Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 20: Dr. Anne



Di sebuah ruangan kecil dengan beberapa tempat tidur dan mesin perawatan sederhana, beberapa siswa berbaring pucat di ranjang pasien. Suasana ruangan itu sendiri sudah cukup monoton dan kaku sehingga membuat orang merasa terlalu kosong. Jika bukan karena mesin perawatan yang menunjukkan kondisi pasien, orang mungkin bisa salah mengira kalau yang berbaring di ranjang itu sudah menjadi mayat.


Tiba-tiba salah satu gadis yang merupakan bagian dari kelompok pasien itu mengalami perubahan. Bulu matanya sedikit bergetar mengawali pulihnya kesadaran sang gadis. Sepasang kelopak mata itu perlahan terbuka dan menampilkan sepasang pupil berkabut yang menandai kalau sang pemilik mata masih belum sepenuhnya paham akan situasinya sendiri.


Irene mengerutkan keningnya, lalu memalingkan wajahnya ke samping dan sosok gadis yang familiar masuk ke pandangan buramnya. Kesadarannya mulai terkumpul saat ingatan akan kejadian sebelumnya menyerbu otaknya. Mereka mengalami serangan mental oleh Thousand Eyes level B. Setelah itu dia tidak tahu lagi...


Gadis yang berbaring di ranjang tepat di sampingnya tidak lain adalah temannya, Monica. Semua siswa di ruangan itu adalah anggota timnya. Irene menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya, kepalanya masih pusing mungkin karena efek samping serangan mental musuh.


Sebagai yang terlemah di antara anggota timnya, dia cukup beruntung untuk sadar lebih dulu dan tidak mengalami luka mental yang begitu parah. Agak heran memang, meskipun dia amatir, tapi Irene tahu kalau serangan mental monster level B tidak jarang membuat manusia menjadi idiot atau lebih parahnya lagi koma hingga meninggal.


Kelompok mereka kurang beruntung. Menurut instruksi dari para perwira sebelumnya, wilayah akses pelatihan mereka hanya berada di tepi hutan dengan kelompok monster yang tidak terlalu berbahaya. Monster level C saja sudah sangat terbatas apalagi monster level B yang bisa dihitung dengan jari.


Ketika memikirkan Thousand Eyes itu, Irene tiba-tiba teringat dengan tim yang awalnya ingin mereka selamatkan. Bagaimana dengan mereka...


"Klik"


Suara pintu terbuka langsung menarik fokus Irene. Dia menatap pintu dan mendapati seorang wanita yang mengenakan seragam dokter militer. Dokter itu juga menatap Irene yang sudah sadar dan tersenyum, "Akhirnya bangun juga."


Irene segera bangun dari posisi berbaringnya dan berusaha duduk sebelum memberi salam hormat.


"Sudahlah, kamu adalah pasien jadi tinggalkan aturan formal itu untuk sementara. Bagaimana perasaanmu? Adakah yang tidak nyaman?" tanya sang dokter saat dia menarik kursi ke samping ranjang Irene sebelum duduk santai dengan postur kaki disilangkan, terlihat cukup bossy.


"Hanya sedikit sakit kepala, tapi selain dari itu aku merasa cukup sehat, Dok," jawab Irene dengan patuh. Sikap dokter itu agak mengingatkan Irene pada Blaire.


"Baguslah. Kalau sampai kamu kenapa-napa, bisa-bisa aku dilempar oleh beberapa senior kelas elit itu," ujar sang dokter wanita dengan lengkungan kecil di sudut bibirnya.


Irene, "?"


"Kalian cukup beruntung bisa ditemukan tepat waktu, kalau tidak konsekuensinya akan lebih buruk. Serangan mental monster kelas B bukan soal main-main, lagipula kenapa kalian tidak meminta bantuan militer dan malah menghadapi makhluk itu sendirian? Apa kalian bodoh?" lanjut sang dokter dengan tanda ketidaksetujuan di wajahnya.


Irene tersenyum penuh rasa bersalah.


"Meskipun tindakan ini bodoh, tapi niatnya baik. Bagus sekali. Hanya saja lain kali sebelum melakukan sesuatu, pikirkan dulu batas kemampuan kalian. Jangan sampai kalian sia-sia mengorbankan nyawa," ujar sang dokter.


Usai kata-kata dokter itu, suara pelan terdengar dari samping. Sang dokter langsung menuju ranjang Serra dan meletakkan jari telunjuknya di antara alisnya.


Irene bisa melihat butiran keringat mengalir turun dari kening Serra saat gadis itu mengerutkan keningnya terlihat tidak nyaman.


"Dok, ada apa dengannya?"


"Gangguan mentalnya kambuh lagi."


Selang beberapa waktu ini, warna muka Serra semakin memburuk. Terkadang kekuatan mental yang gelisah bocor keluar, tapi segera dijerat kembali oleh kekuatan mental yang lembut namun kokoh.


Setelah perawatan selesai, sang dokter menyuntikkan cairan transparan pada Serra.


"Untuk meredakan gangguan mental," kata sang dokter.


"Apakah gangguan mental ini bisa meninggalkan efek samping?"


"Untungnya kasus kalian masih bisa kutangani. Seperti yang tadi kukatakan kalian beruntung karena ditemukan tepat waktu, tapi sayangnya tim lain yang bersama kalian cukup sial. Kondisi mereka puluhan kali lebih buruk dari kalian, mungkin mereka bahkan akan mengalami kemunduran level pada kekuatan mental mereka. Kamu tahu apa artinya?"


Irene tercengang. Kemunduran kekuatan mental, tentu saja dia tahu apa artinya bagi para siswa itu karena Dylan pernah mengalami hal yang sama. Kekuatan mental adalah sesuatu yang sangat berharga bagi siapa pun, hal inilah yang terkadang menjadi kriteria untuk menilai status dan kualitas seseorang di mata masyarakat.


Yang bisa menjadi siswa dari Royal Academy tentunya adalah sosok yang memiliki kekuatan fisik dan mental terbaik di masyarakat. Kemunduran kekuatan mental tentu saja membuat para siswa itu kehilangan banyak kesempatan istimewa yang berharga, yang lebih parah lagi mereka mungkin dikeluarkan dari akademi karena tidak memenuhi persyaratan level kekuatan mental terendah.


"Lalu apakah ada kemungkinan untuk mereka sepenuhnya pulih?" tanya Irene.


"Ada, namun kecil. Sayangnya bukan aku yang menangani mereka, jadi bagaimana perawatan mereka aku tidak bisa mencampurinya," jawab sang dokter.


"Mengapa?"


"Gadis kecil, masalah ini tidak ada hubungannya denganmu. Lebih baik pikirkan saja keadaan satu tim mu. Mungkin terdengar kasar bagimu, tapi saranku lebih baik jangan terlalu ikut campur dalam urusan orang lain karena tindakan ini mungkin bisa mengundang masalah yang tidak perlu."


Sebelum keluar dari pintu, dokter itu berbalik sebentar dan meninggalkan pesan, "Ponsel kalian ada di laci samping masing-masing ranjang, aku telah memasukkan nomorku ke ponselmu. Kalau terjadi apa-apa pada mereka segera hubungi aku."


Melihat kepergian sang dokter, Irene mengusap ujung hidungnya dengan canggung. Dia mungkin sudah menyinggung perasaan dokter mereka. Sesuai dengan pesan sang dokter, Irene membuka laci di meja samping dan melihat ponselnya tergeletak di dalam.


Dr. Anne


Jadi nama dokter mereka Anne... Kenapa kedengaran agak familiar.


Sementara itu di kantor seorang dokter militer tertentu.


"Gimana keadaannya?"


"Tidak heran. Theodore tidak mungkin membiarkan Irene menahan rasa sakit gangguan mental."


Dr. Anne yang baru keluar dari ruang perawatan sekarang sedang duduk santai dan mengobrol dengan model hologram Blaire melalui komunikatornya.


Blaire, "Hantu tua itu mungkin sedang menggila sekarang. Siapa pun dalang dibalik semua ini, mereka akan sial."


"Aku hanya tidak menyangka Yang Mulia Theodore ternyata bisa begitu perhatian pada gadis manusia biasa. Ini seperti bukan dirinya saja," ujar Dr. Anne dengan lembut.


Sosok mini Blaire menyilangkan kakinya dan menatap dokter militernya dengan senyuman tersirat. Tatapannya terkadang membuat Dr. Anne merasa seperti dibedah dari luar ke dalam. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari sosok legendaris ini.


"Dia sekarang sudah memiliki jodohnya sendiri. Kamu tidak cemburu?"


"Apa gunanya cemburu. Dia juga tidak akan pernah memilihku, sejak awal aku sudah menyerah."


"Benarkah?" sepasang pupil ruby itu kembali mengobrak-abrik jati dirinya.


"Ya."


"Semoga begitu."


Dr. Anne tidak tahu apakah kebohongannya terlihat oleh roh kuno ini, tapi dia lega karena pihak lain tidak mengangkat pembahasan ini lagi. Mereka membahas beberapa urusan kerja sebelum Blaire mematikan panggilan.


Dokter wanita itu melepas komunikatornya dan menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memejamkan matanya dengan lelah.


Cemburu...


Bagaimana mungkin dia tidak cemburu? Sosok yang sudah dipendamnya dalam hati selama ini ternyata meluluhkan hatinya untuk seorang gadis yang baru ditemuinya beberapa kali. Saat pertama kali mengetahui berita itu, dia sempat kesal dan bertanya-tanya mengapa Theodore yang selalu mengabaikannya bisa tertarik pada gadis biasa yang bahkan baru dewasa.


Yang Mulia Theodore...


Anne membuka laci dari meja kantornya dan mengeluarkan sebuah bingkai foto. Foto itu adalah momen kebersamaan tim mereka saat nama pasukan mereka masih berjaya ketika semuanya masih hadir bersama.


Anne tersenyum lembut saat jemarinya membelai kaca foto tersebut, benar-benar kenangan yang indah.


......................


Waktu pelatihan adalah dua minggu, namun karena kejanggalan di area pelatihan, tim militer menyarankan untuk mempersingkat sesi pelatihan kali ini. Akan tetapi saran ini ditolak oleh pihak perwakilan akademi yang menganggap kalau masalah ini tidak terlalu serius.


Para perwira yang menyarankan perpendekan waktu pelatihan memiliki wajah yang kurang menyenangkan setelah melihat penampilan acuh tak acuh pengawas dari akademi.


Para perwira militer tidak bisa berbuat banyak karena mereka hanya bertanggung jawab sebagai pengawas, keputusan utama masih berada di tangan pihak akademi kecuali kalau situasi benar-benar sudah darurat.


Maka dari itu mereka memutuskan untuk melaporkan masalah ini pada atasan mereka dan menunggu keputusan yang turun.


"Kalau begitu cukup perketat pengawasan dan tunggu."


Saran Blaire yang terlihat tidak peduli ini membuat bawahannya tercengang. Kenapa bahkan jenderalnya juga seperti ini...


"Apa yang perlu kita tunggu?" tanya salah satu bawahannya.


"Tunggu aba-aba. Sekali tanda-tanda musuh muncul segera lakukan yang terbaik untuk menarik semua siswa dari baku tembak. Ingat prioritas kalian adalah melindungi nyawa para siswa adapun musuh serahkan saja pada Theodore," perintah Blaire.


Dr. Anne adalah salah satu dari para prajurit yang hadir dalam pertemuan dengan Blaire. Melihat jenderalnya tidak menunjukkan tanda-tanda ketegangan itu artinya masalah ini masih dalam genggaman mereka. Jadi semuanya seharusnya tidak terlalu rumit, tapi tetap saja Anne masih merasa sedikit cemas. Tidak ada perintah lanjutkan yang berkaitan dengan musuh yang disebutkan Blaire maka itu artinya Yang Mulia Theodore sendirilah yang akan menghadapi sumber masalah.


Semoga semuanya baik-baik saja...


Setelah memberikan perintahnya, Blaire langsung memutuskan komunikasi tanpa basa-basi yang tidak perlu. Para bawahan telah lama terbiasa dengan perilaku jenderal mereka dan tidak banyak berkomentar. Lagipula jenderal mereka adalah sosok yang selalu sibuk.


Sementara itu, di sisi Theodore segalanya berjalan sangat lancar. Terlalu lancar hingga cukup meragukan.


Theodore menghancurkan bangkai terakhir dari sekelompok binatang buas level B sebelum mengumpulkan bola energi asing ke dalam botol yang mengunci semua bola energi yang telah dikumpulkannya.


Segaris tipis kerutan timbul di antara alisnya. Energi asing yang dikumpulkannya hanya terdapat pada beberapa monster. Akan tetapi keberadaannya sangat acak, beberapa terdapat pada monster yang ganas, beberapa justru malah ada pada monster level E atau D yang tidak mencolok. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa Theodore harus berburu dengan sengit.


Tentu saja cara ini bukan jalan keluar yang baik. Lagipula tidak mungkin dia benar-benar harus membantai semua monster di hutan ini hanya untuk mencari akar masalah yang disebutkan Marsekal.


Di tengah dilema ini, sebuah gelombang energi yang dahsyat tiba-tiba menyerbu hutan itu dan menyebabkan monster-monster di hutan menjadi gila.


Pupil Theodore menyusut seketika.


Gawat!