Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 4: Pesta Perayaan Kedewasaan



Mansion Keluarga Adler.


Saat ini seisi rumah besar Adler tampak sangat sibuk. Para pelayan berlalu-lalang mengurusi berbagai hal. Aula keluarga ditutupi dengan hiasan elegan.


Di kamar, Irene duduk di kursi rendah dan membiarkan saudaranya menata rambutnya.


"Selesai."


Irene segera melihat ke cermin dan tersenyum bahagia. Di cermin besar, tampak Irene yang memakai gaun biru gelap dengan riasan dan penataan rambut yang elegan.


"Terima kasih Dylan!"


Di kursi roda, Dylan mengenakan setelan formal dengan warna dan model yang serasi dengan gaun Irene, rambutnya di sisir ke samping. Suasana suram di sekelilingnya telah memudar dan seluruh pribadinya tampak berubah. Hanya sarung tangan putihnya yang tetap sama.


Irene memeluk saudaranya dari belakang dan melihat sosok mereka berdua di cermin. Wajah keduanya hampir identik, namun suasana yang dipancarkan keduanya bisa dibedakan. Satu tampak polos dan menawan sedangkan satunya lagi tampak sangat lembut dan damai, membuat orang ingin mengagumi kedua wajah ini.


"Saudaraku, setelah hari ini kita akan keluar dari rumah ini secara terbuka."


Setelah mereka pulang dari Menara, John langsung mengumumkan bahwa Irene dan Dylan diberi izin untuk meninggalkan mansion setelah pesta perayaan kedewasaan. Christine tersenyum setelah mendengar berita itu, namun dia tidak tampak terkejut. Evan tidak peduli dan Caroline tampak tidak senang mendengar berita itu. Adapun Ethan, dia tidak menunjukkan reaksi apa pun, tampak kaku seperti ayah mereka. Namun, sehari setelah itu, Ethan diam-diam mengirimkan sejumlah uang ke akun pribadi Dylan dan Irene dengan akun anonim tanpa sepengetahuan Christine. Mereka dibuat kaget karenanya dan menjelaskan kepada Ethan bahwa mereka tidak kekurangan uang, namun Ethan bersikeras agar mereka menerima uangnya. Meskipun Ethan keras kepala, Irene dan Dylan merasa hangat dengan perilakunya.


Pesta ini mengundang para bangsawan serta kolega keluarga Adler. Pesta tidak dilakukan terlalu mewah, namun juga tidak terlalu polos. Para tamu undangan mengucapkan selamat kepada John dan Christine. Ketika Irene dan Dylan turun ke aula, pandangan tamu mengarah kepada mereka.


Irene sedikit gugup. Memang dirinya sudah sering ditatap oleh banyak orang termasuk di sekolah, namun kali ini semua yang menatapnya adalah tamu dengan identitas khusus. Dia tidak ingin menyinggung siapapun di pesta ini.


Seolah membaca kegelisahannya, Dylan menepuk pelan tangan Irene yang memegang erat pegangan belakang kursi rodanya. Setelah itu, dia tersenyum sopan kepada para tamu yang memandang mereka. John melihat kedatangan mereka dan memperkenalkan mereka kepada beberapa kolega dekat keluarga.


"Irene kemarilah," panggil Christine dengan senyuman penuh keibuan.


Irene sedikit ragu, namun Dylan menepuk pelan tangannya. Dengan enggan Irene tersenyum dan mengangguk, lalu meminta Ethan untuk menggantikannya menjaga Dylan.


"Ibu," panggil Irene.


"Irene, ini Nyonya Wilson dan putrinya Monica Wilson. Nyonya Wilson adalah salah satu apoteker kelas dua dan merupakan guru di Royal Academy."


Irene tersenyum dan menyapa kedua tamu tersebut dengan sopan. Tentu saja dia tahu keluarga Wilson karena sama seperti keluarga Adler, mereka juga salah satu keluarga bangsawan yang bergerak di bidang farmasi. Bedanya, mereka adalah keluarga bangsawan kelas satu yang memiliki status yang lebih tinggi dan ketenaran yang melebihi keluarga Adler. Nyonya Wilson adalah salah satu apoteker ternama, beliau dikabarkan telah mempersiapkan dirinya untuk mengikuti tes apoteker kelas satu.


Apoteker dibagi menjadi tiga kelas. Kelas tiga adalah peringkat yang paling bawah dalam bidang ini. Apoteker kelas tiga bisa membuat obat-obatan yang sederhana, selain itu tingkat kemurnian obat juga sangat rendah sehingga bisa menimbulkan beberapa efek samping pada tubuh yang perlu dinetralisir dengan kekuatan mental. Semakin tinggi peringkat apoteker, semakin baik kualitas obat-obatan yang bisa dihasilkan. Apoteker kelas dua termasuk apoteker ternama yang dicari-cari berbagai pihak. Adapun apoteker kelas satu, mereka bahkan lebih jarang lagi. Apoteker kelas satu menjadi harta nasional sepanjang sejarah.


Monica Wilson terkenal sebagai jenius dari keluarga Wilson, dikabarkan dia memiliki kekuatan mental dan fisik level S. Banyak orang mengatakan Monica Wilson akan melampaui prestasi orang tuanya dan mungkin bisa berhasil menjadi apoteker kelas satu.


Irene sebenarnya bingung mengapa Christine ingin memperkenalkannya kepada keluarga ternama ini. Sebenarnya dalam hati Christine juga sangat enggan. Dia awalnya sedang memperkenalkan Caroline kepada keluarga Wilson, tetapi siapa tahu Nyonya Wilson ternyata malah tertarik dengan Irene dan Caroline mengambil kesempatan untuk kabur dari pandangannya.


Nyonya Wilson tersenyum lembut kepada Irene dan memuji penampilannya yang cantik. Irene bisa melihat kelembutan yang tulus dari mata Nyonya Wilson. Mereka berbincang-bincang sementara Christine diabaikan, sampai seorang tamu memanggilnya dan dia akhirnya mengucapkan beberapa kata-kata sopan kepada Nyonya Wilson sebelum pergi.


Irene merasa lebih lega dengan ketidakhadiran Christine. Monica yang selalu diam tiba-tiba bertanya, "Kamu tampaknya sangat tidak nyaman dengan ibumu."


Nyonya Wilson terkejut dengan kata-kata putrinya dan menegurnya, "Monica!"


"Maaf Nona Irene, Monica tidak bermaksud kasar," ucap Nyonya Wilson kepada Irene dengan tatapan maaf.


Irene juga terkejut dengan keterusterangan Monica, namun melihat permintaan maaf Nyonya Wilson, dia segera melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak perlu meminta maaf, Nyonya. Saya tidak tersinggung sama sekali. Nona Monica hanya menanyakan rasa penasarannya saja. Selain itu Nyonya tidak perlu memanggil saya dengan sebutan nona, cukup Irene saja."


Melihat Nyonya Wilson menegurnya, Monica tampak bermasalah. Namun, ketika Irene membelanya, matanya langsung berbinar. Nyonya Wilson terhibur dengan kata-kata Irene dan memujinya, "Kamu gadis yang sangat sopan, Irene."


Irene tersipu dengan pujian Nyonya Wilson. Baginya, ini pertama kalinya orang luar memujinya dengan tulus. Nyonya Wilson memandang putrinya dan berkata, "Bawalah Irene untuk bertemu dengan teman-temanmu. Sebagai sesama gadis muda, kalian seharusnya memiliki topik yang cocok."


"Tidak masalah Ibu," jawab Monica dengan serius lalu memandang Irene dengan tatapan berbinar. Irene menatap kedua ibu dan anak di depannya dan dengan malu bertanya, "Bolehkah aku berbicara dengan saudaraku sebentar?"


Monica mengangguk tegas, "Pergilah."


Nyonya Wilson menatap putrinya lagi, namun Monica mengabaikan ibunya dan menatap tajam Irene yang menuju tempat Dylan seolah ingin mencegah Irene kabur.


Irene mencari-cari kedua saudaranya dan menemukan mereka duduk di sudut jauh dari keramaian. Dylan dan Ethan yang duduk di sudut sambil menyantap kue tiba-tiba didatangi oleh Irene yang menatap mereka dengan senyuman bermasalah.


"Dylan, Nona Wilson mengajakku untuk bertemu dengan teman-temannya, jadi aku mungkin akan pergi untuk beberapa waktu."


Baik Dylan dan Ethan menatap kearah Nona Wilson yang disebutkan Irene dan melihat gadis itu menatap tajam ke arah mereka. Dylan tersenyum, "Pergilah bersosialisasi dengan teman barumu. Tidak perlu mengkhawatirkanku, lagipula ada Ethan bersamaku. Jika kamu tidak segera ke sana, Nona Wilson mungkin akan mendatangi kami."


Mendengar kata-kata Dylan, Irene melihat ke belakang dan menemukan tatapan Monica hampir melubanginya. Dengan begitu, Irene segera kembali ke tempat Monica.


Ethan menanggapi kata-kata Dylan dengan anggukan.


Melihat Irene kembali, Monica menggenggam telapak tangan Irene dan berkata, "Ayo kita ke taman. Teman-temanku berkumpul di taman."


Nyonya Wilson melihat kepergian kedua gadis itu dengan senyuman kecil sebelum kembali bersosialisasi dengan para tamu.


Irene mengikuti Monica ke taman dan melihat tiga gadis berkumpul di meja kecil, tampak sedang mendiskusikan sesuatu dengan serius. Salah satu gadis melihat kedatangan mereka dan melambaikan tangannya.


"Monica, siapa ini?" tanya seorang gadis sambil menatap Irene. "Ini Irene Adler, putri pertama dari keluarga Adler," jawab Monica sambil menarik Irene ke depan. Ketiga gadis itu terdiam. Salah satu gadis mengerutkan keningnya dengan tidak senang, namun melihat kedekatan Monica dengan Irene dia tidak mengatakan isi hatinya.


Irene bisa melihat suasana canggung ketiga gadis itu. Dia sudah menduga ini, lagipula siapa yang belum mendengar rumor buruk tentangnya. Monica tentunya menyadari kejanggalan teman-temannya. Melihat tidak ada satupun yang berbicara, dia akhirnya bertanya kepada gadis yang sebelumnya melambaikan tangannya kepada mereka.


"Ada masalah apa? Kenapa kalian diam saja? XinYi?"


Irene tidak menduga salah satu gadis itu ternyata orang Tionghoa. Meskipun dari segi wajahnya dia lebih mirip orang barat.


Gadis yang ditanya dengan ragu-ragu menatap Irene, namun sebelum dia berbicara, gadis yang menunjukkan ketidaksukaan paling kental terhadap Irene menjawab Monica, "Monica, Irene Adler yang kamu sebutkan ini tidak memiliki reputasi yang baik di kalangan bangsawan."


"Jessica!" gadis lainnya menarik lengan gadis yang menjawab pertanyaan Monica.


Melihat tindakan teman-temannya, Monica semakin bingung, "Reputasi buruk?"


Irene menghela nafas dan berkata, "Ya, reputasi buruk karena dianggap sebagai anak tidak sah dari saudara jauh pihak ayahku. Maaf Monica karena kehadiranku mungkin telah menghancurkan suasana disini."


Jessica menatap Irene dengan salah satu alis terangkat, "Nona Adler ternyata cukup berani mengakui reputasi buruk Anda sendiri, saya sedikit kagum."


Gadis yang ada di samping Jessica kembali menarik lengannya dan tersenyum meminta maaf kepada Irene, "Maaf atas kekasaran Jessica, Nona Irene. Dia tidak bermaksud begitu. Perkenalkan nama saya Felicia Green, ini kakak saya Jessica Green."


Gadis yang dipanggil 'XinYi' oleh Monica juga ikut memperkenalkan dirinya dengan cara yang lebih informal, "Halo Nona Irene, namaku Chen XinYi. Kamu bisa memanggilku XinYi."


Monica yang akhirnya menyadari seluk-beluk masalah mereka akhirnya berbicara secara pribadi dengan Jessica di tempat lain sebelum mereka kembali ke taman. Jessica masih menunjukkan ketidaksenangannya terhadap Irene, namun dia tidak menyerang Irene dengan kata-katanya lagi.


Suasana yang awalnya canggung dengan kedatangan Irene akhirnya dihaluskan secara perlahan dengan pujian terhadap penampilan Irene hingga akhirnya mereka membahas gaya rambut Irene yang elegan. Mendengar pujian mereka, Irene dengan bangga mengatakan bahwa orang yang menata rambutnya adalah Dylan, saudaranya. Pernyataan Irene membuat para gadis terkejut dan penasaran, termasuk Jessica yang masih memusuhi Irene. Irene menjelaskan bakat Dylan dalam menata rambut sejak kecil, hingga akhirnya mereka semakin penasaran dengan Dylan.


Kabar bahwa kekuatan mental Dylan yang berlevel D serta kekuatan fisiknya yang berlevel F telah tersebar ke publik. Semua orang menganggap Dylan adalah orang cacat yang hidup dengan mengandalkan keluarga Adler. Irene ingin mengubah pendapat mereka tentang saudaranya. Dengan senang hati dia menjelaskan bakat-bakat kecil Dylan yang tidak akan merugikan saudaranya jika tersebar keluar.


Tanpa sadar, Irene membangun kesan Dylan sebagai anak laki-laki yang lemah karena penyakit namun tetap imut, dalam benak gadis-gadis itu. Bahkan Monica mengingat kembali sosok saudara Irene di kursi roda. Dengan tambahan filter yang diberikan Irene, Monica benar-benar merasa Dylan yang duduk di kursi roda sambil menggigit kue kecil tampak cukup imut, bahkan pria besar Ethan yang juga memakan kue dianggap imut dengan pesonanya tersendiri.


Irene tidak tahu bahwa kata-katanya telah menyesatkan gadis-gadis ini terlalu jauh, terutama Monica hingga bahkan Ethan yang kaku dan serius tidak lepas dari kata imut. Melihat bahwa teman-teman Monica telah menurunkan permusuhan mereka terhadapnya, termasuk Jessica, Irene menghela nafas lega secara mental. Ini pertama kalinya dia berbicara panjang lebar dengan orang lain seusianya.


Irene berharap momen ini bisa berlangsung lebih lama, namun harapannya terkadang benar-benar sulit terwujud.


Seorang pelayan tiba-tiba mendatangi mereka dengan gelisah, "Nona Irene, Tuan Muda Ethan meminta Anda agar segera ke halaman barat. Tuan Muda Dylan sedang dalam masalah."


Jantung Irene hampir berdetak kencang seketika. Firasat buruk membanjirinya.


Halaman barat...


Di sanalah kecelakaan Dylan terjadi saat mereka masih anak-anak.


Melihat ekspresi wajah Irene yang panik, Monica meminta teman-temannya menunggunya di sini dan dia segera mengikuti Irene ke halaman barat bersama pelayan yang mendatangi mereka.


Ketika mereka mendekati halaman barat, banyak orang sudah berkumpul di sekitarnya, baik itu tamu atau pelayan mansion. Beberapa tamu memandang mereka dan berbisik.


"Saudara-saudari itu benar-benar seburuk rumor. Hanya penampilan luar mereka yang glamor tapi siapa tahu bagaimana sifat sejati mereka."


"Tidak kusangka anak laki-laki yang tampangnya seperti malaikat itu bisa melakukan hal kejam seperti ini."


"Iya, awalnya aku bahkan merasa kasihan padanya karena kondisi fisiknya, tapi siapa sangka di balik penampilan lemahnya menyembunyikan iblis."


"Sekarang sesuatu seperti ini terjadi di keluarga Adler, besok berita ini mungkin  akan tersebar di kalangan bangsawan sebagai lelucon."


Kepanikan Irene bertambah besar ketika mendengar bisikan-bisikan para tamu. Ketika dia akhirnya masuk ke halaman barat, dia melihat Ethan berhadapan dengan sekelompok tamu laki-laki. Dylan ditempatkan di belakang Ethan dan menundukkan wajahnya, namun Irene bisa melihat salah satu sarung tangannya robek dan memiliki percikan darah di atasnya.


Firasat buruk Irene akhirnya terkonfirmasi ketika dia melihat pemandangan ini.