarga Adler keluarga kami pindah ke kota S karena ekonomi yang tidak mencukupi."
"Nenek belum menjawab pertanyaanku."
"Saya mendengar dari beberapa pengemis kalau para pedagang manusia telah menangkap seseorang dari keluarga Adler yang sakit-sakitan. Mereka berencana menjualnya ke luar."
"Pedagang yang mana?"
Wanita tua itu ragu-ragu sejenak, namun dia tetap menjawab, "Mereka ada di bar yang tadi."
Aiden menanyakan beberapa pertanyaan lagi dan wanita tua itu menjawab dengan kooperatif. Aiden tidak mempertanyakan kebenaran kata-kata itu di depan sang nenek. Sebelum Aiden keluar, dari sudut matanya dia melihat bayangan seorang anak kecil yang berdiri di balik dinding.
Aiden menunjukkan kepercayaan penuh pada wanita tua itu yang membuat interaksi berjalan dengan lancar. Sebelum pergi, Aiden bahkan mengucapkan salam yang dijawab dengan lancar dan penuh hormat dari wanita tua itu.
Setelah melalui beberapa belokan, Aiden tiba di sebuah gang sempit yang sepi. Dari belakang, seseorang mengikutinya. Aiden tersenyum, lalu berbalik dan membuat ekspresi panik dan terkejut sebelum segera berlari menjauh. Karena gerakannya, tudung yang menyembunyikan wajahnya terbuka. Pria yang mengikutinya sedikit terkejut dengan gerakan tiba-tiba Aiden, tapi ketika melihat ekspresi kecemasan targetnya, pria itu menurunkan kewaspadaannya dan berlari mengejar Aiden.
Mereka semakin masuk ke gang yang sempit dan gelap hingga Aiden berhenti berlari karena di depannya adalah jalan buntu. Pria itu menyengir kejam ketika melihat mangsanya akhirnya terjebak. Dia menikmati pemikiran betapa cemas dan takutnya orang asing ini. Dengan penampilan yang langka itu, pemuda ini pasti akan terjual mahal. Namun, kenyataannya berlawanan dari yang dibayangkan pria itu. Aiden berbalik dan menunjukkan senyuman, "Disini bisnis kita tidak akan diganggu."
Pria itu terpana dengan perubahan aura di sekitar Aiden. Dia sudah lama terlibat dalam bisnis gelap dan telah bertemu dengan beberapa jenis orang yang berbahaya, sekarang aura Aiden bahkan lebih menakutkan dari penjahat paling kejam yang pernah dia temui. Alarm berbunyi di benaknya, pria ini sangat berbahaya!
Sebelum pria itu berbalik dan kabur, Aiden melesat seperti panah dan mencengkram lengan pria itu sebelum membantingnya ke dinding beton. Rasa sakit dari seluruh tubuhnya yang dihantam ke dinding membuat pria itu menjerit kesakitan, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Pria itu merasakan kekuatan tak kasat mata meremas lehernya, ketika dia berpikir hidupnya akan segera berakhir, tekanan di lehernya menghilang. Pria itu langsung terbatuk-batuk dan berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Mau kemana Tuan Pedagang? Bukankah kamu yang berinisiatif mengikutiku sejauh ini? Kebetulan aku juga memiliki hal yang ingin dibicarakan denganmu."
Pria itu segera memohon pengampunan dengan ngeri dan air mata yang membanjiri wajahnya, "Maaf! Tolong maafkan aku! Aku akan menjawab semua pertanyaan Tuan, jadi tolong jangan bunuh aku! Aku masih memiliki orang tua, istri, dan anak di rumah!"
Aiden melepaskan cengkramannya dari pria itu dengan rasa jijik yang tidak disembunyikan. Dia menyulap sapu tangan dari udara kosong dan membersihkan setiap inci tangannya yang menyentuh pria itu, sebelum sapu tangan itu terbakar habis menjadi debu.
"Ketika kamu menjual manusia sebagai budak kepada orang lain, kenapa kamu tidak memikirkan kalau mereka juga memiliki keluarga? Bukankah mereka juga memohon belas kasihanmu? Coba katakan padaku berapa banyak manusia yang sudah menjadi korbanmu?"
Pria itu berlutut di lantai dengan ekspresi ketakutan. Pria di depannya ini jelas bukan manusia biasa. Tidak ada manusia yang bisa menyulap sesuatu dari udara atau membuat api dari udara! Pria ini adalah roh!
Pria itu membuka mulutnya dan menyebutkan semua nama-nama korbannya, proses penculikan, proses perdagangan, reaksi korbannya, kepada siapa dia menjual korbannya, berapa banyak yang dia bunuh, dan kejahatan lainnya termasuk rekan-rekan kejahatannya. Semakin banyak dia berbicara, semakin putih ekspresinya setelah mengetahui kalau dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
Aiden masih tidak bereaksi dengan semua pengalaman sadis yang diungkapkan pria itu, namun pandangan matanya menatap pria itu seolah menatap sebuah objek, bukan manusia.
"Bagaimana dengan Dylan Adler?"
Pria itu membeku, namun tubuhnya tidak berada dalam kendalinya, sehingga dia langsung membocorkan semua rahasia, "Dylan Adler ditangkap langsung oleh 'Badut'. 'Badut' memiliki kemampuan yang aneh dan sangat suka memakan daging dan darah manusia. Kami tidak pernah mendengar 'Badut' berbicara dan 'Badut' hanya akan berinteraksi dengan kami ketika berdagang. Beberapa orang mengatakan kalau 'Badut' adalah setan. Meskipun kami takut dengan setan itu, kami sering berdagang dengan 'Badut' karena dia selalu menawarkan kekayaan yang luar biasa untuk setiap barang."
Sudah jelas, yang dimaksud 'barang' oleh pria itu adalah manusia. Aiden mengerutkan keningnya ketika mendengar kalau 'Badut' yang disebutkan sangat suka memakan manusia. Jika pria ini tidak berbohong, maka Dylan Adler mungkin sudah mati sekarang.
"Bagaimana kamu tahu kalau Dylan Adler ditangkap oleh 'Badut'? Selain itu, apakah itu artinya Dylan Adler sudah menjadi makanan 'Badut'?"
Tanpa diduga, pria itu menggelengkan kepalanya, "Dylan Adler masih hidup, kami tahu karena belakangan ini 'Badut' sering membeli obat bius. Ketika kami mengantarkannya ke tempat 'Badut', kami melihat Dylan Adler disekap. Sepertinya saat ini 'Badut' hanya mengambil darahnya, kami tidak tahu apa yang spesial dari anak laki-laki yang sakit-sakitan itu karena biasanya badut tidak akan menahan nafsu makannya begitu lama."
Oh...ternyata masih hidup.
"Dimana tempat si 'Badut'?"
Pria itu memberikan informasi terakhir sebelum berubah menjadi abu dan menghilang ke udara.
Aiden menyapu rambut peraknya.
"Setan Badut? Cukup menjengkelkan..."
Kalimat itu bergema pelan di gang yang gelap sebelum sosok perak menghilang di tempat.