
Di sisi lain hutan, lima sosok bermantel ungu dengan pola tengkorak putih di ujung mantel mereka, sedang berhadapan dengan seekor ular raksasa yang bersisik emas. Ular itu menyemburkan api pada musuhnya dengan panik. Tubuh ular itu masing-masing ditutupi dengan berbagai luka yang besar kecil, tetapi ular itu masih tidak jera melawan kelima sosok itu. Dia berusaha menghalangi pintu gua di belakangnya dengan tubuhnya yang penuh luka.
Satu-satunya wanita di kelompok itu mendecakkan lidahnya dengan kesal dan mengubah kekuatan mentalnya menjadi ribuan tombak beracun yang langsung menusuk semua titik vital ular raksasa. Raungan keras terdengar dalam jarak puluhan meter sebelum perlahan mereda. Sebelum ular raksasa itu menghembuskan nafas terakhirnya, keputusasaan terlihat di kedua pupil vertikalnya.
"Tsk, ular besar ini benar-benar menjengkelkan," ujar salah satu pria.
Wanita yang membunuh ular itu duduk di sebuah batu besar dan memainkan kukunya, "Kita harus cepat. Setelah mengambil telur itu kita akan langsung berburu anggrek malam dan kalajengking giok, lalu memanen kristal emas."
Setelah empat pria di kelompok itu memindahkan ular raksasa dari pintu gua, wanita itu turun dari atas batu dan berdiri di dekat mayat ular. Dia membacakan mantra tanpa suara dan menempelkan salah satu telapak tangannya ke ular raksasa. Tubuh mayat ular itu segera mengering dengan kecepatan yang menakutkan, setelah itu sisik-sisik yang telah kehilangan kilauan emasnya dikumpulkan semuanya ke dalam sebuah tas. Akhirnya ketika wanita itu selesai memanen, yang tersisa dari ular itu tidak lebih dari tulang raksasa yang tampak keropos.
Sementara itu, seorang pria membawa sebuah telur hitam dengan pola keemasan di kulitnya dari dalam gua. Wanita itu mengangguk puas dan mereka langsung menuju ke tempat selanjutnya.
......................
"Momo! Orang baik!" Mimi berseru kegirangan ketika dia melihat Aiden, Momo, Theodore serta bawahan mereka kembali ke sarang kalajengking.
Momo sudah kembali ke ukuran semulanya, tapi dia lebih diam dari biasanya. Mimi melihat keanehan temannya dan menatap Aiden dengan tatapan bingung.
Setelah mengembalikan Momo, kelompok itu langsung pergi. Sebelum Aiden keluar dari gua, dia menjanjikan Momo tiga keinginan sebagai imbalan karena memandu kelompoknya memanen kristal emas.
Di saat kekuatan jiwa Theodore sedang berasimilasi dengan kekuatan Selene, Aiden tidak menganggur. Dia memanen semua kristal emas di gua tanpa tersisa. Momo sedikit tercengang dengan penjarahan yang berlebihan itu, namun Aiden menjelaskan kalau keberadaan kristal ini sekarang sudah tidak berguna bagi makhluk-makhluk di hutan, tetapi mereka sangat menarik bagi pengunjung dari luar. Daripada membiarkan orang luar memanennya tanpa berkontribusi, lebih baik mereka membawa semuanya pulang. Menurutnya mereka harus menghargai usaha Theodore.
Momo, "..." Dengan kata lain dia hanya rakus.
Aiden meninggalkan sebuah manik-manik merah yang hanya bisa dilihat oleh kedua kalajengking dan mengingatkan mereka untuk memecahkannya setelah mereka memutuskan keinginan mereka. Manik-manik ini adalah objek teleportasi, setelah dihancurkan, maka mereka akan dikirim langsung ke tempat Aiden berada.
Setelah Aiden keluar dari gua, kelompok mereka langsung menghilang. Mereka berencana untuk tinggal selama beberapa hari di hutan ini sebelum kembali. Yang tidak diketahui mereka adalah kelompok bermantel ungu yang ingin berburu kalajengking giok melihat Aiden keluar dari sarang kalajengking di sebuah cermin air.
"Jadi apakah kita masih perlu ke tempat kalajengking giok?"
Kelompok itu baru keluar dari reruntuhan gua anggrek malam dengan suasana hati yang buruk. Mereka harus melintasi rawa-rawa yang penuh monster agar bisa sampai ke gua tempat anggrek malam tumbuh. Masalahnya, mereka sudah lelah dan penuh luka setelah menghadapi ratusan ekor monster di rawa. Saat mereka tiba di gua, ternyata anggrek malam itu dijaga oleh tiga ekor serigala bulan.
Serigala bulan dewasa adalah monster dengan kekuatan mental dan fisik level S. Mereka adalah monster tingkat tinggi yang telah mengembangkan kebijaksanaan sejak lahir. Serigala bulan pada dasarnya bukan hewan yang mudah agresif dan merupakan monster yang sangat penyayang terhadap bangsa mereka. Pada malam hari, kekuatan mental dan fisik serigala bulan akan meningkat menjadi level SS dan serigala bulan biasanya sangat suka tidur di siang hari.
Kedatangan kelompok itu tentu saja mengganggu tidur para serigala bulan. Serigala-serigala itu terbangun dan menjadi kesal ketika melihat tatapan kelompok itu pada satu-satunya anggrek malam yang mereka jaga. Anggrek malam adalah harta pusaka para serigala bulan, tentu saja para serigala tidak akan membiarkan kelompok itu merampok harta mereka.
Kelompok itu bentrok dengan ketiga serigala. Mereka seharusnya tidak bisa mengalahkan para serigala, namun wanita di kelompok itu mengucapkan mantra yang memunculkan ratusan jiwa monster-monster yang mereka bantai di hutan ini. Salah satunya adalah ular raksasa. Para serigala menjadi marah besar ketika melihat jiwa-jiwa monster di hutan ini disalahgunakan oleh kelompok itu, namun meskipun ketiga serigala bulan adalah monster tingkat tinggi, mereka masih tidak sanggup menahan serangan ratusan jiwa monster yang membawa kekuatan asli semasa hidup mereka. Apalagi ketika jiwa-jiwa itu tidak bisa dibunuh.
Berada di ambang keputusasaan, ketiga serigala bulan tidak ingin bernasib digunakan oleh musuh-musuh mereka seperti monster-monster sebelumnya, ketiganya memilih untuk meledakkan diri dengan maksud untuk menarik musuh-musuh mereka mati bersama!
Wanita itu terkejut dengan tindakan para serigala dan langsung memutuskan untuk menggunakan semua jiwa monster-monsternya menahan efek ledakan.
Ledakan bunuh diri dari monster level S menghancurkan seisi gua dan mengubah tempat itu menjadi reruntuhan. Untungnya kelompok lima itu telah lama melarikan diri dari gua. Jiwa-jiwa monster itu musnah ditelan oleh ledakan tanpa tersisa, jika bukan karena hal ini, maka ledakan itu bisa menghancurkan semua yang ada dalam jarak puluhan meter dari gua, termasuk kelompok lima itu.
Kelompok lima itu sangat marah, mereka mengalami kerugian yang begitu parah, namun mereka bahkan tidak mendapatkan anggrek malam.
Wanita itu menggertakkan giginya dan berkata, "Kita akan pergi ke sarang kalajengking itu, mungkin saja masih ada kalajengking giok yang tersisa."
Sebagai pemimpin kelompok, wanita itu adalah yang terkuat, namun juga yang mengalami kerugian paling parah. Semua senjata jiwanya telah habis diledakkan dan dia bahkan terluka disana-sini.
Kelompok itu mulai berangkat dengan permusuhan yang begitu kental.
Kali ini mereka tidak boleh gagal.
......................
Di gua kalajengking, Momo dan Mimi sedang tidur siang, namun Momo terbangun dengan waspada. Dia bisa merasakan aura bermusuhan yang mendekati sarang mereka. Mimi terbangun dengan gerakan Momo.
"Momo..."
"Shh... Ada yang datang. Kamu jangan keluar, jika terjadi sesuatu, langsung hancurkan manik-manik ini."
Setelah menyerahkan manik-manik merah yang ditinggalkan Aiden kepada mereka, Momo menyembunyikan Mimi di sebuah lubang kecil di dinding gua di balik tumpukan rumput kering. Mimi yang bersembunyi dengan patuh menatap kepergian Momo dengan penuh kegelisahan.
Di luar gua, sebelum kelompok bermantel ungu itu memasuki gua, mereka melihat seekor kalajengking hitam seukuran lengan manusia keluar dari dalam.
Wanita itu menunjukkan ekspresi jijik, "Ugh...Sangat menjijikkan. Bukankah tempat ini adalah sarang kalajengking giok yang ditandai master? Kenapa kelihatannya makhluk ini tidak ada spesialnya?"
Momo menjadi lebih waspada ketika mendengar kata-kata wanita itu. Seluruh tubuhnya memancarkan aura permusuhan yang kental.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya, "Makhluk jelek, serahkan kalajengking giok dan kami akan mengampuni nyawamu."
"Nenek sihir, tinggalkan sarangku dan aku akan mengampuni nyawamu dan antek-antekmu."
Wanita itu tidak menyangka kalajengking hitam di depannya bisa berbicara, namun ketika mendengar kata-katanya, keterkejutan itu segera digantikan dengan kemarahan, "Beraninya kamu menghinaku!"
Keempat pria di kelompok itu menatap pemimpin mereka dengan pandangan aneh, salah satunya dengan ragu-ragu bertanya, "Senior, apa maksudmu? Kenapa kamu berbicara dengan seekor kalajengking?"
Wanita itu mengerutkan keningnya, "Tidakkah kalian mendengarnya menghina kita?!"
Pria itu tercengang, "Tidak. Kalajengking itu tidak mengeluarkan suara, terlebih lagi bagaimana seekor kalajengking bisa berbicara bahasa manusia."
Wanita itu membeku. Mereka tidak mendengarnya?
"Hentikan diskusi kalian dan cepat pergi dari sini! Jangan membuatku mengulanginya lagi!"
Suara remaja dari kalajengking itu terdengar lagi. Wanita itu yakin kalau dia tidak salah mendengarnya, makhluk jelek di depannya benar-benar berbicara.
Dengan senyuman sinis, kekuatan mental wanita itu mengembun menjadi bayangan tengkorak raksasa yang berdiri di belakangnya.
"Bunuh!"
Setelah perintah itu dijatuhkan, keempat pria lainnya melemparkan serangan mereka kepada kalajengking hitam, namun serangan mereka ditahan oleh kekuatan tak kasat mata dan dipantulkan kembali pada penyerangnya.
Tekanan kekuatan mental level A memancar dari kalajengking hitam di depan mereka. Jika itu sebelumnya, kelompok itu tidak akan terlalu kesulitan menghadapi seekor monster level A, tetapi masing-masing dari mereka baru saja mendapat luka parah dari perjalanan mereka yang berburu anggrek malam sebelumnya, menghadapi monster level A dengan keadaan ini tidak akan semudah sebelumnya.
Ekspresi kelimanya sangat buruk. Dari informasi yang mereka dapatkan, kalajengking giok hidup menyendiri dan tidak memiliki kekuatan serangan sebelum dewasa. Untuk tumbuh dewasa, kalajengking giok perlu menyerap kekuatan api dalam jumlah yang besar, jadi tidak mungkin ada kalajengking giok dewasa di hutan ini. Di buku kuno jelas tertulis kalau nenek moyang kalajengking giok biasanya menyerap kekuatan api dari lava dengan sumber api yang kuat untuk tumbuh dewasa.
Sekarang tidak hanya mereka tidak menemukan kalajengking giok. Di gua yang seharusnya ditinggali target mereka malah dihuni oleh kalajengking jelek yang berlevel A.
Kalajengking hitam ini terlihat seperti kalajengking biasa, namun tidak ada kalajengking biasa yang berlevel A apalagi bisa berbicara. Otak wanita itu berdenyut ketika memikirkan masalah baru yang mereka hadapi.
Tengkorak raksasa di belakang wanita itu menyerang target mereka dengan kekuatan gelap. Tanah di sekitar mereka berubah menjadi gelap dan beberapa tulang tengkorak bermunculan dari tanah.
"Ternyata kamu benar-benar nenek sihir?!"
Momo merasakan udara kematian yang lebih kental berputar di sekelilingnya. Musuh-musuh ini jelas sudah terluka sebelumnya, jika tidak dia tidak akan bisa mengalahkan mereka. Terutama pemimpin kelompok ini yang menggunakan kekuatan kematian. Kelompok ini sama sekali bukan manusia, tetapi undead yang berlatih sihir gelap!
Sebelum wanita itu gembira karena pasukan tengkorak menutupi kalajengking itu, sebuah kekuatan menakutkan tiba-tiba memancar dari kalajengking hitam dan menerbangkan semua pasukan tengkorak yang menempel padanya.
Wanita itu melebarkan matanya ketika dia melihat cangkang kalajengking hitam itu berubah menjadi hijau giok dengan aura api yang kuat, "Ternyata seekor kalajengking giok..."
"Pantas saja..."
Wanita itu tersenyum gila dan memerintahkan kelompoknya untuk bersiap menangkap target mereka.
Kelimanya mengelilingi kalajengking giok dan mengucapkan mantra secara bersamaan. Kekuatan kegelapan yang menakutkan langsung menghantam kalajengking giok.
Momo bisa merasakan kekuatan gelap itu memaksa masuk ke tubuhnya, di tengah pertarungan, dia bisa melihat seekor kalajengking kecil keluar dari lubang dan memandangnya dengan penuh ketakutan dari dalam gua.
Mimi memandang pertarungan itu dengan cemas. Sebuah signal tiba-tiba melintas di kepalanya.
"Cepat hancurkan manik-manik merah!"
Mendengarkan pesan Momo, mata Mimi langsung berbinar, sebuah manik-manik merah langsung dihancurkan dengan capitnya.
......................
Kelompok Theodore sedang beristirahat di pinggir sungai. Seolah merasakan sesuatu, mereka mengarahkan pandangan mereka ke arah tertentu dan melihat cahaya merah berkedip di rumput dan seekor kalajengking kecil berlari ke arah Aiden.
"Orang baik! Cepat selamatkan Momo, Momo diserang oleh orang-orang jahat!"
Aiden mengangkat kalajengking kecil dan meninggalkan pesan singkat sebelum keduanya menghilang, "Aku akan segera kembali."
Felix menatap kepergian keduanya dan dengan tenang manatap Theodore, "Tuan, apakah kita perlu mengejar mereka?"
"Tidak perlu. Aiden bisa mengatasi masalah itu sendiri."
......................
Pertempuran kelompok undead dengan kalajengking giok semakin sengit. Sisi para undead tidak begitu baik, tetapi kalajengking giok juga menerima kerusakan yang besar.
Cangkang giok kalajengking itu menunjukkan tanda-tanda retak dengan sedikit warna hitam diujungnya. Lubang-lubang kecil terbentuk di punggungnya yang mengeluarkan darah.
Momo bisa merasakan kalau dia hampir mencapai batasnya, dia seharusnya tidak bisa menggunakan kekuatan ini sebelum dewasa, tetapi dia menggunakan mantra terlarang yang ditinggalkan kakeknya untuk menghadapi keadaan darurat. Dia hanya bisa menggunakan bentuk ini untuk waktu tertentu dan akan mengalami sesi lemah sebagai efek sampingnya, jika terlalu lama digunakan, maka sebagai kalajengking giok yang belum dewasa dia bisa mati karena tubuhnya tidak bisa menahan dampak dari kekuatan ini.
Dalam hati, Momo lega karena Mimi telah diteleportasikan ke tempat Aiden, meskipun dia tidak sepenuhnya percaya dengan kelompok Aiden, tapi lebih baik Mimi bersama mereka daripada ditangkap oleh kelompok undead gelap ini.
Para undead melihat target mereka mulai melemah dan bersiap untuk memanen, tapi sebelum mereka berbahagia, sebuah kekuatan yang dahsyat menimpa kelimanya hingga mereka jatuh berlutut.
"Momo!"
Sebuah teriakan bayi terdengar. Wanita undead itu menatap kalajengking kecil dengan kejutan. Ada dua kalajengking giok!
Dia bisa merasakan kalau kehidupan kalajengking besar semakin lemah, lebih baik membawa kalajengking kecil ini kembali! Sebelum pikiran wanita itu semakin bersemangat, suara pria yang acuh tak acuh terdengar.
"Siapa yang ingin kamu bawa?"
Tatapan wanita itu bertabrakan dengan sepasang pupil ametis yang dingin. Ekspresi wanita itu segera berubah, dia menggertakkan giginya, "Kamu lagi..."
Aiden mengangkat alisnya, "Memangnya kapan kita bertemu?"
"Jangan ikut campur, masalah ini tidak ada kaitannya denganmu!"
"Oh... Kalian mungkin akan sedikit kecewa. Dua kalajengking ini pernah membantuku."
Mendengar jawaban Aiden, wanita itu dengan suram membaca mantra tanpa suara. Seketika, energi hitam menjangkau empat undead pria dan menyerap kekuatan hidup mereka hingga keempatnya berubah menjadi mayat kering, sedangkan wanita itu berubah menjadi Lich dengan aura kematian di sekitarnya.
"Tsk, inilah sebabnya aku kurang suka dengan undead gelap."
Lich itu menyerang Aiden dengan kekuatan kematian yang menghancurkan semua tumbuhan yang dilewatinya. Sebelum energi kematian menyentuh Aiden, energi itu dibakar habis oleh api yang muncul di depan Aiden.
Di saat Lich itu terpana dengan situasi ini, nyala api itu melesat seperti meteor dan membakarnya. Ketika api padam, Lich itu sudah berubah kembali menjadi wanita undead.
"Kamu....Iblis Aiden..."
"Apa katamu? Memang benar aku pernah membakar sekelompok undead gelap yang menjengkelkan, tapi bukan berarti aku adalah iblis. Jelas-jelas aku adalah roh mulia yang prestasiku terukir gemilang," kata Aiden dengan sedikit tersinggung.
Wanita itu memuntahkan darah hitam dan wujudnya perlahan mengering, bahkan setelah dia mati, ekspresinya tampak menakutkan.
Setelah berurusan dengan undead terakhir, Aiden menuju kedua kalajengking itu. Momo sudah berubah kembali menjadi kalajengking hitam, tetapi cangkangnya retak dan mengeluarkan darah gelap.
"Woo.... Momo...jangan mati..."
Kalajengking besar mengelus kepala kalajengking kecil dengan capitnya yang berdarah.
Aiden mengirimkan kekuatan jiwanya dan melihat kondisi internal Momo yang lebih parah dari kelihatannya. Tulang belakangnya sudah pecah menjadi potongan-potongan kecil.
"Momo, kamu-"
"Aku tahu. Tadi undead itu memanggilmu Iblis Aiden, jadi kamu pasti adalah Yang Mulia Aiden dalam sejarah pertempuran. Janjimu sebelumnya, apakah masih dihitung?" tanya Momo dengan lemah.
"Tentu saja. Jadi apa keinginanmu?"
"Satu, tolong bawa Mimi bersamamu, jaga dan lindungi dia setidaknya sampai dia dewasa. Dua, jangan biarkan undead gelap menemukan identitas Mimi. Hanya itu..."
"Baiklah kuhitung itu sebagai satu keinginan," jawab Aiden.
Mimi di sisi lain sudah menangis keras.
"Woo... Momo... Jangan tinggalkan Mimi sendirian... Mimi tidak mau pergi... Woo..."
Momo mengelus sayang kalajengking kecil yang telah dijaganya sejak lahir. Tentu saja dia sangat sedih, tapi masa hidupnya akan segera berakhir...
"Bocah kecil, jangan buat masalah ketika bersama Yang Mulia Aiden. Kamu harus rajin berlatih atau kamu akan menjadi kalajengking jelek yang tidak berguna, paham?"
Cahaya di mata kalajengking besar perlahan memudar dan akhirnya padam. Tubuh kalajengking itu perlahan berubah menjadi kerangka giok dengan sebuah mutiara giok hijau cerah yang seukuran kepalan tangan bayi di tengah kerangka.
"Momo!!!"