Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 19: Thousand Eyes



Setelah api padam, Vincent mendekati genangan hijau itu dan melihat kesana kemari. Irene dan Monica telah kembali ke sisi Ethan dan lainnya.


"Aneh...," gumam Vincent sebelum berbalik menatap teman-temannya dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada batu energi."


Batu energi adalah sisa peninggalan monster yang telah mati. Batu energi bisa digunakan sebagai sumber kekuatan cadangan untuk menggantikan kekuatan mental.


William mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya dan membuka halaman tertentu, "Thousand Eyes adalah monster level D dengan ketahanan fisik dua kali lipat dari monster level D lainnya. Mereka ahli dalam memanipulasi pikiran manusia melalui mata-mata mereka..."


William meringkas informasi umum mengenai Thousand Eyes yang mirip tetapi tidak terlalu serupa dengan monster Thousand Eyes yang baru mereka hadapi. Misalnya, monster Thousand Eyes yang dijabarkan di buku sangat suka menyerang menggunakan kekuatan mentalnya dibandingkan dengan kekuatan fisiknya. Mereka juga sedikit lebih bijaksana daripada monster level D lainnya, tetapi monster tadi sangat mudah dibunuh...


Selain itu, bukankah monster yang berada di daerah ini semuanya monster level E? Kemana perginya mereka? Dan bagaimana Thousand Eyes bisa muncul?


Semua keraguan ini terlintas di benak mereka, akan tetapi tidak ada tanda-tanda bahaya yang dideteksi tato mereka. Mereka melanjutkan ke lokasi selanjutnya, tetapi semakin mereka pergi, semakin sedikit monster tingkat rendah yang mereka temui. Dua pertiga dari bahan-bahan dalam daftar juga sudah terkumpul.


Kemampuan Ethan dan teman-temannya juga terlihat selama pertempuran. Vincent yang memiliki baby face suka menggunakan kekuatan mentalnya sebagai peledak dan William yang berkaca mata tanpa diduga memiliki daya pengamatan yang tajam dan yang paling cepat dalam kelompok.


Adapun Ethan dan Serra, keduanya memiliki kekuatan fisik terkuat dalam kelompok serta reaksi pertempuran yang sangat bagus. Irene belum pernah melihat aksi dari siswa pertempuran lainnya, tapi dia merasa kekuatan pribadi keempatnya cukup luar biasa.


Keenamnya beristirahat di tempat yang rindang sementara Irene dan Monica bekerjasama memanggang daging hewan yang diburu. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki cepat yang menuju mereka, relaksasi beberapa orang segera digantikan dengan kewaspadaan.


Seorang siswa perempuan yang terluka parah berlari ke arah mereka sambil meminta tolong. Irene dan Monica segera membantu gadis itu. Gadis itu mencengkram tangan Irene dan menangis, "Tolong selamatkan teman-temanku! Mereka sedang melawan monster level B!"


Gadis itu mencengkram Irene seolah menangkap tali penyelamatnya. Irene segera berbalik menatap Ethan, namun Serra langsung menolak permintaan itu, "Maaf, tapi kemampuan kami juga tidak akan bisa membantu. Lebih baik kita sekarang kembali dan meminta bantuan pengawas."


"Tidak! Mereka tidak akan bisa bertahan selama itu!" teriak gadis itu dengan panik.


William memandang Serra dan Ethan, lalu melirik Irene dan Monica yang tampak tidak nyaman dengan penampilan menyedihkan gadis itu. Melihat gadis itu menatap mereka dengan tatapan memohon, Irene tidak tahan meninggalkannya begini. Dia melihat ke arah Ethan dengan tatapan bertanya.


Ethan yang menerima anggukan samar dari William, akhirnya menyetujui permintaan gadis itu. Mereka bergegas mengikuti gadis itu ke lokasi teman-temannya. Ketika mereka tiba, pemandangan yang menyambut mereka adalah sekelompok siswa yang digantung oleh sulur-sulur raksasa.


Irene melebarkan matanya, itu Thousand Eyes! Versi Thousand Eyes yang lebih ganas! Monster kali ini memiliki bentuk pohon raksasa yang lima kali lebih besar dari Thousand Eyes yang mereka temui sebelumnya. Para siswa yang digantung tampak sangat pucat dan kelelahan, seolah...


"Makhluk ini menyedot energi mereka," ungkap William dengan nada pasti.


Monica dan Irene segera memasang penghalang mental di kedua mata mereka, teknik ini baru saja mereka pelajari dari Serra. Penghalang mental bisa melindungi mereka dari serangan mental sampai batas tertentu. Keduanya menjauh dari area pertempuran bersama gadis itu ketika empat lainnya bergegas membentuk formasi pertempuran.


Sebelumnya Monica sudah membekali setiap orang dengan cairan spiritusnya. Seperti sebelumnya mereka hanya perlu mencari kesempatan untuk membakar pohon itu. Awalnya cukup sulit, namun mereka berhasil melakukannya. Akan tetapi di saat semua orang sudah rileks dan melepaskan siswa-siswa yang terjerat, gumpalan cairan sisa Thousand Eyes menumbuhkan mata baru dan mengirim serangan mental.


"Hati-hati!" seru William sebagai orang pertama yang memperhatikan kejanggalan tersebut, namun peringatannya sudah terlambat.


Dampak serangan mental tersebut praktis membuat siswa-siswa yang sebelumnya energi mereka telah dihisap langsung menjadi koma diiringi dengan darah yang mengalir keluar dari mata, telinga, hidung, dan bibir mereka. Ethan, William, Vincent, dan Serra yang paling dekat dengan kumpulan mata tersebut mengalami dampak terbesar. Namun berkat kekuatan mental tingkat tinggi mereka, kerusakan yang mereka alami tidak separah siswa-siswa lainnya.


Irene memegang kepalanya dengan erat sambil meringkuk di tanah. Rasanya seolah isi kepalanya ditusuk dengan ribuan jarum dan diaduk-aduk dengan kasar. Samar-samar dia melihat Monica di sebelahnya sudah pingsan. Sebelum kesadarannya sendiri memudar dengan dengungan rasa sakit, Irene melihat bayangan gadis yang berdiri di dekat mereka.


Kenapa dia baik-baik saja...


Belum sempat berpikir lebih jauh, Irene sudah kehilangan kesadarannya. Gadis yang meminta bantuan mereka berdiri tegak tanpa bergeming. Tidak ada tanda-tanda rasa sakit di wajahnya, namun jika Irene dan yang lainnya masih sadar, mereka akan melihat kalau sepasang mata gadis ini sekarang sama persis seperti mata-mata milik Thousand Eyes.


"Daging segar... Banyak makanan segar..."


Gumaman serak keluar dari tenggorokan gadis itu. Mata-mata pada gumpalan cairan di tanah bersinar lebih terang seolah menanggapi kata-kata gadis itu.


Senyum menakutkan perlahan tersungging di wajahnya ketika gadis itu memiringkan kepalanya dan menatap Irene yang pingsan di tanah.


"Enak...Baunya enak..."


Sulur tanaman perlahan tumbuh dari ujung jari gadis itu dan meliuk-liuk mendekati Irene. Sebelum sulur-sulur itu menyentuh Irene, sebuah paksaan berat datang dari sekitar mereka dan meledakkan lengan gadis itu.


Raungan tidak manusiawi bergema seketika.


Gumpalan cahaya keperakan berkumpul di sebelah Irene dan membentuk sesosok manusia. Sosok itu berjongkok dan menggendong Irene ke pelukannya.


Theodore menatap dingin gadis yang sekarang setengah tubuhnya sudah berkayu dan menumbuhkan sulur seperti pohon. Dia baru meninggalkan Irene sebentar, tetapi gadis kesayangannya sudah terluka seperti ini dan pelakunya bahkan berani menginginkan kekuatan hidup Irene.


Ribuan paku es memadat di udara mewakili api yang membakar batin Theodore. Di detik berikutnya, semua paku es itu melesat ke target mereka dan benar-benar mengubah gadis monster itu menjadi landak es yang dipaku ke tanah. Suhu di lingkungan itu turun drastis hingga lapisan tipis es muncul ke permukaan dan membekukan genangan hijau di tanah.


Kerutan kecil muncul di dahi Theodore bersama dengan kilatan jijik yang melintas sekilas di pupil ametis nya. Bola gelap itu mengembun di udara dan menyerap energi pada mata-mata tersebut. Yang membuat Theodore merasa tidak nyaman adalah perasaan yang diberikan energi itu. Rasanya seperti daging busuk, kebencian, kematian, serta kegelapan tanpa batas. Benda ini seratus kali lebih menjijikkan dari undead gelap.


Theodore mengeluarkan botol kaca kecil dan dengan enggan memindahkan energi gelap itu ke dalam botol. Saat dijerat kekuatan asing, bola energi itu sempat memberontak sejenak, namun dengan mudah ditekan oleh kekuatan Theodore dan dipaksa disegel dalam botol.


Setelah itu dia memandang Irene yang pucat di pelukannya dengan dilema. Dia ingin membawa pulang gadisnya dan merawatnya secara pribadi, tapi dia masih memiliki pekerjaan di sini. Selain itu mungkin Irene tidak akan senang jika mengetahui kalau dirinya dibawa ke ketempat asing tanpa izin karena bagi gadisnya mereka masihlah orang asing yang hanya bertemu sekali.


Memikirkannya lagi membuat Theodore merasa seolah ada paku yang sangkut di hatinya. Bagi Irene dia hanyalah orang asing...


Dengan helaan nafas dan senyum masam, Theodore memandang sayang gadis di pelukannya kemudian mencium lembut kening Irene dan membersihkan gangguan mentalnya. Dalam sekejap ekspresi Irene berubah menjadi lebih nyaman dan tanpa sadar bersandar lebih dekat ke sumber kenyamanannya. Melihat hal itu senyuman Theodore mengembang. Yah...tidak masalah, dia bisa menunggu.


Meletakkan Irene di rumput yang bersih, Theodore menekan pergelangan tangan Irene dan mengaktifkan tato darurat dengan kekuatan mentalnya. Sebuah layar transparan terbentuk di udara dan menampilkan seorang prajurit.


"...Yang Mulia Theodore?"


"Kirim orang untuk menjemput siswa-siswa ini. Sesuatu telah terjadi, pastikan kalian memantau ketat siswa lainnya."


Prajurit tersebut tertegun sejenak sebelum memberi hormat militer yang standar dan dengan sopan bertanya, "Bolehkah Yang Mulia memperjelas situasinya? Apakah kita perlu membatalkan sesi pelatihan?"


"Tidak perlu membatalkan pelatihan, lakukan semuanya seperti biasa. Kalian cukup memantau para siswa dan bersiap menarik mereka kembali jika ada insiden yang janggal. Mengenai situasi saat ini aku sendiri juga belum jelas, namun Marsekal yang memintaku kemari."


Sang prajurit tidak banyak bertanya lagi dan langsung menjalankan perintah sebelum memberi hormat militer dan memutus komunikasi.


Theodore memberi Irene pandangan enggan sebelum sosoknya memudar di udara tanpa meninggalkan jejak seolah dia tidak pernah muncul di tempat itu.


Tidak lama kemudian, beberapa prajurit datang untuk menjemput mereka secara diam-diam. Situasi pelatihan tidak terganggu, namun tidak ada yang siswa yang menyadari kalau penjagaan mereka telah diperketat. Di saat yang bersamaan beberapa mutan yang janggal telah dieliminasi secara diam-diam.


......................


Jauh di sisi lain hutan, di dalam gua terpencil tertentu yang lembab muncul sesosok bayangan samar yang diam-diam masuk ke perut gua. Sosok itu menyusuri setapak penuh lumut dengan tenang meskipun bau lembab bercampur karat yang menyengat bertebaran di udara.


Semakin dia masuk ke dalam gua, semakin kental aroma darah dan bau busuk yang tercium. Keadaan yang gelap bergabung dengan aroma janggal ini akan membuat siapapun merasa tidak nyaman, tapi sosok itu tidak bergeming bahkan setelah melihat setumpuk tulang si sisi dinding gua.


"Ck...Benar-benar mengganggu..."


Suara gerutuan jijik datang dari lubang besar di depan dinding batu. Setelah sampai di asal suara tersebut, tampak sosok hitam lainnya yang sedang mengutak-atik mayat raksasa yang bentuknya sudah tidak bisa dikenali lagi. Bagian gua ini tampak sangat berantakan dengan bau mayat yang menyengat.


"Akhirnya datang juga. Tahukah kamu sudah berapa banyak detik yang kuhabiskan di tempat ini hanya demi menunggu kehadiranmu?!" seru sosok hitam itu saat dia memandang kesal pendatang baru yang berdiri diam di pintu lubang. Gerakan tangannya tidak berhenti memisahkan bagian-bagian mayat monster di meja batu.


"Ada terlalu banyak pengawasan di sekitar hutan ini, aku harus berhati-hati menghindari mereka tanpa menimbulkan kecurigaan," jawab pendatang baru itu yang dari suaranya itu tanpa diduga adalah milik seorang gadis muda.


"Hmph! Kalau bukan karena perintah Master, bagaimana mungkin aku bersedia turun tangan untuk mengurusi bocah-bocah ingusan seperti kalian," gumam sosok hitam itu dengan bisikan pelan yang masih masuk ke telinga pihak lain.


"Sekarang sebagian besar dari monster yang kamu modifikasi telah dihancurkan oleh makhluk tertentu. Kurasa kita juga harus segera bergerak," ujar gadis itu.


"Apa katamu?! Bagaimana mungkin barang-barang itu bisa begitu mudah dibantai?! Bahkan dengan kemampuan para prajurit itu tidak mungkin melakukannya secepat ini!"


Gadis itu tampaknya telah menebak reaksi lawan bicaranya. Dia dengan tenang mengeluarkan sebongkah batu biasa seukuran bola voli dan meneteskan darahnya sebelum membacakan mantra tanpa suara. Batu biasa itu mulai retak dan memancarkan aura gelap yang membentuk cermin transparan. Adegan di cermin tersebut menunjukkan sesosok pemuda berambut perak yang langka di zaman ini dengan pupil ametis yang dingin, sosok itu mengubah monster-monster di sekitarnya menjadi serpihan es.


"Dia..."


Meskipun gadis itu tidak bisa melihat ekspresi keterkejutan dan kontemplasi lawan bicaranya, tapi dari nada samar pihak lain dia mendengar secercah dilema.


Sang gadis, "Kamu mengenalinya?"


Sisi lain terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak yakin, tapi aku hanya mengetahui dua 'orang' yang memiliki rambut perak dan mata ametis. Dan mereka juga bukan sesungguhnya manusia, mereka adalah roh kuno. Yang satu terkenal dengan apinya yang pernah mengacau di daerah kita dan satu lagi terkenal dengan esnya di masa lalu."


"Kalau aku tidak salah, pemuda ini adalah Yang Mulia Theodore. Roh kuno yang kehadirannya semakin tidak mencolok dari masa ke masa. Dia juga sudah keluar dari militer, jadi apa yang dilakukannya disini?" Suara sosok hitam itu makin lama makin kecil hingga hanya tersisa gumaman.


"Tidak penting mengapa dia ada disini, tapi kehadirannya bisa berdampak negatif untuk rencana kita," balas gadis muda itu.


"Kamu benar. Orang itu adalah variabel tak terduga. Kita harus memulai rencana ini lebih awal. Pergilah atur semuanya, sisiku juga akan segera selesai."


"Baik."