Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 3: Hasil Tes Kekuatan Mental dan Fisik



Menara, Kantor Presiden Menara.


Setumpuk laporan terletak di sekitar kantor. Di antara tumpukan kertas di meja, terlihat seorang pria dengan jas dan sarung tangan putih melipat tangannya dan tertidur di atas meja. Seekor kucing putih dengan tubuh berbelang hitam tidur di samping pria itu. Pintu kantor yang sunyi itu tiba-tiba dibuka dengan pelan.


"Selamat datang Nyonya Blaire, Tuan sedang beristirahat."


Suara wanita yang dingin dan mekanis tiba-tiba terdengar di ruangan itu.


Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita muda bermata ruby dan berambut pirang dengan tanktop hitam dan celana tempur. Sebuah jubah hitam yang agak kotor digantung di lengannya. Wanita itu sedikit memiringkan kepalanya kepada kamera pengawas di sudut kantor dan berkata, "Terima kasih atas kerja kerasmu, Annie."


Tidak lama kemudian suara wanita yang dingin itu terdengar lagi, "Sama-sama Nyonya."


Sepatu bot tempur segera menginjak lantai dengan langkah lebar. Setelah beberapa langkah, wanita itu sampai di belakang pria yang tertidur pulas tanpa menyadari ada yang memasuki ruang pribadinya. Jubah kotor di lengannya telah dilemparkan ke sofa di kantor.


Wanita itu menurunkan wajahnya ke telinga pria itu dan berbisik, "Sayang...kamu terlalu lalai memperhatikan sekitarmu."


Pria itu tersentak dan bangun. Mata yang masih berkabut memperhatikan sekeliling ruangan, tiba-tiba sepasang lengan yang ramping melingkarinya dengan erat dari belakang. Pria itu terkejut dan menoleh ke belakang.


Kilatan geli tercermin di pupil ruby wanita itu ketika dia melihat tatapan bingung dari orang di pelukannya. Bekas merah muda tercetak di wajah pria itu sebagai tanda bukti bahwa pria itu baru saja tertidur. Wanita itu membelai bekas merah itu dan seketika seluruh wajah pria itu memerah hingga telinganya.


Wanita itu tertawa pelan dan mencubit pipi pria itu, "Sayang, kamu sangat imut."


"Nyonya Blaire kapan kamu datang?" tanya pria itu dengan kaku.


"Baru saja. Tahukah kamu betapa terkejutnya aku ketika melihat pemandangan Presiden Mu yang dikabarkan workaholic ternyata tertidur di meja kerjanya," canda Blaire dengan kilatan geli dalam suaranya.


Mu ZiXi sedikit menurunkan matanya. Setelah rasa malunya berlalu, kebingungan akibat baru bangun tidur juga ikut memudar. Dengan ekspresi kaku, Mu ZiXi berkata dengan sopan, "Nyonya Blaire, maaf atas kelalaianku sebelumnya, namun bisakah kamu melepas pelukanmu dulu?"


"ZiXi merasa tindakanku memalukan?"


"Bukan seperti itu. Hanya saja ini agak kurang pantas," jawab Mu ZiXi dengan ekspresi netral.


Blaire tersenyum. Bukannya melepaskan pelukannya, dia malah mengeratkan pelukannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Mu ZiXi dan berbisik di telinganya, "Mengapa ZiXi menganggap tindakanku kurang pantas? ZiXi sekarang adalah suamiku tentu saja aku berhak memeluk suamiku bukan?"


Telinga Mu ZiXi semakin merah seolah terbakar. Dengan sigap, Blaire mengangkat Mu ZiXi ke pundaknya dan berjalan ke kamar pribadi di kantor. Tinggi Mu ZiXi sekitar 1,7 meter, namun Blaire mengangkatnya seolah sedang mengangkat karung beras.


Mu ZiXi terkejut dengan tindakan Blaire, "Nyonya Blaire!"


Membanting pintu kamar, Blaire membaringkan suaminya dengan lembut di kasur kemudian menarik selimut sampai ke dada Mu ZiXi.


"Tunggu, aku tidak bisa tidur. Pekerjaanku masih belum siap. Aku masih harus menandatangani proposal-proposal yang berhubungan dengan pencocokan kekuatan mental Yang Mulia Theodore."


Blaire membelai rambut suaminya dan berkata, "Belakangan ini kamu tampaknya terlalu sibuk dengan masalah Theodore.". Menghentikan belaiannya Blaire menatap suaminya dengan tatapan gelap, "Sayang, aku cemburu."


Mu ZiXi yang terkenal workaholic dan perfeksionis, "???"


Sederet tanda tanya berjejer di kepala Mu ZiXi ketika dia melihat wanita yang telah menjadi istrinya menatapnya dengan tatapan predator. Tiba-tiba firasat buruk menghantam dirinya.


"Sayang, istrimu ini sedikit lapar."


Sebelum Mu ZiXi bereaksi, Blaire menggigit pipinya dan menghisap kekuatan mentalnya.


....


Mu ZiXi berbaring di kasur dengan ekspresi mengantuk. Bekas gigitan terlihat di wajahnya dengan sedikit memar disekitarnya. Blaire menghela nafas, "Maaf ZiXi, aku terlalu kasar."


Sepertinya aku makan terlalu banyak.


Melihat reaksi Mu ZiXi yang lamban, Blaire kembali merasa bersalah. Memikirkan pepatah orang Tionghua sepertinya ada istilah seperti makan cuka.


^^^Makan cuka (吃醋): Cemburu^^^


"Salahmu membuatku makan setoples cuka."


Mu ZiXi yang diambang ketiduran, "..."


Blaire merasakan tarikan pada lengannya. Dia melihat pelakunya menatapnya dengan ekspresi serius meskipun kelopak matanya terus bergerak-gerak ingin menutup, "Mengurusi masalah pasangan para roh adalah bagian dari pekerjaanku. Jadi...jangan cemburu..."


Begitu menyelesaikan kalimatnya, Mu ZiXi langsung tertidur lelap. Blaire tertawa pelan dan mencium kening Mu ZiXi dengan lembut.


Selamat tidur, Sayangku.


....


Irene menatap dirinya di cermin. Dia tidak bisa menahan rasa gugup yang membuncah dalam dirinya. Hari ini adalah hari dimana tes kekuatan mentalnya akan dilakukan. Dia telah meminta izin libur sekolah selama seminggu untuk mempersiapkan hari ini. Sebenarnya dia seharusnya melakukan tes lebih awal, namun karena hari kedewasaan Ethan sangat dekat dengan hari kedewasaannya dan Dylan, maka tes kekuatan mentalnya dan Dylan diundur agar mereka bertiga bisa langsung melakukan tes bersama.


Setelah pesta perayaan, dirinya dan Dylan akan bisa pindah dari rumah ini. Irene sangat tidak sabar menunggu hari itu tiba.


Membuka pintu penghubung di kamarnya, Irene melihat Dylan mengenakan kemeja putih dan celana panjang yang formal. Berdiri dari kursi rodanya, tinggi badan Dylan sebenarnya tidak terlalu tinggi ditambah lagi dengan bentuk tubuhnya yang terlalu kurus akibat termakan penyakit. Irene bisa melihat keringat di pelipis saudaranya.


Dengan cepat Irene membantu Dylan kembali duduk di kursi rodanya sebelum menghapus keringat di dahi saudaranya. Melihat wajah lelah saudaranya, Irene mengerutkan keningnya, "Kenapa kamu tidak memanggilku sebelum latihan berjalan?"


Dylan menggeleng kepalanya dan berkata, "Aku tidak bisa selalu merepotkanmu. Selain itu, aku hanya berjalan untuk melatih tulang-tulang kakiku, tidak akan terjadi apa-apa."


Irene berjongkok dan menyentuh kaki Dylan. Dari lapisan kain celana, dia bisa merasakan tulang kaki saudaranya, "Tapi aku khawatir kamu akan jatuh jika aku tidak mengawasimu."


Dylan hanya tersenyum dan mengubah topik, "Bukankah waktunya hampir tiba? Ayo kita turun. Jangan sampai kita membuat Ethan menunggu lama."


Keduanya segera turun. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Ethan. Ethan dengan sopan menyapa mereka. Ketiganya segera turun dan melihat anggota keluarga lainnya berkumpul di bawah.


Kemudian dia memeluk Irene yang diterima dengan senyuman canggung Irene, "Selamat pagi Kak Irene!"


Setelah itu, Caroline melemparkan dirinya kepada Dylan, "Selamat pagi Kak Dylan!"


Dylan tersenyum lembut dan menepuk pelan kepala Caroline, "Selamat pagi Carol."


Caroline memeluk Dylan sambil melihat tangan Dylan yang sarung tangan, tanpa niat untuk melepaskan Dylan.


"Carol."


Caroline akhirnya melepaskan pelukannya setelah dipanggil dan berlari kembali ke arah ibunya, Christine. Christine membelai rambut Caroline di tempat yang sebelumnya dibelai oleh Dylan. Dia tidak suka melihat kedekatan putrinya dengan Dylan.


Christine mengucapkan beberapa kata-kata perhatian kepada Ethan sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Irene dan Dylan. Irene merasa ibu mereka menatap mereka terutama Dylan dengan tatapan yang bermakna. Sedangkan Evan, dia hanya berdiri diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun bahkan kepada saudaranya Ethan. Bisa dilihat bahwa hubungan Evan dan Ethan tidak terlalu dekat.


Karena waktu janji temu sudah dekat, John keluar tanpa meninggalkan sepatah kata pun, diikuti dengan Ethan dan Irene yang mendorong kursi roda Dylan. Melihat suaminya tidak berbicara dengannya, Christine mengepalkan tinjunya.


....


Di Menara.


Sebuah mobil berhenti di depan gerbang Menara. Ethan mengeluarkan kursi roda Dylan dari mobil sementara Irene membantu saudaranya keluar dari mobil dan membantu saudaranya duduk di kursi roda. John memimpin ketiganya ke dalam Menara.


"Selamat datang di Menara," suara mekanis yang ceria terdengar di telinga mereka. "Silakan pergi ke lantai tiga jika Anda telah membuat janji temu untuk melakukan pengujian. Terima kasih."


John, "Terima kasih atas informasinya."


Sesuai dengan instruksi yang telah diberikan, keempatnya naik ke lantai tiga dan mengikuti arahan para staf Menara. John menangani prosedur yang perlu diselesaikan sementara staf lainnya membawa ketiganya ke ruang pengujian yang tersedia.


Mereka bertiga diminta untuk berganti pakaian yang telah disiapkan oleh staf sebelum berbaring di kabin pengujian yang berisi cairan bening. Meskipun Dylan merasa sangat tidak nyaman untuk berbaring di dalam kabin pengujian berisi cairan yang tidak diketahui asalnya, dia hanya bisa menahan diri dan berharap prosesnya tidak berlangsung lama.


Sesuai dengan harapan Dylan, mereka memang tidak membutuhkan waktu yang lama agar mesin pengujian menampilkan hasil tes mereka. John telah menandatangani prosedur untuk menguji kekuatan mental sekaligus kekuatan fisik mereka.


Hasil tes Ethan cukup mengejutkan karena kekuatan mentalnya A, namun kekuatan fisiknya ternyata telah mencapai level S. Biasanya, anggota keluarga Adler memiliki kekuatan mental yang lebih tinggi dibandingkan kekuatan fisik mereka. Namun, Ethan justru sebaliknya. Kekuatan fisiknya secara mengejutkan telah mencapai level S yang hanya dimiliki segelintir orang di keluarga Adler, termasuk ayah mereka, John Ronald Adler.


Hasil tes Irene seperti yang sudah diharapkan. Nilai kekuatan mentalnya level A dan kekuatan fisiknya hanya level C. Adapun Dylan, nilai tesnya adalah yang paling buruk. Bahkan staf yang mengumumkan hasilnya memperlihatkan ekspresi canggung dan kasihan. Hasil tes kekuatan mental Dylan adalah D dan nilai kekuatan fisiknya F.


Meskipun sudah bisa menebak hasil Dylan, Irene tidak tiba menahan rasa kecewa yang membuncah dalam dirinya. Dylan tidak berkomentar tentang hasil tesnya atau bereaksi negatif, dia hanya berterima kasih kepada staf yang mengumumkan hasilnya dan meminta untuk ditunjukkan ke ruangan ganti yang disiapkan khusus untuk mereka yang telah selesai menguji dan ingin berganti pakaian.


Dibandingkan khawatir dengan hasil tesnya, Dylan lebih tidak tahan dengan cairan yang menempel di tubuhnya. Cairan di kabin sebenarnya mirip seperti air biasa, namun karena penyakit OCD Dylan, dia selalu merasa tubuhnya lengket dan tidak nyaman Dia bahkan berharap bisa mandi sabun berkali-kali dan berganti pakaian bersih miliknya. Irene memapah Dylan sampai ke ruang ganti sebelum dia membersihkan dirinya di ruang ganti lainnya.


Setelah ketiganya berganti pakaian, mereka keluar dari ruangan dengan hasil tes di tangan mereka dan menemukan ayah mereka telah menunggu mereka.


"Bagaimana hasilnya?"


Ketiganya menyerahkan hasil tes mereka, namun John tidak berkomentar setelah melihat hasil mereka. Namun setelah mereka sampai di rumah, John memanggil mereka bertiga ke ruang kerjanya. Di sana mereka menerima setumpuk surat. Ketika ditanya oleh Ethan, ayah mereka hanya menjawab sebagai hadiah kedewasaan mereka.


Dylan tidak bisa tidak mengamati ayahnya kembali. Sepertinya ayah mereka sangat suka melemparkan hartanya kepada anak-anaknya. Christine mungkin akan histeris jika mengetahui hal ini. Lagipula semua ini bukan jumlah yang sedikit, bahkan Dylan cukup tertekan untuk menandatangani namanya di setiap lembar kertas. Untuk keluarga bangsawan kelas dua sekalipun, menyerahkan sejumlah properti milik keluarga secara cuma-cuma adalah masalah besar.


Seolah dapat membaca kekhawatiran mereka, John berkata, "Ini semua properti pribadiku bukan aset keluarga, jadi tidak perlu khawatir untuk menerimanya."


Setelah urusan selesai, mereka bertiga meninggalkan ruangan. Bahkan Ethan yang selalu kaku dan pendiam tidak bisa menahan kedutan di bibirnya, "Aku tidak tahu kalau aset pribadi ayah sebanyak ini."


Ethan mengucapkan beberapa kata kepada Irene dan Dylan sebelum mereka berpisah.


Suasana hati Irene cukup membaik setelah menerima aset dari ayahnya karena setelah meninggalkan mansion, dia dan Dylan benar-benar tidak perlu memikirkan masalah biaya lagi. Sekarang dia hanya menantikan hari pesta perayaan. Dylan memang benar, semuanya akan menjadi lebih baik.


....


Menara, Kantor Presiden Menara.


"Presiden, Profesor Liu meminta bertemu," suara mekanis yang dingin terdengar di kantor. Mu ZiXi yang tengah membaca laporan menghentikan pekerjaannya dan membuka izin masuk ke ruangan.


Profesor Liu yang disebutkan adalah salah satu profesor lama di Menara dan juga salah satu dari profesor yang bertanggung jawab untuk mencari kekuatan mental yang cocok dengan Yang Mulia Theodore. Biasanya Profesor Liu akan menunjukkan wajah tua yang serius sepanjang hari, namun ketika memasuki kantor, dia bahkan tidak mengucapkan salam dan seluruh orangnya penuh dengan udara ceria.


Melihat senyuman lebar di wajah tua Profesor Liu, Mu ZiXi memiliki tebakan dalam hatinya untuk kunjungan tiba-tiba ini. Profesor Liu adalah salah satu ilmuan di Menara yang mengagumi Yang Mulia Theodore dan sudah mengurusi masalah beliau sejak dia masih muda. Bahkan setelah tua, dia sangat gigih ingin melihat roh yang dikaguminya menemukan pasangan.


"Presiden, ada satu gelombang kekuatan mental yang baru terdaftar ternyata cocok dengan kekuatan mental Yang Mulia Theodore!"


Ekspresi Mu ZiXi semakin serius, "Bolehkah saya melihat datanya?"


Profesor Liu segera mengirimkan datanya. Mu ZiXi meminta Annie, asisten robotnya, untuk memeriksa kembali data yang terekam dan memang benar kedua gelombang kekuatan mental ini sinkron.


"Annie, berapa persentase kecocokan kedua kekuatan mental ini?"


"Mohon tunggu sebentar."


"Tingkat kecocokan kedua kekuatan mental mencapai 99%-"


"-buzz...Ding! 99,9%"


Suasana hening seketika, bahkan Annie sedikit macet. Mu ZiXi mengulangi proses pencocokan berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Profesor Liu yang awalnya ceria juga memulihkan suasana seriusnya.


Melepas kaca matanya, Mu ZiXi menggosok matanya dan berkata, "Profesor Liu, saya harap data ini dirahasiakan untuk saat ini. Annie, tolong hubungi mansion Yang Mulia Theodore. Katakan Presiden Menara, Mu ZiXi, ingin membuat janji temu dengan Yang Mulia untuk membahas suatu masalah."


"Masalah yang cukup serius."