Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 5: Mimpi Dylan



"Dylan!"


Irene bergegas ke sisi saudaranya. Dia bisa melihat kekakuan Dylan, dan keringat dingin telah membasahi kening saudaranya.


"Apa yang terjadi?" tanya Irene dengan lembut sambil membersihkan sarung tangan Dylan yang terkena darah dengan sapu tangan yang selalu dibawanya.


Pertanyaan Irene telah menyalakan api kemarahan kelompok tamu di sisi lain. Seorang tamu pria menunjuk Dylan dengan penuh permusuhan dan membentak, "Kamu tanya apa yang terjadi!? Saudaramu yang satu ini telah melukai adik perempuanku!"


Irene melihat seorang gadis yang kepalanya berdarah, bersembunyi di belakang tamu pria yang berteriak. Gadis itu memegang kepalanya yang berdarah sambil menangis dan mengarahkan tatapan yang penuh ketakutan kepada Dylan.


Irene menatap Ethan dan dibalas dengan gelengan, "Tadi aku meninggalkan Kak Dylan sebentar, ketika aku kembali aku melihat gadis itu sudah terluka dan menangis. Tidak ada saksi di tempat."


"Saksi? Saksi apa yang kalian butuhkan, adik perempuanku hanya bersamanya! Siapa lagi yang bisa melukai adikku? Selain itu, tidakkah kalian lihat kalau adikku sangat takut padanya!? Apa kalian buta!?"


"Saudaraku tidak akan melakukan hal seperti itu tanpa sebab!" bela Irene dengan marah. Tuduhan yang dilemparkan kelompok tamu ini sama sekali tidak masuk akal. Dylan memiliki OCD yang cukup serius, dia tidak akan mau mendekati gadis itu, apalagi menyentuhnya!


Sayangnya Irene tidak bisa menyebutkan fakta ini karena selain dari keluarga, Dylan memutuskan untuk tidak membiarkan kabar ini tersebar keluar.


Pria itu menatap Irene dengan tatapan penuh jijik, "Memang benar, orang normal mana yang akan melukai orang lain tanpa sebab?! Jelas-jelas saudaramu memiliki penyakit mental!"


Kata-kata pria itu membuat para tamu berbisik penuh keraguan dan mengarahkan tatapan ambigu kepada Dylan.


"Kata-katanya masuk akal. Dari tadi laki-laki itu tidak berbicara atau bereaksi, menurut kalian bukankah itu aneh? Orang normal akan panik dalam keadaan seperti ini."


"Bukankah dia dikabarkan sakit? Mungkin yang dimaksud itu sebenarnya sakit jiwa?"


"Aku heran bagaimana keluarga Adler bisa tahan dengan mereka."


Ethan yang sejak awal tidak banyak bicara, mengarahkan pandangan tegas ke para tamu yang bergosip, "Urusan keluarga Adler tidak ada hubungannya dengan orang luar. Tolong jangan mencampuri urusan keluarga kami."


Para tamu yang ditatap terdiam seketika. Beberapa juga merasa malu dan meninggalkan tempat kejadian.


Tepat pada saat ini, John datang bersama Christine. Menatap kekacauan ini, John mengerutkan keningnya dan meminta Irene membawa Dylan kembali ke kamarnya. Tentu saja keputusan John ditentang oleh tamu pria yang bertengkar dengan mereka, namun John menatap dingin kelompok tamu itu, "Masalah ini belum ditentukan kebenarannya. Selain itu, saya juga penasaran bagaimana adik perempuan Anda bisa sampai di halaman barat tanpa arahan dan kebetulan bertemu dengan putra saya."


Gadis itu tertegun, namun dia menyembunyikan wajahnya di belakang saudaranya dan menangis lebih menyedihkan.


Christine menarik lengan John dan meminta pelayan untuk membawa gadis itu untuk mengobati lukanya. Ketika tamu pria itu ingin menolak, gadis di belakangnya menarik lengan baju saudaranya dan menggeleng kepalanya, lalu dengan takut-takut mengikuti pelayan dan didampingi oleh beberapa gadis yang tampak peduli dengannya.


Irene tidak peduli dengan tatapan tajam orang lain dan mendorong kursi roda Dylan ke dalam rumah dengan diikuti Ethan dan Monica.


Setelah mereka sampai di kamar Dylan, Irene segera melepaskan sarung tangan saudaranya yang telah robek dan kotor. Monica sedikit terkejut ketika melihat tangan Dylan yang pucat dan kurus. Tulang tangan Dylan tampak lebih kecil dari tulang tangan pria normal. Sesuai dengan instruksi Irene, Ethan menemukan alkohol dan menyerahkannya kepada Irene.


Biasanya Irene tidak akan membiarkan orang luar memasuki kamar Dylan, namun dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal ini dan meminta Ethan dan Monica untuk menunggunya di kamarnya. Ethan mengikuti permintaan Irene tanpa berkomentar dan membuka pintu lain di ruangan yang mengejutkan Monica.


Setelah mereka berdua pindah ke kamar Irene, Monica menatap pintu yang menghubungkan kamar Irene dan Dylan dengan tatapan penuh keraguan. Sebagai seorang gadis, tentu saja dia memahami pentingnya privasi dan kenyamanan pribadi seorang gadis. Irene memang terlihat sangat peduli dengan saudaranya, namun bukankah ini terlalu berlebihan?


"Mereka...menggunakan kamar yang terhubung?"


Ethan mungkin mengira gumaman Monica adalah pertanyaan untuknya, dan menjawab, "Mereka sudah berbagi kamar sejak anak-anak dan kemudian menggunakan kamar terhubung ketika remaja."


Monica mengerutkan keningnya dan dengan serius berkata, "Tapi mereka adalah laki-laki dan perempuan."


Sekarang giliran Ethan yang mengerutkan keningnya dengan bingung, "Jadi? Apa masalahnya? Mereka adalah saudara kandung dan bahkan kembar. Hubungan mereka sudah sangat dekat sejak kecil dan Kak Irene telah mengurus Kak Dylan sejak kecil."


Monica terdiam. Kata-kata Ethan memang tidak salah...


Tidak lama kemudian, Irene membuka pintu penghubung dan menutupnya dengan pelan.


"Bagaimana dengan Kak Dylan?" tanya Ethan.


"Dia sudah tidur," jawab Irene dengan lesu.


"Apakah dia mengatakan sesuatu?" tanya Ethan lagi.


Irene menggeleng kepalanya, lalu menatap Monica dengan senyuman masam, "Maaf karena sudah merepotkanmu, Monica. Terlebih lagi kamu harus menyaksikan hal semacam ini."


"Kondisi saudaramu tidak terlihat baik. Meskipun mungkin gadis yang meneteskan air mata seperti keran itu terlihat lebih seperti korban, seperti yang ayahmu katakan tadi, kebenarannya belum diperiksa," kata Monica dengan serius.


Irene dan Ethan tidak menduga jawaban seperti itu dari Monica. Suasana hati Irene yang telah turun kembali naik, dengan senyuman tulus, dia berterima kasih, "Terima kasih Monica."


....


Bulu mata perak sedikit bergetar dan pemiliknya perlahan mulai terbangun. Kelopak mata yang terbuka memperlihatkan pupil ametis yang menyihir.


Pria itu perlahan bangun ke posisi duduk dan menggosok alisnya.


"Menara menghubungimu lagi."


Pria itu mengarahkan pandangannya ke sosok yang bersandar di jendela. Cahaya bulan melewati kaca jendela dan menyinari surai perak dan mata ametis itu. Bersandar di jendela, tampak seorang pria muda dengan rambut panjang dan warna mata yang sama dengan pria di kasur es, hanya saja suaranya sedikit lebih tinggi dari pria normal. Pria itu tersenyum malas.


Pria yang duduk di kasur menyandarkan punggungnya ke dinding kasur dan menutup matanya, "Abaikan saja, ngomong-ngomong tidak perlu berpakaian seperti laki-laki setiap kali kita di rumah."


Senyuman pria yang bersandar di jendela, mandek seketika. Dengan ekspresi kesal, pria itu menyisir surai panjangnya dengan tangan dan mengirimkan tatapan tajam kepada lawan bicaranya, "Apa masalahnya? Lagipula dunia sekarang mengenalku sebagai laki-laki, bahkan jika ada yang tahu kalau aku adalah perempuan, siapa yang berani berkomentar? Aku suka dengan identitasku yang sekarang. Dan aku rasa kali ini kamu perlu menghubungi Menara karena kudengar Presiden Menara sendiri yang ingin membuat janji temu denganmu. Katanya ada masalah penting yang harus dibicarakan."


Hening menimpa ruangan itu sejenak sebelum suara helaan nafas lembut terdengar, "Kalau begitu tolong buat janji temu dengannya, Aiden."


"Dengan senang hati, Saudaraku."


....


Di sebuah ruangan mewah yang penuh dengan aura kebangsawanan, seorang pria muda berbaring miring di kasur merah dengan lesu. Rambut panjangnya yang berserakan menutupi wajahnya.


Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang mendekati kasur. Pria muda itu telah sadar, namun dia mengabaikan kehadiran orang tambahan di ruangan itu. Seketika suara seorang wanita dengan nada yang memanjakan, terdengar di ruangan itu.


"Ini sudah siang, tidakkah kamu seharusnya sudah bangun dari tempat tidur, hmm...?"


Tidak ada jawaban yang datang dari pria muda itu.


Wanita itu menghela nafas pelan dan kembali bertanya, "Sayang, mau sampai kapan kamu mengabaikanku? Kamu tidak bisa selamanya mengabaikan istrimu."


Masih tidak ada tanggapan dari pria muda itu.


Tiba-tiba, area kasur di sebelah pria muda itu sedikit tenggelam. Pelukan yang datang dari belakang membuat pria muda itu kaku seketika. Pria muda itu ingin bergeser menjauh, namun pelukan yang menjeratnya semakin erat. Sebuah tangan membelai rambut pria muda itu dengan lembut dan turun ke pipinya. Ciuman penuh kasih jatuh ke puncak kepala pria muda itu.


"Mau sampai kapan kamu menghindariku? Kamu harus tahu, kesabaranku juga ada batasnya. Hanya karena aku menghargaimu bukan berarti kamu bisa memperlakukanku seenaknya. Apa kamu mendengarkanku?"


Ketika wanita itu tidak mendengar balasan yang diinginkan, tangan yang awalnya membelai pipi pria muda itu dengan lembut tiba-tiba turun ke dagu dan mencengkramnya dengan kuat. Wajah pria muda itu dipaksa berbalik menghadap wanita itu.


Pupil ametis dan surai perak muncul di pandangan pria muda itu. Pupil ametis itu tampak memancarkan cahaya ungu yang dingin ketika wanita itu menatapnya dengan tatapan tajam.


"Jangan menguji kesabaranku. Tatap mataku ketika aku sedang berbicara denganmu dan jawab pertanyaanku ketika aku bertanya padamu. Apakah kamu paham?"


Pandangan kosong pria muda itu bergetar sedikit, namun dia tetap menolak untuk menjawab.


Ekspresi kemarahan yang samar muncul di wajah wanita itu, namun ada campuran emosi yang tidak dapat dipahami terlintas di matanya.


"Bahkan jika kamu mengabaikanku seumur hidup, kamu tidak akan bisa kembali ke tempat asalmu. Jangan lupa, satu-satunya yang bisa menjamin hidupmu sekarang hanya aku."


....


Dylan terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dia merasa bahwa dia telah mengalami mimpi yang aneh, namun dia tidak bisa mengingat sedikit pun konten mimpinya.


Memandang langit-langit kamarnya, Dylan memikirkan kembali kejadian tadi malam di halaman barat dan tersenyum mengejek. Dia dan Ethan sengaja meninggalkan ruang pesta untuk menghindari kerumuan. Dia memilih halaman barat karena tempat itu cukup jauh dari aula pesta dan termasuk tempat terpencil di mansion. Ethan hanya meninggalkannya sejenak karena alat komunikasinya berbunyi dan pergi ke tempat lain untuk menjawab panggilan. Siapa tahu tidak lama setelah Ethan pergi, muncul gadis yang tidak diketahui asalnya.


Gadis itu tampak seolah tersesat, namun Dylan sudah cukup waspada dengannya. Dylan memberitahunya jalan kembali ke aula, namun gadis itu tersenyum malu-malu, semakin mendekatinya, beralasan bahwa dia tidak tahu arah dan meminta Dylan untuk mengantarnya kembali. Dylan tersenyum sopan dan menolak, dalam hatinya dia berpikir gadis ini cukup tidak masuk akal, meminta orang yang duduk di kursi roda untuk mengantarkannya kembali. Selain itu, jika gadis itu memang buta arah, dia seharusnya tidak sembarangan berpergian di tempat yang tidak dikenal.


Dylan mengerutkan keningnya ketika melihat gadis itu terus mendekatinya. Ketika Dylan akan memundurkan kursi rodanya, gadis itu tiba-tiba terjatuh ke arahnya dan tangannya menarik kerah Dylan.


Wajah Dylan membiru seketika. Gadis itu membelai lehernya! Perasaan mual berdering di sekujur tubuhnya. Namun, gadis itu tersipu malu, meminta maaf, dan segera berdiri. Tetapi sebelum dia berdiri tegak, kakinya tergelincir lagi dan kembali jatuh ke arah Dylan. Ketika melihat wajah yang semakin mendekati wajahnya, Dylan secara refleks mengayunkan piring kaca kecil yang dibawanya, langsung menghantam wajah gadis itu. Gadis itu berteriak kesakitan dan terjatuh ke tanah. Tangannya tanpa sadar meraih tangan Dylan dan terus menariknya. Akibatnya, gadis itu menerima tendangan Dylan yang membuatnya melepaskan tangan Dylan. Sampai sekarang kakinya masih merasa kebas.


Entah mengapa kali ini rasa mual yang dirasakan Dylan tampaknya lebih kuat berkali-kali lipat. Tubuhnya sangat menolak sentuhan gadis itu sampai-sampai dia merasa seolah ototnya kejang. Bahkan bernafas terasa sulit ditanggung seolah udara yang dihirupnya mengandung bakteri-bakteri yang menjijikkan. Itulah sebabnya ketika Ethan dan Irene berbicara dengannya, dia tidak bisa menjawab mereka.


Dylan merasa gadis itu sengaja menemuinya, bahkan tindakan menyentuh juga seolah sengaja dilakukan untuk membuatnya merasa tidak nyaman. Hanya keluarga Adler yang mengetahui penyakitnya, bahkan mereka hanya mengira dia memiliki kecenderungan kebersihan yang kuat dibandingkan orang normal. Dia tidak pernah memberitahu mereka bahwa penyakitnya sebenarnya cukup parah. Dia hanya berharap gadis itu menyentuhnya karena mesum dan bukan karena sengaja ingin memicu penyakitnya. Dia belum siap penyakitnya diketahui publik, setidaknya tidak sekarang.


Dylan bisa membayangkan berita buruk apa yang akan tersebar besok. Mungkin dia akan menjadi topik diskusi utama publik. Kali ini memang salahnya karena terlalu ceroboh. Dia hanya berharap ayah mereka tidak akan mencabut izin mereka untuk meninggalkan mansion.


Mengeratkan cengkeramannya pada selimut, Dylan memaksakan dirinya untuk kembali tidur. Dia tidak ingin terlihat kelelahan karena kurang tidur, kesalahpahaman bisa bertambah buruk dan orang-orang di mansion bisa berpikir bahwa dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena merasa bersalah.


Sambil memutar sebuah lagu pengantar tidur di benaknya, Dylan perlahan mulai tertidur. Rasa penasaran tentang mimpi yang dialaminya kembali muncul, namun tidak lama seketika rasa penasaran itu tenggelam ketika kantuk yang tebal kembali menyelimutinya.