
Irene menunggu Dylan di depan restoran. Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang membuat saudaranya begitu lama di dalam. Tidak lama kemudian, pintu restoran terbuka dan Dylan mendorong kursi rodanya keluar.
"Dylan! Kenapa begitu lama?" tanya Irene begitu mereka masuk ke mobil.
"Masalah sudah selesai. Tuan Moore mengatakan kalau dia tidak tertarik denganmu dan tidak akan menggangu keluarga kita lagi."
"Kamu serius? Begitu mudah?"
Dylan hanya tersenyum, tentu saja tidak mudah. Dia harus cukup berakting, untung saja rasa superioritas Letnan Jenderal Moore tertanam jauh di tulangnya. Jadi dia tidak akan menyangka orang sakit-sakitan seperti Dylan berani menipunya. Mereka memang menandatangani kontrak dan dia sudah melupakan informasi-informasi itu, file-file yang disimpannya juga sudah dihapus, tapi Dylan tahu kalau dia sejak awal memang tidak berniat menyebarkan informasi-informasi itu.
Untungnya tebakannya tidak melenceng, Tuan Moore akan menawarkan kontrak jiwa. Jadi ingatannya tentang informasi-informasi itu akan menghilang, akan berbahaya jika dia menyimpan rahasia besar orang lain. Walaupun pada akhirnya mereka membuat dua kontrak dimana kontrak kedua melarang keduanya membicarakan kalau mereka pernah membuat kontrak pertama satu sama lain.
Beberapa hari ini cukup melelahkan... Untung saja dia menguasai sedikit kemampuan meretas sistem informasi orang lain. Sekarang mereka hanya perlu memikirkan sisanya...
Setelah pertemuan dengan Letnan Jenderal Moore, sesuai dengan janji mereka, keluarga Moore benar-benar menarik diri dari masalah ini. Selanjutnya, John menolak semua lamaran yang ditujukan kepada Irene. Mereka berpikir kalau semua masalah ini akan segera berakhir. Berita tentang Irene di internet juga telah mulai mereda.
Irene kembali ke Royal Academy dan John kembali melakukan penerbangan bisnis, namun dalam perjalanan ini, Christine dan Evan ikut bersama John.
Setelah Irene kembali ke Royal Academy, Ethan sempat menemuinya untuk melihat keadaannya. Hari-hari Irene kembali seperti biasa meskipun terkadang ada gosip tentang dirinya. Terkadang Irene akan memikirkan Theodore, sudah lama sejak terakhir kali mereka bertemu...
......................
Mansion Theodore.
Setelah kembali, Theodore mendengar masalah yang terjadi di internet tentang Irene. Tapi ini bukan masalah besar lagi karena keluarga Adler sudah menanganinya. Yang lebih penting dia sebenarnya ingin bertemu dengan Irene, tetapi tidak tahu alasan apa yang harus digunakan.
Aiden sedang keluar bersama Mimi, si kalajengking kecil yang dibawanya kembali dari daerah terlarang.
Theodore baru ingin keluar bersantai, tetapi Felix tiba-tiba datang, "Tuan, Marsekal mengirimkanmu sebuah surat."
Kerutan terbentuk di antara alisnya. Jika itu surat dari militer, dia akan mengabaikannya, tapi Marsekal...
Seorang teman lama yang sudah lama tidak menghubunginya...
Theodore membaca isi suratnya dan alisnya semakin terpaut, isinya adalah untuk mengundang Theodore ke mansion pribadinya. Bahkan surat itu dicap dengan mantra teleportasi. Masalah apa yang membuat Marsekal begitu tergesa-gesa ingin menemuinya...? Merobek surat itu, Theodore langsung berpindah dari mansion nya ke sebuah taman.
"Theodore, lama tidak bertemu."
Suara orang tua yang hangat menyapa dari belakangnya. Pria tua itu tersenyum dan mengajak Theodore masuk ke rumah.
"Lama tidak bertemu Marsekal. Kamu menjadi lebih tua."
Pria tua itu tertawa kecil. Matanya melengkung membentuk bulan sabit, "Ya...aku menjadi lebih tua, tapi kamu tidak berubah sama sekali."
Theodore bisa melihat jejak nostalgia di mata pria tua itu.
"Kenapa kamu memanggilku?"
Marsekal tua menghela nafas dan berkata, "Masih terus terang seperti dulu. Theodore, aku ingin meminta bantuanmu. Royal Academy akan segera mengirim siswa tahun pertama untuk terjun ke lapangan sebagai latihan, kali ini tidak hanya siswa dari departemen pertempuran, tetapi departemen farmasi juga ikut serta. Blaire sedang tidak memiliki waktu luang, jadi maukah kamu menggantikannya untuk mengawasi para siswa?"
"Kamu bisa mengirim perwira militermu untuk hal seperti ini, kenapa harus melibatkanku?" tanya Theodore. Dia kira Marsekal memiliki hal serius yang ingin dibicarakan, tetapi pria tua di hadapannya malah meminta bantuannya untuk hal sederhana seperti ini. Biasanya setiap kali siswa akademi elit terjun ke lapangan, pihak militer akan mengirim seorang perwira untuk memastikan keamanan siswa, tetapi ini hanya tindakan formal. Sekolah tidak akan mengirim siswanya ke daerah yang terlalu berbahaya, jadi pengawasan ini tidak terlalu dibutuhkan.
"Kali ini Royal Academy berencana membuat projek latihan ini di pinggiran salah satu daerah terlarang yang kurang berbahaya agar siswa mereka memiliki pengalaman yang lebih nyata. Masalah ini juga sudah diterima oleh pihak pemerintah, jadi militer memutuskan untuk mengirimkan salah satu legiun sebagai pihak pengawas," jelas Marsekal tua.
"Selain itu aku mendapatkan informasi penting."
Marsekal tua memandang Theodore dengan serius, "Maya memberitahuku sebuah ramalan, keberangkatan para siswa kali ini tidak akan mulus seperti sebelumnya karena akan ada peristiwa yang mungkin di luar dugaan kita."
"Maya memintaku untuk mengirim seorang roh kuno sebagai pengawas kali ini, jika tidak, mungkin tidak ada yang bisa selamat kali ini."
Theodore menurunkan pandangannya, dia menimbang-nimbang permintaan Marsekal tua. Maya adalah seorang roh kuno yang mampu meramal. Dia tidak suka hidup di mata masyarakat, kemampuannya menjadi salah satu keuntungan mereka pada masa perang evolusi. Setelah perang berakhir, dia tidak ikut terlibat dalam pemerintahan dan berkelana.
Ramalan Maya sulit diabaikan karena ketika dia berinisiatif untuk berbicara, itu artinya masalah ini cukup serius. Sejujurnya dia juga harus berterima kasih pada Maya tentang beberapa ramalannya yang diberitahukan padanya.
"Bagaimana jika kalian membatalkan latihan lapangan kali ini?"
"Tidak boleh. Maya mengingatkan kita kalau kita membatalkan latihan ini, maka efeknya pada masa depan akan lebih buruk. Dia hanya meminta kita untuk mencegah bukan menghindarinya."
"Dimana lokasi latihan kali ini?"
"Hutan timur daerah terlarang."
Theodore menerima permintaan pria tua itu, ternyata daerah yang baru dikunjunginya bersama Aiden.
......................
"-lokasinya di hutan timur daerah terlarang."
Profesor Hanna menjelaskan proyek yang akan mereka lakukan tiga hari kemudian. Akademi memutuskan untuk mengirim siswa tahun pertama dari departemen pertempuran dan farmasi untuk melakukan latihan di lapangan sebagai persiapan untuk menghadapi ujian pertama mereka.
Irene pernah mendengar kegiatan ini. Hanya saja tahun ini semua akademi elit sepertinya telah sepakat untuk meningkatkan kesulitan tugas. Terlebih lagi, mereka akan dikirim ke daerah terlarang, meskipun hanya tepinya.
Beberapa siswa khawatir dengan proyek ini ketika mereka diberitahukan akan pergi ke daerah terlarang. Hanna menenangkan mereka dan mengingatkan mereka untuk mengikuti perintah yang diberikan.
"Selama kalian mendengar dan melaksanakan instruksi dengan baik, tidak akan terjadi hal serius. Jangan lupa tujuan dari latihan ini adalah untuk memberi kalian pengalaman langsung bagaimana menghadapi situasi dalam profesi ini."
"Tidak semua bahan obat bisa ditemukan di pasaran atau mungkin ada bahan obat yang perlu dipanen dengan metode tertentu, karena itulah terkadang kita harus pergi ke lokasi untuk mengumpulkan ramuan yang kita butuhkan sendiri."
"Nanti, kalian akan dikelompokkan dengan siswa dari departemen pertempuran. Dalam satu kelompok harus ada dua siswa departemen farmasi dan empat siswa departemen pertempuran. Jadi kalian sudah boleh mulai mencari kelompok kalian."
Hanna memberikan beberapa peringatan dan nasihat kepada siswanya sebelum kelas diakhiri. Irene dan Monica berencana untuk bergabung dengan Ethan. Mereka langsung ke area departemen pertempuran. Dibandingkan kelas farmasi, waktu kelas pertempuran lebih lama, biasanya bahkan bisa selesai sampai malam, tergantung dengan guru mereka.
Mereka berdua pergi ke lapangan dan melihat sebagian besar siswa sedang beristirahat di lapangan. Kedatangan kedua keduanya langsung menarik perhatian para siswa.
Irene melihat Ethan duduk di bawah pohon dan segera menujunya.
Ethan yang sedang memejamkan matanya mendengar suara langkah kaki yang menujunya, ketika dia membuka mata dan melihat Irene serta Monica muncul di departemen mereka, sebuah tanda tanya terbentuk di benaknya.
"Kak Irene, Nona Wilson," angguk Ethan sebagai salam.
Kedua gadis itu duduk bersama Ethan sebelum
Irene menyatakan tujuan mereka, "Ethan, sudahkah kamu membentuk kelompok untuk projek tiga hari lagi? Bolehkah kami bergabung dengan kelompokmu?"
"Tentu Kak, kami tadi juga baru diberitahu jadi aku belum mencarinya."
Mereka berbincang-bincang sejenak sebelum Irene dan Monica meninggalkan departemen pertempuran dan Ethan menemukan siswa yang ingin diajaknya bergabung.
......................
Tiga hari kemudian.
Siswa tahun pertama departemen farmasi dan departemen pertempuran dikumpulkan di lapangan. Irene dan Monica berkumpul bersama Ethan dan tiga siswa yang tidak mereka kenal dari departemen pertempuran.
"Kak Irene, Nona Wilson, ini Serra, Vincent, dan William."
Serra adalah seorang gadis berambut merah dengan tinggi 180 cm. Dia menatap Irene dan Monica dengan anggukan.
William dan Vincent adalah sepupu. William yang sangat kurus dengan kaca mata berbingkai hitam tampak seperti seorang kutu buku, adapun Vincent, dia sedikit lebih pendek dari William dengan baby face.
Jika dilihat dari segi penampilan, kelompok mereka memang cukup mencolok dengan variasi perbedaan, tapi...
Irene melihat ekspresi tiga siswa itu dan melihat Ethan. Mungkin salah satu alasan mengapa Ethan menemukan mereka adalah karena kepribadian mereka cukup mirip. Semuanya poker face.
Tidak lama kemudian, sekelompok tentara datang. Pemimpin mereka berbicara sejenak dengan kepala sekolah sebelum mereka membagikan sebuah gelang elektronik tipis. Setelah dipakai, gelang tersebut akan berubah menjadi tato putih yang melingkari pergelangan tangan mereka.
Kepala sekolah menjelaskan kalau gelang tersebut berfungsi untuk memperingatkan para pengawas jika mereka dalam bahaya serta untuk memantau lokasi mereka. Setelah masa latihan selesai, tato mereka secara alami akan menghilang.
......................
Irene selalu merasa ada yang menatapnya sejak mereka tiba di lokasi, tetapi dia tidak bisa menemukan pemilik tatapan itu. Tugas mereka adalah menemukan bahan-bahan dari daftar yang diberikan. Semakin banyak jumlah bahan, semakin tinggi poin yang diperoleh.
Kelompok Irene melintasi tepi hutan sesuai dengan peta, tetapi mereka belum menemukan satu makhluk pun.
"Terlalu sepi," ujar Serra.
Kata-kata Serra tidak salah karena sesuai dengan buku panduan yang diberikan, daerah disekitar tanaman yang sedang mereka panen ini seharusnya memiliki beberapa monster kecil. Tapi keadaan yang sekarang mereka hadapi sangat berbeda. Terlalu mudah.
Mereka terus lanjut hingga menemukan kelompok lain di tepi sungai. Kelompok itu tampak sangat acak-acakan seolah baru saja melalui pertempuran yang tidak menyenangkan. Kedatangan kelompok Ethan membuat siswa kelompok itu sedikit waspada, namun ketika melihat siapa yang datang, Irene bisa merasakan pihak lain menatap mereka dengan tatapan aneh.
"Apa yang terjadi?" tanya William saat kilatan bingung terlihat dengan jelas dari balik kaca matanya.
"Kami baru selesai berhadapan dengan monster tanaman level E," jawab salah satu siswa.
"Justru kalian, kenapa kalian terlihat sangat santai?" tanya siswa itu lagi dengan keraguan.
"Kami belum menemukan satu makhluk pun sejak awal," ujar Ethan.
Tatapan keraguan dan sedikit iri ditujukan kepada kelompok Irene, "Maka kalian mungkin beruntung."
Sayangnya, Irene tidak merasa mereka beruntung. Dia yakin teman kelompoknya pasti juga merasa begitu. Semakin mulus situasi mereka, semakin besar rasa kejanggalan yang terjadi.
Setelah bertukar informasi dengan kelompok itu, mereka pergi ke daerah yang telah dijelajahi kelompok lain. Situasi yang aneh kembali terjadi. Disini seharusnya ada beberapa monster tanaman merambat level E, tapi mereka tidak menemukan apa pun.
Irene menyentuh sebuah batang pohon, tetapi kenapa rasanya daerah yang disentuhnya sedikit lunak?
Ketika dia menoleh, dia langsung menarik tangannya dan mundur ke belakang. Tempat yang disentuhnya itu ternyata terbuka dan menunjukkan sebuah bola mata!
Gerakannya menarik perhatian teman lainnya. Pohon itu menumbuhkan ratusan mata di batangnya yang menatap mereka.
Ini pertama kalinya Irene menghadapi situasi seperti ini. Dia sedikit linglung, tetapi Monica menariknya menjauh. Ethan dan teman-temannya bereaksi dengan cepat dan mengalihkan pandangan mereka dari mata-mata itu. Serra menutupi pandangan Irene dan Monica, "Jangan lihat mata-mata itu. Mereka bisa menghipnotis orang."
Irene segera mengalihkan pandangan dari monster itu setelah Serra melepas tangannya, namun dari sudut matanya, dia bisa melihat Ethan, Vincent, dan William mengubah kekuatan mental mereka menjadi senjata untuk mematahkan sulur-sulur dari pohon itu. Ketiganya bekerjasama dengan sangat baik, bahkan Vincent yang terlihat paling lemah, dengan mudah meledakkan sulur-sulur itu.
Beberapa sulur melewati kelompok Ethan dan menuju mereka! Ketika sulur itu akan mencapai Monica, Serra menarik Monica ke belakangnya dan menggenggam salah satu sulur sebelum mengubahnya menjadi potongan-potongan kecil dengan kekuatan mentalnya. Sisa-sisa sulur dipotong menggunakan belati.
"Kita perlu membakarnya," gumam Serra. Monica yang mendengar kata-kata Serra, segera mengeluarkan beberapa tabung kaca yang menyimpan cairan ungu.
"Cairan ini memiliki efek seperti spiritus dengan versi yang ditingkatkan sepuluh kali. Bisakah kita menggunakan ini?"
Serra mengangguk dengan penuh penghargaan dan menjawab, "Bisa. Kalian berdua tunggu di sini. Jangan kemana-mana, kalau ada sulur yang datang, potong saja pakai kekuatan mental."
Setelah itu, Serra berlari ke kelompok Ethan dan membuat sebuah gestur dengan tangannya. Kelompok itu berkumpul di sekitar Serra sambil terus menghadapi sulur-sulur yang tidak ada habisnya. Serra tampaknya mengucapkan beberapa kata dan kelompok itu kembali bubar.
Ethan dan William menarik perhatian monster sementara Serra mendekati batang monster, Vincent mengatasi sulur-sulur di sekitarnya. Ketika tabung itu dihancurkan ke batang pohon, sebuah kertas dengan mantra api dilemparkan ke area cairan.
Batang pohon itu terbakar seketika. Api besar dengan mudah melahap seluruh monster. Sulur-sulur monster itu bergerak dengan panik, tapi tidak lama kemudian seluruh monster berubah menjadi genangan hijau yang menjijikkan.