Strings Between Us

Strings Between Us
Bab 14: Royal Academy



Irene sedang mengemas barang-barangnya. Hari ini, dia dan Monica akan mulai tinggal di asrama Royal Academy sehari sebelum sekolah dimulai. Dylan melihat saudarinya sibuk dari samping dan tiba-tiba merasa sedikit kesepian, meskipun dia yang menyarankan Irene untuk masuk ke Royal Academy.


Monica yang melihat sekilas kesedihan Dylan, berbisik di telinga Irene sebelum membawa barang-barang Irene keluar terlebih dahulu.


Irene berjongkok dan menyejajarkan pandangannya dengan saudaranya sebelum dia memeluk sayang saudaranya, "Dylan, aku akan belajar dengan giat agar setelah lulus, aku bisa menjadi apoteker yang baik dan tidak mengecewakan harapan tinggimu padaku. Ketika aku tidak di rumah, kamu harus lebih menjaga diri ya. Jika ada sesuatu yang mendesak, langsung kabari aku."


"Tentu saudariku. Jaga dirimu juga di Akademi. Jika ada masalah, langsung kabari aku. Aku telah mentransfer beberapa uang ke akunmu. Jika tidak cukup katakan padaku. Jangan menggunakan tabungan pribadimu, paham?" ujar Dylan sambil memeluk balik Irene. Suasana hatinya yang sedikit berkabut menjadi cerah seketika.


"Ethan juga masuk ke Royal Academy, departemen pertempuran. Kudengar dia berencana masuk ke militer setelah lulus."


"Sungguh?" Irene tidak merasa kalau Christine akan menyetujui keputusan Ethan. Keluarga mereka selalu bergerak di bidang farmasi, sejak kecil Ethan selalu diajarkan untuk menyukai bidang ini oleh Christine. Sayangnya, Ethan benar-benar tidak tertarik, meskipun bakatnya di bidang ini tidak buruk.


Departemen pertempuran yang dimaksud, bukan hanya mengajarkan siswanya bagaimana cara melakukan pertempuran dengan tangan kosong. Departemen ini dibangun khusus untuk melatih siswa yang ingin memasuki militer. Para siswa akan dilatih bagaimana menggunakan kekuatan fisik dan mental mereka secara maksimal dan praktis di medan pertempuran. Ilmu ini dipelajari oleh setiap siswa di departemen pertempuran, selanjutnya mereka akan diarahkan ke bidang yang lebih spesifik.


Kedua saudara-saudari itu berbincang-bincang selama beberapa saat, sebelum Monica masuk dan mengingatkan mereka kalau mobilnya sudah sampai. Irene memeluk saudaranya lagi sebagai salam perpisahan sebelum mereka berangkat.


....


Royal Academy.


Mobil Monica sampai di gerbang akademi. Seorang pelayan turun untuk membantu mereka membawa tas bawaan mereka karena kebetulan Irene dan Monica ditempatkan di asrama yang sama.


Asrama akademi adalah asrama dua orang dengan fasilitas yang cukup lengkap dan nyaman. Setelah menyusun barang-barang mereka, keduanya mengelilingi akademi.


Keesokan harinya.


Irene bangun dari tidurnya ketika alarm yang diletakkan di sampingnya berdering. Ketika dia membuka matanya, dia melihat Monica sudah bangun dan memakai seragam akademi.


Monica yang duduk di tempat tidurnya sambil membaca buku mengalihkan pandangannya ke Irene sejenak sebelum kembali fokus pada bukunya. Setelah Irene selesai bersiap, keduanya pergi ke aula yang merayakan penyambutan bagi siswa tahun pertama.


Ketika mereka tiba, sudah banyak siswa yang duduk di kursi yang disediakan. Monica pergi bergabung dengan teman-temannya dan Irene mencari Ethan.


Di antara lautan siswa, Irene akhirnya menemukan Ethan di sudut. Dia pergi menemuinya dan duduk di sebelah Ethan. Beberapa saat kemudian, seorang senior naik ke panggung dan mengucapkan kata-kata sambutan, sesi penyambutan ini resmi dimulai.


Setelah senior itu selesai, kepala sekolah menyampaikan kata-kata sambutan, motivasi, dan hal-hal yang harus diperhatikan di akademi. Kemudian masing-masing pemimpin dari berbagai departemen mengucapkan beberapa kata sebelum acara ini ditutup dan para siswa diminta pergi ke kelasnya masing-masing.


Irene kembali berkumpul dengan Monica. Jessica, Chen XinYi, dan Felicia berpisah dari kelompok mereka karena keduanya masuk ke departemen manajemen bisnis. Adapun Chen XinYi, gadis itu masuk ke departemen teknologi.


Guru kelas Irene dan Monica adalah seorang wanita dan dia adalah apoteker kelas dua, sama seperti Nyonya Wilson. Hari pertama mereka sekolah, Profesor Hanna, guru kelas mereka, langsung memberikan ujian tertulis.


Ketika seberkas soal dibagikan, beberapa siswa tercengang. Namun, guru mereka dengan penuh senyuman memberitahu mereka kalau dia hanya ingin menguji seberapa jauh pengetahuan mereka. Setelah berkas pertama dikerjakan, Hanna membagikan berkas yang baru, hal ini diulang lagi hingga ketiga kalinya. Akhirnya, seorang siswa memprotes tindakan Hanna.


Hanna memandang seluruh siswanya dan bertanya, "Apakah kalian semua menganggap kalau tindakanku ini berlebihan?"


Diamnya kelas menunjukkan para siswa setuju dengan protes siswa sebelumnya.


"Monica, apa poin paling penting yang harus dimiliki seorang apoteker?" tanya Hanna tiba-tiba.


"Kesabaran dan ketekunan," jawab Monica yang berdiri setelah ditanya sebelum kembali duduk dengan tenang.


"Apa kalian dengar itu?"


"Kalau hanya begitu saja kalian sudah tidak tahan, lalu bagaimana kalian akan memproduksi obat? Jangan bilang kalau kalian akan menyerahkan sebagian pekerjaan kepada robot dan hanya mengurusi proses memurnikan obat saja. Itu tidak dilakukan oleh seorang apoteker."


"Hanya dengan mengandalkan kekuatan mental yang tinggi, dan teori yang menempel di kepala kalian, kalian ingin menjadi seorang apoteker? Kalau syarat menjadi apoteker semudah itu, semua orang juga bisa melakukannya."


"Jadi biarkan aku tekankan lagi, jika kalian tidak memiliki cukup kesabaran untuk menghadapi hal-hal kecil seperti mengerjakan soal. Lebih baik keluar dari departemen ini dan lupakan bermimpi menjadi apoteker."


Para siswa terdiam. Ketika berkas keempatnya dibagikan, tidak ada yang menolaknya lagi dan mengerjakannya dengan serius. Pada berkas keenam, beberapa siswa mulai merasa pusing. Hanna melihat kondisi siswanya dan meminta mereka yang sudah tidak bisa mengerjakan soal lagi mengumpulkan kertasnya dan menunggu teman-teman lainnya selesai. Irene hanya mengerjakan setengah soal dari berkas ke delapan sebelum menyerahkannya kepada Hanna. Jika bukan karena ujian yang diberikan Monica setiap hari padanya, dia juga tidak akan sanggup mengerjakan soal sebanyak itu.


Saat berkas kesepuluh dibagikan, hanya empat siswa yang masih mengerjakan soal, salah satunya Monica yang tidak terlihat terbebani sama sekali. Tiga orang lainnya juga memiliki kualitas psikologis yang sama dengan Monica.


Setelah keempatnya selesai menyelesaikan ujian ke sepuluh, Hanna mengangguk penuh penghargaan dan membagi semua berkas ujian menjadi empat dan membiarkan keempatnya mengoreksi berkas ujian teman-teman mereka. Adapun berkas ujian mereka, langsung diperiksa oleh Hanna secara pribadi.


Irene yang duduk di samping Monica menatap jawaban teman-temannya untuk menebak berapa soal yang dia jawab dengan benar. Setelah berkas ujian yang diperiksa keempatnya dikumpulkan kepada Hanna, profesor mereka memeriksa setiap lembar dengan pandangan sekilas dan mengoreksi beberapa bagian dari lembar ujian.


Hanna tidak menduga ternyata kelasnya memiliki beberapa yang tidak terlalu buruk. Setidaknya cukup sabar dan terlatih.


"Untuk tes hari ini yang berhasil menyelesaikan semua berkas adalah Su Yan, Su Xin, Monica, dan Henry."


"Su Yan (94,8)"


"Su Xin (94,7)"


"Monica (93,5)"


"Nilai kalian adalah yang terbaik di ujian kali ini. Selamat untuk kalian."


Para siswa berbisik-bisik membahas keterkejutan mereka. Namun, sebelum mereka mempunyai waktu untuk bergosip, Hanna membacakan nilai setiap siswa satu persatu. Rasa malu karena perbandingan nilai yang begitu besar membuat para siswa terdiam, terutama siswa yang hanya menyelesaikan enam berkas. Nilai mereka adalah yang terendah.


"Ada yang tidak puas?" tanya Hanna dengan senyuman khasnya. Tidak ada yang berkomentar. Hanna mengangguk puas dan berkata, "Sekarang kalian bisa menilai sendiri diri kalian, apakah skor seperti ini pantas dibanggakan? Beginilah caraku mengajar, kuharap kalian bisa membuang kesombongan kalian karena berhasil menjadi siswa di Royal Academy."


"Untuk hari ini, kita selesai sampai disini saja. Kuharap mulai besok kalian sudah mempersiapkan diri kalian karena sebelum kita memulai pelajaran, akan ada ujian harian seperti ini. Tugas pertama kalian, pelajarilah cara untuk menguasai kekuatan mental kalian, sebelum aku mengajari kalian hal ini besok. Kelas dibubarkan."


Setelah Hanna keluar dari ruangan, para siswa juga ikut bergerak. Irene dan Monica pergi ke perpustakaan untuk mempelajari buku-buku yang disarankan oleh Nyonya Wilson. Disana, mereka bertemu Su Yan dan Su Xin. Pasangan saudara-saudari keluarga Su itu adalah kembar identik.


Keduanya tampak fokus membaca buku. Postur dan ekspresi mereka mirip satu sama lain. Seolah menyadari tatapan yang ditujukan pada mereka, keduanya mengangkat kepala mereka secara bersamaan dan menatap Irene sejenak, lalu mengalihkan pandangan mereka kembali ke buku.


Monica membawa Irene untuk duduk di tempat yang lebih sepi sebelum keduanya mulai belajar bersama.


....


Keesokan harinya.


Di kelas, seperti yang sudah dijanjikan Hanna, dia membawa setumpuk berkas untuk dikerjakan para siswa. Soal mereka bahkan lebih sulit dari kemarin, Irene butuh waktu yang cukup lama untuk mengerjakan soal dan nilainya juga lebih rendah dibandingkan dengan kemarin.


Hanna membiarkan mereka mengistirahatkan pikiran mereka selama sepuluh menit sebelum mengajari mereka cara mengendalikan kekuatan mental. Setengah dari siswa sudah mampu mengendalikan kekuatan mental mereka termasuk Irene. Setengah sisanya diminta oleh Hanna untuk membantu menjelaskan kepada teman mereka bagaimana cara melakukannya. Setelah itu, dia mulai menjelaskan bagaimana cara memilih bahan-bahan obat yang cocok satu sama lain dan tidak menimbulkan efek negatif ketika dicampur.


Hanna menjelaskan teori-teori dasar yang perlu dikuasai secara maksimal sebelum mereka mempraktikkan cara membuat obat. Dia menjelaskan kalau terkadang hal-hal kecil yang diabaikan dalam proses menyeleksi bahan obat hingga proses pemurnian bahan obat justru bisa menyebabkan kesalahan fatal.


Untuk membuktikan kata-katanya, Hanna secara pribadi mempraktikkannya dihadapan mereka. Dia membuat cairan obat kelas tiga yang sederhana.


Pada produksi pertama, Hanna sengaja membiarkan nyala api sedikit lebih besar selama sedetik padahal seharusnya pada tahap itu, nyala api harus kecil.


Pada produksi kedua, dia sengaja menambahkan proporsi salah satu bahan obat sedikit lebih banyak dari yang seharusnya.


Pada produksi ketiga, dia sengaja melakukan kesilapan sebentar ketika memurnikan bahan obat.


Pada produksi keempatnya, urutan pencampuran bahan obat sengaja dibalikkan.


Pada produksi kelima...


Hanna melakukan berbagai kesalahan dalam sepuluh produksi. Hasilnya saat diuji, ada yang obatnya gagal, ada yang tingkat kemurniannya tidak mencapai persyaratan, ada yang menimbulkan efek samping, dan lain sebagainya.


Pada produksi ke sebelas, Hanna membuat obat yang sempurna dan indeks kemurnian obat juga sangat tinggi ketika diuji. Hanna menjelaskan secara langsung kepada mereka apa akibatnya jika setiap kesalahan ini dilakukan. Proses mengajar Hanna memang langsung dan praktis.


Sebelum kelas berakhir, Hanna memberi mereka tugas baru untuk menguasai ratusan nama bahan obat yang bisa dikombinasikan satu sama lain.


Setelah kembali ke asrama, Irene langsung mencatat dan menghapal nama-nama bahan obatnya dari internet. Dylan sempat menghubunginya, mereka berbincang-bincang selama setengah jam sebelum panggilan berakhir.


Irene berada di asrama sendirian karena Monica sedang keluar. Bagi Monica, tugas yang diberikan Profesor Hanna tidak sulit sama sekali karena dia sudah menguasainya sejak awal.


....


Selama beberapa minggu kedepan, Hanna mengajarkan mereka teori. Setelah semua siswa berhasil menguasai kekuatan mental mereka, Hanna membawa mereka ke taman. Dia meminta mereka untuk berkomunikasi dengan segala makhluk di taman dengan kekuatan mental mereka.


Selama beberapa percobaan pertama, Irene melakukan kontak dengan rumput dan malah secara tidak sengaja mencabuti rumput itu hingga akarnya. Setelah Monica menjelaskan padanya bagaimana cara melakukannya, Irene akhirnya berhasil setelah percobaan yang keratusan kalinya.


Saat pertama kali berhasil, Irene bisa merasakan suasana hati kesal rumput di sekitarnya yang diinjak oleh teman-temannya, bahkan rumput dibawah kakinya sedang memarahinya. Seekor kumbang yang hinggap di daun mengomentari betapa tidak sukanya dia ketika waktu makannya diganggu oleh makhluk-makhluk raksasa yang berlalu-lalang.


"..."


Hanna mengamati siswanya dari kejauhan. Dia melihat Monica mengajari Irene dan siswa perempuan itu berhasil menguasai apa yang diajarkan Monica. Dalam hati, Hanna sudah menandai Irene. Dia cukup mengenal Monica dan tahu kalau gadis itu tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang lain kecuali tiga temannya.


Selain itu, dia juga bisa melihat kalau Irene sebenarnya sudah berhasil menangkap pikiran makhluk-makhluk di sekitarnya yang belum mampu dilakukan oleh siswa lainnya kecuali Monica, Su Yan, Su Xin, Henry, dan dua orang siswa lainnya.


Sesi ini berakhir ketika sudah mulai siang, dan kali ini mereka beruntung dibebaskan dari tugas.


....


Di sebuah ruangan gelap dengan sumber cahaya yang hanya berasal dari komputer yang hidup, tampak sosok tertentu dengan poni yang menutupi matanya dan tubuhnya dikelilingi aura kesuraman yang sesak.


Jari-jarinya bergerak dengan cepat di keyboard tua. Hanya suara ketikan yang terdengar di ruangan itu.


Layar komputer menunjukkan persentase 75% yang mencolok. Sosok itu mengumpulkan data-data dan informasi tertentu sebelum mengirimkannya ke akun tertentu.


Jika dilihat dengan teliti, nama yang tercantum dalam pemilik informasi sebenarnya adalah Irene Adler.