
Setelah Irene mendaftarkan namanya untuk mengikuti tes yang dibuka Royal Academy untuk merekrut siswa baru, Monica Wilson datang berkunjung ke vila mereka dan membagikan materi-materi apa yang biasa diujikan oleh Royal Academy untuk masuk ke bidang farmasi.
Monica sempat terdiam melihat bekas memar yang mengerikan di sekujur tubuh Dylan, namun dia tidak mengatakan apa pun dan tetap bersikap seperti biasanya. Irene menduga kalau beberapa berita mungkin sudah masuk ke telinga keluarga Wilson.
Dylan bisa melihat kalau Monica adalah gadis yang tidak banyak bicara dan bijaksana. Kesannya pada Monica cukup baik setelah melihat kejujuran dan keterus terangan gadis itu. Sebagai seorang jenius yang terkenal luas, gadis itu tidak menunjukkan kearoganannya, namun juga tidak rendah hati.
Dylan bisa melihat ketulusan Monica dalam memperlakukan Irene. Memiliki gadis itu sebagai teman hanya akan menguntungkan Irene karena itulah Dylan mengajak Monica untuk sering datang ke vila dan belajar bersama Irene, yang mendapat tanggapan positif dari Monica.
Dengan begitu, rumah mereka mendapat kunjungan setiap hari. Monica membawa banyak buku mengenai farmasi dari keluarganya, serta catatan-catatan yang ditulis olehnya secara pribadi.
Selain dari mempelajari teorinya, Monica juga menyarankan Irene untuk mempraktekkan langsung cara membuat obat-obatan. Menurutnya, latihan yang rutin akan lebih menambah wawasan dibandingkan hanya mempelajari teori dalam buku.
Dengan begitu, ruangan kosong lainnya diubah menjadi ruangan latihan Irene. Monica membantu Irene memilih alat-alat yang berkualitas serta bahan-bahan herbal untuk pemula. Sebelum mulai membuat obat, Monica mengajari Irene untuk mengendalikan kekuatan mentalnya terlebih dahulu. Butuh berminggu-minggu bagi Irene untuk mulai mengendalikan kekuatan mentalnya yang membuatnya merasa malu dan bersalah karena harus membuat Monica bersusah-payah mengajarinya setiap hari.
Monica melihat kekhawatiran Irene dan menghiburnya, "Sebenarnya tidak terlalu buruk. Setiap orang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda."
Setelah Monica sering datang ke rumah mereka, dia menjadi akrab dengan Irene dan Dylan, dia juga mengajari Dylan cara mengendalikan kekuatan mentalnya. Meskipun kekuatan mental Dylan level D, dia bisa melakukan hal-hal yang sederhana seperti memindahkan benda-benda yang lebih ringan.
Hanya butuh dua kali percobaan dan Dylan sudah berhasil mengendalikan kekuatan mentalnya sendiri.
Irene yang menghabiskan waktu berminggu-minggu, "..."
Monica juga terpana dengan bakat Dylan dan menepuk punggung Irene untuk menghiburnya lagi, "Setiap orang memiliki kelebihan yang berbeda-beda, jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain."
Irene, "..."
Monica kagum kepada Dylan karena bahkan dirinya sendiri yang disebut sebagai jenius butuh waktu satu hari penuh untuk menguasai kekuatan mentalnya. Kekuatan mentalnya sangat unggul, dan pemahamannya juga tergolong unggul yang membuatnya menjadi jenius. Tidak semua orang bisa memiliki tingkat pemahaman yang tinggi. Contohnya seperti Irene, kekuatan mentalnya memang level A tapi tingkat pemahamannya cukup lemah sehingga butuh berminggu-minggu untuk menguasai kekuatan mentalnya.
Dalam hati, Monica merasa sedikit menyesal dengan nilai kekuatan mental Dylan. Kalau saja Dylan tidak kecelakaan sewaktu kecil, maka kekuatan mentalnya akan sebanding dengan Irene. Dengan pemahaman luar biasa dan kekuatan mental tingkat tinggi, Dylan mungkin bisa melampauinya. Benar-benar sangat disayangkan...
Setelah bisa mengendalikan kekuatan mentalnya, Irene mulai belajar cara memproduksi obat dari Monica. Obat-obatan yang dibuat apoteker, sebagian besar mengandalkan kekuatan mental mereka, bukan peralatan agar obat yang diproduksi bisa menghasilkan efek ajaib pada tubuh.
Setiap hari Monica akan membuat jadwal pembelajaran Irene. Jujur saja Monica benar-benar guru yang baik dan berkualitas. Dengan proses belajar dan latihan yang dipress setiap hari, Irene akhirnya siap menghadapi tes.
Monica mengantar Irene ke Royal Academy. Disana, sudah ada banyak orang yang berkumpul. Tidak semuanya berasal dari masyarakat biasa, beberapa anak orang kaya atau anak dari keluarga bangsawan juga mendaftarkan diri untuk mengikuti tes. Kehadiran keduanya menarik perhatian para peserta ujian, lebih tepatnya kehadiran Monica yang menarik perhatian orang-orang.
Dylan sebenarnya ingin menemani Irene, tetapi karena keterbatasannya dan rumor tentang dirinya yang belum redam, akhirnya Monica lah yang menggantikan Dylan menemani Irene, sebagai seorang teman sekaligus seorang guru.
Mereka berdua duduk di ruang tunggu. Beberapa peserta kembali mengalihkan perhatian mereka ke buku setelah melirik keduanya. Suasana belajar di tempat itu sangat kental, Irene terinfeksi suasana ini dan ikut membuka buku catatannya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara mekanis yang menyuruh mereka untuk memasuki ruangan ujian. Monica mengingatkan Irene beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menjawab soal sebelum Irene memasuki ruangan ujian bersama peserta lainnya.
Ketika kertas ujian dibagikan, Irene membaca sekilas soalnya dan merasa soalnya tidak terlalu sulit, setidaknya lebih mudah dari ujian harian yang diberikan Monica padanya. Irene bisa menjawab soal-soal itu dengan lancar, tetapi ketika dia sampai di beberapa soal terakhir, kecepatan menjawab Irene semakin melambat. Irene butuh waktu yang cukup lama untuk berpikir, tetapi dia menyelesaikan semua soalnya. Seperti saran Monica, dia memeriksa jawabannya terakhir kali sebelum langsung mengumpulkan kertasnya. Lebih cepat dia mengumpulkan kertas, nilainya akan lebih tinggi jika poin benarnya sama dengan milik orang lain yang mengumpulkan kertas lebih lambat.
Irene keluar dan kembali ke ruang tunggu. Monica melihat kedatangannya dan bertanya, "Bagaimana?"
"Setidaknya setengah dari jawabanku pasti benar," jawab Irene dengan optimis. Monica menatap Irene dengan serius, "Hanya setengah?"
Irene tersenyum ragu, "Em...dua pertiga?"
Beberapa orang tua yang menunggu anak mereka mencibir setelah mendengar jawaban Irene.
Monica dan Irene mengabaikan cibiran itu dan kembali ke vila. Mereka hanya perlu menunggu hasilnya keluar saat sore hari.
....
Militer.
Suasana di ruangan rapat cukup tegang. Para personil militer yang berpangkat tinggi memiliki ekspresi yang berbeda-beda. Beberapa merasa sedikit menyesal, namun beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi kesal.
Blaire mengabaikan mereka dan dengan santai mengumumkan penolakan Theodore. Sejujurnya dia sangat bosan mengulangi laporan yang sama terus menerus. Sekelompok tua muda ini hanya mengandalkannya untuk menjangkau Theodore.
"Sangat disayangkan...," ujar seorang pria tua dengan kekecewaan yang mendalam. Dia adalah seorang jenderal tua yang netral di militer dan selalu berharap Theodore bisa kembali ke posisinya di militer.
Saat ini, militer memiliki 15 legiun yang dipimpin oleh manusia dan 10 legiun yang dipimpin oleh roh. Dari zaman ke zaman, banyak legiun yang terbentuk dan bubar untuk beberapa alasan, terutama legiun yang dipimpin oleh manusia.
Sejak zaman evolusi, beberapa monster dan binatang buas muncul di berbagai daerah. Mereka menyebutnya daerah terlarang. Memang tidak semua monster akan keluar dari habitat mereka dan menyebabkan kekacauan, tapi beberapa orang menangkap beberapa makhluk-makhluk dari daerah terlarang untuk dijual di pasar hitam. Tindakan ini memicu permusuhan dari penghuni daerah terlarang, terlebih lagi makhluk-makhluk yang ditangkap bukannya memiliki temperamen yang lunak, jika ada sedikit kelalaian, maka tidak sedikit orang yang akan dibunuh.
Pemerintah sudah membuat hukum yang melarang penangkapan monster-monster yang tinggal di daerah terlarang, namun beberapa orang masih melakukan tindakan ini.
Itulah alasan mengapa terkadang Blaire tidak bisa menahan emosinya dan membanting orang-orang seperti ini hingga akhirnya dia mendapatkan reputasi ganas di masyarakat.
Blaire mulai merasa kesal ketika melihat beberapa orang berdebat tentang masalah ini. Terkadang dia heran, apakah mereka tidak lelah? Mereka jelas hanya ingin Theodore mengurusi sisa masalah yang tidak bisa mereka selesaikan. Para jenderal roh tentu tidak ikut serta dalam diskusi yang memanas, masing-masing dari mereka hanya duduk di samping sebagai pengamat.
"Bukankah dia terlalu tidak sopan? Kami sudah mengirimkan surat resmi setiap kali dia bangun untuk mengundangnya kembali ke militer, tetapi dia bahkan tidak ingin menemui kami!"
Blaire menyipitkan matanya pada salah satu jenderal manusia yang berceloteh.
"Jelas dia tidak peduli dengan militer dan pemerintah, semakin lama dia hidup semakin arogan dirinya. Sepertinya pahlawan di hati rakyat telah berubah."
Kalimat ini mengejutkan seisi ruang rapat. Para petinggi roh yang awalnya bersikap malas, memandang jenderal baru itu dengan tatapan tajam.
"Jaga kata-katamu. Theodore bukanlah sosok bisa kamu komentari sembarangan," ucap salah satu jenderal roh. Suasana yang awalnya sudah tegang menjadi lebih mencekam dengan ketersinggungan beberapa roh.
"Memangnya kenapa kalau dia dihormati? Dia tidak seharusnya memandang rendah orang lain karena statusnya sebagai roh kuno yang mulia. Sebagai seorang jenderal militer, dia mengundurkan diri seenaknya tanpa memandang aturan militer. Berapa banyak kekacauan yang ditimbulkan pada militer karena perbuatannya? Saat itu militer seharusnya menghukumnya."
Bang!
Blaire menghancurkan meja rapat menjadi potongan-potongan kecil dengan satu pukulan. Tindakan ini membuat beberapa petinggi menjadi waspada. Pelakunya hanya melambaikan tangannya sembarangan dan tersenyum acuh tak acuh, "Ups! Maaf, tanganku tergelincir."
Jenderal yang mengkritik Theodore terkejut sejenak sebelum kemarahannya semakin besar dan dia menunjuk Blaire dengan tatapan penuh kecaman, "Kamu!-"
Sebuah potongan besi melesat seperti panah ke arah jenderal itu dan menggores wajahnya.
"Maaf, kakiku tergelincir. Oh ya, satu hal lagi, aku agak kurang suka ditunjuk seperti itu, apakah kamu mengerti?"
Wajah jenderal itu memerah seketika, rasa malu dan amarah membakar dirinya, namun dia dengan patuh menurunkan jarinya.
"Perlu kamu ingat, sebelum kamu lahir, bahkan sebelum pemerintahan ini terbentuk, Theodore sudah membangun prestasi militernya selama perang masa evolusi. Karena kontribusinya, leluhurmu bisa hidup dengan aman hingga akhirnya kamu bisa lahir di era nyaman ini. Jadi, kamu sama sekali tidak berhak mengomentarinya apalagi menghinanya," ujar Blaire dengan senyuman, namun tatapannya menatap lawan bicaranya dengan penuh kegelapan.
"Paham?"
Blaire menekankan kata terakhirnya sebagai tanda ancaman.
"Aku rasa pertemuan hari ini sampai disini saja. Aku masih memiliki bisnis yang lebih penting untuk dilakukan dibandingkan mendengarkan celotehan tidak berkualitas yang merusak mood."
Setelah kalimat Blaire jatuh, banyak petinggi roh meninggalkan ruang pertemuan dengan sikap yang jelas tidak bahagia.
Salah satu jenderal roh menggelengkan kepalanya, "Militer saat ini benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan yang dulu."
Jenderal roh lainnya mengangguk setuju, "Sayang sekali... Padahal leluhur mereka adalah pemimpin yang berkualitas. Aku tidak bisa membayangkan reaksi kawan lama kita jika dia tahu generasi masa depannya merosot hingga seperti ini."
"Militer semakin buruk sepanjang zaman."
"Apa gunanya memikirkan ini. Lebih baik aku pulang dan memanjakan suamiku," ucap Blaire.
Para roh, "..."
....
Dylan, Irene, dan Monica menunggu pemberitahuan dengan tegang, terutama Irene. Sebentar lagi, hasil tes masuk Royal Academy akan keluar. Irene berharap dia bisa lulus, dia tidak ingin mengecewakan Dylan, Monica, dan terutama dirinya sendiri yang sudah berhari-hari bekerja keras demi mengikuti tes.
Hasilnya akhirnya dikeluarkan. Mereka membuka daftar nama yang lulus dan akhirnya menemukan nama Irene diposisi ke-25. Irene segera memeluk Dylan dan Monica. Dia lulus!
Baik Dylan dan Monica tidak menduga tindakan Irene. Dylan tertawa dan mengusap kepala Irene dengan lembut, "Selamat."
Monica juga ikut bahagia dengan hasil Irene. Posisi ke-25 sudah sangat baik diantara para peserta karena yang lulus berjumlah ratusan. Setidaknya sebagai guru paruh waktu Irene, dia cukup berhasil mengajar seorang murid.
Irene sangat bahagia, dia lulus menjadi siswa dari salah satu akademi terbaik di Federasi. Dia tidak sabar menunggu hari masuknya sekolah.